
Aku duduk terpaku atas mata menyaksikan bagaimana salju turun perlahan pada akhir Januari ini. Terlihat lembut tetapi dingin pula dirasa membuatku semakin membenamkan diri pada jaket tebal yang dikenakan.
Sesekali merapikan syal di leher sebab uap napasku begitu tampak. Kendatipun pohon-pohon telah gugur menyisakan putih menyelimuti, aku tetap menghabiskan waktu di atas bangku besi nan sepi.
Hanya sekadar ... ingin menikmati suguhan alam.
"Dulu juga ada yang suka duduk di sini."
Mendadak terdengar suara seseorang, membuatku menoleh ke kanan. Ada pemuda yang duduk sedikit menjaga jarak di sana. Rambut ungu panjangnya diikat rendah padahal jikalau tergerai bisa sedikit menutup rasa dingin. Walaupun begitu, aku tak komentar dan kembali melihat ke depan tapi sekali-kali melirik ke arahnya.
"Orangnya sangat aneh. Kepribadian; tingkah laku; keberadaannya, semua aneh. Satu tahun, tidak ada yang dekat dengan ia apa lagi mengajaknya mengobrol, kasihankan? Orang seperti itu mudah terhasut. Akhirnya aku berpikiran untuk memanfaatkannya, siapa tahu bisa diuntungkan."
Kemudian kekehan yang kering mengudara. "Awalnya memang terkesan seperti ia yang membutuhkanku, justru ... sebenarnya aku yang membutuhkannya, karena ia mengingatkanku pada orang paling berharga dalam hidup ...."
"Saat ia begitu lemah dan membutuhkanku, di situ aku merasa tenang dan akhirnya sadar ... ia mengingatkanku, pada Ibu." Dan matanya berubah sayu. "Ibu satu-satunya manusia biasa di keluarga dan ketika mendengar kabar aku akan ditarik ke Vaughan, itu memancing trauma Ibu soalnya Ayah dinyatakan hilang ketika misi. Lama kelamaan aku melihat Ibu rusak, tubuh dan jiwanya. Aku sebagai anak, tidak sanggup menyaksikan hal itu."
"Aku ingin menolong Ibu tapi semua berakhir kacau karena aku adalah masalahnya. Akhirnya aku memberanikan diri meminta tolong pada pihak Vaughan, soalnya mereka yang mengurus para pengguna dragonic 'kan? Tapi tahu apa yang mereka lakukan? Menghapus ingatan Ibu."
Pemuda ini langsung menunduk semakin dalam.
"Aku berakhir tinggal di Vaughan dan diberi kesempatan untuk menjenguk Ibu, tapi setiap lewat di depan rumah ... Ibu tidak mengenalku. Semakin lama waktu berlalu, Ibu membuat keluarga baru. Rasanya sedih, melihat Ibu dengan orang lain selain Ayah; menggandeng tangan selain tanganku. Rumah terasa asing, atau bahkan aku sendiri menjadi orang asing untuk satu-satunya keluargaku. Padahal yang aku mau hanya membuat Ibu merasa lebih baik, bukan membuatnya melupakanku."
"Aku pun membuat gambaran Ibu dengan memanjangkan rambut dan terus tersenyum. Tapi semua berakhir melelahkan karena bukan ini yang aku mau. Aku putus asa dan ingin mengakhiri hidup ... menusuk diriku sendiri, bertubi-tubi; berkali-kali, seperti yang dulu Ibu lakukan. Dulu aku menolong dan menghentikannya, meskipun Ibu langsung menjerit ke arahku. Tapi aku ... tidak ada seorang pun yang menghentikanku."
Aku mulai memasukkan tangan ke dalam saku jaket, suhu dirasa lumayan rendah apa lagi lupa mengenakan sarung tangan tetapi ....
"Tuhan tidak menerima jiwaku, aku langsung dihidupkan kembali. Aku berpikir telah memancing murka Tuhan dan merasa takut. Akhirnya mulai berusaha untuk menolong hamba-hambaNya, mungkin itu yang Tuhan inginkan dariku karena dulu telah gagal melakukannya. Tetap saja, semua berakhir melelahkan."
... Mendengarnya terus berbicara, sedikit mengusir beku.
"Tapi orang itu; orang aneh itu, tidak tahu ia terlalu bodoh atau apa sampai bersikap sangat tulus. Ia tidak memanfaatkan kebaikan dan kerja kerasku seperti yang orang-orang lakukan. Bahkan perkataan omong kosong bahwa aku sahabatnya, ia anggap serius dan memperlakukanku sebagaimana seorang sahabat. Dari situ aku tahu yang aku mau, adalah orang lain mengingatku dan melihatku ... secara tulus."
Aku mulai bersandar pada bangku dan menjulurkan kaki lurus ke depan, sedikit mendengkus.
"Tapi lama kelamaan ia menjadi persis seperti Ibu yang hancur jiwanya, menyakiti dirinya sendiri; tidak bisa mendengar ucapanku lagi. Mungkin karena keegoisanku, Tuhan berakhir memberi hukuman seperti itu. Ia pun mengambil keputusan untuk pergi. Ia bilang ingin terus melangkah agar tidak tertinggal yang lain. Nyatanya, justru ia yang melangkah jauh dan aku tertinggal. Aku merasa kehilangan ... sahabat."
Dan pemuda ini mengembuskan napas panjang.
"Sampai akhir pun ia tetap aneh. Mengingatkanku pada bintang, seperti nama asli yang dibawa dari dunia aslinya. Ia bilang, ia benci nama itu tapi menurutku itu sesuai untuknya. Apa lagi ia seperti mengabulkan permohonanku, yang dari dulu sulit aku dapatkan. Katanya ia itu anak iblis, tapi ... kenapa hatinya, bisa sangat bersinar?"
"Itu karena ...."
Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku buka suara dan melihat ke arahnya dekat-dekat. Seketika tubuh si pemuda menegang. Melihat reaksi itu, entah mengapa membuatku ingin tertawa.
"Meskipun jiwa terbentuk dari iblis atas dosa mematikan, hati merupakan berkat dari Tuhan berupa kebajikan. Yin dan Yang, dalam keburukan ada kebaikan; dalam kebaikan ada keburukan, itu semua berpadu menjadi satu ... membentuk suatu kehidupan. Seperti yang pernah diucapkan sahabatku."
Seketika dia menoleh dan mata kami bertemu, membuatku mengukir suatu senyuman.
Crist terdiam, cukup lama hingga aku merasa canggung---ah, aku tidak salah ucapkan? Kenapa ekspresinya begitu?
Seketika dia tertawa keras, tiada henti sampai mendorongku menjauh darinya dan beralih menepuk kening---eh? Kenapa lagi ini ....
"Jadi kepalamu dah benar?"
Mendadak Daniel muncul tepat di belakang kami membuatku terkejut, tapi Crist langsung memukul kepala si pirang dengan buku tangan yang dikepalkan.
"Auuuh," Daniel mengeluh kesakitan, "apaan sih, kok main tangan?!"
"Kamu tidak ada sopan-sopannya!"
"Lah, aku tanya Red malah kamu yang sewot! Mana rambut diikat lagi kayak Vampire antagonis di Game RPG."
"Kalau begitu biar aku menjadi antagonis dalam kehidupanmu, Daniel." Dan Crist tersenyum lebar beriringan dengan urat banyak bermunculan di leher.
"Ehe, ampun Kak." Si pirang berakhir beringsut ke arahku seraya merapatkan kedua telapak tangan bak memohon maaf.
"Tapi serius!" Sontak Daniel beranjak menggunakan sandaran bangku taman sebagai tumpuan melompat, berakhir duduk di antara aku dan Crist yang semakin dibuat geram. "Kamu kok di sini Red? Dah mendingan?"
"Sebenarnya sedikit pusing tapi mereka sudah mengizinkan aku keluar, walau harus rutin pengecekan dan masih tinggal di sana."
"Kenapa kamu justru ke sini? Red, jangan bilang kamu duduk di luar untuk mendinginkan kepala ...," timpal Crist tiba-tiba.
Tapi aku menjawabnya dengan semringah. "Iya! Soalnya salju turun---"
"Bwahahaha! Bodoh banget!!" Daniel terpingkal-pingkal sampai terjatuh dari bangku taman. "Parah, kamu enggak ada berubah-berubahnya!"
Heee, kali ini Crist ikut tertawa meskipun tak sekeras Daniel tetapi rasa malu langsung menyerang, membuatku menyentuh tengkuk dengan kikuk. Padahal kepala memang sudah jauh lebih ringan sekarang, mungkinkah karena mendengar Crist bercerita?
Aku juga senang melihat mereka baik-baik saja. Namun, Fate ....
"Haaah, okelah, paling ciri khasmu." Daniel kembali duduk di tengah-tengah kami dan mencondongkan badan ke arahku. "Terus pas aku hajar, kamu benar langsung sadar sampai mau ambil terapi? Berarti yang aku omongin benarkan kalau kamu cinta sama Fate?"
Lantas aku tertegun atas kelopak mata membulat sempurna, berakhir mengalihkan wajah dari mereka membuat sunyi membumbung.
Beberapa menit berlalu ketika hati sudah dirasa tenang, aku menjawab, "Iya, sudah lama menyimpan perasaan ini."
"Loh, kenap---"
"Karena aku ...." Cepat aku memotong ucapan Daniel, kembali bersandar dan melihat langit dalam pandangan yang lemah. "Tidak tahu masih adakah ruang untukku, di hatinya."
Tiba-tiba terdengar sopran mengolah nada dengan aksen melengking nan khas membuat kami semua menoleh ke sumber suara; melihat Cecil berlari panik sampai-sampai hampir tergelincir di atas salju.
"Fate bangun! Fate sudah banguuun!!"