When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Underground III



"Itu, di sana!" Mendadak Cecil merayap naik ke atas bangku penumpang dan menempel pada jendela. "Tuh, jajaran gedung di depan, kita harus ke sana!"


Seperti yang lainnya, aku ikut melihat ke balik jendela dan benar saja! Jauh di depan banyak gedung bertingkat-tingkat. Dalam kecepatan ini, pasti akan sampai dalam hitungan beberapa menit.


"Oi, oi! Buat apa intip-intip? Cepat bantu aku buka pintu!"


"Heh, kau tuh memang bodoh, jangan didobrak! Kamu bisa mental ke bawah!"


"Lebih baik daripada diam saja!"


"Oh, ya? Tapi otak juga dipa---"


Brak!


Tanpa pikir panjang aku menendang pintu masuk kereta hingga remuk dan terpelanting jauh. Daniel tampak terkejut, mungkin tak mengira aku sudah ada di sisinya karena terlalu serius berdebat dengan Cecil? Padahal sebelumnya dia menghindari Cecil, tapi kini berdebat lagi. Aku berakhir menaikkan kedua bahu.


Lux yang masih terkekeh, mendekat dan merangkul pundak si pirang. Entah kenapa aku merasakan ada aura ... jahat?


"Nah, sudah terbuka 'kan? Kita turun!"


"Hah, kau gil---AAAAAA!"


Teriakan Daniel tenggelam karena sudah terlampau jauh di bawah, berbaur dalam suara tawa lepas dari Lux---heeee, sepertinya menyenangkan. Tak lama Fate turun, disusul oleh Rose yang ... melirikku dalam raut tak kumengerti, memang ada apa? Ah, aku tertegun ketika terasa pundak ditepuk oleh seseorang. Saat menoleh mata sayu bak lavender sudah melirik dalam suatu kilatan senyum.


"Kamu mirip seperti dia." Itu ucap Theo sebelum benar-benar terjun ke bawah.


Eh? Dia siapa? Ha-ah, daripada memikirkan hal itu, aku bersiap untuk turun karena deretan gedung hampir berlalu. Namun, terasa ujung bajuku ditarik dan mata merah mudah bak neon menatapku penuh harap. "Red, bawa aku."


"Aku juga! Tolong ...." Lantas aku mendapati Crist terlihat jauh lebih baik tetapi raut masam tak lepas dari wajah, terlebih berjalan tertatih-tatih mendekatiku.


Ini membuatku ingat tersisa mereka berdua dan sangat tidak mungkin aku tinggalkan. Tanpa memakan waktu setelah meminta mereka berpegangan erat, aku melompat tapi ... ragu bisa tiba pada sisi ujung gedung.


Suara angin membesit telinga hingga rambut merahku terasa porak-poranda; sekuat tenaga menahan geli karena tarikan gravitasi--tidak seperti Cecil yang mulai histeris. Seandainya Cecil dan Crist tidak mendekap kuat-kuat, mungkin baju seragamku sudah terangkat liar.


Sayang, aku harus melakukan ini.


Sekuat tenaga aku mencengkeram belakang kerah baju mereka. Kemudian kutarik dan lempar ke arah atap yang pipih hingga mereka terguling. Tepat waktu karena saat itu juga aku masih terjun bebas, melewati atas bangunan di depan---ah, Crist muncul dari ujung gedung; berteriak tiada henti memanggil namaku. Aku memilih berbalik dan melihat ke bawah, suatu kegelapan entah sedalam apa di sana.


Anehnya, aku tidak merasa takut, mungkin wajahku masih datar seperti biasa. Seperti dulu. Sensasi menembus angin dalam ruang hampa begitu dikenali.


Mungkin ... karena dunia asal aku pernah mengalami hal serupa.


Saat manusia begitu takut melihatku, mereka mendesak dan mendorongku hingga terjatuh pada lubang tak berujung---tidak, aku tak melawan. Lebih merasa lelah menerima perbuatan buruk. Mungkin juga aku berharap mati. Namun, aku yang masih dalam jatuhan melihat setitik cahaya redup pembawa harum samar yang menenangkan, dan perlahan ... kesadaranku terenggut. Tak lama aku bangkit dekat hutan dan melanjutkan perjalanan hingga bertemu dia, orang terkasihku, dalam senyuman hangat---


"Red!"


Suara gesekan besi yang mencambuk menyadarkan lamunanku.


Aku terkejut mengetahui tangan kanan sudah terlilit rantai. Seketika jatuhanku terhenti, berakhir bergelantungan dan menabrak dinding kaca di depan; membuatku meringis kecil karena rasa tertarik di tangan kanan juga debam memilukan dari tubuh.


Refleks aku mendongak, di sana terlihat Fate dan beberapa tangan yang terhalang gedung berusaha mati-matian menarik rantai. Pelan namun pasti, aku terbawa naik. Mengetahui ini aku ikut berusaha memanjat juga.


Sesampai di atas bersama dengan yang lain, Crist dan Cecil langsung mendekatiku dan berkata maaf berkali-kali. Sejujurnya aku tidak keberatan, tapi tak tahu bagaimana merespons. Sungguh, aku lebih penasaran apa yang terjadi jika sampai di dasar karena tidak bisa mati; tak akan mati. Aku berakhir tersenyum tawar, mengalihkan pandangan pada Fate dan seluruh pemuda--kecuali Crist--yang tersungkur ke lantai.


Apa menarikku sesusah itu? Eh, Fate mendekat---aduh, ah! Mendadak si gadis mencubit dan menarik pipi kananku hingga perih memenuhi muka ... haaa, susah payah aku menahan rasa nyeri karena sungguh tak ampun! Astaga, aku mengeluh kesakitan dan terpaksa mengikuti ke mana dia membawaku.


Hingga cukup jauh dari yang lain, Fate melepas cubitannya dan spontan aku mengelus pipi kanan. Tuhan, perih sampai ujung pelupuk mata mengeluarkan air!


"Inilah kenapa Pak Kaidan enggan memberikanmu misi tim, keabadianmu itu rahasia! Tapi malah kau umbar-umbar begini!" omelnya dengan nada rendah, mungkin agar tak terdengar yang lain?


"Iya, tapi---ah!"


Bukan main! Sekarang dia berjinjit demi meraihku yang jauh lebih tinggi dan mencubit kedua pipi---akh, sampai-sampai ditarik demi memaksaku sejajar dengannya!


"Pakai latihanmu!" cetusnya.


Akhirnya Fate benar-benar melepasku dan aku hanya bisa ... meringis sembari menyentuh-nyentuh pipi. Ini tidak bengkak 'kan? Tak akan bengkak bukan? Sensasi menabrak gedung lebih baik daripada ini, sungguh. Terlebih ditatap bengis oleh iris perak kebiruan itu, auranya benar-benar mencekam jadi lebih baik aku menutup mata erat-erat.


Terasa lengan panjang seragamku ditarik. Tuhan, dibawa ke mana lagi aku? Apa dilempar ke ujung gedung---tidak mungkin!


Ketika membuka mata perlahan ... oh, Fate membawaku kembali pada yang lain. Tapi tanganku belum lepas dari wajah, masih perih! Mereka justru tak henti tercengang menatap kami berdua. Bagaimana ... namanya, aku, tertangkap basah di depan yang lain bukan? Lihat, Lux sampai menepuk keningnya dan tertawa lepas!


Astaga, ini sungguh memalukan!


Setelah kondisi menenang, kami melanjutkan perjalanan tanpa arah sebab aku masih ingat betul telah melewati bangunan ini. Gedung bertingkat-tingkat di sekitar tampak membuat ilusi dan labirin tersendiri. Sampai akhirnya Lux yang berjalan paling depan menghentikan langkah.


Dengan mata emas melirik pada si gadis kecil, dia berkata, "Benar tidak bisa melacak posisi?"


Cecil menggeleng. "Meski enggak ada reptil berkeliaran, kekuatan si empu dimensi sama sekali enggak terdeteksi. Seperti ada yang mengganggu sinyal. Aku tuh, cuma yakin ia ada di wilayah ini."


Lux terdiam dan menyentuh dagu, seperti menimbang-nimbang sesuatu. "Crist, komunikasi dengan luar terganggu?"


"Ah, eh? Ti-tidak, semua baik," jawab Crist terbata-bata, mungkin masih berusaha menenangkan perasaan yang berkecamuk.


Lux pun mendengkus, lalu berdiri kukuh dengan mengarahkan dua tangan ke kepala---ah, gelagatnya berhenti. Seperti orang yang berpikir, mata emas kini menatap lurus tepat ke arah Fate sampai mengukir suatu seringai. "Kamu saja, bisa lebih mendetail 'kan?"


Yang dituju mengembuskan napas panjang dan memasang wajah datar khasnya. Kini berganti Fate yang berdiri kukuh, menaikkan tangan kanan dan dalam satu jentikkan jari, desir bayu membuat kemeja putih berkibar anggun; juga rambut peraknya yang lembut---eh? Seper sekian detik, aku melihat mata Fate yang kini bersinar, memancarkan suatu kerlip berwarna ambar sebelum cakupan teritorial embusan angin kian melebar.


Aku yang masih terkejut, mencoba meraih pundak Daniel meski mata tak lepas melihat Fate sedang memfokuskan pikiran. "Kamu lihat itu?"


"Ha?!"


"Mata Fate ... sempat berubah menjadi ambar."


"Halah, Red! Di saat kayak begini sempat-sempatnya kamu malah fokus ke Fate? Iya, oke deh! Kamu makin suka sama dia karena dia selamatin kamukan? Mojok-mojok, huuu!" Tunggu, kenapa Daniel melantur begini? Jelas-jelas tadi aku dimarahi habis-habisan!


"Enggak, mata dia memang lagi bersinar, tapi tetap abu agak biru," lanjutnya kemudian.


Eh?


Aku menatap Daniel linglung tetapi wajahnya masih serius atas dua tangan dilipat depan dada. "Yang bikin aku penasaran, Fate melakukan apa ya?"


"Namanya Sight, dikhususkan untuk para Enforcer," jawab Fate.


Kini dia menggenggam inti Floating Hourglass hingga kembali pada bentuk bola kristal dalam genggaman. "Gabungan dari Vision dan pendeteksi ruang. Bedanya, tidak perlu memunculkan bola lampu, tapi langsung terhubung dengan mata pengguna."


Fate sedikit meninggikan Heart Core dalam telapak dan tak lama, denah lokasi muncul di antara kami ibarat suatu proyeksi bangunan. Sungguh, dalam peta terpampang jelas tinggi rendah setiap bangunan; jalan; rambu lalu lintas; sebagainya. Benar apa yang tadi Lux katakan, penggambaran Fate mendetail seolah-olah tempat ini dibangun olehnya.


"Huh, kenapa Enforcer doang yang punya kemampuan keren?" celetuk Daniel, "Ace sekelas Red saja enggak bisa apa-apa."


Heee, kenapa jadi aku?


"Karena hanya Enforcer yang punya cukup kontrol dragonic untuk menggunakannya," jelas Lux beriringan menyentil kening si pirang.


Ah, baru kali ini aku melihat ekspresi kesal dari Daniel setelah sekian lama. Namu, Lux hanya tersenyum lembut, entah kenapa tergambar aura seorang kakak di wajahnya.


"Sebentar, ada ruang kosong berbentuk kubah yang mencurigakan," ucap Fate menunjuk salah satu tempat dalam holografi peta, "jika prediksiku benar, kemungkinan naga tidak terdeteksi karena tertutup kubah ini."


"Ya, tidak ada salahnya untuk mencoba. Bisa tuntun kita ke sana?" tanya Lux beserta senyum polos tak berdosanya.


Fate terdiam dan mengangguk pasrah setelahnya.


Mengikuti instruksi si gadis, kami mulai menuruni gedung dengan lompat secara ekstrem lagi. Tanpa ada anak buah sang Elite, perjalanan kami dalam ruang dimensi berupa kota kecil berlangsung dengan lancar. Mungkin sedikit tersendat karena beberapa potong ilusi.


Lantas aku mendongak. Terdengar derap sol jelas sekali memenuhi jalan yang sepi; menyaruk langkah ritmis di bawah langit terhias palang rambu lalu lintas yang melayang tinggi. Langit jingga tanpa awan mengingatkanku pada kejadian tadi. Namun, bertanya pada yang lain pun, tak ada yang melihat perubahan warna ambar di mata Fate.


Apa itu hanya perasaan---ah! Aku tak menduga jalan kami mendadak berhenti hingga menabrak Theo, tapi jauh di depan sana ada reptil besar yang gemuk dengan ekor palu di dalam kubah transparan.