
Lagi-lagi aku duduk di bangku taman dekat air mancur.
Bedanya, sekarang tidak hanya aku yang menghabiskan waktu di sini; ada beberapa murid di bangku seberang sana sedang berbincang-bincang.
Banyak pula orang-orang melakukan aktivitas di luar ruangan, termasuk ... Fate yang berjalan mendekatiku.
"Minum soda lagi? Hmmm, hanya di musim dingin kau minum kopi hangat," gumamnya menyentuh dagu, menatap ke kaleng soda di tanganku.
Dia menyadari hal sekecil ini? Pengamatan tajam bukan main.
"Ya, atau ingin terjaga saya minum kopi."
Sekarang dia berbalik dan duduk di sampingku. Aku sedikit tersipu karena ingat kejadian jauh-jauh hari.
Bangku taman ... selalu terjadi hal memalukan untukku. Ketika aku menangis; dia tidur di pundak---astaga! Aku langsung menutup wajah menggunakan satu tangan.
"Masih belum diberikan misi utama?"
Keheningan ini pecah ketika Fate kembali bertanya.
Aku memandangnya dengan sedikit terkejut. Apa aku terlihat seperti orang tanpa misi?
Bisa saja menunggu orang seperti laki-laki di sana, atau menghabiskan waktu menenangkan diri seperti para siswi yang berbincang-bincang itu 'kan?
Terlebih baru mendapatkan misi bersamanya, bisa jadi aku mulai diaktifkan kembali.
"Kenapa kamu tahu?"
Fate melihat jam tangan, itu tepat di balik nadi pergelangan tangan kanannya.
Beberapa menit kemudian dia menjawab, "Berdasarkan data kesiswaan, kau tergolong murid terbaik yang selalu menjalankan misi tepat waktu dan tidak akan berhenti sampai tugas selesai. Tidak memiliki hobi dan kegiatan ekstrakurikuler. Hampir seluruh pelajaran kau kuasai, tetapi jarang orang mau dekat denganmu. Melihatmu duduk seperti ini berarti kau tidak memiliki kegiatan apa-apa, termasuk menjalankan misi."
A-ah ... pantas saja Departemen Disiplin menerima Fate. Tak mungkin mereka melewatkan orang sebegini teliti.
Aku pun menggaruk tengkuk dengan canggung.
"Iya, Profesor Kaidan belum memberikan tugas."
Sepertinya harus menemui beliau lagi; meminta secara langsung daripada menunggu diembankan tugas.
"Kamu sendiri kenapa di sini?"
Dia kembali melihat jam tangan kecilnya dan menjawab, "Menunggu dapat panggilan, sekitar lima belas menit dari sekarang. Sembari menunggu aku ingin melihat pemandangan akademi. Air mancur ini membuat halaman utama terlihat sangat tenang."
Mata perak kebiruannya menatap percikan di dalam air mancur, sesekali irisnya terlihat bagai biru normal karena papasan sinar mentari. Sangat anggun, membuatku teringat ketika Metatron menggunakan tubuhnya.
Aku kembali menunduk.
"Fate, kemarin kamu mengatakan soal ayahkan? Sebenarnya mengenai bisikan itu ... saya tahu."
"Tahu apa?"
"Malaikat yang berbisik ... penolong. Ia yang membuat saya terlahir ke dunia; yang selalu ada. Ayah---"
Seketika mataku berkedut dan wajahku mengernyit ketika berusaha mengucapkannya, ibarat menelan sesuatu yang pahit.
Aku menyentuh leher dan menelan ludah beberapa kali sambil menyipitkan mata, untuk membuat perasaan di dalam dada menjadi lebih baik.
"Tak perlu kau ucapkan. Dari ceritamu aku sudah tahu siapa ia."
Sontak aku meliriknya. Fate masih dengan wajah tanpa emosinya, menatap hambar air mancur di depan sana.
Bagaimana dia tahu? Maksudku, kita berasal dari dunia berbedakan? Tetapi wajah itu tampak tidak menunjukkan suatu kebohongan.
"Siapa tidak tahu malaikat jatuh yang sombong dan menantang Tuhan; penguasa neraka terkuat dan berusaha menyeret manusia bersamanya? Namanya sudah menggetarkan surga dan seluruh semesta."
"Eh?"
Kini dia menatapku serius seolah-olah mata itu menunjukkan suatu kilatan.
"Kau sebut iblis seperti itu ayahmu? Dia sangat-sangat tidak pantas. Ayahmu, jika bisa aku sebutkan ... Pak Kaidan. Keluarga bukan hanya dilihat dari ikatan darah. Keluarga adalah orang yang ada untuk kita dan menerima kita apa adanya."
Aku tertegun mendengarnya sampai tak bisa balas berucap, berakhir menatap Fate tanpa henti, tetapi lagi-lagi wajah itu masih menampilkan suatu kesungguhan.
Hingga ponselnya berdering, dia pun mengeceknya. Kemudian mengembuskan napas dalam-dalam.
Fate kembali melihat jam dan beranjak dari duduk.
"Aku pergi dulu." Fate mulai berjalan, tetapi derapnya terhenti ketika menengokku sesaat. "Kau pernah merasakan sesuatu yang disebut keluarga bukan?"
Aku membelalak. Mataku tak bisa lepas dari memandangnya.
Kini Fate sudah berjalan semakin jauh dan hilang di antara keramaian manusia.
Akhirnya aku menunduk, sedikit menekan-nekan pinggir besi kaleng soda yang sudah kosong.
Aku memang pernah merasakannya, bersama ia; orang terkasihku.
Aku ingat senyum hangatnya; belaiannya; caranya yang tak pernah lelah mengajariku. Terlebih pelukannya. Itu ... mengingatkanku kepada Profesor Kaidan.
Ah, aku ingat kebiasaan meminum kopi karena meniru beliau.
Dengan mata lelah beliau terus menunjukkan segala hal. Jendela dunia. Beliau membacakanku banyak buku; menjelaskanku banyak perkara; menunjukkanku betapa luasnya jagat ini. Itu sangat persis seperti masa hangatku dulu.
Keluarga, ya ....
Profesor Kaidan juga memperlakukanku dengan baik dan selalu khawatir berlebihan.
Aku kira beliau seperti itu karena rasa bersalah ketika pertama bertemu--langsung menembakku--tetapi setelah kujelaskan bahwa aku tidak apa-apa dan tak akan mati, beliau terlihat semakin sedih.
Tatapan matanya itu aku kenali, karena ....
Ah. Sepertinya aku harus meminta maaf kepada beliau.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke toko aksesori. Aku pun beranjak dari duduk dan pergi ke bagian gerbang utama akademi.
Aku menyiapkan Heart Core, kristal hitam itu beresonan saat aku menjatuhkannya ke tanah. Sontak serpihan holografi dan besi-besi muncul, memamerkan bentuk utuh dari motor besar berwarna merah corak hitam.
Aku menaiki motor, tetapi ... toko terbagus di mana?
Aku langsung mengecek ponsel dan melakukan pencarian singkat mengenai toko aksesori berkualitas di wilayah Centru.
Ah, ini! Dekat distrik 9.
Lantas aku bergegas pergi.
Memasuki jalan raya utama, seperti biasa ... padat. Bus tingkat dengan holografi iklan mengelilinginya; kereta api gantung yang panjang dengan rel terpasang rapi di udara; tak lupa beberapa mobil modern dan sepeda motor berbagai macam model.
Dan dengan kecepan ini, aku merasa nyaman ketika angin membelai rambut hitamku.
Akhirnya, aku sampai pada tujuan.
Meski motorku adalah Heart Core dan sangat penting, tetap tak bisa menyimpannya begitu saja di depan manusia. Mereka akan curiga atau merasa aneh.
Mencari aman, aku pun memarkirkan motor seperti pada umumnya.
Sebelum itu, aku melakukan penyetelan singkat di layar holografi emas serupa sayap di bagian kemudi demi meningkatkan keamanan.
Saat memasuki toko, aku langsung disambut oleh sang penjaga.
"Selamat datang! Kami menyediakan berbagai macam perhiasan dan barang antik, ada yang bisa kami bantu?"
Aku menatap wanita ini sesaat dan berkata, "Ada jam tangan klasik dengan penghitungan detik juga? Emm, talinya model rantai."
Dia mengangguk dan menuntunku ke jajaran jam tangan dewasa.
Aku melihat-lihat sekitar. Toko ini luas dan pelayanannya baik. Hampir setiap pengunjung mereka temani.
Wanita ini menunjukkan dan menjelaskan berbagai macam jenis jam tangan. Aku melihatnya satu persatu dan memperhatikan dengan saksama. Cukup memakan waktu hingga menemukan yang sesuai dengan kemauanku.
Tiba saat pembayaran, aku bertanya, "Menerima pembayaran digital?"
Penjaga kasir mengangguk atas pertanyaanku. Aku langsung menyiapkan ponsel sampai ... mata tertuju pada jajaran cincin di etalase kaca.
Satu cincin menarik perhatian dan memang itu berada di paling atas pada bantalan merah elegan. Berlian merah mudanya berukuran kecil, tetapi sangat mencolok. Beserta ukir rumit keemasan di bagian lingkar cincin.
Cincin itu sangat cocok untuk mereka pemilik jari lentik yang cantik.
"Ini ...."
"Oh, pilihan yang bagus! Ini adalah keluaran terbaru dan edisi terbatas dari model perancang ...." Dan dia tak henti menjelaskan produk tersebut.
Namun, tak kupedulikan dan segera berkata, "Saya beli."
Aku tahu harganya lumayan mahal, tetapi masuk dalam akademi Vaughan dan mengerjakan misi tersulit yang ada karena memiliki Grade S sangat menguntungkan.
Sebab aku mempunyai banyak tabungan dan pemasukan, tetapi tidak pernah digunakan.
Untuk makan, sudah akademi sediakan berdasarkan keanggotaan club. Jadi pengeluaran sangat minim.
Terlebih aku tidak bisa mati, biaya penanganan dan kesehatan tubuh sama sekali tidak ada.
Tak lama kemudian, mereka menanyakan ukuran untuk cincin tersebut. Ah, aku ... tidak tahu dan memilih untuk meraba diameter lingkarnya, satu demi satu aku mencoba ukuran yang sesuai menggunakan sampel cincin.
Dan akhirnya menemukan yang cocok, yaitu ukuran medium dengan diameter 16 milimeter.
"Aaa, jam tangannya tolong dalam bingkisan sederhana," tambahku.
Setelah selesai aku melakukan scan pada ponsel---ah, cincinnya memang sangat mahal. Saldoku hampir habis dibuatnya.
Ketika semua sudah beres, aku memutuskan untuk kembali ke akademi.
Di luar toko, aku mendongak dan menghalau sorot mentari menggunakan tangan kanan. Memang sedikit terik saat sudah bersinar sangat tinggi di langit.
Di dunia ini adalah pertama kalinya aku bisa secara normal berinteraksi di tengah keramaian layaknya manusia biasa. Seperti sekarang.
Namun, jika dipikir kembali, kenapa aku membeli cincin ini?
Ia sudah tiada.