
Memasuki awal September, rasanya cuaca jauh lebih dingin; memaksaku mengenakan baju sweter lengan panjang. Ya, musim gugur. Tak terasa gadis itu sudah setengah tahun lebih berada di Vaughan. Namun, apa kabarnya?
Akhir-akhir ini Fate jarang muncul dalam club, untuk makan bersama pun hampir tidak pernah; pesan singkat juga tak dijawab. Apa sejak kejadian satu minggu yang lalu, ia menghindariku?
Tapi ... kenapa?
Terlebih kata-katanya waktu itu membuatku gelisah samar dalam hati. Dan entah mengapa, aku merasakan suatu bahaya tersendiri---ah, lagi-lagi pikiranku kacau padahal udara jauh lebih segar dari hari-hari kemarin. Tetap saja segala yang aku lakukan tak membuat tenang dan tanpa sadar, menyelesaikan misi lebih cepat dari tenggat waktu yang ditentukan.
Sore ini, aku berjalan lepas sampai kaki memutuskan untuk berhenti sembarang. Maka wajah mendongak, menyaksikan jingga senja dalam gurat langit nan bersih; bersama barisan burung terbang membentuk siluet, membuatku merasa ada yang tak beres.
Tak lama aku mengembuskan napas panjang dan mencari mesin jual otomatis yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Mungkin akan membeli satu kopi kaleng hangat. Namun, ketika baru memilih minuman, terasa seseorang menyentuh pundak hingga refleks menoleh---eh, Profesor Gil?! Aku merasa terkejut juga bingung secara bersamaan, ada urusan apa beliau denganku?
"Apa kau melihat Fate?"
Lantas kelopak mataku tersibak dan spontan menghadap beliau secara sempurna. Bahkan suara dentang minuman kaleng yang baru jatuh dalam mesin jual otomatis tak kupedulikan. Sebab sesuatu pasti terjadi dengannya. Perlahan, aku pun menggeleng.
Melihat reaksiku, beliau menghela napas sebelum mengacak-acak rambutnya sendiri. "Apa yang sebenarnya terjadi ... dan di saat seperti ini juga."
Saat seperti ini?
Beliau kembali melihatku. "Kamu dekat dengan Fate 'kan? Bisa kau dekati ia dan tanyakan apa yang terjadi? Belakangan ini, ia susah dihubungi."
"Boleh tahu di mana posisi terakhirnya?" balasku secara cepat dalam nada khawatir yang kentara, "aku akan coba temui ia."
Mata orang tua di depan terpejam seraya mematut jenggotnya yang panjang. Akhirnya, Profesor Gil menjawab, "Kau tahu di mana tempat kesukaannya 'kan?"
...****************...
Tempat kesukaannya. Tempat kesukaannya ....
Aku mengulang kalimat itu berkali-kali di kepala seraya melangkah cepat. Tak begitu yakin apakah kaki jenjangku tertuju pada tempat yang benar tapi aku tak berhenti; bertaruh dengan perasaan sendiri sampai-sampai meneguk habis kopi kaleng dalam satu tenggak, karena kuatnya rasa takut terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti.
Untuk kecemasanku, aku harap kali ini insting berkata salah.
Akhirnya tiba ke tempat tujuan ... perpustakaan. Aku pun mengeluarkan dompet; menyiapkan kartu identitas dan menempelkan pada mesin pemindai di dekat pintu; menahannya beberapa saat.
Ketika pintu terbuka otomatis, aku langsung beralih pada beberapa rak buku beserta meja kosong di lantai satu yang membahas ilmu dasar. Namun, Fate tidak ada di mana pun.
Menderap lagi menuju tangga, mencari di lantai dua tempat informasi penelitian disimpan. Juga tidak ada.
Melangkah ke lantai tiga penghimpun kasus-kasus---ah, tetap tak ada.
Aku mendengkus dan lanjut berjalan lesu ke lantai teratas perpustakaan.
Setibanya, aku langsung disambut oleh balkoni yang lumayan luas. Awan tampak dekat, berbaris-baris seolah-olah membawa bisikan sendu nan melambai-lambai pada rimbun pepohonan. Dan di bawah langit yang perlahan ditelan gulita, aku melangkah untuk duduk pada salah satu bangku memanjang ... bersama seorang gadis yang setia beku menatap cakrawala.
Tatapan mata perak samar birunya begitu kosong.
"Fate." Suaraku merintih, sedikit melengking karena rasa dalam dada tak tertahankan.
Kemudian kembali memanggil namanya; terus menyebut namanya, tetap dia tak merespons. Tidak henti mata memandang lurus ke atas, seakan memang hanya ada dia di tempat ini atau aku berbicara pada seseorang yang telah kosong jiwanya? Terdiam; mematung; senyap, hanya rambut perak melambai pelan karena terpaan angin pembawa suasana sunyi.
Tanpa pikir panjang aku menyandarkan kening pada pundaknya. Di saat itu juga, untuk pertama kali, tubuh si gadis bergerak.
"Red?" Aku kembali menegak dan menatapnya yang bertanya, "Sejak kapan kau tiba?"
Aneh. Tak biasa. Aku seperti mengetuk pintu amat tebal tapi sedikit pun kau tidak mendengarnya, lalu seolah-olah bertanya ... itu siapa? Apa aku kenal kamu? Itu aneh bukan? Sangat aneh karena biasanya dari jarak jauh, Fate langsung menyadariku. Dia terkenal gesit dan cekatan tetapi ke mana perginya gadis yang biasa aku kenal? Karena sekarang, ini seperti cangkang yang sudah ditinggalkan isinya.
"Kamu melamun."
Sesaat Fate diam melihatku, sebelum menatap ke arah langit lagi. "Barusan, rasanya aku mendengar suara."
"Suara? Sejak kapan mendengar suara itu?" Ah, kenapa aku mulai cemas?
"Dua hari setelah acara ulang tahun Vaughan."
Fate masih melihat ke arah langit dan---Tuhan, matanya terlihat seakan dia tidak ada di sini. "Ia memanggilku. Seseorang memanggil namaku. Memintaku untuk kembali, dan berkata menungguku ...."
Ketika mengatakan hal tersebut, tangannya meraih ke langit seperti ingin menggapai tangan seseorang yang tidak terlihat; seakan dia akan menghilang begitu saja---tidak, ini tak benar!
"Jangan didengarkan!" Spontan aku beranjak dari duduk dan mencengkeram kedua pundaknya.
Fate pun terkejut, menatapku dalam kelopak sedikit tersibak; tangan kanan juga perlahan turun ke samping tubuh. Namun, ekspresinya berubah dan berakhir menatapku bingung.
E-eh? Tidak bermaksud---ah, aku langsung melepasnya dan kembali duduk di samping. Astaga, apa-apaan itu? Aku selalu terbawa suasana tapi mengajaknya kembali ... pulang? Ke mana? Dan mengapa?
Aku menutup wajah dengan dua tangan dan menyandarkan siku pada paha. Sebab kini firasatku benar-benar buruk mengetahuinya. Apakah ini yang sedari tadi aku khawatirkan? Bahwa suatu saat justru Fate yang akan---
"Jangan terlalu dipikirkan," ucap Fate sukses memancingku untuk melihatnya lagi, "jadi ada urusan apa mencariku?"
Lantas aku menarik dan mengeluarkan napas pelan-pelan. "Profesor Gil, beliau mengkhawatirkanmu."
"Profesor Gil ...." Mata perak kebiruan melebar sekilas. Dia segera meraih ponsel dari saku dan memeriksa sesuatu di layarnya.
Seketika ekspresi Fate berkerut, seakan merasa bersalah ketika melihat waktu dan banyaknya notifikasi pada layar ponsel. "Rapat dengan Profesor Gil dan Lux satu jam yang lalu, aku harus segera pergi."
Bergegas si gadis berajak dari duduk, sontak aku mengikuti sebab meski dalam keadaan seperti ini, tatapannya tak biasa; masih kosong. Aku tidak berbicara dengan mayat bukan? Bahkan ketika dia di depan---
"Awas tangga!" Refleks aku menggenggam salah satu tangannya.
Lantas Fate tertegun dan menoleh ke arahku. "Oh, terima kasih."
Karena hal ini, aku merasakan tangan Fate begitu---ah, aku terus menautkan jemari kami, begitu perlahan seolah-olah takut melukai. Sebab dia tampak berwajah datar seperti biasa. Hanya saja, mata perak kebiruan hilang binarnya.
Aku pun bertanya, "Masih ingat apa yang kita bicarakan ketika perayaan ulang tahun Vaughan?"
"Tentang keabadianmu?"
Ternyata dia masih ingat. "Iya, kamu mengatakan masalah bayaran. Katamu, bukan aku yang akan membayarnya. Maksudnya apa?"
"... Bayaran? Apa maksudmu?"
Huh?
Aku kembali menoleh ke arahnya, menatap dalam gelagat tak percaya. Namun, dia hanya menatapku balik dengan kebingungan. Fate tidak tahu apa yang dimaksud, itu bisa kulihat dari ekspresinya.
Tapi masih kuingat jelas dialah yang mengatakannya, terlebih dengan wajah tak biasa---tunggu, atau yang waktu itu buka Fate?
Mendadak langkah kami berhenti. Fate juga melepas genggaman tangannya dariku dan sebab itu pula aku menyadari, kami telah tiba di depan pintu masuk perpustakaan.
"Aku tidak apa-apa."
Setelah sekian lama, untuk pertama kali, aku membiarkan jemari lentik si gadis menyentuh dadaku. Tetapi, ucapan setelahnya bukan suatu kata yang ingin kudengar.
"Kamu tidak perlu selalu mengikutiku."
Dan Fate pergi, tanpa berkata apa pun lagi. Di sini aku masih berdiri, memandangi rambut panjangnya sedikit melambai ketika dia berbelok dan membelakangi gedung perpustakaan.
Aku sama sekali tidak bisa membaca ekspresi wajahnya.
Bayaran; bisikan, kenapa sekarang gadis itu yang mendapatkannya? Apa aku melakukan kesalahan hingga merusak arus takdir? Atau memang seperti ini akhirnya?
Terlebih juga menyadari ....
Tidak ada lagi sosok suci Metatron dalam tubuh Fate. Aura sayap dan bulu-bulu bertebaran yang terkadang aku lihat saat bersamanya kini sudah tidak ada. Jikalau ada, tak seharusnya dia bisa mendengar bisikan aneh seperti itu bukan? Karena pasti, ada yang menjaga jiwanya. Dan sekarang ....
Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?