When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Setelah itu ....



Aku menguap kecil dan sedikit mengusap-usap mata, menengok ke arah jam dinding---ah, sudah jam delapan. Kemarin memang melelahkan sampai telat, waktu sarapan sudah lewat ... tak apalah.


Sebelum beranjak bangun, aku duduk di pinggir kasur dan menoleh ke arah kalender di atas meja belajar. Seharusnya tersisa dua club yang belum sparing internal, kemungkinan lima hari lagi akan diadakan sparing terbuka antar club dan peringkat total akan keluar.


Mendadak terasa ada suatu benda lembut di dekat tangan---oh, boneka pemberian Fate. Aku tersenyum tipis, sejak saat itu aku selalu membawa kelinci ini untuk tidur bersama. Ukurannya yang sedang terasa nyaman ketika dipeluk dalam bulu nan lembut.


Aku mulai mengambilnya dan menaruh pada pangkuan, merapikan tiap helaian. Putih; sangat halus, mengingatkanku pada Fate---aaaaa, apa yang aku pikirkan?! Sontak aku meletakkannya lagi pada pojok kasur, lebih baik segera bersiap.


Sebentar, peringkat total dari sparing sebelumnya aku posisi ke tujuh. Peringkat pertama anggota Departemen Eksekusi; dua dan tiga Departemen Gear; setelahnya Eksekusi lagi. Hmm, Departemen Eksekusi banyak mengisi peringkat murid terbaik Vaughan, tapi untuk sparing kali ini ... entahlah, Departemen Disiplin sudah dihapus kode etiknya terlebih ada Fate. Aku mengangkat kedua bahu dan beranjak ke kamar mandi.


Selesai bersiap diri.


Setelahnya aku mengenakan kaus lengan panjang terbilang masih masa libur, tak ada rencana keluar club juga. Ah, lagi-lagi yang aku kenakan berubah hitam. Berjalan sedikit melewati kaca ... mana bisa berkaca pada cermin hancur lebur begini? Hanya terlibat bayang-bayang hitam di sana. Lagi pula masih belum ada keinginan untuk mengganti cermin yang baru, tak mau melihat diri sendiri. Aku menghela napas dan melangkah malas ke luar kamar.


Saat menelusuri lorong dan menuruni tangga gedung club, aku membuka layar holografi demi memastikan menerima tugas utama dadakan yang penting atau tidak. Sepertinya tid---


"Kenapa baru turun?"


Sontak aku terkejut sampai menyentakkan langkah. Aksen itu tak asing, aku langsung menoleh ke asal suara sembari menutup layar biru di depan.


"Eh, Fate?"


"Kenapa baru turun?" tanya gadis itu lagi dengan menatapku, ekspresinya memang datar seperti biasa tapi ... ada sedikit raut tak suka di sana. Apa aku berbuat salah?


"Emm, karena baru bangun?" jawabku ragu karena mata perak kebiruan itu menyipit meski sekilas.


Entah harus senang dia di sini atau tidak. Sejujurnya perasaanku tak enak, terlebih ketika turun disambut seperti ini. Aku pun memilih berjalan memutari bangku dan menghindari Fate, melangkah pelan mendekati Cecil yang sedang bermain game bersama Daniel.


Ah, sepertinya mereka sangat serius sampai layar televisi di depan menampilkan tulisan Game Over.


"Halah, karakter yang ini cupu! Enggak adil!" celetuk Daniel menyandarkan badan ke sofa dan melempar konsol game-nya.


Pasangan main hanya tertawa bangga melihat ekspresi Daniel. Sepertinya tak masalah jika aku bertanya sekarang? Aku kembali meniti langkah dan berdiri di belakang sofa utama tempat mereka duduk.


"Cecil, apa sarapan masih tersisa?" tanyaku pelan.


Yang dituju mulai memanjat naik pada tempat duduknya dan berbalik ke arahku. Mata merah muda menatapku dalam-dalam tetapi telunjuk mungilnya mengarah pada Fate.


"Enggak, aku tuh kalau masak selalu pas sesuai sama bahan yang dikasih akademi. Terus, aku enggak tahu Fate ikut sarapan di sini jadi enggak ada jatah buatmu."


Kemudian ia kembali bersandar pada sofa dan memungut konsol game-nya. "Kamu nih, salah sendiri bangun telat terus! Walau enggak ada misi tetap turun jam enam, setidaknya."


"Ayo Cil, kali ini aku pasti menang!" seru Daniel bersemangat, siap memulai kembali permainan mereka.


"Heh, paling kalah lagi, aku ladeni kamu sampai jari putus-putus!"


Ya sudahlah, aku mengangkat kedua tangan dan bahu. Lagi pula tidak makan satu bulan pun tak akan mati. Seperti biasa, keadaan club ketika libur selalu ramai.


Anggota yang lain memenuhi sofa di depan televisi, mereka melihat ketua kami yang sibuk bermain dengan Cecil. Sedangkan Crist masih duduk di kursi meja makan, menyeduh teh dan tampak membaca beberapa dokumen. Namun, Fate melihatku dengan tatapan lurus bak menghunjam ke jantung dengan kedua tangan menyilang depan dada ... ke-kenapa menatapku begitu?


Dengan melangkah ragu-ragu aku hendak mendekati Crist dan duduk di sampingnya, tetapi Fate telah berdiri di depan---heh, sejak kapan?! Aku lupa, gadis ini sangat cepat! Terbukti dari rambut perak panjangnya masih melambai halus.


Mendadak kerah kaus hitamku ia genggam dan tarik---eek, apa yang terjadi?! Wajahnya dekat sekali, astaga!


"Wow! Lihat-lihat, intim! Apa mereka akan ciuman?"


"Halaah, Red, mesra-mesraan jangan depan umum!"


Kenapa Cecil dan Daniel memperhatikan kita? Bukannya mereka sedang bermain game?! Ta-tapi, tunggu! Ini bukan seperti yang kalian kira karena aura ... aura Fate sangat menyeramkan! Aku sedikit merasa tersipu tapi takut juga---aaaaa, bagaimana ini?!


"Aku tidak peduli kau immortal dan tidak akan mati, tapi hiduplah ... yang ... sehat," bisik Fate dingin tepat di telingaku.


Setelah itu ia melepasku dan refleks aku menutup telinga kanan dengan kedua tangan. Hawa panas dari napasnya masih terasa, membuat merinding. Tuhan, apa-apaan ... aku mengerjapkan mata, apa Fate mengerti aku memilih tak akan sarapan? Ta-tapi memang tidak masalah bukan? Aku sudah terbiasa.


"Makan, sekarang. Kafetaria akademi sudah buka sejak jam tujuh," ucap Fate dengan seulas senyum semerbak, tapi ... hawa mematikan di sekitarnya. Sungguh, aku merasa sedikit takut sekarang. Apa aku akan baik-baik saja?


"Ta-tapi, tak ada uang ...," jawabku dengan intonasi bergetar lebih-lebih ragu.


Aaaa, memalukan sekali! Tabungan memang menipis sehingga harus lebih irit karena setelah membuka Class Blademaster, kita masih di masa liburan jadi tak mendapatkan penghasilan apa-apa untuk saat ini. Sarapan Club Dion juga sudah habis 'kan? Tak masalah walau melewati satu jam makan, meski kepala putus pun aku masih bisa berjalan---baik, itu mengerikan.


Seketika lengan baju kiriku Fate raih, dia menggeretku keluar club tanpa ampun.


Ha-ah, kenapa lagi?!


"Crist kami pergi dulu, nanti kembali." Pemuda tersebut mengangguk terhadap ucapan Fate, bahkan tangan kanan melambai kepadaku dengan tersenyum cerah hingga matanya terpejam---tunggu, apa-apaan itu?!


Aku sungguh ditarik habis-habisan oleh Fate, bahkan sampai banyak orang memperhatikan kita. Tuhan, aku masih mengenakan kaus! Entah ke mana ia akan membawaku tetapi gesit menepis dan menarik lengan dari tautan jemari lentiknya, spontan Fate menoleh ke arahku dengan tatapan datar.


"A-aku bisa jalan sendiri," tuturku terbata-bata. Astaga, aku merasa tersipu!


Si gadis terdiam cukup lama. Eh, aku tidak terlalu kasarkan? Tiba-tiba ia menggenggam tangan kiriku dan berkata, "Aku tahu, ini agar kau tak lari."


Malu sekali! Kami terus melangkah entah ke mana dan Fate menautkan jemarinya padaku. Aaaa, pikiran kosong sekarang dengan jantung tak henti berdentum. Tuhan, Lord Metatron, Sen, Arthur, maafkan aku. Sontak aku menutup wajah dengan tangan kanan dan erat memejamkan mata, karena ... muka terasa panas hingga ke telinga!


Seketika terasa Fate memaksaku duduk pada salah satu bangku. Aku membuka mata dan---ah, kafetaria akademi. Tapi, apa-apaan ini? Banyak sekali makanan di atas meja!


Aku menoleh ke depan, Fate duduk dengan elegannya; kedua tangan terlipat di depan dada, pun terlihat ia menaikkan kaki kiri di atas kaki kanan.


Terasa sorot sang mentari perlahan merambat masuk menampilkan bias nan cantik tetapi iris perak kebiruan si gadis menatap tajam padaku. Kini Fate merentangkan telapak tangan kanan ke atas meja dengan seukir senyum, seolah-olah menyuruhku untuk makan semua yang ada di atas sini.


Dengan gugup aku berkata, "I-ini ... terlalu banyak."


"Tidak banyak, ini namanya empat sehat lima sempurna."


"Aaa, tetap terlalu banyak untukku," rintihku pelan dengan menunduk.


Sunyi membumbung, cukup lama.


Aku kembali mendongak dan melihat Fate---haah, dia masih dengan gaya yang sama. Tapi kenapa ia ada dalam club? Karena gadis ini sangat jarang bisa terlihat berkumpul bersama kami.


"Fate, kenapa ... kamu ada dalam club?"


Yang dituju mengepal tangan kanan dan menariknya untuk kembali dalam posisi menyilang depan dada. "Aku mendapat pesan dari Crist untuk melakukan review terhadap sparing kita sebelum pertarungan antar club."


Begitu, benar juga. Kita selalu membahas video hasil sparing. Pantas saja Fate pamit terlebih dulu kepada Crist. Aku mengembuskan napas panjang.


"Silakan dicicipi."


Aku kembali menatap Fate dengan pandangan lesu. Itu bukan lagi dicicipi, ini sangat banyak ....


"Fate, dulu saya---ah, aku, bertugas mengawasimu. Tapi tidak perlu bertindak sejauh ini. Tak perlu repot-repot terhadapku," ucapku lemas, binar mata pun memudar dengan tatapan sayu, "aku tak layak dikhawatirkan, terutama mendapatkan kasihan."


Gadis di depanku terdiam mendengar itu. Aku mulai menggenggam kedua tanganku di atas paha dengan sedikit menunduk. Dulu, bahkan sempat tidak mau dan menolak menjagamu, Fate. Aku tak mau menyusahkan siapa pun. Jika sekarang kamu selalu membantuku, itu tak perlu.


Ini semua berlebihan.


"Aku tidak berbalas budi, hanya menjalankan tugas."


Eh? Sontak aku kembali menatapnya. Kini ia mengepal tangan dan perlahan-lahan mengeluarkan jari satu persatu seperti sedang menghitung.


"Kamu salah satu murid yang susah diatur. Pulang misi selalu dalam keadaan terluka. Tidak mau dan paling susah untuk dirawat. Suka berkeliaran ketika malam. Jarang istirahat dan makan. Melakukan misi dengan baik tapi tidak pernah memedulikan diri sendiri. Mengabaikan kesehatan---"


"Aaaa, baik, cukup." Segera aku memotong ucapan Fate dengan menyangga kepala menggunakan tangan kiri dan tangan kanan melambai di depan bak isyarat untuk berhenti.


Astaga, apa aku tertangkap basah? Kenapa gadis ini tahu banyak ....


"Mencari data murid lain itu dilarang bukan?" tanyaku dengan menghela napas.


"Tentu dilarang, tetapi untuk Departemen Disiplin sepertiku mendapat data keseharian dan nama penghuni Vaughan adalah hal yang normal. Selain itu, tentu EVE akan memblokirnya." Kemudian ia kembali mengukir senyum. "Parahnya, tidak ada yang berani menegurmu. Bahkan Pak Kaidan tidak mempan terhadapmu."


Aku langsung mengusap wajahku lelah. Ya, benar, dia Departemen Disiplin dan itu hal yang wajar. Kenapa bisa lupa ....


Jadi, apa sekarang aku sedang didisiplinkan?


Seketika terdengar suara tawa yang samar dari kejauhan, sontak aku menoleh ke belakang---Daniel! Tiba-tiba terlihat ada tangan meraihnya untuk kembali bersembunyi di balik tembok. Ugh, itu pasti Crist! Terasa dari aura mereka. Tampaknya, aku terlalu fokus terhadap gadis di depan dan tidak menyadari ... ternyata banyak orang di kafetaria memperhatikan kita.


Ah, memalukan sekali!


"Jangan berpikir untuk kabur."


Mendadak tangan kananku tertarik dan ditahan di atas meja. Refleks aku kembali menatap Fate yang tersenyum dengan ringisan sok manis hingga mata membentuk garis. Berhentilah, itu ... menakutkan, sungguh!


"Apa kamu mau aku suapi supaya makan?"


Sontak aku menegang karena merasa malu mendengarnya. "Ti-tidak. Tak perlu. Aku bisa makan sendiri."


Tuhan, berilah aku perlindungan menghadapi ujian ini ....