
Kami bertiga--aku, Cecil, Daniel--menunggu pada bangku berjajar depan ruang rawat Fate.
Mataku tak lepas menatap kaca transparan di depan, beberapa staf terlihat sibuk memeriksa kondisi Fate termasuk Profesor Caterine, ditambah Crist mengawasi di pojok ruang. Sedangkan dua orang di sisiku saling berbincang satu sama lain. Tampaknya di masa keabsenanku, Daniel dan Cecil sudah jauh lebih dekat.
Belakangan ini semua mulai berjalan ke arah yang lebih baik. Bahkan, bisa dibilang saat Fate sadar juga tepat waktu. Aku ... segera ingin tahu bagaimana kondisinya sebab hati tak bersedia untuk tenang sebelum melihatnya.
Akhirnya para staf keluar dari ruang tersebut, beberapa masih berbincang-bincang dalam kepergiannya selain Profesor Caterine tetap berdiri di samping Fate. Yang paling terakhir menunjukkan diri adalah Crist, bersamaan dengan memberi isyarat pada kami untuk masuk.
Lekas aku berdiri yang diikuti oleh Daniel dan Cecil.
Ketika masuk memang bau obat-obatan begitu menyengat. Namun, sosok gadis yang duduk bersandar di atas kasur lebih menarik perhatian. Fate, sangat pucat dan sedikit kurus ... meskipun tak begitu kentara tetapi perubahan kecil di tubuh tak terlewatkan oleh mataku; membuatku memandang lesu ke arahnya.
Berbeda dengan Cecil yang tergesa-gesa berlari mendekati Fate seraya menarik satu bangku yang kosong dan duduk di sisi kasur.
Melihat kedatangan kami semua, Fate tak henti mengedipkan mata dan mengulas senyuman kecil.
"Selamat pagi." Dan suara serak memenuhi ruang nan sepi membuatku sedikit menyipit, karena rasa sesak di dada ketika mendengarnya.
"Wow, santai dulu Fate! Enggak apa-apa nih kamu ngobrol sama kami? Serak begitu. Memang sudah merasa enakan?" sergah Daniel--seperti biasa selalu yang pertama merespons sesuatu.
Namun, Fate mengangguk terhadap pertanyaan tersebut. "Tidak apa, karena baru sadar ... agak serak."
Kemudian mata ambar melihatku dan Crist. "Kalian berdua ... terasa berbeda. Apa sesuatu yang baik terjadi, pada kalian?"
Pemuda yang setia berdiri di sampingku menaikkan kedua pundak dan menyunggingkan bibir. "Yah, seseorang mencoba untuk terus melangkah dan itu menginspirasiku."
"Begitukah ...." Fate kembali mengukir senyuman. "Baguslah."
Mendengar suara Fate bergetar pun berbicara lesu, entah mengapa ingin sekali memberinya air hangat. Ah, apa orang yang baru sadar dari koma lebih dari satu bulan boleh diberikan makanan dan minuman secara langsung? Aku menyentuh kening dengan satu tangan. Bagaimanapun, ternyata aku memang begitu mengkhawatirkan dan memperhatikan Fate. Aku mulai menghela napas.
Tak lama Fate justru menunduk lesu dengan punggung tidak lepas dari sandarannya, tatapan mata ikut menjadi lemah membuat Profesor Caterine memperbaiki posisi kacamata dan melipat tangan depan dada.
"Fate, kamu masih harus beristirahat. Ketika kondisi tubuhmu menunjukkan peningkatan kita akan melakukan rehabilitasi." Kemudian beliau memperbaiki posisi kasur Fate menjadi datar sempurna secara perlahan.
Dan si gadis berkata, "Apa bisa ... kalian menemaniku sampai aku tertidur?" Lalu tatapan mata ambar tertuju pada kami semua.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, dan Cecil yang sedari tadi sudah duduk di samping kasur langsung memegang tangan si gadis dengan lembut bak penuh kehati-hatian. Pelan-pelan, lengan mungil Cecil yang lain membelai kening sampai ke rambut perak nan panjang. Tampaknya itu juga membuat Fate terlelap.
Melihat Fate terbaring tak berdaya, dalam hati seakan berkata bahwa ada sesuatu yang kurang ... mungkin, aku merasa gagal? Karena waktu itu justru terguncang atas perasaan sendiri padahal ingin terus bisa menemaninya.
Apa lagi terasa bahwa ini adalah kondisi terlemah Fate yang mana dia menginginkan kami berada di sisi. Seperti sosoknya akan hilang dan lebur. Mungkinkah Fate---huah!
Mendadak Profesor Caterine menendang kami keluar. Aku sangat terkejut sampai hanya bisa pasrah dan tak henti mengedipkan mata.
Kenapa sangat tiba-tiba ....
"Pasien sudah tertidur, kalian semua harus pergi." Lalu beliau menutup pintu ruang rawat tanpa suara sedikit pun.
"Sebentar, Miss." Crist berdeham beberapa kali ibarat ingin suaranya didengar oleh yang lain. "Bagaimana kondisi Fate, apa benar baik-baik saja? Rasanya aneh waktu Fate minta ditemani, ingin bersama kami semua lagi."
"Betul tuh! Apa Fate belum sepenuhnya sadar?"
"Wah, Cil, maksudnya pikiran masih mengambang kayak Red?" sergah Daniel.
Heee, kenapa aku? Ah, tapi ada benarnya. Dan itu mengerikan. Aku yang ingin tahu secara pasti pun berdiri sempurna dan menatap Profesor Caterine, begitu juga dengan yang lain.
Kemudian tatapan mata ungu tertuju pada Cecil.
"Kerjamu bagus langsung menggenggam tangan Fate, aku yakin itu membuatnya merasa lebih baik."
Cecil langsung dibuat kegirangan hingga melompat-lompat dan sedikit bertepuk tangan, sampai semburat merah muncul di pipi Daniel melihat tingkah lugunya.
Mendadak terdengar suara embusan napas yang panjang dari Crist. "Seperti biasa, bahkan dalam keadaan kritis ia tahu bagaimana cara menangani masalahnya. Aku merasa senang kita sangat dibutuhkan."
"Betul-betul! Tuh dengar Red, belajar dari Fate! Hmmm Fate memang terbaik!" Dan Cecil memegang kedua pipi yang entah kenapa membuatku tersenyum canggung.
"Ah, maaf. Di mataku semua sama; semua tampak normal meski seharusnya tidak. Termasuk kekhawatiranku ... tapi, sekarang aku berusaha menanganinya dan masih menjalani perawatan lebih lanjut."
"Yah, karena kamu sudah lama hidup dengan kondisi begitu jadi menganggap biasa. Apa lagi kamu memang tidak tahu masalah penyakit---"
Tiba-tiba Crist memutus ucapannya sendiri dalam mata turut menjadi lesu. Pada akhirnya, dia pun melanjutkan perkataan meski amat pelan dan menutup mulut menggunakan tangan kanan. "Itu juga salahku yang menyembunyikan kebenaran ...."
Senyum bangga lagi-lagi terukir di bibir merah Profesor Caterine. "Hoya, oya, berarti kamu harus mengawasi temanmu dengan benar, hm?"
"Apa Miss ingin mengujiku lagi?" Sontak Crist menyengir lebar dan berkacak pinggang, suatu ekspresi yang jarang terlihat sampai aku merasa tertegun.
Hal ini dibalas kekehan samar dari guru walinya. "Baik. Terakhir untuk kondisi Fate, aku sarankan kalian sering mengajaknya mengobrol dan melakukan kontak fisik agar Fate sadar dan mengingat kalau ia masih ada di sini, apa lagi di masa-masa rehabilitasi."
"Nah, kesempatan bagus Red! Kontak fisik!!"
Langsung Crist memukul kepala Daniel, untuk ke sekian kalinya ....
"Jangan dijadikan ajang buat pendekatan, bodoh!"
"Tahu tuh, enggak boleh pegang-pegang kemurnian dan kepolosan Fate!" Sebentar, kenapa ucapan Cecil terdengar ambigu?! Tentu saja, hal tersebut memancing senyum kuda di wajah Daniel.
"Jadi, boleh dong kalau aku yang pegang-pegang kamu?" Dan Daniel mencondongkan badan ke arah Cecil sampai wajah si gadis merah padam.
Seketika Cecil mengoceh tiada henti dan berteriak salah tingkah---ah, suaranya yang melengking sungguh menganggu apa lagi yang dia katakan tak jelas seperti merapal mantra.
"Hoyaaa, asal pegang-pegang itu tidak menyentuh ranah delapan belas tahun ke atas tentu tidak masalah." Profesor Caterine menepuk pucuk kepala si gadis sampai Cecil dibuat diam seketika. "Dan kamu tolak. Apa kamu tidak menyukainya, Cecil?"
"Ta-tapi setidaknya tunggu sampai kita menikah!" Cecil teriakan itu dengan lantang sampai mengepal dua tangan di sisi tubuh dan memejamkan mata.
Sedangkan Profesor Caterine justru tertawa yang terkesan ... meledek? "Aku sudah bilang tidak mengenai hal yang itu, bukan?"
"Ma-maksudku tuh yang---waaahh!!"
Heee, Cecil langsung menutup muka dan berlari dengan cepat entah ke mana. Namun, jelas sekali wajah berubah merah tomat sampai ke telinga dan leher.
"Sebenarnya ... ada apa, ya?" tanyaku sedikit memiringkan kepala karena heran melihat semua kegilaan ini.
Crist justru mendengkus. "Lupakan saja, Red. Lupakan."
Berbeda dengan Daniel yang dibuat celangap sampai wajahnya terkagum-kagum melihat ke arah kami secara bergantian. Selang beberapa menit, ekspresi itu berubah menjadi suatu senyuman nan cemerlang hingga lesung pipinya terlihat. "Whoaa! Dengar itu rasanya menakjubkan!!"
Kemudian kedua tangannya berganti menunjuk-nunjukku dan Crist dalam gaya tak biasa. "Kalian enggak tahukan rasanya gimana? Huuu, dasar jomlo." Dan dia pergi begitu saja dengan bersiul.
Tunggu! Apa-apaan maksudnya tadi?! Entah mengapa mendengarnya sangat ... kesal---ah, sabar Red, sabar. Aku mulai mengelus-elus dada.