
Bilah pedang berayun ritmis memberantas hibrida di sekitar pun menebas sana-sini secara tegas. Sesekali berputar apik kemudian berakhir menghunjam. Dedaunan yang terbelah menjadi saksi bisu kegiatanku dalam ruang simulasi di Gedung Pusat Pelatihan.
Tiga hari lagi sparing dan setelah itu data hasil pendataan grade ulang keluar. Di saat sesingkat ini tentu tak bisa kuhabiskan dengan berdiam diri. Sudah lama tidak memegang sang candrasa, dan entah kenapa sekarang ... terasa lega dan senang bisa menggunakan pedang lagi.
Kini di tengah tiruan nyata persis seperti hutan, aku meruncingkan atensi. Meneguk saliva guna menyudahi gersang pada tenggorokan, menggenggam Sabel hingga tampak buku jariku memucat dengan mata pedang berkilat menantang seakan mencebik hibrida tiruan untuk berlatih.
Sontak debam ledakan mengudara ketika makhluk di hadapan melempar bola api dari mulut mereka. Lantas jas jubah hitamku tergores, hanya sedikit sebab aku kembali melesat; memanfaatkan celah untuk menacapkan pedang ke perut salah satu tiruan nyata sesosok hibrida tingkat Knight dan menebasnya tanpa ampun.
Para Pawn menggeram tak suka tatkala atasannya lenyap seperti daging tercincang; balik menyerbu membuat bebatuan melayang dan menghunjam dengan amukan mereka. Sedangkan aku betah meliuk, menghindar dari rasa sakit sesaat milik hujan batu berukuran sama sekali tak mungil. Namun, sebuah batu runcing berhasil lolos dan menggores pipiku.
Detik selanjutnya desing bilah tajam terdengar memekakkan ketika Sabel aku entak kuat demi membelah sisik keras mereka dan berakhir mencincang raga tanpa ampun, kubasmi mereka sampai habis; tanpa gerakan sia-sia.
Aku masih bergeming di tengah sunyi dengan bibir terkatup rapat. Mengusap pipi yang sebelumnya tergores dengan punggung tangan kiri sampai terlihat gelombang musuh berikutnya datang.
Lantas aku kembali meliuk guna menghindar dari lawan, bergerak cepat menusuk dan menebas. Jubah panjang berwarna senada dengan rambut pendekku tak membatasi pergerakan sama sekali, dan dalam waktu singkat seluruh hibrida habis; tercincang seperti mentega.
Mendadak keadaan sekitar terdiam dan membias perlahan bagai serpihan cahaya kotak-kotak. Seluruh tiruan nyata menghilang menyisakan aku sendirian pada ruang perak nan luas dengan akar-akar neon memenuhi tembok. Di saat bersamaan suara EVE menggema.
...[Latihan Simulasi Berakhir]...
Sesaat aku memejamkan mata dan mencoba mengatur pernapasan. Sabel kulempar ke angkasa dan detik kemudian pedang itu membias bagai serpihan cahaya; berteleportasi ke punggungku dan tersemat apik bersama Zweihande tanpa tali penyanggah.
Langkah kaki bergema jelas dalam ruang logam tertutup ketika aku mulai meninggalkan tempat, dua pedang di punggung juga kembali ke bentuk kristal hitam dalam genggaman.
Sebelum itu, aku mengecek layar yang ada di samping pintu; melihat hasil data latihan barusan. Kemudian senyum terukir di bibir sebab untuk ukuran orang yang tidak pernah memegang pedang selama ratusan tahun, hasil ini sangat lebih dari ekspektasi.
Nilai SS, lumayan juga.
Aku mulai meninggalkan ruang, beralih membeli satu botol mineral dari mesin jual otomatis yang tak jauh dari tempat latihan dan meletakkan Heart Core ke dalam tas pinggang. Lalu meneguk minuman sampai habis, juga berpikir ... rasanya ingin sekali mandi dan ganti baju setelah ini. Seharusnya mengenakan kaus saja daripada pakaian biasa dan untuk bekas-bekas luka di tubuh akan kuperban sedemikian rupa hingga tak terlihat, seperti bisa.
Minuman pun habis, lantas kubuang pada tempat sampah di samping. Aku mengembuskan napas panjang sampai terdengar seseorang memanggil nama di kejauhan. Saat menoleh---ah, Daniel.
"Oi, Red! Tumben nih, lihat kamu di sini!" serunya sembari berlari mendekatiku.
"Ah, ya ... kamu sendiri kenapa di sini?"
"Tentunya latihan! Setiap hari; setiap pagi, ya tongkrongannya di sini!" Ia menunjuk dirinya bangga dan duduk pada bangku sebelah mesin jual otomatis. "Aku akan terus berlatih sampai hebat!"
Seperti biasa, si laki-laki pirang mempunyai semangat berapi-api. Orang-orang sebut ia berjiwa muda, tetapi bukannya memang masih muda?
Sekilas, telihat ia menatap sendu entah ke mana. Aku memutuskan turut duduk di samping Daniel. Jika dipikir lagi, aku belum pernah benar-benar menghabiskan waktu hanya berdua dengannya.
"Haaaaa, menyebalkan." Daniel merebahkan badan dan bersandar pada kursi, kaki jenjang turut ia selonjorkan. "Aku selalu menjadikanmu patokan untuk bersaing, malah cewek itu datang."
Apa yang ia maksud, itu Fate? Aku tak henti menatapnya.
Daniel mulai merentangkan tangan kanan ke atas bak menghalau cahaya lampu dari mata. "Aku ... sangat benci diriku sendiri."
Mataku membelalak lantaran terkejut mendengarnya. Daniel terlihat memiliki rasa bangga yang sangat besar, tapi ... benci? Bagaimana? Aku tak mengerti.
"Aku benci lahir lemah begini. Apalah itu, total kekuatan dragonic Grade B?!" Ia mulai mengepal tangan kanan, menyentuhkannya ke jidat dan mulai merintih pelan. "Setiap hari; setiap saat; selalu mencoba mengejar, tapi tak kunjung sampai ...."
Refleks aku menyentuh pundaknya sebab pancingan emosi dalam dada---apa ini, seperti tak tega? Prihatin? Ah, ya, aku khawatir dan tidak mau melihatnya seperti itu. Tetapi ia mulai menoleh padaku dan memasang ringisan yang biasan, telunjuk kukuh ikut menuding tepat ke dadaku.
"Dengar ya, suatu saat aku pasti mengalahkanmu, camkan baik-baik!" ucapnya penuh semangat, wajah ikut melukis gairah, "sampai saat itu tiba, aku bakal terus berlatih dan berlatih, kau pasti terkejut melihatku mengalahkan cewek itu!"
Daniel mulai bangkit dari duduk, menepuk dada dan berlisan lantang, "Ingat kata pepatah, hasil enggak akan mengecewakan usaha!"
Kemudian ia menunjukku lagi. "Kalian bakalan jatuh sama aku! Lebih baik kamu lanjut latihan sana! Kalau kamu kalah lebih cepatkan enggak seru."
Laki-laki itu mulai berjalan dan memunggungiku. Dari belakang, aku bisa melihat ia memasukkan tangan kiri ke saku celana dengan tangan kanan melambai tanpa menoleh. Antusiasme sungguh membara. Aku tahu dan yakin, ketua club-ku ini tidak akan mudah menyerah.
Entah mengapa itu memberikan suatu titik kesenangan tersendiri untukku.
Sebelum Daniel benar-benar melangkah jauh, aku bangkit dari kursi dan berteriak, "Daniel, terima kasih!"
Akhirnya ia menghentikan langkah atas mata hijau melirik tepat ke arahku. Dengan tangan kanan meninju udara, ia turut berseru lantang, "Oi, untuk apa terima kasih? Kitakan rival!"
Sesuatu seperti ... mekar dalam dada?
Mendengar itu aku merasa senang tanpa sebab. Dengan tersenyum, aku turut melambai ke arahnya. Daniel mulai mencepatkan langkah, mungkin akan berlatih kembali seperti yang dikatakan? Sampai akhirnya ia tenggelam dalam kerumunan ... dan hal tersebut membuatku sadar, lorong Gedung Pusat Pelatihan lebih ramai daripada biasanya. Mungkin karena dalam masa sparing dan grade ulang? Tapi yang lebih buruk, mereka semua menatapku!
A-apa aku terlalu mencolok? Astaga, Daniel memang terkenal suka bertindak semaunya dan berteriak tanpa henti, tapi aku---aaaa, pasti memalukan! Mereka melihatku sebegitu semringah!
Segera aku menunduk dan masuk lagi ke dalam ruang simulasi. Tuhan, kenapa sering terbawa perasaan hingga lupa situasi ....