
Semua berjalan dengan baik, begitu yang aku pikirkan.
Kini langkahku ritmis menelusuri halaman berhektare luasnya demi mendatangi gedung kubah putih raksasa nan jauh di sana. Ya, akhirnya pendataan grade ulang dan sparing antar club.
Meski berada di tengah-tengah orang berlalu lalang, kini aku jauh lebih percaya diri karena bisa mengenakan seragam formal almamater abu dengan kemeja putih seperti yang lainnya.
Kendatipun kepala masih tak bersahabat dan hanya mampu mengerjakan tugas esai semampunya, yang seperti ini ... tidak buruk juga. Aku mengukir senyum tipis dengan mendongakkan wajah, menatap guguran dedaunan cokelat kemerahan yang menghiasi sekitar bersamaan desir lembut angin membelai rambut merahku.
Tak menduga saat seperti ini tiba yang mana sepenuhnya dapat berbaur di tengah kerumunan manusia, terlihat normal meski pada hakikatnya tidak---ah, apa yang kupikirkan? Lantas aku tertawa kecil. Bukankah aku manusia, seperti perkataan Fate? Hanya manusia memiliki hati serta perasaan, dan aku ... memilikinya.
"Itu Red? Oooi, Red!"
Lantas aku menoleh ke belakang---Daniel?! Langsung aku berlari mendekatinya.
"Sendirian aj---ack!"
Aku sungguh merindukannya! Ah, tak tahu ternyata Daniel lebih menggeluti pekerjaan dalam kantor daripada lapangan hingga kami tak pernah jumpa. Mungkin agar bisa rutin melakukan pemeriksaan tangan protestic? Tapi aku senang melihatnya baik-baik saja sampai memeluk semakin erat.
"Red, peluknya jangan kencang-kencang nanti remuk dia."
"Cil, su-suruh lepas .... Le. Pas!"
Menuruti titah, aku pun melepas Daniel dan laki-laki itu langsung menarik napas dalam-dalam. Lalu tangan kirinya bersandar padaku dengan tangan kanan mengelus tenggorokan, seperti mati-matian berusaha mengatur napas.
"Gila, ngapain kau Red?!"
Crist terkekeh pelan. "Dia kangen, Daniel. Makannya lihat kamu langsung dipeluk."
"Dikangenin sih memang senang ya, tapi kalau gini ih kaget aku! Huh, untung enggak mati."
"Kamu tuh bilang Red lebai tapi sendirinya lebai, tahu?!" celetuk Cecil dengan menuding ke arah Daniel.
Tapi laki-laki itu justru menghampiri si gadis dan berkata, "Serius loh! Red spontan banget orangnya."
"Sadar diri dong! Kamu sedikit-sedikit suka kagetin dia, yang ajarin dia tuh kamu."
Sontak Daniel menyengir lebar mendengar omelan Cecil seraya menggaruk rambut pirangnya.
Mereka berdua tampak semakin akrab, pertengkaran kecil seperti bumbu tersendiri dan aku tersenyum melihatnya. Di saat bersamaan, Daniel melambai-lambaikan tangan ke belakang, seperti mengajak yang lain untuk ikut jalan bersama. Sebab itu aku menyadari sudah berada di tengah-tengah kelompok Club Dion.
Mendadak ada yang menepuk punggungku pelan. "Kamu tidak pulang dulu ke club? Sudah libur tugaskan?"
Ah, Crist. Dia begitu memperhatikanku.
"Setelah sparing internal club, masih ada beberapa hal harus aku urus dengan yang lain. Jadi ... tinggal sementara di Gedung Departemen Eksekusi."
"Sekarang sudah beres semua?"
Lantas aku mengangguk cepat. "Untuk sekarang, sudah beres! Aku juga libur untuk beberapa hari."
Sontak Crist tertawa kecil dan menggunakan tangan kanan untuk menutup mulut. Kalau dilihat lagi, semakin lama dia terlihat jauh lebih lega. Maksudku, segala tindakannya lepas dan bebas tak seperti awal kami bertemu. Terlebih ketika sparing internal club, kemampuan Crist meningkat bahkan melampauiku.
Namun, aku tak keberatan karena entah mengapa merasa senang. Masih teringat pula bagaimana ekspresi kagum Fate dan Profesor Kaidan selepas pertarunganku dengan Crist, apa lagi ketika dia melawan Fate. Mereka sampai mengakui kemampuan Crist.
Mungkinkah sebab dia lebih jujur dengan perasaan sendiri? Apa pun itu, senang melihatnya lebih baik pun aku kembali mengukir suatu lengkung sabit nan cerah.
Tapi sekarang ....
Aku pun berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Maka terlihatlah sosok yang terpisah dari kelompok kami, aura tak biasanya terasa lemah dan mungkin bisa hilang secara tiba-tiba.
Lantas aku sedikit merentangkan tangan. Ketika sudah dekat, aku menyelipkan beberapa jemari pada helai-helai perak dan membantu menyisipkan rambut Fate ke belakang telinga. Terlihatlah wajah pucatnya yang terus menunduk.
Sontak si gadis tertegun atas mata ambar melirikku. Meski hanya sedikit menyentuh kulit pualam karena ketidaksengajaan ... terasa, dingin. Terlebih tatapan kosongnya mengingatkanku pada kejadian jauh hari pada balkoni lantai atas perpustakaan.
Aku lupa, masih ada satu hal mengganjal yang sampai sekarang belum terselesaikan ... yaitu Fate.
Mata jelagaku berakhir melihatnya dengan redup. "Fate, kenap---"
"Aku baik-baik saja."
Begitu ucap si gadis bersamaan dengan menyisikan tanganku dari kepalanya. Bahkan langkah Fate jauh lebih cepat dan amat tegas membuat seluruh anggota club di depan memandang penuh heran.
Aku pun mengembuskan napas panjang.
"Red." Seketika aku menoleh pada suara panggilan.
Cecil di sana, memberi isyarat untuk menyusul maka aku lakukan. Ketika sudah berjalan satu baris antara dia dan Daniel, Cecil berkata, "Kamukan enggak pernah pulang jadi enggak tahu, Fate sudah kayak gitu ... kebanyakan bengong."
"Lah, itu dari awal kita misi bareng! Yang tanganku putus, Fate dah banyak bengong walau masih bisa kerja dengan baik. Oh! Kalau diajak ngobrol dan diskusi juga nyambung tapi semacam kayak robot, bukan respons sendiri; otomatis gitu---ah, gimana ya jelasinnya ... tapi mengertikan?" sambung Daniel, dan Cecil mengangguk.
"Aku suka tanya kenapa biar ia cerita, tapi katanya 'enggak apa-apa'. Red, kamu bisa dekati Fate? Meski kamu sibuk tapi kamu paling dekat sama Fate daripada aku dan yang lain. Mungkin nanti ia mau cerita ... aku agak khawatir."
Aku pun berkata, "Fate tak pernah berbohong. Kalau Fate bilang tidak apa-apa, berarti memang tidak ada yang ia pikirkan ...."
"Nah, loh! Jangan-jangan malah pikirannya yang ke mana-mana jadinya enggak bisa fokus lagi?!" timpal Daniel yang membuatku berasumsi akan sesuatu.
Memang tingkahnya tak biasa, apa karena ucapanku waktu itu? Atau hal lain yang terlewatkan olehku? Apa lagi masalah mendengar bisikan ... ah, aku selalu memiliki firasat buruk jika ada bisikan dalam kepala meski bukan tertimpa padaku. Mungkinkah sebab pengalaman buruk?
Apa pun itu, aku juga ingin membantu karena berdiam diri tak membuahkan hasil. "Jika kalian tahu akan sesuatu, mungkin bisa mengabariku ... setidaknya, aku ingin melakukan sesuatu---ah!"
Lagi-lagi Daniel merangkul pundakku sampai aku harus menunduk. "Fate juga bagian dari kita jadi kamu enggak sendiri menanganinya, oke?!"
"Aku juga akan bantu. Haah, aku tuh suka kesal lihat Fate tanggung semua bebannya sendiri, lebih parah dari kamu Red. Janganlah pikul beban sendiri, ingat masih ada aku dan orang-orang yang peduli!" protes Cecil dengan berkacak pinggang.
Ya, benar. Aku bersyukur dan merasa beruntung memiliki kalian, maka dari itu juga ingin melakukan sesuatu, terutama untuk Fate. Sebab dari awal sudah berjanji pada diriku sendiri untuk senantiasa menjaganya sampai ... bertemu, dengan seseorang tempatnya berlabuh.
Tatapanku sayu melihat pada gadis yang rambut perak panjang tak henti melambai-lambai sebab langkah nan tegas di depan sana. Mungkin, aku harus bicara serius dengan Fate untuk masalah ini.
Namun, sekarang, ada yang lebih penting harus diurus. Kira-kira ketika sparing nanti akan seperti apa? Lantaran Class Goliath sudah resmi keluar dan aku belum terbiasa melawan class tersebut. Memikirkan hal ini, entah mengapa aku justru memiliki firasat buruk ....