
Lari? Apa maksudnya? Dan kenapa dia harus ada di tubuh Fate? Pertahananku lengah karena hanya berdua dengannya, tak kusangka ....
Aku sedikit menggertakkan gigi, mencengkeram pergelangan kaki yang terus memaku. Meskipun gadis ini handal dan gesit, tetap saja untuk masalah kekuatan dan pertahanan, aku ... lebih, unggul! Aku menarik dan menghempaskan kakinya dengan gesit melompat kebelakang, membuat dia kehilangan kestabilan meski telah menancapkan pedang---ah, harus mengira-ngira kekuatan.
Jangan sampai melukai Fate.
Aku berdecak dan sedikit mengusap dada bekas serangannya, menatap dalam-dalam siapa pun yang menggunakan tubuh seseorang yang harus kulindungi. Wajah itu menyunggingkan senyum simpul sembari menarik Sabel kembali dalam genggaman. Tiba-tiba datang dan menyerang, aku sangat yakin dia bukan orang baik-baik.
"Apa maumu?" tanyaku tegas.
Namun yang dituju justru terkekeh. "Pecundang tidak mempunyai hak untuk bertanya."
Suaranya---ah!
Remai terdengar seketika pedang itu mengoyak tembok ketika aku menghindar sepersekian detik. Gumpalan batu dan kerikil terlontar mengikuti arah pedang, juga darah segar yang memuncrat. Jika telat menghindar, mungkin tanganku sudah putus.
Ia tak henti menyerang tanpa ampun meskipun pedang merusak dan berakhir menancap dinding, membuatku terpukul mundur dan berakhir bertengger atas pagar balkon. Dia benar-benar serius dan tidak menahan diri, tak juga memalingkan pandangan.
Tapi---hiyah! Balkon lantai atas perpustakaan terkoyak habis, bisa-bisa aku dimarahi ... harus membawanya menjauh. Ketika ia menghunjam Sabel, saat itu juga aku melompat. Ekstrem memang, terjun dari lantai teratas gedung ini ... kalau kamu manusia biasa.
Langsung aku menumpu berat pada salah satu kaki untuk percepatan menukik, menahan tekanan dengan kaki lainnya dan berakhir mendarat sempurna dalam jongkok. Sedikit melirik ke atas---ah, dia mengikuti.
Bergegas aku lari dalam percepatan, menelusuri dan melompati tiap batang demi batang pepohonan. Halaman belakang akademi mungkin cocok untuk bertarung, tapi ... kenapa? Apa benar-benar harus melawan Fate? Meskipun secara teori, sekarang dia bukan orang yang aku kenal. Bahkan suara itu, aksennya persis seperti bisikan dalam kepala akhir-akhir ini.
Kenapa ia mengincarku?
Aku memelankan langkah, mendarat di tengah jajaran pepohonan yang tinggi. Apa dia kehilangan jejakku? Tak ada siapa pun di sini, juga tidak merasakan tekanan atau aura seseorang pun. Atau mungkin dia tidak benar-benar mengincar---
Bam!
Berkelit, menghindari Zweihande yang mendadak mendarat dan menancap di sampingku. Detik kemudian Fate tiba, menjadikan gagang Zweihande sebagai tumpuan melompat untuk menusuk tepat ke atas kepala jika aku tidak refleks berguling ke belakang. Ah, dia handal dalam mempermainkan rotasi pedang.
Hal tersebut berakhir memberikan kami jarak lima meter dengan saling berhadapan. Aku memegang lengan kanan yang tadi terluka sebab serangan di balkon. Sepertinya hanya luka kecil, tidak terasa sakit dan darah sudah berhenti mengalir.
Kami berakhir diam membisu di tempat.
Desir angin membuat jas jubah hitamku berkebit, juga rambut perak Fate dalam kuda-kuda seraya tersenyum sinis. Rumput pijakan begitu lembut, tumbuh menghampar sejauh mata memandang. Pepohonan tumbuh teratur, ditata apik oleh alam. Ini indah. Namun, mungkin sebentar lagi akan berganti makin guram dengan darah atau onggok organ tubuh berceceran. Aku memejamkan mata, geming dalam kesunyian.
"Apa kamu bisa membunuh saya?" Mungkin ini terdengar ambigu di balik sopran aksen datarku, karena jika dia mengincarku, aku tidak akan melawan. Sudah lama ... menanti seseorang yang bisa benar-benar mengistirahatkanku.
Aku juga tak bisa melukainya.
Tidak mau.
Seringai tipis mengumbar kesan menantang. "Membunuhmu adalah hal yang mudah terutama dengan tubuh ini. Jika kau memang menginginkan kematian akan kuberikan. Tapi ...."
Orang yang memakai tubuh Fate menarik dan menyelipkan Zweihande ke belakang punggung, pedang besar itu melayang dan menempel dengan apik tanpa tali penyanggah. Sementara Sabel ditampilkan pertama. Siaga bersama kuda-kuda sang empu, bibir tipis tersebut berlisan lantang, "Apa kau siap, membiarkan perempuan ini dibawah kendaliku?"
Seketika orang jadi-jadian itu telah berada lima puluh senti di hadapan, mengayun sang senjata ganas. Aku langsung berkelit ke belakang sebelum Sabel menyambar. Dalam sunyi, ia tak henti menebas, meliuk anggun dengan gerakan ritmis pedang ramping. Tak sedikit dedaunan serupa labirin turut tertebas, tanggal dari induknya dan berakhir mencumbu tanah.
Kalau seperti ini, aku tidak bisa terus-terusan menghindar.
"Pengecut! Apanya yang immortal dan kuat?! Kau orang lemah yang hanya bisa lari!"
Menyipitkan mata, aku mengambil kesempatan ini untuk menyiapkan Heart Core. Merentangkan tangan hingga lingkaran sihir hitam bermunculan.
"Ice Lance!"
Dalam cengkeraman buku tangan yang kuat, Fate kembali menebas, sibuk mematahkan pasak-pasak es yang meluncur. Itu kembali memberikanku beberapa detik untuk menyerang.
"Phase Bomb!"
Asap pekat menyeruak beriringan dengan ledakan heboh. Aku sudah melompat mundur dan bersembunyi dalam rimbunnya suatu pohon. Bak memotong debu, irisan pedang tersebut mengenyahkan kebulan yang menghalangi penglihatan dan gadis itu tak tergores sedikit pun.
Tidak bisa, Soul Dancer memang lemah jika melawan Swordmaster. Namun setidaknya, aku sudah memberikan jarak antara kita. Aku memperhatikan dia dari balik temaram pohon di kejauhan. Masih tak mengerti apa keinginannya. Jika aku harus mengalahkan, bagaimana? Aku tidak mau melukai siapa pun.
Kulihat ekspresinya sedikit ... geram? Sampai menguatkan genggaman Sabel dalam telapak kanan dengan mengacungkan tangan kiri.
"Lemah! Kau tidak bisa melindungi apa pun dan siapa pun!" teriaknya terhenti dan mulai mendekatkan sisi bilah tajam ke pergelangan tangan kiri, "mungkin, akan lebih baik jika aku membunuh---"
Trang!
Desing menggaung jelas memekakkan telinga, berbaur bersama deru angin liar ketika aku melesat. Refleks ia menghalau serangan dengan pedang yang sudah melintang di depan wajah. Namun aku memberi dorongan pada Fate hingga terpental. Tapi gadis itu sudah menjejakkan kaki ke bumi meski memang sedikit terhuyung. Sepertinya dia sudah mengira seranganku.
Aku siap dalam kuda-kuda, jemari bertautan erat dengan Sabel--pedang ramping milik Swordmaster--dalam genggaman, menatap garang siapa pun yang mengendalikan tubuh Fate. "Jangan kau coba-coba."
Detik kemudian desing memekakkan kembali menggaung, tegas terbawa angin ketika ia sudah berada di depan mata menghunus sang bilah tajam.
Aku akui dia sangat handal bergelut dengan pedang. Kami sama menyerang, sama bertahan pula. Mungkin Fate memang cepat tetapi tubuhku terbiasa dengan pedang dan kurasa kami adalah penyerang jarak dekat yang akurat. Belum ada luka, belum ada ceceran darah. Sama-sama piawai menjaga keutuhan tubuh dalam liuk ritmis sang candrasa.
Aku menusuk, ia menghindar. Denging melanda kala kami memilih menyerang secara bersamaan dan kedua bilah besi bertumbukan. Ia menebas, aku kokoh bertahan. Gemercik api meletup-letup pada aduan dua bilah tajam. Terpukul mundur namun kembali melesat maju, bertekad bulat seolah hendak menjatuhkan satu sama lain.
"Ho? Kau sepetinya baik-baik saja bermain menggunakan pedang." Kalimat itu sukses menyalakan bara dalam relung dada, mengundangku mengeluarkan tatapan bengis dan lebih siaga dari sebelumnya.
Dia selalu terpukul ketika menerima hunusan penuh kekuatan pun aku memutuskan menambah kecepatan. Kiri-kanan, cekatan membabat; berusaha mengukir luka. Satu titik, aku memusatkan seluruh kekuatan dan menghentak Sabel milik Fate, menepisnya jauh ke samping.
Enggan memberi jeda serangan, tangannya yang kosong kini sudah memegang pedang besar. Sontak aku memiringkan pedang dan menahan dengan dua tangan ketika ia mengentak pedang besar dengan seluruh kekuatan di depan kepalaku sampai-sampai angin melanglang di sekitar. Kuasa pada gagang dan punggung pedang kian kueratkan ketika ia menekan Zweihande kuat-kuat dalam genggaman kedua tangannya.
Bagaimanapun juga, diriku lebih kuat. Siapa orang yang terkenal menyerang secara brutal tanpa rasa takut? Aku.
Kudorong dengan tanpa ampun menggunakan pedang hingga ia benar-benar kehilangan kuasa. Cepat kulilitkan Sabel dengan pedang besar miliknya dan menyembat senjata kami jauh-jauh. Sama-sama kehilangan senjata tapi aku masih ada Zweihande dalam genggaman.
Aku menghempasnya kuat sama seperti yang ia lakukan sebelum ini pun diriku jongkok bertongkat lutut di atasnya, menancapkan pedang tepat ke sisi kepala si gadis.
"Siapa pun kamu, cepat keluar dari tubuh Fate!" gertakku bengis untuk pertama kalinya di dunia ini.