
"Red."
Seketika aku menghentikan langkah dan menoleh---ah, Crist. Seperti biasa, dia baru turun. Sudah hampir seminggu selalu telat untuk sarapan sejak pertama kali aku memasak untuk club. Aku mulai terbiasa dengan si pemuda yang paginya mulai dilanda kesibukan.
Dengan lanjut melangkah ke arah pintu utama club aku berkata, "Aku sudah memisahkan sarapan untukmu, kamu bisa mengeceknya di lemari atas samping rak piring. Mereka selalu lahap kalau makan. Sekarang aku pastikan kamu kebagian untuk sarapan, Crist."
Mendadak terasa baju belakangku ditarik, aku pun berbalik---eh, ada apa? Crist tampak gugup, memperbaiki kacamatanya dan sedikit menunduk. Si pemuda menggeleng lalu menatapku nanar. "Apa hari ini kamu senggang?"
Ditanyai seperti itu spontan aku mengelus tengkuk. "Eeng, kemarin menerima laporan aktivitas Elite kelas bawah di perbatasan bagian utara. Profesor Kaidan mengirimku ke sana hari ini."
"Misi solo lagi?"
Aku mengangguk sebagai jawaban. Entah mengapa Crist tampak seperti ini ... tak biasa, apa yang membuatnya khawatir?
"Kalau selesai lebih awal, aku akan kembali ketika sore. Aku juga akan mencoba tak gegabah untuk misi kali ini, dan selanjutnya ... mungkin."
"Iya, tidak apa-apa. Aku hanya memintamu untuk mengantarku." Aku tertegun mendengarnya dan berakhir mengedipkan mata beberapa kali.
Mengantar? Sungguh? Sekhawatir ini? Namun, Crist lanjut berkata, "Pada mansion Lucian ... dan bertemu dengannya secara langsung."
"Baik aku mengerti."
Langsung aku menepuk pundaknya, pantas saja pemuda ini---maksudku, langsung berhadapan dengan Head Master Lucian, siapa yang tidak takut? Bahkan konsultan kelas atas seperti Crist sampai cukup gugup ... ah, mungkin hanya Fate yang baik-baik saja dengan keberadaan orang tua itu.
Aku juga pasti memilih untuk menghindar, tetapi sepertinya berhubungan dengan tugas Crist yang selalu sibuk di setiap pagi dan tak ada pilihan lain kecuali menemuinya. Aku harap temanku ini baik-baik saja.
Kini si pemuda tersenyum ringan. "Syukurlah, aku tunggu sampai kamu kembali. Aku juga perlu memeriksa ulang dokumen---"
"Aku ikut!"
Seketika aksen berisik muncul di belakang kami; tepat dari balik tembok, Daniel menampakkan diri. Kemudian berdiri kukuh atas dua tangan terlipat kuat depan dada. Tunggu, tapi terlalu banyak yang mengantar ... bukannya berlebihan?
"Aku enggak mau anggotaku kenapa-kenapa, apa lagi ke mansion horor itu, hih," ucap Daniel seketika membuatku teringat Lucian dengan senyuman semringah---hah, hal itu berhasil membuat hawa dingin merayap mulus; menggelitik punggung; membuat merinding. Aku langsung mengangguk cepat demi menyetujui.
"Terima kasih banyak!" Ah, tampak wajah Crist meleleh dalam tenang. Aku sedikit tersipu dan berakhir menutup mulut menggunakan tangan kanan. Ternyata, dia yang seperti ini lucu juga.
"Aku pergi dulu," tegasku ketika mulai kembali meniti langkah meninggalkan gedung club, "cepat selesai, cepat pulang. Aku akan mengabari kalian nanti."
...****************...
Setelah selesai melaporkan tugas, aku langsung berlari keluar gedung Departemen Eksekusi. Sebelumnya memberi kabar melalui ponsel pada Crist dan Daniel untuk menunggu di halaman tengah, terbilang tak terlalu jauh dari mansion Lucian.
Derap sol jelas memenuhi jalan dan sesekali aku berpapasan dengan beberapa orang---ah, mereka menyapaku? Rasanya tingkah laku penghuni Vaughan sedikit berbeda dibandingkan pertama kali datang ke sini. Apa benar karena hawa pekatku sudah berkurang seperti Profesor Caterine katakan?
"Ooi, Red! Kebetulan ketemu, kami baru mau ke tempat yang kamu tuju!" Dia mulai melipat tangan depan dada atas mata hijau meneliti setiap sisi tubuhku. "Kamu baru pulang dari misikan?"
"Ah, Iya. Aku selesai lebih awal dari yang dijadwalkan, jadi bergegas memberi kabar."
Si pirang menaikkan sebelah alis dan memegang dagu. "Langsung pergi begitu saja? Enggak capek?"
Aku menggeleng sebagai jawaban, tapi itu justru memancing seringai dari ketua kami yang terlihat ... usil? Lengan kukuhnya bahkan merangkul pundakku hingga memaksa aku yang jauh lebih tinggi sedikit membungkuk.
Dia pun berbisik, "Staminamu memang kayak enggak terhingga, ya? Rahasianya apa? Tiap pagi minum obat kuat?"
Aku tercengang mendengarnya. Obat kuat? Apa itu? Tak lama justru suara kekeh yang sedikit mengusik terdengar, Crist menepuk keningnya sekali dan bersua, "Menyerahlah Daniel, itu kayaknya sudah bawaan lahir. Jadi, ayo kita pergi?"
Crist mulai berjalan ke depan kami dengan genggaman pada map dokumen dia naikkan, berwarna hitam dalam corak emas pada logo pohon khas Vaughan ... map resmi, jelas sekali merupakan data penting. Aku mengangguk dan sesopan mungkin melepas tautan ketua kami dari leherku dan hal itu sepertinya membuat Daniel refleks mendengkus, lalu melipat kedua tangannya ke belakang leher.
Kami pun mulai mengekor di belakang Crist.
Sesampainya, aku membelalak pada sebuah gedung nan gagah di depan sana. Ini pertama kalinya bagiku masuk ke dalam kediaman ketua organisasi Vaughan. Meskipun gerbang dan halaman depan sangat sepi sampai suara gemercik air mancur terdengar, seketika aura tegang menghias tiap langkah yang kami lalui.
Akhirnya tiba pada pintu utama nan megah setelah cukup lama berjalan pada taman yang luas. Crist berada paling depan, melangkah dengan pasti walau engsel-engsel dari pintu mengeluarkan bunyi derit aneh ketika didorong.
Elegan, itulah kata pertama yang kupikirkan ketika memasuki mansion, terlebih karpet beledu merah---ah! mendadak sosok gadis transparan muncul di depan kami. Aku sedikit terkejut tetapi itu hanyalah EVE.
Perlahan, aku mengembuskan napas dan kudengar memang EVE biasa menjaga kediaman Lucian. Crist menjelaskan maksud kedatangannya dan kami diizinkan untuk terus melangkah. Terkadang aku heran, apa super A.I. ini memiliki emosi atau tidak ... karena, ia sempat tersenyum seiringan dengan kepergian kami.
Tapi, ke mana Crist akan membawa kami? Jalan ini terasa sangat jauh, rasanya seperti membutuhkan denah lokasi sendiri. Luas; sepi, dalam aura tekanan terasa jelas. Entah mengapa aku merasa beruntung kami pergi bertiga.
Sesekali aku menoleh ke belakang, setiap lorong dan ruang yang dilalui semua terlihat sama. Untung saja sang konsultan kelas atas yang membimbing jalan karena aku yakin pasti bisa tersesat di sini.
Selang beberapa menit langkah kami terhenti dan aku melihat mulut Daniel celangap, kenapa? Aku pun menatap apa yang mata hijau lihat---astaga, kami berdiri depan pintu putih raksasa sepenuh tembok. Mungkinkah itu kantor pribadi Head Master Lucian? Namun, mengetuk beberapa kali tak ada jawaban. Sepertinya beliau tak ada di ruang---
Bam!
"Suara ledakan!" Daniel berteriak, tampak panik.
Suara gemuruh kembali menyusup telinga, Crist langsung berlari dan berseru, "Suaranya dari halaman belakang, ayo!"
Lantas kami mencepatkan langkah melewati beberapa ruang dan lorong-lorong.
Saat memasuki halaman belakang; pohon rindang mulai menaungi. Namun, tak ada suara gaduh seperti sebelumnya, hanya kesejukan dari zat pembakar pepohonan dan sorot mentari tetapi seketika napasku terhenti ... menyaksikan Lucian melayang--satu tangan dalam saku celana sedangkan yang lainnya mengangkat Floating Hourglass--tepat di depan Lux yang terkapar, juga Fate terduduk bak tak mampu lagi melakukan apa pun.