
Sekarang permasalahannya karena Fate memberikan Anugerah Metatron padaku agar terlindung dari murka bumi, sehingga kini dia mendapatkan gangguan mental dari Gaia 'kan?
Pantas saja warna matanya berubah ambar, karena gangguan mental yang diberikan oleh jiwa buminya.
Pantas saja tak lagi merasakan kehadiran Metatron, karena berkatnya telah hilang dari tubuh si gadis.
Pantas saja ada sosok yang merasuki tubuhnya demi berbicara padaku, karena anugerah inilah yang menahanku agar terus hidup abadi.
Dan pantas saja Sen tiba-tiba menyerangku, karena inti permasalahannya adalah aku sendiri.
"Permasalahannya, semua, dariku 'kan?"
Kemudian aku menatap si gadis yang duduk jauh di sana. Sebab jika dipikir sampai sekarang, aku tidak tahu kenapa Fate bertindak sebegitu keras untuk melindungiku hingga mengorbankan nyawa dan keselamatannya sendiri. Padahal aku selama ini ....
"Kita tidak punya banyak waktu lagikan?" Langsung aku berjalan mendekati Sen. "Aku tidak keberatan kalau kamu membunuhku sekarang, asalkan untuk keselamatannya."
Dan pandanganku berakhir sayu. "Aku tidak mau terus melihatnya seperti ini."
Namun, perkataanku justru membuat Sen memukul dahinya sendiri dan memalingkan wajah sampai mengerang kecil. "Ternyata kau memang bodoh."
HAH?!
"Karena dia memberikan Anugerah Metatron, cukup kembalikan anugerah itu."
"Hanya itu?" Seketika aku membeo.
Heee, tapi sebelum ini dia menyerangku tanpa ampun. Jadi maksudnya tadi apa? Akh, aku menggeleng, bukan itu permasalahannya sekarang!
"Kalau begitu bagaimana caranya? Inikan, berkaitan dengan nyawa ...."
"Karena berkaitan dengan nyawa, kau harusnya dapat merasakannya." Dan Sen kembali menyilangkan tangan depan dada. "Peluk Fate dan tempelkan dahimu dengan dahinya. Rasakan kekuatan suci yang tersimpan di dalam dirimu. Lepaskan belenggu anugerah itu dari jiwamu, maka anugerah itu akan kembali pada Fate dengan sendirinya."
"Sesederhana itu?" Lagi-lagi aku berucap dengan penuh rasa terkejut. Jika caranya semudah ini, kenapa aku dibuat kerepotan sampai sekarang?! Bahkan sampai meminta tolong pada Head Master Lucian---ah, fokus Red!
Seketika Sen menaikkan salah satu alisnya. "Mungkin mudah, tapi aku rasa kau tahu ... dampak yang akan terjadi pada dirimu."
Dampak?
Oh, jika Anugerah Metatron ada untuk melindungiku dari murka bumi karena keabadian, berarti melepasnya sama dengan menghapus keabadian dari jiwaku. Selama ini aku abadi karena jiwa ditahan oleh ketujuh dosa mematikan, sekarang ketujuh dosa itu telah disucikan dan aku sepenuhnya menjadi manusia.
Namun, mana ada manusia berumur ribuan?
Dan aku mengingat kata-kata Sen sebelumnya bahwa Anugerah Metatron juga menstabilkan jiwaku yang sudah terlalu tua untuk tubuh ini. Jika aku mengembalikan Anugerah Metatron kepada Fate, maka aku ....
Tidak peduli!
Tanpa memakan waktu aku berlari dan bersimpuh di dekat Fate. Langsung aku meraih tubuhnya yang telah lemas---ah, kulit pualamnya benar-benar terasa dingin. Bahkan jaket tebal juga selimut yang Sen kenakan pada Fate tidak cukup untuk membuatnya hangat. Udara malam berpadu dengan salju nan beku sungguh tak baik, apa lagi dengan kondisi ....
Setelah ini, seharusnya kau akan baik-baik saja, Fate. Terlebih Sen sudah hadir ... refleks tanganku mencengkeram baju belakang si gadis, tapi aku melawan perasaan yang mencakar batin dan memeluknya penuh kehati-hatian.
Aku benar-benar tak habis pikir kenapa banyak orang yang berkorban demi diriku. Namun, aku mensyukuri itu. Maka kubisikkan kata terima kasih nan teduh ke telinganya, dan berakhir membenamkan wajah pada pundak si gadis.
Terima kasih, telah memberikan kebahagiaan yang dulu begitu aku dambakan.
Terima kasih, telah melindungiku sejauh ini sampai membuatmu sengsara karena ingin aku tahu kebenaran lebih dalam lagi.
Terima kasih, telah menuntun dan mengajarkanku pada jalan yang semestinya.
Terima kasih, telah menerangi kehidupanku yang terlalu sepi dan membuka harapan untuk terus melangkah.
Terima kasih, sudah menemukanku dalam gelap.
Terima kasih.
Meskipun begitu, aku tak rela andai berakhir kehilangan mereka yang mau berada di sisiku. Karena kebahagiaan datang dari mereka yang mau menggenggam tanganku, bersama-sama. Aku ingin membagi rasa suka dan duka, termasuk bahagia yang mereka berikan kepadaku.
Dan aku tidak akan ... menyesali hal ini.
Perlahan aku mulai menempelkan dahiku dengan dahinya, berakhir memejamkan mata dalam khidmat.
Maka dirasakan pula, ternyata jauh di dasar inti kehidupan ... ada sebuah cahaya menyilaukan. Yang pasti, itu bukanlah ketujuh kebajikan pembentuk hati tetapi hal asing yang aku yakini adalah anugerah sang malaikat juru tulis Tuhan. Bukan di sini tempat itu bersemayam, lantas kulepas secara perlahan membuat sorot cahaya begitu meyilaukan dan memaksaku kembali membuka mata.
Seketika, kudapati beberapa cahaya bak kunang-kunang saling bercengkerama mengelilingi kami dan berakhir kembali pada tubuh Fate, membuat binar perak keemasan nan elok pada raganya; memancing senyum di bibirku---ack! Tunggu, Fate ...!
Tiba-tiba tubuhku ambruk tetapi gesit Sen meraih Fate agar tidak ikut terjatuh.
Mendadak pusing luar biasa meretas kepala dan nyeri menyerang dalam dada kiri. Sekitar turut terasa berputar---ah, sakit. Sakit! Sesak tertimbun di rongga rusuk, seperti sesuatu menyumbat pernapasan. Aku pun meringkuk dalam pilu, keringat sebesar jagung mulai mendominasi tubuh dan refleks tanganku mencengkeram leher.
Jiwaku sudah terlalu tua, tidak kuat---ah, sakit! Tubuh bak berlomba menyamakan umur jiwa. Seperti jantung turut mendetak keras seumpama ingin mendobrak serangka tulang rusuk dan luluh seketika, bersamaan dengan organ dalam yang rontok membuat suara parau nan memilukan keluar secara tiba-tiba dari bibir yang sudah terasa kelu, dan perlahan-lahan ... tubuhku menjadi kaku.
Lama kelamaan aku mengernyit merasakan perubahan di tubuh; menggeram; spontan semakin meringkuk akibat rasa yang luar biasa membuat mataku mengalirkan air nan banyak sungguh tak tertolong. Dan berakhir lemas karena rasa sakit pada impuls syaraf sudah di ujung penantian.
Ah, inikah ... kematian ...?
Selama ini, aku memiliki waktu yang tak ada habisnya dan ditarik dalam bayangan tanpa batas. Meski melalui takdir yang berliku, aku mencoba menemukan makna dalam rondo yang menyedihkan karena pengorbanannya--Aion--untukku. Hingga air mata dalam hati mengering berabad-abad silam, dan aku berakhir mati rasa. Namun, sekarang, dapat kembali tersenyum; melepas diri ke semua melodi kehidupan; merasakan sebuah keajaiban yang dari dulu aku inginkan.
Itu karenamu juga, Fate. Meskipun singkat, aku bahagia.
Tapi jika diberikan waktu untuk sedikit egois, aku ingin terus hidup bersama mereka meskipun menjadi individu yang tak berarti. Sebab aku takut kehilangan mereka, aku tidak mau; aku takut---ah, seketika berbagai macam rekam memori memenuhi kepalaku yang mulai kehilangan daya. Terasa kembali dikelilingi oleh keheningan, semua semakin menggelap.
Mungkin memang sudah waktunya.
Tugasku selesai 'kan?
Seketika, mata mulai dipenuhi kabut dan yang terakhir kuingat adalah ... suara Sen.
"Kau lulus, Red."