
"Aku akan sangat merasa positif Fate pasti dipihak kita. Fate bisa analisis sangat jauh dan adaptasi tinggi dengan apa yang terjadi di dunia ini, tapi Red tidak. Hmm ... dia benar-benar tiba dalam keadaan polos," ucap Crist, "tapi itu yang aku takutkan dari Fate. Kekuatan dan kontrol yang besar itu berbahaya. Apa lagi jika orang tersebut sadar akan apa yang ia lakukan. "
"Menurut kalian kenapa Lucian menjadi waliku? Ia menjadi wali untuk mengawasiku. Jika terbukti aku adalah musuh Vaughan, detik itu juga akan menjadi akhirku."
"Itulah mengapa kau lebih menakutkan dan berbahaya, Fate. Bahkan Pak Lucian sampai turun tangan untuk mengawasimu." Terasa beban tubuh si pemuda lepas dariku, mungkin kini Crist duduk tegap. "Sedangkan Red masih benar-benar mencari jalan."
"Nahkan, untung kita temukan Red lebih dulu." Refleks mataku berkedut mendengar perkataan Daniel.
Tunggu ... lebih dulu?
"Oh, iya. Red, ingatanmu masih ada yang samar? ... Red?"
Mendadak terasa ada yang menepuk pundak dan aku tertegun seketika; memandang penuh kejut pada pemuda di sisi. "Huh? Maaf, apa tadi?"
Sontak Crist melihatku penuh nanar. "Apa percakapan ini terlalu berat untukmu?"
"Eh? Tidak-tidak, tadi rasanya ada sesuatu yang mengganjal ... tapi, tak ingat itu apa." Aku mulai menggaruk rambut yang tak gatal. "Crist, aku ini kenapa?"
Heee, yang dituju justru terkekeh kecil dengan menutup mulut. Satu sisi, terasa Daniel mengeratkan rangkulan tangannya dariku. "Ingat jangan terlalu memaksakan diri!"
"A-aah, iya aku usahakan."
"Tapi memanglah ... dunia kalian berdua, makhluk surga dan neraka sampai ikut campur ke kehidupan, untung di dunia ini enggak."
Huh? Aku merasa ada kejanggalan lagi.
"Karena tidak ada yang memberikan jalan untuk mereka ikut campur urusan dunia kalian," jawab Fate terhadap ucapan Daniel.
Lantas, aku menoleh pada si gadis. Ini terasa tak asing. "Karena para iblis baru bisa bertindak jika manusia memang memberikan izin pada mereka, dan malaikat hanya menjalankan tugas?"
"Ya, seperti yang aku bilang tadi. Urusan di dunia lain tidak akan sampai pada dunia lainnya."
Ah, begitu. Berarti benar, dulu penyebab aku lepas kendali karena aku memberikan izin pada malaikat jatuh itu untuk menggunakanku. Benar-benar ... aku mengembuskan napas panjang. Perkataan Lord Metatron sungguh nyata, ketidaktahuan adalah dosa. Namun, kalau begitu, kehadiran aku dan Fate di sini juga bukan hanya kebetulan semata.
"Berarti, apa kedatangan kita berdua juga atas keinginan seseorang?" tanyaku lagi.
"Kemungkinan besar iya. Tapi aku tidak tahu siapa yang mengirimku atau menginginkanku ke dunia ini. Yang jelas, yang mengirimku bukan manusia karena perkara urusan dua dunia ... sudah di luar perkara manusia."
"Jangan-jangan, yang menginginkan kalian itu para naga!"
"Heh, Daniel! Kau tuh kalau bercanda kelewatan ya!"
"Apa sih, Cil? Lagian tegang-tegang banget!"
Lagi-lagi mereka berdua berdebat lepas tak jelas. Tapi mendengar perkataan Daniel mencelikkan sesuatu dalam benak, pun aku langsung menatap serius pada mereka.
"Apa benar kalian yang pertama menemukanku?"
Sontak sunyi membumbung; membawa perasaan ganjil entah dari mana. Fate spontan menurunkan kaki yang menumpuk di atas paha meski tubuh masih bersandar di sofa. Sedangkan Cecil dan Daniel masih dalam wajah biasa mereka meski terukir ada rasa heran di sana. Tunggu, kenapa aku memperhatikan gestur kecil seperti ini?
"Ya iyalah Red! Buktinya kamu di sini, bareng sama kita semua!"
Ah, benar juga apa kata Daniel. Kalau bukan mereka, siapa lagi? Tapi kenapa ada yang aneh? Kupaksa untuk membenarkan seberapa keras pun ... rasanya, juga tak terima akan pernyataan tersebut.
Dan aku yakin, masa dari aku lahir hingga sekarang semua kuingat. Tapi kenyataannya, memoriku tertutup karena kelamnya masa lalu dan yang menutup adalah aku sendiri ... bukan?
Kenapa semua tak berhubungan? Ah, apa ini? Kenapa terasa membingungkan? Apa yang aku katakan dan terjadi, bertolak belakang dari apa yang aku yakini.
Di sana ... aku terperangkap dan terbelenggu, dikelilingi sosok reptil besar tanpa rupa dan bentuk yang dapat diraba. Tapi ia di sana, memandangku. Kami sangat dekat hingga mata saling mengunci. Ia menginginkan aku untuk menjulurkan tangan padanya dan berkata ... tapi aku---
Suatu kalimat dari bahasa aneh keluar tanpa permisi, sampai aku sendiri terkejut dan membungkam mulut dengan kedua tangan.
Yang lainnya menatapku tak percaya, bahkan Daniel sampai membanting tangan ke meja. "Itu! Itu bahasa aneh yang aku dengar waktu terkontaminasi sama naga!"
Lantas mata biru tua Crist melihatku dari ujung kaki sampai kepala---eh, kenapa? Aku juga heran kenapa bisa mengucapkannya. Kalimat itu keluar begitu saja, aku sendiri tidak mengerti maksudnya apa.
Lalu wajah Crist berubah serius dan berkata, "Red, bisa ulangi lagi apa yang kamu bilang tadi?"
Aku mengangguk, kemudian menurunkan tangan perlahan dan mengucap kalimat berbahasa aneh itu. Crist tampak mencatatnya dengan cepat di atas kertas putih yang terus dia bawa.
Cecil terlihat sangat tertarik dengan hal ini sampai-sampai turun dari sofa dan merangkak mendekati meja tempat Crist menulis.
"Crist, ini tuh bukan ditulis pakai alfabet deh. Bahasa Dragonic bukan sih?"
Langsung si pemuda menoleh ke arah Cecil. Namun, Cecil berakhir meraih pulpen yang Crist terus pegang dan berganti menulis di atas kertas tersebut.
"Ma ... er ... an'i ... aduh, susah! Bahasa Dragonic Kuno kayaknya, aku cuma hafal segini doang."
Crist masih terdiam, hanya mengangguk dan mengambil foto dari tulisan tersebut. Mungkin akan diserahkan pada anggota Departemen Konsultasi yang lain? Ah, akhirnya Daniel melepas rangkulannya dari leherku. Dia pun berkata, "Red, kok kamu tahu begituan sih? Dengar dari mana?"
"Aku juga ... tidak tahu." Aku menutup mulut dengan tangan kanan. "Rasanya, ada yang aneh."
"Hih, kamu dari dulu enggak jelas kalau ditanya! Cil, itu maksudnya apaan?"
Si gadis kecil melirik pada Daniel dan menjawab, "Aku juga enggak yakin, tapi ini kayaknya bahas masalah ... hm? Kemba ... dupan ... oh! Penghidupan kembali?"
Mendadak terasa ada yang mencengkeram kedua pundakku---eh, Daniel?!
"Kamu mau hidupin siapa?! Aduh, orang terkasihmu? Ayolah, jangan mikirin masa lalu terus!"
"He?! A-aku tahu ia tidak bisa kembali ... aku juga tak mengerti ini apa. Ah, maafkan aku!" jawabku penuh gugup hingga memejamkan mata erat-erat.
"Daniel, sudahlah. Kamu selalu berlebihan kalau merespons sesuatu," kesah Crist dengan melepas paksa tangan Daniel dariku. Ha-ah, rasanya seperti diperebutkan banyak orang. "Red, kamu ingat hal lain yang berkaitan dengan ini? Atau mengalami hal aneh yang tidak kamu laporkan pada kami?"
Sesuatu yang berkaitan? Lagi-lagi tangan kananku langsung menutup mulut, kebiasaan jika berpikir keras. Rasanya ... tidak ada? Dan hal-hal tak dilaporkan, rasanya juga tidak ada. Aku selalu mengabari setiap misi atau kejadian kecil yang berkaitan dengan para hibrida dan naga---eh, ada satu. Tapi, itu hanya gosip?
Aagh, tidak-tidak, sang uskup sendiri sebut itu mengenai keanehan dalam diriku. Hingga setiba di sana aku langsung di serang dengan ilusi aneh. Bahkan mereka sebut itu bukan naga, melainkan para iblis.
Huh?
Sebentar ....
Bukannya Daniel tadi menyebutkan dunia ini tidak berkaitan dengan para iblis dan sejenisnya? Ketika aku memasuki alam mimpi itu juga terasa seperti ilusi portal para naga. Dan anehnya, aku merasa tak asing?
Terutama ketika melintasi tangga semu yang sangat banyak anak tangganya.
Tapi dunia itu bukannya hasil mimpi buruk si kembar Mei dan Rei karena Ritual Pengorbanan? Lalu, kenapa? Mungkin karena aku---ah ....
"Ada. Tapi sebelum itu, apa boleh aku bertanya?" Crist langsung tersenyum kecil dan mengangguk, lantas aku lanjut berkata, "Apa kalian pertama menemukanku di sekitar daerah Rhodes?"
Seketika, senyum si pemuda luntur.