When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Nifle



"Mayday, mayday, mayday, tidak ditemukan lokasi pendaratan darurat. Bahaya angkasa tingkat dua!"


Mendadak kata itu menggema dalam kabin, membuat seluruh atensi tertuju pada sang pemimpin tim yang sudah mengangkat tangan kiri tinggi-tinggi. Pelan namun pasti, pintu bawah helikopter pun terbuka.


Profesor Kaidan berseru, "Kenakan parasut di bawah bangku masing-masing, siapkan senjata Heart Core kalian! Banyak naga beterbangan di udara."


Dengan cekatan kami menuruti titah. Kemudian sigap berdiri dan mendekati pintu bawah helikopter yang telah terbuka lebar, begitu juga dengan diriku. Namun, ketika yang lainnya telah terjun bebas, lagi-lagi aku ditahan oleh beliau. "Kamu belakangan."


"Kenapa?" Spontan aku bertanya tetapi wajah Profesor Kaidan masih datar, bahkan mata cokelat menatap kosong pada langit di bawah; langit yang dipenuhi kabut pekat bergumul seakan menjadi tirai penghalang tersendiri untuk melihat dasar, dan orang-orang yang telah turun seperti tenggelam di dalamnya.


Ternyata, banyak anggota sudah terjun bebas dari pesawat lain. Lantas aku menoleh pada Profesor Kaidan, beliau mengangguk dan kulihat arah matanya tertuju pada Fate. Saat itu juga si gadis terjun bebas. Fate dan aku murid terakh---waaaah!!


Tuhan! Tanpa aba-aba beliau mendorongku, astaga!


Aku sedikit tak siap dan terasa adrenalin mulai memenuhi perut; membuat geli hingga aku mengeratkan gigi. Namun, lambat laun kucoba redam. Bagai menembus angin, rambutku terasa dibelai kasar oleh udara hingga porak-poranda. Mata jelaga tak henti melihat ke bawah lantaran mencoba berantisipasi terhadap apa pun yang ada di balik kabut.


Tak lama, terasa tangan kananku diraih seseorang dan refleks aku menoleh.


Profesor Kaidan di sana dengan wajah serius hingga mata cokelatnya menajam. Mulut beliau terbuka seakan mengatakan sesuatu, sayang tak dapat kudengar karena suara sumbing angin memenuhi telinga bak mengiris pendengaran. Pada akhirnya kami menerobos kumpulan kabut, langsung aku memejamkan mata karena ternyata ini gumpalan awan nan tebal.


Aku tidak menduganya.


Sampai rasa sesak hilang, aku kembali dapat bernapas--meski sedikit sulit karena masih dalam posisi terjatuh entah ketinggian berapa meter--dan perlahan membuka mata ... sungguh, memang banyak sekali naga beterbangan di udara.


Sontak mata jelagaku menyaksikan pertarungan intens yang sudah terjadi meski kaki belum menapak. Reptil-reptil itu menukik dan langsung menerjang para anggota yang lengah karena memang diserang lebih dari tiga musuh. Moncong penuh taring itu sampai mengoyak raga nahas tersebut.


Ini, benar-benar ... gila. Naga yang beterbangan, seperti bintang di langit.


Banyak pula yang menggunakan tali pegas portabel untuk meluncur dan melibas dari satu naga ke naga lainnya demi melindungi anggota lain; rata-rata dari mereka adalah Disiplinaria.


Namun, hal lebih gila lagi yaitu banyak naga melihat ke arahku setelah berhasil menembus awan kelam. Mereka langsung menukik dan mendekat, gesit aku menyiapkan senjata---eh? Mendadak Profesor Kaidan justru mendekap erat-erat membuatku tak bebas untuk bergerak.


Akhirnya, aku dapat mendengar apa yang beliau katakan. "Turuti perintah. Tetap tenang, ketinggian tiga ratus meter baru lepas parasutmu."


"Tapi para naga?"


Tak mengindahkan pertanyaanku, mata cokelatnya menyipit dan beliau langsung menjentikkan jari. Saat itu juga pecahan cermin muncul dan mengikuti para naga yang beterbangan. Banyak, semakin bermunculan hingga mungkin menyamai banyaknya musuh.


Aku kagum melihat hal tersebut, baru sekarang menyaksikan cermin dari Ultimate Skill Class Gunner sebanyak ini. Terlebih, sampai bisa mengikuti pergerakan musuh yang gesit? Lantas aku kembali memandang wajah kukuh beliau.


Selang beberapa detik partikel cahaya memenuhi tangan kanan dan langsung beliau genggam; membentuk pistol tunggal.


Lantas satu tembakan mendarat pada salah satu cermin. Seketika peluru energi terhisap dan memantul cepat antara satu cermin dengan cermin yang lain. Dalam kedipan mata, tubuh para naga mulai tercabik-cabik oleh pantulan cahaya peluru. Aku sungguh terpukau dengan kemampuan beliau; serangannya sungguh akurat bahkan tak melukai para Disiplinaria yang masih sibuk meluncur dengan tali-tali pegas mereka.


Beginikah orang terbaik ke dua di akademi?


Selang beberapa detik, letupan pistol terdengar bising; Profesor Kaidan terus menembakkan pistol secara intens ke arah potongan cermin. Seketika itu juga banyak naga berjatuhan dari langit seperti hujan. Padahal hanya menggunakan satu pistol--tangan kirinya terus merangkulku--dan masih dalam posisi terjun bebas, tetapi bisa bekerja sebaik ini.


Kalkulasi dan berpikir cepat; memperhatikan posisi dan arah tembakan, kekuatan beliau memang bukan main. Begini ternyata seseorang yang memiliki Grade Class SSS, bisa menggunakan Ultimate Skill tanpa efek apa pun.


Musuh kita sungguh-sungguh ... padahal, baru saja turun dari helikopter tapi Profesor Kaidan sudah dipaksa untuk mengeluarkan Mirrage Mirror.


Lantas cermin-cermin mulai pecah dan berhambur menjadi cahaya putih di angkasa bak kunang-kunang.


"Red, buka parasutnya," ucap beliau lemas dengan aksen lega.


Aku mengangguk, tangan kiri beliau juga melepasku. Akhirnya aku melayang stabil setelah parasut terbentang dengan baik. Di bawah pun tampak banyak naga berkeliaran. Sepertinya pertarungan ini belum berakh---


Ah!


Tak diduga angin datang dan menderu liar, menyentakku jauh dari Profesor Kaidan. Kini aku dikurung barikade udara; berputar keras sampai mengempas sekitar hingga beliau tak dapat meraihku. Lebih anehnya lagi, aku terbang semakin jauh dalam kecepatan tinggi.


Saat mendongak, kudapati naga panjang mencengkeram parasutku di kakinya. Keenam pasang sayap mengepak hingga bulu-bulu berjatuhan. Sesosok Elite, jelas dari aura dan kemampuannya mengendalikan elemen.


Tunggu, mereka ... mengincarku?


"RED!!!!!" teriak Profesor Kaidan yang samar karena jarak.


Entah apa yang reptil ini rencanakan, tetap tak akan kubiarkan! Gesit aku mengeluarkan Sabel. Kemudian dalam cengkeraman buku tangan nan kuat pada senjata, aku menebas udara secara horizontal sampai kekuatanku mampu mengenyahkan kurungan barikade angin yang menghalangi. Detik kemudian aku memotong tali parasut, membiarkan tubuh kembali ditarik oleh gravitasi.


Curiga akan kembali ditangkap, aku mengganti Sabel menjadi Zweihande. Kuarahkan pedang besarku ke bawah sebagai tumpuan jatuhan, mengerahkan semua kekuatan pada ujungnya. Kemudian aku mempercepat untuk menukik. Kian cepat hingga terasa sampai di titik nol gravitasi.


Seketika debam terdengar, tempat aku mendarat mengolah ceruk cukup dalam sampai merobohkan pepohonan sekitar--aku berada di tengah-tengah hutan. Ha-ah, ternyata mendarat dari ketinggian beratus meter sedikit menyiksa, kakiku terasa lemas; tangan juga sakit. Aku membayangkan, bagaimana dengan orang yang lebih lemah? Mungkin mereka akan patah tulang ... atau kemungkinan buruk lainnya.


"Red, kau baik-baik saja?"


Eh, Fate? Suara pecah dan samar-samar, tapi dari mana? Tunggu, mik mini portabel ini ternyata walkie talkie, begitu kecil sampai aku tak menyadarinya.


"Ya, sedikit terkejut ... selebihnya baik. Aku akan mencari jalan keluar."


"Posisimu ditemukan, kami akan ke sana. Berhati-hatilah, banyak naga menghampirimu." Lux juga? Kira-kira, berapa banyak orang yang mendengar percakapan ini?


Langsung aku kembali melesat meski terseok-seok; berusaha mencari jalan keluar mengikuti instingku sendiri. Sungguh, karena hutan ini sangat lebat bahkan gelapnya malam memperkeruh keadaan.


Sampai akhirnya menemukan setitik cahaya dikejauhan; semakin aku berlari tanpa memedulikan beberapa daun dan akar-akar yang menyangkut di tubuh.


Ini ... tak asing.


Sontak jalanku memelan. Perlahan-lahan, mulai mengenyahkan belukar yang ada di tubuh. Kakiku berhenti melangkah dan mulai menyandarkan raga pada pohon bengkok besar memiliki banyak batang.


Aku tiba di puncak bukit.


Tempat yang sama saat kejadian dalam mimpi, mengingatkanku pada lokasi di mana Mei dan Rei sering menghabiskan waktu bersama.


Tanpa sadar aku bergumam, "Ini desa yang hilang karena Ritual Pengorbanan."