When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Runtuh



Aku berdiri demi mengadang Crist dan Daniel dari sosok gadis di depan atas seringai mengerikannya, membuat udara beku merambat tubuh pun suara detak jantung menjadi irama parau dalam ruang yang dipenuhi temaram.


Sangat tak menduga akan berhadapan dengan General, naga yang masih tersisa sejak perang empat ratus tahun yang lalu. Meskipun kecil tapi aku sangat yakin dia kuat karena naga tetaplah naga.


Namun, kami tak bisa meminta bantuan


Jika keluar dari ruang ini pasti dihadang oleh banyak hibrida. Kami tak ada persiapan terlebih komposisi tim sangat seadanya. Crist Executioner Grade A, Daniel Gunner Grade B, dan aku ... akan berusaha melindungi mereka. Tidak tahu apa kami bisa menang tapi satu-satunya cara untuk keluar adalah mengalahkannya.


"Hooo, tatapanmu sangat garang, apa memikirkan cara untuk membunuhku? Tempat ini adalah kekuatanku sendiri, aku bisa mengendalikannya sesukaku dan kau masih memikirkan cara untuk membunuhku? Ahahahaha!" Lengking suara khas anak kecil mengudara berbaur dengan tawa terbahak.


Aku terdiam mendengar sindirannya, lebih memilih melirik pada sudut kelopak mata. Ekspresi Daniel tergambar jelas dia terguncang seperti tidak mampu memproses kejadian yang tertimpa. Aku harap Crist memikirkan suatu cara, dari wajahnya terlihat dia masih syok namun tampak berpikir keras sampai mengerutkan dahi.


Bagaimanapun juga, aku tak akan membiarkan mereka terluka.


'Kau pikir bisa melindungi mereka?'


Aku berdecak dan melesat secepatnya dengan merentangkan tangan. "Ice Lance!"


Ketika potongan es besar nan runcing hampir mengenainya, saat itu juga ia melompat dan kembali dalam sosok naga.


Tanpa memakan waktu aku melempar senjata. "Phase Bomb!"


Lagi-lagi gagal. Gerakannya cepat dan gesit, apa karena ukuran tubuh yang kecil?


Ia mulai beterbangan. Mataku bermaksud mengekor tapi tak berhasil. Resah mulai melanda relung rasa dan yang terjadi di detik setelahnya adalah pasak-pasak ungu menghujan. Langsung aku berkelit dengan melakukan kayang dan melompat kebelakang menggunakan tangan sebagai tumpuan.


Kalau saja telat beberapa detik, mungkin tubuhku bisa terkunci di dalamnya.


"Oho, lumayan gesit," ucap si naga yang sudah terbang di sisi kanan ruang dalam wujud manusia--ternyata pasak-pasak ungu itu adalah rambutnya yang panjang. "Tapi, bagaimana dengan yang satu ini?!"


Helai-helai rambut ungu meruncing dan mengeras, memelesat kencang tetapi aku sudah siap dalam kuda-kuda ... meleset? Pasak itu tidak mengarah---ah!


"Awas!"


Seketika derak basah menggaung.


Rambut-rambut itu menghunus dan menahan ragaku, menusuk dari depan; kiri-kanan; melintang. Aku langsung menyembur darah, itu ... menyalurkan nyeri amat sangat seperti menembus tulang. Bau karat khas cairan pengundang pedih pun menyeruak.


"Apa yang kamu lakukan?!" lirih Crist seolah tak percaya dengan yang dilihat.


Namun susah payah aku menjawab meski terdengar parau bagai sapi yang disembelih. "Melin ... du ... ngi."


"Bagaimana? Sangat sakitkan? Tentu! Sisikku beracun!" celetuk gadis naga.


Mulutku kembali memuntahkan darah ketika pasak-pasak ungu ditarik secara paksa dalam tawa mengerikan kembali menggema. Gadis itu benar-benar ... licik. Ia justru mengincar Crist dan Daniel yang lengah.


Badanku mungkin jatuh jika Daniel tidak menahannya dan aku direbahkan di dekat pintu. Sesaat bisa mendengar mereka berdua berbisik sebelum melangkah ke depan. Namun, sayang tak tahu apa yang mereka perbincangkan.


"Tung ... gu," ucapku dalam getar karena rasa sakit menghadang.


"Dahlah, tunggu di situ. Sekarang giliran kami untuk menyerang!"


"Yah, tenang saja. Aku sudah memikirkan beberapa cara," tambah Crist dan mereka berdua mengangguk bersamaan sebelum melesat mendekati gadis naga di depan.


Ah ... harus segera melakukan healing dan menyusul mereka. Dalam rasa pusing mencengkeram, aku sedikit menggeleng demi meraih fokus dan berusaha bangun. Naga ini cukup licik dan gesit, kalau tidak---


"Ack!"


Pikirku terputus kala datang sesuatu yang menikam pada tempat luka yang sama, menghantar rasa sakit sampai ujung kepala dan memaksaku untuk berlutut. Naga itu lagi-lagi menyerang dengan rambut ungunya.


Bagaimana bisa---itu muncul, di belakangku? Apa ini yang disebut bisa mengendalikan ruang sesukanya? Jika begini, kami dalam posisi terjepit ....


Mendadak ia mencabut rambutnya membuatku kembali memekik. Nyeri, tak kusangka bisa merasa sesakit ini karena bilah tajam yang hendak dicabut kembali ditekan kuat. Pula dirasa bahwa ini memang racun.


Aku disiksa dan gadis itu tersenyum di kejauhan sembari menghindari serangan Crist dan Daniel.


Ketika aku bersiap untuk mengepalkan kedua tangan, rambut-rambut itu melilit dan kembali menikam diriku. Teriakan pilu menggema lagi. Sekuat tenaga aku melawan, meski ini sungguh menyiksa namun kesadaranku masih tetap utuh. Mengeratkan gigi; melawan arus tarikan tangan dari helaian rambut, aku harus ... melakukan Beacon of Light!


Berhasil! Seketika tubuhku terasa pulih.


Fokusnya lebih tertuju padaku dan mungkin gadis itu terkejut hingga sedikit lengah karena satu serangan Daniel tepat mendarat ke tubuhnya dan mengoyak gaun pelangi, rantai pisau ganda pun meliliti kedua tangan. Mereka mengambil kesempatan ini untuk tak henti memberikan serangan pada naga yang sudah terpukul mundur.


Si gadis naga menggertakkan gigi, ia tampak marah. "Hah! Bawahanku, tahan mereka!!"


Lantas atap ruang kami terbuka dan begitu banyak hibrida mengelilingi, tak lupa beberapa Elite ada di sana.


Situasi genting, kami terkepung. Seketika mereka semua menyerang dalam waktu bersamaan hingga sebuah cahaya membutakan berkedip disusul bunyi ledakan terdengar keras.


'Gunakan pedangmu! Kau bisa melindungi mereka dengan pedangmu!'


Tapi aku tidak bisa; tak mau lagi ....


'Mengecewakan, tekadmu sungguh lemah.'


Aku hanya ... tidak mau melukai.


'Kau tidak bisa melindungi siapa pun dan apa pun!'


Sontak kejapan sekian detik membawa serpihan memori seperti potongan gambar yang memaksa untuk dilihat. Nyeri; sakit, ingatan di kehidupan yang dahulu kembali menghantui. Aku masih tidak bisa melupakan waktu yang telah hilang itu. Berakhir menemukan sebuah solipsisme yang kejam.


Menyedihkan.


"Kalian para kadal tahan laki-laki itu! Dia bukan manusia biasa!"


Aku mencoba mengatur napas, mengendalikan nyeri samar yang terus menguat---gagal, terlebih rasa pusing bagai hantaman palu menyerang kian keras akibat suara menggaung dalam benak menyiksa batin, membuat canda dan tawa yang meluncur; aksen lembut yang terdengar; senyumannya yang hangat terbakar dalam memori ketika aku sadar berakhir menikamnya dengan ... pedang.


Darahnya di tanganku.


Aku tidak sanggup ... jika harus mengulanginya lagi.


Aku tidak mau. Tidak mau. Tidak----


'Teruslah seperti itu dan kehilangan lebih banyak orang lagi!'


"AAAAARGH!!!"


...****************...


"... Bagian sana sudah kamu tangani?"


"Siap, sudah! Banyak hibrida berlarian, mereka lepas kendali dan mudah untuk ditaklukan."


"Fate, Neor, cepat cari tim informan yang tersisa!"


"Pak, tempat ini akan runtuh!"


"Cepat cari mereka sebelum terlambat! Sepertinya pemilik dimensi sudah mati."


"Pak Kaidan, ini."


"Sisik naga, bawa itu untuk diperiksa nanti!"


"Aku menemukan mereka!"


"Astaga! Halo? Halo?! Keadaan kritis, kode merah! Kode Merah!! Cepat bawa---"


"Red, apa kamu ...."