
Kasak-kusuk suara nan samar menarikku dari tidur, aksennya yang berat begitu aku kenali. Sampai kelopak tersibak lebar, pelan-pelan menyaksikan sosok pria paruh baya duduk tegap di sisi kasur. Wajahnya sedikit serius sebab bercakap-cakap dengan lawan bicara dari ponsel---ah, Profesor Kaidan!
"Bapak! Maaf soal kemar---"
Seketika beliau beranjak dari bangku dan mendekapku kuat-kuat sampai tak bisa bernapas. Kenapa juga langsung berteriak dan melonjak ke arahnya? Entah kenapa, tubuhku refleks melakukan hal tersebut ketika melihat beliau. Mungkin rasa bersalah teramat besar? Aku berakhir pasrah dan bersandar pada dada sang orang tua yang lapang, hanya bisa mendengar suara gumam dari balik rusuk dalam irama degup jantung teratur.
Beliau menyelesaikan percakapannya dan lambat laun melepaskan dekapan. Sontak aku sedikit mundur, napasku yang berat begitu mencolok tetapi ketika mendongak dan menatapnya ... orang tua itu mengukir senyuman teduh.
Ekspresi yang beliau berikan padaku, tidak berubah.
"Bapak, maaf soal kemarin, saya ...."
"Iya, tidak apa-apa Red," tuturnya lembut, perlahan mulai duduk di samping kasur dengan membelai perlahan rambut jelagaku.
Aku mulai bersandar pada beliau dan menautkan jemari. Sebenarnya aku lebih tua dari Profesor Kaidan, bahkan mungkin yang paling tua dari seluruh manusia di bumi ini. Keabadianku penyebabnya. Tapi kenapa ... perlakuan beliau padaku seperti ini? Penuh kasih bak dalam rangkulan sayap-sayap afeksi, membuatku merasa tersipu.
Dengan ragu-ragu aku berkata, "Sebenarnya saya---ah, aku tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini."
Mataku mulai sayu. "Sejak kecil menghabiskan waktu sendirian dalam gelap hingga tumbuh remaja. Terasa hampa dan kosong. Sampai bertemu dengan, dia ...."
"Tapi aku ...." Kini suaraku bergetar, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu namun tak mampu. Susah payah menekan batin yang bergejolak dengan berkali-kali mengusap mata. "Saat itu aku lepas kendali dan kehilangannya. Aku benar-benar takut itu terjadi lagi. Apa yang dikatakan Dominguez membuatku teringat kejadian ini dan berpikir, lebih baik dari awal selalu sendir---"
Seketika beliau merangkulku lagi, tapi kali ini lebih lembut dan penuh kehati-hatian. Pelan-pelan mengusap punggungku dan berkata, "Bisa percaya pada Bapak?"
Eh?
Aku tertegun dan mencengkeram baju belakang beliau. "Percaya?"
"Percaya, bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi di sini. Red, sekarang kamu tidak sendirian."
"Tapi ... takut."
Orang tua ini melepas dekapannya demi memegang kedua pipiku, memaksa untuk melihat tatapan teduh dari iris cokelat penuh kepermaian. Pandangan itu kembali ... tatapan sang ayah.
"Percaya hal itu tidak akan terjadi lagi. Kamu boleh pegang kata-kata Bapak. Bapak janji."
Mataku membelalak mendengarnya atas emosi yang berlomba; menari dalam perasaan tak biasa. Percaya? Mungkinkah ini titik balik untuk mendapatkan kehidupan baru? Benar-benar sebuah kesempatan untuk bahagia?
Entah apa yang terjadi nanti, aku ingin mempercayai beliau dan melupakan semua kerisauan lantaran kata-katanya terasa begitu murni, mengundang gemetar tetapi bibir kubungkam rapat; bergumam dan mengangguk kecil sebagai jawaban, membuat wajah beliau turut luluh dalam senyuman.
Profesor Kaidan kembali memelukku, kami berpautan dalam suatu titik sentimen yang begitu ... hangat. Aku harap perasaan ini bisa abadi; kekal selamanya, seperti diriku.
"Oh, Red! Sudah bangun?"
Huaaa! Refleks kami melepas peluk dan kembali ke posisi masing-masing. Aku langsung menunduk---hah, rasanya malu sekali! Sontak aku menutup wajah dengan kedua tangan, hingga Profesor Kaidan berdeham dan sibuk dalam ponselnya lagi. Seperti sebuah isyarat tersendiri, aku langsung menoleh pada pemuda yang baru masuk ke ruang ini--Crist.
"Sudah sarapan belum? Aku bawakan buah," tuturnya lagi dengan seuntai senyum.
"Ah, iya ... aku lupa. Terima kasih, Crist."
Ia berjalan santai dan duduk pada bangku di sisi kanan, berlawanan dari guru waliku. "Hehehe, kebetulan kalau begitu. Mau aku kupaskan?"
"Heee, tak usah. Aku bisa makan sendiri," balasku dengan senyum terpaksa. Aku senang mereka mengkhawatirkanku, tapi terkadang terlalu berlebihan dan memperlakukanku seperti anak kecil.
"Oh, ya, sudah tahu babak final Fate melawan Lux?" tanya Crist sembari menata buah-buahan.
Eh? Lux Fedrian, ketua Club Mercy? Dia anggota Departemen Disiplin, mungkinkah kini mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya ketika melawan Fate? Aku harus lihat.
"Heem, sebenarnya sudah dari tadi ...."
"Sekarang jam sepuluh lewat delapan belas menit, tidak terlalu telat jika ingin melihatnya," sambung Profesor Kaidan.
"Ah, harus segera ke sana!"
Ketika ingin beranjak dari kasur, Crist dan Profesor Kaidan menahanku secara serentak---heee, aku berakhir mengeluarkan ekspresi bingung. Aku sudah baik-baik saja sekarang dan sebenarnya tak ada luka sama sekali, tapi kenapa?
"Mereka melakukan sparing bukan di Gedung Pusat Pelatihan," tutur Profesor Kaidan dengan menempatkanku pada posisi semula---eh, apa aku seringan itu?
"Be-benar, mereka di halaman belakang akademi. Kita bisa menyaksikannya melalui siaran langsung karena tidak ada seorang pun boleh ke sana," jelas Crist. Ia mengeluarkan ponsel dan terlihat seperti menekan-nekannya.
Tak lama layar di depan kasurku menyala dan memperlihatkan Fate dan Lux sedang bertarung. Ternyata benar di halaman belakang akademi yang sangat luas seperti hutan. Ketika Arthur merasuki tubuh Fate dan melawanku, aku juga memilih tempat itu demi meredam kerusakan dan menghindari hal-hal tak diinginkan.
Namun, kenapa mereka harus ke sana? Ruang simulasi untuk sparing sudah sangat luas, apa itu tidak cukup? Tunggu, ada yang tak beres.
Tempat mereka bertarung ... hancur. Celah pohon tampak renggang lagi rubuh, sedangkan para semak begitu berantakan. Dan mata mereka sangat mencekam memandang satu sama lain.
Suara kekeh terdengar di sisi kanan, sontak aku menoleh ke arah Crist. "Mereka bertarung habis-habisan, antara hidup dan mati. Tidak menahan diri."
"Bukannya itu berbahaya? Kenapa tak ada yang menghentikan mereka?" Aku langsung mencondongkan badan mendekati Crist lantaran beku merambat punggung; rasa khawatir dan panik kembali memenuhi relung dada.
"Mereka sudah mendapatkan izin dari Lucian." Aku berganti melempar pandang pada Profesor Kaidan, wajahnya sama sekali tidak mengukirkan rasa cemas.
"Yah, itu kenapa mereka sekarang di halaman belakang akademi dan Pak Lucian sendiri yang mengawasi mereka di tempat kejadian, sekaligus memasang pelindung."
"Tapi ... kenapa? Aku tak paham." Aku mulai menunduk dan menautkan jemari.
"Red, lihat saja pertarungan mereka." Crist mulai menepuk pundakku dan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, mereka akan baik-baik saja."
Aku mengangguk, kembali mengalihkan atensi pada televisi di depan---ah, tapi bagaimana menyaksikan pertarungan mereka? Pergerakannya sangat cepat bahkan kamera sensoris tak dapat mengikuti laju dua orang dalam babak final ini. Hanya ledakan dan dentuman yang paling mencolok, serta percik api di udara ketika saling bertumbukan bak kilat. Namun, meski dalam seper sekian detik aku bisa melihat keadaan tubuh mereka masih utuh, bahkan sama sekali tak ada goresan.
"Red, manusia mempunyai insting bertahan dan menyelamatkan diri secara alami di alam bawah sadarnya. Dalam keadaan terjepit, ataupun kondisi yang tidak kamu sukai, tubuh akan bergerak dan merespons melakukan segala hal demi melindungi nyawa, meskipun kamu tidak menyukainya atau bahkan menolak hal tersebut, itu terjadi secara alami dan tidak berbahaya. Seperti yang kamu saksikan di depanmu itu."
Sedikit demi sedikit aku menoleh ke arah suara, sebab pertarungannya sengit tanpa celah itu begitu menarik perhatian. Sekarang Crist sudah melepaskan kacamatanya, melihatku dengan suatu tatapan yang tak bisa dibaca.
"Tidak masalah jika kamu mempertahankan diri dan mengeluarkan seluruh kemampuan di saat terakhir. Itu lebih baik daripada kamu terluka atau yang lebih buruk ... heem, orang-orang akan sangat khawatir jika sesuatu terjadi padamu. Maka bertahan hidup dan menghindari luka itu penting, Red."
"Apa Fate meminta izin bertarung tanpa batas demi memperlihatkan hal tersebut padaku?" Karena aku benar-benar tak mengerti kenapa Fate meminta sparing mematikan untuk babak final. Ia bukan tipe orang yang gegabah atau senang memamerkan kekuatan. Satu-satunya alasan yang ada dalam benakku, adalah itu.
Terlebih kemarin ....
Crist tertegun mendengar pertanyaanku, terlebih mata biru yang begitu jernih tersibak hingga pendar ruangan terlihat jelas. Namun, ia mengukir seringai kecil dan memejamkan mata setelahnya. Embusan napas yang panjang pun terumbar.
"Ketika ucapan tidak bisa meyakinkan seseorang, maka langkah berikutnya adalah melakukannya melalui tindakan."
Crist mengucapkan itu dengan tertawa ... Profesor Kaidan juga, membuatku menggaruk tengkuk dengan canggung. Akhirnya kembali menoleh ke arah layar---tunggu, sudah selesai? Secepat itu?! Kulihat mereka berdua saling berdiri tetapi ... Lux merangkul si gadis kuat-kuat dari belakang dengan satu tangan, Sabel melintang depan leher Fate.
Aku mengerti dia melakukan itu agar Fate tidak bergerak, tetapi melihatnya seperti bara menyala dalam dada. Mataku mulai menyipit tak suka.
Aku tahu dulu Lux tidak sebegitu mencolok sebelum pengangkatan kode etik mereka. Disiplinaria diam-diam memang luar biasa, maka dari itu pastinya dia memiliki cara lain untuk menahan Fate 'kan? Bukan ... merangkul dan dipeluk seperti itu.
Tuhan, kenapa perasaanku tak enak? Aku mulai mengusap wajah dengan dua tangan.