When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Hot Spring



"Adams depan toko itu sudah kamu cek?" tanyaku saat melihat Fate mendekat.


Dia mengangguk. "Tidak terasa sudah mencapai 57%."


Aku tertegun. Jika dipikir-pikir memang tak terasa sudah mengumpulkan data sebegini banyak, bahkan milikku hampir 70%.


Biasanya aku mengerjakan misi sendirian, tetapi seperti ini ... tidak buruk juga. Aku menaikkan standar motor dan mulai menyalakan mesin.


"Mau coba cari di kota lain?"


"Boleh. Jalan-jalan seperti ini asyik juga, aku bisa lebih mengenal dunia ini."


Tiba-tiba hujan menyentuh kulit. Seketika petir bergemuruh dan rintik makin menghunjam, badai. Ah, aku tidak menduga hal ini karena langit malam sangat pekat.


Refleks aku turun dari motor, menyelimuti si gadis dengan jas jubahku ketika ia mulai menggigil. Wajar saja kedinginan, terasa udara malam--ditambah badai--begitu dingin.


Aku menepuk motorku hingga benda itu terefleksi, berubah menjadi pion-pion cahaya yang melebur dan kembali pada bentuk bulat sempurna dalam genggaman tanganku.


Mendadak kilat berkedip dan gemuruh guntur memekakkan, Fate langsung beringsut kepadaku.


"Kenapa?"


"Maaf. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit ... terkejut. Red, ternyata kamu hangat."


He, apa? Aku hangat? Aku tersipu mendengar---tidak, tidak. Mungkin hangat yang lain. Apa ... apaaa, oh!


"Aaaaa, mau berkunjung ke pemandian air panas itu? Di sana juga hangat, mungkin kita bisa beristirahat sebentar hingga hujan reda?"


"Hm? Yang ada logo Hot Spring? Aku tidak keberatan."


Tuhan, kenapa aku salah tingkah di dekatnya?


Biasanya selalu baik-baik saja bersama orang lain, tapi sekarang---ah, aku mencoba menoleh untuk melihat keadaannya.


Dia menggenggam sisi jas jubah hitamku agar menutupinya dengan sempurna. Fate menangkup kedua bibir erat-erat.


Aku mencoba meraih tangannya ... dingin, terlalu dingin untuk orang yang tak kuat akan cuaca. Tidak tahu kenapa, tetapi aku sedikit khawatir dan semakin erat menggenggam tangannya saat kami berjalan mendekati gedung yang dituju.


Saat masuk ke dalam, terasa tempat ini tidak terlalu besar. Satu lorong dengan pintu besar di ujung, tiga lift berjajar di sebelah kiri begitu mencolok. Terbilang sempit.


Apa aku salah memilih tempat?


"Selamat datang di Hot Spring Resort! Ingin memesan kamar?" ucap staf yang berada di belakang meja lobi.


Aku berjalan ke arah kanan, mendekati dia dan bertanya, "Memesan kamar? Ini bukan pemandian air panas?"


"Baru pertama kali berkunjung, Tuan? Pemandian air panas berada di setiap kamar, tapi hari ini seluruh kamar penuh, hanya tersisa satu. Kami selalu laris ketika hujan! Ahahaha!"


Astaga, apa yang lucu ... kalau hanya satu, bagaimana dengan kamarku?


"Satu kamar bisa menampung dua orang?"


"Bahkan lebih dari dua, Nyonya!"


"Oh, kalau begitu pas! Sudah lama tidak mencoba pemandian air panas."


Hah?! Tunggu-tunggu, tuan dan nyonya? Ini masalah! Tidak mungkin laki-laki dan perempuan dalam satu kamar bukan? Maksudku---


"Red, kenapa? Ada yang salah?"


"Tentu salah! Kita satu kamar?!"


"Eh? Memangnya kenapa?" tanya Fate.


Kenapa ... terlalu polos! Apa ini ada kaitannya dengan dia yang hilang ingatan? Astaga, aku merasa tak enak.


Hanya aku yang berpikir tidak-tidak!


Setelah membicarakan perihal kamar dengan staf itu dan menenangkan hatiku yang entah mengapa menjadi kacau, akhirnya memutuskan ... memutuskan---ah!


"Saya pesan satu kamar!" seruku dengan menutup mata erat-erat; membanting beberapa lembar uang di atas meja lobi.


"Terima kasih! Ini kunci dan kembaliannya. Kamar 14, lantai dua."


Bergegas aku menarik tangan Fate dan menaiki lift. Mungkin ini membuatnya semakin bingung---oh, aku tidak bermaksud apa-apa. Maafkan aku, Fate. Namun, tak berani mengucapkannya.


Akhirnya kami tiba.


Berbeda dengan lobi, ternyata kamar kami sangat luas, lebih cocok disebut ruangan. Namun, Fate langsung berjalan mendekati jendela sepenuh tembok yang berada di sebelah kiri.


Setelah melepas jas jubahku yang basah ke salah satu kursi, dia menatap lalu lalang kota dalam-dalam. Di luar begitu gemerlap, mobil melaju rapi di jalan raya dan gedung pencakar langit di sana-sini terhias berbagai macam holografi.


Aku berjalan mendekatinya. "Dari mana kamu tahu panggilan saya REDstar?"


"Waktu itu Pak Kaidan mengajakku mengobrol tentangmu setelah kau pergi," jawabnya menatapku sesaat, kemudian kembali melihat ke luar jendela.


Sepertinya kilauan kota begitu memancing perhatian.


"Kau tahu? Dunia ini sangat berbeda dari tempat saya berasal. Bahkan, di sini pertama kali melihat mobil," ucapku seraya melepas kemeja hitam, meletakkannya pada kursi yang lain.


Aku ikut menghampiri jendela; menyandarkan kepala ke kaca. Mungkin lebih tepatnya, tidak memiliki kesempatan belajar tentang dunia asalku karena memutuskan untuk mengurung diri dalam hutan.


Kenangan itu ... buruk. Hanya ia tempatku belajar, tetapi---


"Di tempatku berasal sudah ada teknologi dan mobil, tapi tidak semaju di sini," kata Fate yang membuatku teringat perkataan Profesor Kaidan.


Beliau mengatakan dia sama sepertiku, sama yang dimaksud ... dari dunia lain?


"Kenapa kamu bisa tiba ke dunia ini?"


Fate terdiam, masih khidmat menatap sibuknya kota malam.


Tak lama, dia menjawab, "Aku tidak ingat. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa hilang ingatan, ini sedikit membuatku frustrasi. Aku ingin ingatanku kembali. Walaupun menyakitkan, aku ingin tahu apa yang terjadi."


Sesuatu bergejolak dalam dada mendengarnya berucap demikian.


Berbeda dengan Fate, aku ingin melupakan semua ingatan; menghilangkan rasa sakit. Seandainya saat itu tidak terpancing oleh rasa ingin tahu; seandainya pasrah terkurung seumur hidup, aku tidak akan ... ia tak akan---


Tch!


Sepertinya Fate terkejut dengan decak tersebut, terasa matanya mulai memandangku. Aku tidak mau membalas tatapannya.


Kulihat hujan semakin deras. Hunjaman air menabrak jendela sampai membuat anakan sungai dan mendadak, terasa lenganku seperti disentuh.


"Kau penuh bekas luka."


Segera aku menutup-nutupi lengan dengan tangan yang lain. Lupa sudah memberikan jubah untuk Fate dan melepas kemeja, kini hanya mengenakan kaus hitam tanpa lengan. Pasti luka-luka itu begitu mencolok.


Aku hanya mengukir senyum tawar tanpa balas tatap. "Ingat? Monster kecil begitu hancur."


Seketika suasana menjadi hening, membuat canggung.


Apa Fate khawatir? Aku tidak mau orang lain merasa prihatin, lantas berusaha mengganti topik. "Apa hal terakhir yang kamu ingat sebelum tiba ke sini?"


"Yang aku ingat? Yang aku ingat ... aku mengingat Sen. Senyumnya; tawanya; candanya, itu semua terasa hangat. Sebelum kesadaranku hilang, dia memelukku dan kami diselimuti oleh cahaya."


Bukankah ini sama?


Setelah menyerahkan diri pada kegelapan selepas kehilangan ia--orang terkasihku--aku melihatnya lagi.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu semenjak itu.


Aku tidak punya waktu meraba sekitar karena fokusku terpusat kepadanya. Ilusi atau bukan, ia sungguh duduk di hadapanku. Refleks aku berusaha menggapainya, tetapi aku terpaku ke tanah.


Seandainya aku lebih kuat dan bisa meraihnya waktu itu ....


"Ya, saya juga. Saat terakhir yang saya ingat ... melihatnya lagi. Ia tersenyum dan mengatakan---ah, tidak ingat, terlalu tenggelam dalam tangisan. Setelah itu cahaya begitu menyilaukan menenggelamkan kami. Kamu tahu? Orang terakhir yang kamu lihat adalah orang terpenting dalam hidupmu. Saya yakin, suatu saat, kamu bisa bertemu dengan Sen lagi."


"Orang-orang mencoba menyembunyikan soal Sen kepadaku tapi aku tidak bodoh. Sen telah hilang," balas Fate dengan nada datar.


"Mungkin saja ia ikut terbawa ke dunia ini denganmu, atau lebih dulu tiba ke sini. Terlebih, kamu tidak ingat apa-apa. Banyak kemungkinan bisa terjadi. Saya yakin, kamu bisa bertemu lagi dengannya."


Karena sampai saat ini, aku juga berharap bisa bertemu dengan orang terkasihku lagi.


Fate, akan kujaga; akan kulindungi, sampai dia menemui Sen. Namun, entah mengapa, terasa benda semu seperti menghunus tubuhku.


Aku mulai mencengkeram dada kuat-kuat.