When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sergapan di Funfair



Empat puluh lima anggota Vaughan yang bertugas pada taman bermain terbesar di dunia berbaris rapi depan tenda tentara beserta alat beratnya. Meski terik begitu menusuk bak menciptakan bayang ilusi pada tanah beton nan kukuh, seluruhnya berdiri tegap dengan bergeming seolah-olah ketaatan telah mendarah daging.


Sesuai panggilan yang tersebar, kami berkumpul depan markas sementara kecuali para anggota Departemen Gear dan staf di lapangan. Sepertinya mereka fokus mencari dan memperbaiki wahana yang terkena serangan.


Tak lama tepuk tangan yang sangat keras memekakkan, berkali-kali terdengar hingga memancing seluruh atensi. Dengan tergesa-gesa Profesor Kaidan berlari ke depan kami dan berteriak, "Bergerak cepat! Portal ditemukan, dua puluh orang yang terpilih silakan melakukan serangan dalam portal, sisanya pergi mencari warga sipil! Mereka tak sadarkan diri dan tempat ini luas, selamatkan mereka, segera! Bunuh setiap hibrida yang kalian temui. Cepat, cepat, cepat!"


Seketika itu pula seluruh orang yang ada dalam barisan berhamburan, tampak mengerti tugas apa yang harus dikerjakan kecuali dua puluh orang dengan layar biru holografi Heart Core muncul secara paksa di depan wajah, menampilkan titik radar di mana lokasi portal berada. Dan aku salah satu dari mereka. Seperti pertanda tersendiri, kami tetap dalam posisi siap.


"Kalian semua, kemari."


Refleks aku melambaikan tangan depan wajah guna menutup layar holografi, lalu melangkah pasti mendekati Profesor Kaidan yang berkespresi sangat serius.


"Sudah lihat di mana lokasinya? Bapak tidak bisa ikut mengawasi ke dalam portal, banyak warga harus diselamatkan di luar sini terlebih para hibrida itu tidak berhenti muncul. Tapi kalian yang terpilih untuk tim penyerangan, merupakan orang yang Bapak yakin bisa menangani Elite di dalamnya. Lux, Bapak percayakan tim ini padamu."


Pemuda bermata emas membungkuk seperti tanda mengerti akan tugas yang diembankan, memancing Profesor Kaidan mengangguk bangga atas tangan menyilang depan dada. "Segera ke lokasi! Jangan menunda waktu lagi."


Detik kemudian sunyi berganti dengan derap langkah kaki mengentak tanah. Tanpa berbicara, regu kami langsung menuju titik koordinat keberadaan portal. Dalam layar sebelumnya juga dikabarkan bahwa musuh adalah sesosok Elite. Namun dari wilayah cakupan dan tempat di mana ia membangun markas, hibrida ini cukup pintar dan kuat. Mungkin merupakan Elite tahap akhir yang akan menjadi General. Harus berhati-hati.


Ah, tempat itu ternyata istana boneka tapi ada yang berbeda ....


Bangunan menjulang yang merupakan salah satu wahana terbesar di Dream Land, runtuh. Kemegahan yang kulihat dari atas bianglala telah luluh, hanya menyisakan sisi bawah dari kebinasaan. Ini, persis seperti yang aku ingat ketika dulu Kerajaan Luchifenian diambang kebinasaan.


Semenjak pertama menginjakkan kaki jauh di depan puing-puing, terasa aura berat mencekam seperti direngkuh kuat. Kabut pekat memperkeruh keadaan meski terik matahari menggelegak. Aura bangunan ini, berbeda.


"Ilusi." Sontak aku menoleh, melihat Lux yang sudah meruncingkan atensi. Mata emasnya menatap gahar pada bangunan di depan. Dia mendengkus dan lanjut berkata, "Sepertinya musuh kita suka pamer kekuatan."


Jika dipikir, benar juga. Biasanya portal dimensi hanya lingkaran sihir biasa, bahkan milik General Faerie Dragon merupakan lingkaran ornamen penuh warna pelangi memenuhi rongga gua. Namun, jika sampai mengubah kondisi sekitar biasa digunakan menjadi kamuflase tetapi ini terlalu jelas merupakan portal dimensi.


Siapa pun musuh kami, ia tak ada niatan untuk bersembunyi bahkan lebih seperti mempersilakan siapa pun masuk dan menantangnya. Jelas sekali dari dua gerbang besar itu, mengukirkan lukisan naga yang panjang dan dipenuhi ... kilat? Dalam lingkaran sihir berwarna putih khas.


Mengetahui ini, tampak beberapa orang mulai berwajah serius seperti Crist yang sudah berkutat dengan banyak layar di depan---eh, Crist ada di sini? Aku tidak menyadarinya. Bukan hanya Crist ... Daniel, Fate, dan Cecil juga. Namun, apa gadis rambut perak itu baik-baik saja? Kejadian sebelumnya sedikit membuatku khawatir, tapi dia sudah berjalan lebih dulu bersama dengan para Disiplinaria yang lain--Lux dan Theo. Aku mengembuskan napas, sepertinya terlalu berpikir berlebihan.


Setiba di depan gerbang istana, ada dua staf Departemen Gear tampak menunggu kedatangan kami. Terbukti ketika hampir selesai menaiki anak tangga yang lumayan banyak ini, mereka langsung melambai-lambaikan tangan seakan meminta kami menemuinya terlebih dulu. Semakin dekat, makin jelas mereka membawa kotak troli besi.


"Kami telah melakukan patroli singkat pada bagian depan ruang dimensi, dan kalian akan sangat membutuhkan ini." Para staf mulai membagikan alat berupa gelang besi lumayan besar---ah, ini tali pegas portabel!


Aku ingat pernah memakainya dalam suatu misi di wilayah yang cukup curam. Benda ini mengeluarkan jangka kecil beserta tali, membantu meluncur ke arah jangka berlabuh. Alat yang bagus digunakan pada ruang terbuka, bahkan pernah berpikiran liar ingin menggunakannya sebagai senjata bantu. Namun jika terlalu sering digunakan bisa merasa lelah juga, karena panjangnya tali dan kekuatan daya pegas menyesuaikan kekuatan dragonic dan stamina si pengguna.


Aku mengenakan gelang tersebut pada pergelangan kiri, dan benda itu langsung berpendar neon dan menyesuaikan ukuran tangan. Setelah persiapan selesai, para staf Departemen Gear memberikan hormat pada kami; suatu kebiasaan mereka berikan pada orang yang akan bertugas. Terkadang aku berpikir itu berlebihan, tapi mungkin sudah menjadi kode etik tersendiri sebagai orang yang lebih sering memberikan support daripada terjun langsung menangani masalah.


Aku sedikit penasaran seperti apa ruang dimensi yang hibrida ini miliki? Sampai membuat staf Departemen Gear menyediakan alat khusus karena ketika masuk ke dalam portal, hanya ada gelap menyapa.


"Huh? Ini tuh kenapa portal dua arah? Apa musuh kita terlalu ceroboh apa bagaimana ...," gumam Cecil, sepertinya bukan hanya aku menemukan hal ini sedikit mencurigakan. Sebab jika Elite ini sekuat itu--sampai membuat ilusi gerbang dimensi--seharusnya ia bisa menutup portal menjadi satu arah.


"Lebih tepatnya musuh percaya kekuatannya lebih dari cukup untuk melawan kita. Posisi portal berada di tengah kerumunan orang-orang sipil, memudahkan untuk menyuruh para Pawn menculik orang-orang yang tidak bisa melawan untuk disandera."


Berdasarkan letak istana boneka tepat di tengah-tengah Dream Land dan portal unik, apa yang Fate ucapkan ada benarnya, membuat mata Cecil kembali berbinar penuh rasa kagum. Seperti biasa, gadis ini memiliki pemikiran cukup tajam. Sepertinya dia sungguh baik-baik saja jika masih bisa berpikir logis seperti itu, untuk kejadian pada bianglala akan aku kesampingkan. Tak mau pikiran runyam membuat pergerakanku terhambat.


Ketika keluar dari gelap---oh, astaga! Tempat ini ... luas, sangat besar. Luar biasa; sangat luar biasa hingga terasa menyeramkan. Kami berdiri pada tebing curam dalam dimensi ruang kosong nan kelam, banyak bongkah batu dan potongan jalan melayang di penjuru sisi. Ke mana kami harus pergi? Semuanya hanya potongan jalan yang mengambang.


"Ujung sana." Cecil mulai melangkah tepat pada pinggir jurang dengan tangan kanan menunjuk ke depan, sedikit menyerong ke kanan. "Ujung sana tuh ada kekuatan dragonic yang besar."


"Senior ...." Ah, anggota Departemen Dragonic lainnya mendekati Cecil. Meskipun perempuan itu jauh lebih tinggi, tampak jelas dia menghormati si gadis kecil. Terlebih dalam wajah khawatir dia mengajak Cecil untuk sedikit melangkah mundur.


Tetapi tingkahnya hanya dibalas datar oleh mata merah muda. "Aku tahu bahaya, terasa banyak hibrida di sekitar kita terlebih itu sangat jauh."


Crist mulai melangkah sedikit ke depan, lensa kanan kacamatanya tampak muncul holografi fokus persis seperti aplikasi Scan milik Departemen Disiplin. Namun, mungkin yang satu ini merupakan aplikasi pembantu penglihatan jarak jauh karena pemuda itu sedikit terkejut dan berkata, "Benar! Di sana ada tiruan seperti Dream Land."


"Ya sudahlah kita ke sana---"


"Tidak." Mendadak Cecil memotong ucapan Daniel. Mata ikut menjadi sayu, itu tak biasa. "Menggunakan tali pegas memakan stamina, enggak bisa juga kita melakukan lompatan akselerasi. Semua tempat pijak tuh jauh-jauh banget. Aku takut beberapa dari kita sampai ke sana dengan kondisi kewalahan. Seperti aku, contohnya. Terlebih terasa banyak hibrida di sekitar sini."


Aku baru menyadari rata-rata dari kami memiliki stamina tak sebanyak aku. Terlebih sekarang berada di wilayah musuh, mereka bisa menyerang kapan pun yang mereka mau. Meskipun badan gadis itu kecil, tetapi kepekaan terhadap dragonic sangat bagus; cekatan. Pantas dia termasuk disegani di Departemen Dragonic.


Aku pun berkata, "Jika merasa lelah, aku bisa membawa kalian."


"Senior Red, aku tahu kamu terkenal dengan stamina banyak dan sangat kuat tapi bukannya itu sedikit ... ekstrem?"


Ah, beberapa mulai menatapku tak percaya. Ya, hanya beberapa karena ada juga yang justru terkekeh, seperti Crist dan Lux misalnya. Aku pun berkata dengan datar, "Tidak. Apa kamu mau aku membawa dua orang sekaligus?"


Ha-ah, mereka justru semakin tercengang.


"Kita akan pergi ke sana," ucap Lux dengan intonasi santai tetapi tegas pula, "dan saling lindungi satu sama lain, terutama kalian Class Gunner dan Executioner yang bisa menyerang jarak jauh. Soul Dancer juga bantu memberikan support udara. Jika lelah, istirahat sebentar dan jangan lengah. Atau mungkin bisa meminta tolong pada Red untuk digendong ... iyakan, Fate?"


Astaga, aku lupa! Heeee, apa yang baru saja aku ucapkan?! Benar membantu membawa---ah, stamina Fate juga jauh di bawahku, kalau aku berakhir membawanya ....


Hah, bagaimana ini?!


Ah, Fate justru memiringkan kepala dan bertanya dengan lugunya, "Kenapa kau bertanya padaku?"