
Mendadak satu perempuan yang duduk di samping Fate berkata, "Coba cek juga kado dari Disiplinaria! Jangan-jangan hal canggih juga!"
Berkat itu, Fate kembali dalam gelagat lugu. Kemudian hati-hati membuka kado dan mengeluarkan isinya. Ternyata itu sejenis Earphone Walkie Talkie tanpa kabel. Ketika digunakan dan menekan satu-satunya tombol, layar holografi muncul di sebelah mata Fate.
Dia tampak terkejut dan bingung, hingga Cecil menyembur kata, "Eh, aku tahu ini! Ini tuh kacamata buat deteksi naga, aku juga punya tapi enggak kayak gini. Kayaknya ini teknologi yang baru? Wah ...."
"Eh, teknologi baru?"
Cecil mengangguk mantap terhadap pertanyaan Fate, membuat keduanya tenggelam dalam wajah terpukau.
Akhirnya jemari lentik Fate meraih dan membuka kado hasil patungan kami semua. Dan terlihatlah sebuah kotak berukuran sedang dengan ukir pita-pita putih.
Ketika gadis itu buka, isinya ... oh, satu set hiasan rambut? Ada jepit, ikat rambut, dan lainnya. Astaga, modelnya sangat cantik dan elegan. Mu-mungkin kalau Fate kenakan akan terlihat bagus? Aku membayangan---astaga, aku langsung menggeleng.
Apa yang kau pikirkan, Red?!
Lantas para perempuan tampak antusias menata rambut Fate dengan hiasan jepit dari kotak tersebut. Kemudian menyisihkan rambutnya perlahan hingga helai-helai perak berjatuhan seperti benang sutra yang mengkilap samar.
Wajah Fate sungguh tenang; sebuah kedamaian nan nyaman; pasrah ketika mereka mulai menata rambutnya. Dengan mata redup dalam senyuman, dia turut melihat-lihat hiasan yang masih ada di kotak sebelum menyerahkannya, termasuk jemari lentik ikut meraba jepit-jepit itu seakan tersirat ada kesenangan tersendiri.
Menyaksikan ini, terasa sesuatu mengisi relung dada tetapi kutekan kuat-kuat dengan membungkam mulut dan menautkan jemari.
"Selesai!"
"Apakah cocok denganku?" ucap Fate dengan menatap ke arah Cecil, wajahnya sedikit memerah seolah-olah merasa malu dan ragu.
Aaakh, Tuhaann ... kenapa manis sekali?!
Sedangkan Cecil hanya menyengir lebar, lalu menarik lengan Fate untuk membawanya ke kaca sepenuh tembok di depan tangga. Seketika wajah Fate benar-benar berseri, kemudian sedikit berbalik-balik badan untuk melihat dengan baik rambut yang sudah tertata apik.
Tapi memang kepang kecil hias belakang dan beberapa pernak-pernik membuat paras ayu si gadis semakin dewasa, sangat cocok.
"Sekarang kasih kado ini ke Senior Fate!" Begitu ucap salah satu anggota yang tiba-tiba menepuk pundakku.
Sontak aku tertegun dan mengerjap beberapa kali. Tapi belum sempat berkata apa pun, ramai-ramai mereka menarik dan mendorongku ke arah Fate. A-aku menjadi sedikit merasa tersipu namun tangan masih erat memegang kado di genggaman. Entah isinya apa, sedikit aneh karena sama sekali tidak dibalut kertas hias; hanya wadah bantalan merah nan anggun.
"Langsung buka!" Refleks aku menyerahkan kadonya kepada Fate ketika ada yang berteriak demikian tepat di telingaku.
Astaga, benar-benar ... mereka ini---heh, kenapa sekarang aku berfirasat buruk?!
Kini Fate membuka wadah---oh, kalung? Sangat jelas terlihat tali kalungnya adalah emas putih, dengan liontin ukir rumit nan cantik terhias batu biduri bulan. Ya, aku mengenalinya karena batu itu berwarna putih kebiruan seperti sinar bulan, begitu indah; sejuk; terkesan misterius pula, membuat mata jelagaku menatap dalam-dalam kalung tersebut. Bisa dibilang ... desainnya cocok untuk Fate.
"Itu edisi terbatas loh! Red, pakein ke Fate!"
"Eh, aku?"
Dan seluruh anggota club bersorak-sorak bak menuntutku memakaikannya pada Fate. Namun, gadis ini hanya tertegun menatap tingkah mereka semua.
Tunggu, kenapa harus aku?! Sekalian saja para perempuan---ah, kali ini mereka mulai mendorongku untuk mendekati Fate tapi terus aku tahan. Ini sungguh berlebihan! Lekas aku menoleh pada Crist tetapi dia hanya menaikkan kedua pundak dan tersenyum ... pasrah? Heh, apa-apaan itu?!
Berakhir, lagi-lagi kami saling berhadapan.
Sontak aku menenggak saliva dan bertanya, "Ka-kamu ... tidak keberatan?"
Dan Fate memiringkan kepala. "Kenapa harus keberatan?"
Selalu saja aku yang salah tingkah ketika dengannya! Apa lagi jantung berderu kencang sekarang---baik, cukup!
Lekas aku meraih kalung dalam wadah dan memakaikannya pada Fate---aaa, rambutnya ternyata memang sangat halus! Astaga, tak sengaja juga menyentuh kulit leher si gadis membuat tanganku bergetar samar.
Setelah perjuangan itu selesai, aku mengembuskan napas panjang tetapi si gadis tampak tenang seperti biasa. Tangannya mulai menyentuh kalung, membuat atensiku seperti ditarik sehingga menatapnya dalam-dalam. Bias cahaya dengan kilau warna biru pucat dengan latar belakang hampir transparan membuat batu biduri bulan terlihat sangat indah dan memesona, selaras dengan kulit pualam Fate dan aku tertegun seketika.
Entah mengapa, mataku tak bisa lepas melihat rona wajah si gadis yang bermandikan cahaya mentari dari pantulan cermin. Sungguh serbuk keemasan melayang di udara menaikkan paras menawannya, terlebih senyum itu ... terus lekat, dan aku pun terlena dibuatnya.
"Kamu sangat cantik."
Spontan kalimat tersebut keluar begitu saja sampai aku sendiri merasa kaget dan membungkam mulut menggunakan dua tangan. Fate juga menatapku dengan ekspresi tak kumengerti, apa aku berlebih---ah! Tiba-tiba ada yang menarik belakang kerah bajuku! Saat menoleh ... Daniel?
"Apa Red? Fate cantik yak?!"
Haaaa, kelopak mataku menggulung lebar seketika. "Eekkk, aku---aaaa!!"
"Tahan! Tahan tangannya! Dia mau tutup-tutup muka lagi!"
"Wahahaha lihat Senior Red, wajahnya merah padam!"
Seketika para laki-laki mengerubungi dan menahanku kuat-kuat---heh, kenapa ini?!
"Kenapa kalian menyerangku begini?!"
Daniel yang sudah di sampingku pun menyengir kuda amat sangat menyebalkan, sungguh. "Kenapa? Karena Fate cantik dong! Lihat baik-baik ... ya enggak, Red?!"
Tuhan, malu---ah, memalukan sekali! Lekas aku menyentak legan demi melepas seluruh tautan tangan-tangan mereka dari tubuhku, lalu berbalik dan mendorong mereka semua. Bagaimanapun juga, aku lebih kuat!
Dengan alis hampir menyatu, aku pun menyalak, "Jangan begitu, aku tidak suka!"
Apa-apaan itu?! Mereka justru menampilkan seringai menyebalkan! Aku semakin ... geram. Ya, Tuhan! Akhirnya aku menyipitkan mata dan menatap sinis mereka semua.
"Red bisa marah?"
"Bisa!" sergahku bertenaga.
Dan mereka menyembur tawa. Rasanya ... sungguh ingin lari jauh-jauh! Namun, mendadak terdengar kekehan samar di belakangku juga. Ketika menoleh---eh, Fate?
Tawannya yang kecil sangat imut, apa lagi sedikit-sedikit menutup mulut dengan tangan---ah, aku tak mau berpikir tidak-tidak memilih melihat anggota lain yang menatap tak percaya pada Fate. Mungkin mereka terkejut hari ini si gadis sungguh ekspresif?
"Aku dapat fotonya, Fate tertawa!" seru Crist dengan mengangkat kamera---he? Sejak kapan dia mengambilnya?
"Ah, maaf ... aku tidak sadar---"
"Kenapa minta maaf! Itu kesempatan emas!" timpal Cecil dengan wajah gembira, "kita foto bareng-bareng, yuk! Mumpung kuenya belum dipotong!"
"Nah, ide bagus Cil!"
"Aku enggak ajak kamu!" celetuk si gadis kecil pada Daniel, kembali mengundang tawa yang lainnya.
Kendatipun, kami tetap melakukan foto bersama tanpa melewatkan seorang pun.
Kami mulai berbaris yang dituntun oleh Crist--selaku fotografis--sebelum dia letakkan kameranya pada konter kayu. Fate berada di tengah, menggenggam kue dalam senyuman lembut nan hangat. Begitu pula yang lain, ekspresi ceria sungguh memenuhi. Namun, kenapa aku ditempatkan di tengah juga? Tepat di belakang Fate pula!
Benar-benar, mereka ini pasti merencanakan sesuatu! Aku meringis kecil sampai Daniel merangkul leherku. Tapi, bagaimanapun juga, senyum si pirang sungguh lebar.
Meskipun kadang teman-temanku ini menyebalkan ... tetap, kami satu keluarga 'kan? Lantas dalam rasa hangat menemani, kebahagiaan turut merambat padaku.
Beberapa anggota ada yang berakhir bergaya bebas, para perempuan juga tampak seolah-olah ingin memeluk Fate. Berantakan memang, tapi ... penuh canda, membuatku tersenyum lembut sampai suara klik nan khas dari kamera mengudara.