
Sebenarnya aku memang sudah bangun sedari awal, sekadar masih berbaring lesu karena tidak ada misi pagi ini, hanya perlu melapor tugas kemarin dan aku diminta datang ke gedung Departemen Eksekusi sekitar jam delapan pagi lantaran Profesor Kaidan di pagi buta sudah ada hal yang harus dikerjakan--katanya--jadi aku diberi sedikit waktu senggang.
Sebab hal itu pula aku bisa menyiapkan sarapan untuk club. Namun, seriuslah, ini masih jam lima pagi tapi Daniel sudah meneriakkan namaku berkali-kali di depan kamar? Apa lagi dia sampai menggedor pintu.
Akhirnya aku mengalah, lunglai berjalan ke arah pintu dan membukanya. Maka tampaklah Daniel sudah tersenyum khas meski hanya kubalas dengan tatapan malas, menyandarkan kepala ke mulut pintu.
"Aku tahu kamu pasti sudah bangun! Atau bangun gara-gara aku, hehehe," tuturnya bersemangat dengan tampang tak berdosa, "boleh masuk kamarmu? Ada yang mau aku bicarakan nih!"
Oh, mataku terbuka lebar seketika. Mungkin hal penting hingga menemuiku pagi buta? Terlebih dia ketua Club Dion. Dengan sopan aku mempersilakan Daniel masuk, meminta izin untuk mencuci muka sebentar sebelum memulai percakapan.
"Heem, kamarmu rapi juga," ucapnya dengan mengangguk-angguk kecil dalam mata hijau menyisir sekitar ketika aku keluar dari kamar mandi.
Kini si pirang duduk pada kursi di meja belajar dekat jendela yang masih terbuka lebar, mempersilakan angin berdesir halus. "Semuanya tertata begini, kalau kamarku ... hehehe."
Lantas aku duduk pada pinggir kasur demi mengarahkan mata jelaga padanya. "Barang yang diletakkan pada tempatnya mudah ditemukan. Jadi, ada apa?"
Ah, senyum lebar kembali terlukis pada wajah kukuhnya. Cepat-cepat Daniel beranjak dari bangku dan berpindah duduk di sampingku, dan jujur sangat dekat sampat pundaknya bersentuhan dengan badanku.
Seketika dia mengeluarkan ponsel dari saku celana, menyalakan dan menunjukkan beberapa gambar makanan dalam layar. "Red, lihat makanan khas wilayah timur!"
"Hem? Aku baru tahu, rata-rata menggunakan ... nasi?"
"Nah, iya! Aku penasaran sama ini! Kamukan pintar masak, pagi ini buat sarapan yang ini, ya?"
"Eeemm, apa ini namanya ... sus-usus, Sushi? Onigirly?" gumamku sembari menyipitkan mata dan memperbesar gambaran dalam layar ponsel, susah payah menyebut nama yang baru sekarang aku jumpai. "Tapi Vaughan jarang menyediakan beras ...."
"Oho, soal itu enggak perlu cemas! Aku sudah beli satu kilogram beras sepulang misi kemarin!" ucap Daniel menggebu-gebu yang membuatku heran sampai celangap, "aku mengidam banget nih! Makannya sampai siapin bahan, kalau lauk sudah pasti disediakan Vaughan. Tolong, ya? Aku mohon, mohon, mohon, mohon---"
"Aaah, iya. Aku usahakan," ringisku dengan menggaruk kepala, berharap suaranya yang bising di pagi hari ikut hilang.
Sontak dia kegirangan mendengarnya hingga melonjak-lonjak dan tentu susah payah aku tenangkan. Jujur, hanya Daniel bertingkah seperti ini di depanku. Bagaimana juga mengidam, laki-laki tidak bisa hamil 'kan? Entahlah, sebenarnya aku juga tidak keberatan.
"Tapi aku butuh resep cara membuatnya, ada video atau apa ... begitu?"
"Ada dong! Ini Red." Daniel langsung menyerahkan ponsel yang sedang memutar suatu rekaman---ralat, video tata cara membuat makanan.
Lantas aku menggenggam ponsel miliknya agar dapat melihat dengan jelas. Jujur, ini tampak sedikit rumit dalam artian tangan harus andal ketika membentuk makanan. Ah, ternyata ada juga makanan berat yang dapat dibentuk selain jenis roti.
"Daniel, lihat mereka menggunakan semacam sekat bambu untuk menggulung nasi. Kita tidak punya itu di sini."
Yang dituju mencondongkan kepala demi melihat apa yang aku tunjukkan. Namun, wajahnya mengernyit seperti acuh tak acuh. "Kamukan pintar masak, akal-akalin saja masalah itu."
Aku terdiam terhadap pernyataan Daniel, memilih menutup mulut dengan tangan kanan demi berpikir sempurna. Mungkin bisa menggunakan aluminium foil? Membuat sesuatu yang baru seperti tantangan tersendiri dan mungkin tidak buruk juga.
Aku mengangguk dan menyerahkan ponsel yang diterima pemiliknya. "Bisa. Mungkin hasilnya tak sempurna karena alat dan bahan seadanya, tapi bisa dicoba."
"Bagus! Ayo langsung buat!" Seketika Daniel berdiri tegak dengan mengukir senyum kuda, menautkan lengan kananku pun dia menyeretku keluar dari kamar.
Lantas derap langkah riuh menggema di lorong kamar. Aku terkejut dengan tingkahnya yang tiba-tiba, lagi pula ini masih sangat pagi bukan?
Namun, seperti membaca pikiranku, Daniel berkata, "Kita masak dari sekarang, mencoba resep baru pasti eskperimen dulu dan itu memakan waktu!"
"Tapi aku belum mandi."
Menuruti titah, aku pun mengangguk dan perlahan menuruni tangga club. Tidak seperti Daniel yang bertindak sesukanya tanpa memikirkan sekitar, sorot matahari tampak malu-malu dari jendela menandakan masih terlalu dini untuk kebanyakan orang beraktivitas dan aku tak mau membangunkan mereka.
Sesampai di dapur aku mendengar kasak-kusuk dengan lampu yang sudah menyala---ah, ternyata salah satu anggota club sedang menata sekantung penuh berbagai macam bahan makanan ke dalam lemari pendingin, mungkin dia yang bertugas mengambil pangan untuk hari ini. Maka aku membantunya sampai Daniel datang.
Begitulah pagiku yang lumayan gaduh dimulai.
Benar saja apa yang Daniel perkirakan--meski sudah dapat bantuannya--aku memakan banyak waktu mencoba resep yang baru sekarang disentuh. Bahkan laki-laki ini juga membuat makanannya sendiri, meski berantakan dengan nasi berserak di atas meja.
Mungkin aku harus menasehatinya untuk tidak memainkan makanan, tapi melihat wajah itu begitu serius ... aku tarik niat tadi. Tak seperti dalam pikiranku, ternyata Daniel berusaha keras mencoba sesuatu yang bukan dalam bidangnya. Lantas aku mengulas senyum simpul dan membantu untuk menuntun dalam beberapa tahapan.
"Sesuai dugaan!" celetuk gadis kecil yang begitu aku kenali, "dua cowok kalau sudah rusuh pagi-pagi tuh, pasti ada yang dikerjain!"
"Oi, Cil! Pas nih kita baru kelar masak, pasti kamu suka!"
Si gadis kecil hanya mendengkus sebal, tak peduli pada apa yang Daniel katakan. Tak lama anggota club lain turun satu persatu dan beberapa ada yang mulai memenuhi bangku meja makan. Langsung aku menoleh ke arah jam, syukurlah tepat waktu ... pukul setengah tujuh pagi.
"Kalian mencoba resep baru?" tanya Crist santai dengan mengambil satu cangkir dalam lemari rak piring, mata biru tua turut melirik pada meja memasak yang sedang aku bersikan.
"Iya, ini makanan orang-orang timur itu loh! Lihat nih buatanku," jawab Daniel penuh semangat.
"Huh, pantas hancur lebur begini, curiga orang yang makan nanti keracunan."
"Jangan begitu Cil, ini enak tahu! Dijamin deh! Sudah aku coba tadi. Sini, aaaa ...."
Ah, mulai lagi. Dua insan ini memulai kericuhan seperti biasa. Sekarang Cecil tak henti menyalak liar pada Daniel, dan beberapa anggota club mencoba melerai mereka meski diiringi kekehan yang tak dapat ditahan.
Satu lagi menarik perhatianku, pintu utama club terdengar dibuka. Ada yang masuk tapi pintunya masih dikunci 'kan? Lantas aku sedikit berjalan ke luar ruang dapur dan mendapati langkah kaki itu kian mendekat, apa mungkin---oh, ternyata. Tepat waktu untuk mencoba makanan baru bukan?
"Fate, apa mau coba ... eeerr, apa tadi namanya?" Aku menoleh ke belakang, berharap mendapat jawaban dari orang-orang yang sudah mengisi di depan meja makan.
"Onigiri, Red. Omong-omong apaan nih, punyamu bentuknya lucu-lucu! Baru sekarang membuatnya 'kan? Hei, ini curang!"
"Oh ya, benar. Onigirl---eh, Onigiri," ucapku gugup dengan mengusap tengkuk, juga tak memedulikan apa yang Daniel katakan karena ... Fate hanya berdiri; menatapku datar. Bahkan ragu mata perak kebiruan benar-benar tertuju padaku atau tidak, meskipun wajahnya sedikit mendongak dan terarah pada iris jelagaku.
Sungguh tanpa ekspresi, atau mungkin aku tak mengerti apa maksud dari wajah dinginnya? Benar terasa dingin sampai-sampai seluruh manusia dalam gedung club senyap, seakan hanya ada aku dan Fate. Namun, dengan ragu aku berjalan mendekatinya. "Eeem, Fate?"
Semakin jarak antara kami terkikis, semakin itu pula bibir merah muda perlahan melukis senyum. Seharusnya, raut dalam wajah pualam itu bisa aku sebut amat sangat manis ... kalau tidak ada aura mencekam mengelilingi tubuh semampai yang mendadak membuat jiwaku terasa ciut. Tuhan, sungguh! Ini adalah horor dalam tahap selanjutnya, bukan suatu ekspresi lugu seorang gadis!
"Ikuti aku."
"E-eh? Tapi---"
"Se. Ka. Rang." Dan senyumnya semakin terlihat jelas.
Astaga, saat itu juga langsung mengangguk cepat dan mengikuti ke mana dia pergi. Aku pasti dalam masalah, benarkan? Karena aku paham betul sekarang Fate sedang marah ... atau tidak? Entahlah!
Perubahan ekspresinya begitu tiba-tiba hingga jantungku berdetak tak beraturan sekarang, tangan ikut berkeringat dingin. Bahkan terdengar suara helaan napas singkat dari arah meja makan, seperti mereka tak percaya melihat tingkah Fate yang tidak biasa. Ini masih sangat pagi tetapi gadis itu sudah menemuiku dan ....
Ah, aku benar-benar dalam masalah besar!