When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Tujuan Hidup?



Perlahan-lahan, kesadaranku kembali dengan binar cahaya menyusup dari balik kelopak mata yang masih menutup. Kemudian suatu benderang seperti melepasku secara halus dan membawa pada kesadaran utuh, sehingga mata secara refleks berusaha terbuka meski amat lemah.


"Oh, kau sudah sadar."


Maka atensiku yang sedikit berbayang menuju pada satu sosok di hadapan. Aku pun mengerjap beberapa kali dan lambat laun ingat bahwa dia adalah Sen. Tangannya menyentuh kepalaku dan mengelus secara lembut, mungkin hal itu yang membuatku sadar karena terasa suatu kesejukan di sana; membawa ketenangan tersendiri.


Sebentar, aku ... masih hidup? Tapi merasa lelah luar biasa, bahkan kelopak hanya mampu terbuka separuh dengan mata melirik ke arahnya.


"Jika kau tanya apa yang aku lakukan, aku sedang menyempurnakan Anugerah Metatron yang lain untukmu, agar jiwamu bisa menyesuaikan tubuhmu. Kau berhasil melewati ujian dengan baik, Red Sirius." Dan senyuman menghias wajah Sen yang terlihat teduh.


Namun, ujian? Apa maksudnya? Tetapi ketika bibir kupaksa untuk terbuka demi bertanya, hanya terdengar suara rendah yang samar. Ah, tenagaku terasa benar-benar hilang terlebih kepala sungguh berat. Aku berakhir menghela napas panjang melalui mulut lantaran sesak melanda relung dada.


Sen, seakan menyadari apa yang ingin kutanyakan kembali angkat bicara. "Ada dua ujian yang harus kau lalui. Pertama, alasan kenapa aku menyerangmu karena ingin tahu sejauh mana kau akan bertarung untuk mendapatkan Fate lagi. Fate membutuhkan orang lain selain aku untuk berada di sisinya. Karena aku ...."


Entah mengapa ekspresi Sen berubah sendu saat mengatakan hal tersebut, tapi dia menggeleng dan kembali tersenyum.


"Dan yang ke dua, alasan aku bercerita padamu tentang Gaia juga sebagai cobaan ... pilihan apa yang akan kau pilih, nyawamu sendiri atau kebebasan Fate? Sebab Fate tidak akan mati, tapi kau akan mati. Dengan kebahagiaan yang telah kau dapatkan; kehidupan yang kau inginkan akhirnya berhasil kau raih ... dengan hal itu sebagai timbangan, mana yang kau pilih? Dan kau memilih Fate. Karenanya ... kau lulus, Red."


Begitukah? Aku tidak mengerti maksud dari yang pertama, sebab untuk apa memberiku ujian perihal melindungi Fate? Sen ... sudah ada di sini sekarang, Fate tidak memerlukanku lagi. Karena pemuda itulah yang lebih berhak untuknya daripada aku. Mengingat ini ... pandanganku berakhir sayu terlebih ketika tangan Sen lepas dari kepala, rasa yang begitu menyesakkan menyerang dan aku mulai terbatuk heboh; menghasilkan napas terengah hebat.


Sesekali aku mencoba menelan ludah dalam tenggorokan ketika memasukkan dan mengeluarkan udara secara pelan-pelan demi melegakan alveolus yang sedikit terhimpit. Juga lengan kupaksa untuk menopang badan, berusaha bangun agar mudah---


Tiba-tiba, secara lemah lembut Sen kembali meraihku dan membantu untuk duduk seakan memperlakukan diri ini penuh kehati-hatian, dengan nada nanar pula dia berkata, "Kau masih perlu penyesuaian. Meski umur jiwamu telah dibuat sesuai dengan tubuhmu, ingatanmu tetap ada. Karena itu sekarang kau merasa lemah."


Dan dia membantuku untuk bersandar pada salah satu gedung. Kemudian iris biru nan elok memandang atas sepasang mata penuh rasa kasih, sama seperti lengan kukuhnya kembali mengusap pucuk kepalaku dengan tenang ibarat untaian sutra turut terajut pada bibirnya yang tersenyum tipis, seakan bangga akan tindakanku; atas pilihanku, padahal aku sebatas tak ingin lagi menyusahkan orang lain.


Aku tidak paham kenapa Sen selembut ini.


Kukira dia akan memperlakukan aku, yang telah menjadi benalu di antara mereka, sama kerasnya seperti Lucian sehingga aku cukup terkejut dengan tindakan penuh afeksi ini; membuatku berpikiran cukup gila, bercita-cita suatu saat bisa menjadi orang yang hebat sepertinya.


Mungkin memang benar aku baru bertemu Sen kali pertama ini, tapi rasa segan dan hormat telah mekar dalam hati. Ditambah mengenal dia melalui cerita-cerita Fate ....


Mungkinkah ini salah satu penyebab dia menjadi pemimpin--cakupan negara--meski di usia yang muda? Fate dan Sen; mereka berdua memang luar biasa. Keduanya saling melengkapi, memiliki pengalaman dan kelebihan masing-masing membuat mereka spesial dibandingkan manusia lain, termasuk diriku jika disandangkan di antara mereka---oh, betapa menyedihkannya ....


Andai aku memiliki seseorang yang bisa kupanggil dengan sebutan kakak, maka aku ingin Sen menjadi salah satunya. Sayang, aku tercipta tidak mengenal sebuah konsep keluarga yang utuh dan lama kelamaan, aku merasa kasihan pada diriku sendiri.


Bahkan makhluk hina sepertiku ini, sempat berpikiran ingin menjadi lelaki yang cukup penting dalam hidup Fate agar dapat membuatnya sudi menyerahkan jemari untuk kugenggam. Padahal, aku ... seperti ini ... tidak lebih. Melihat mereka, rasanya jauh sekali, seperti Sen yang kini sudah melangkah mundur.


Barangkali, memang aku sudah hilang akal secara harfiah. Aku berakhir mengembuskan napas panjang dan menyandarkan kepala ke tembok.


Tak lama terdengar suara desau di sisi---tunggu, Fate? Aku pun menoleh dan langsung dihadiahi dengan kedua mata---ah, warna matanya ... perak kebiruan nan menawan akhirnya kembali. Lantas dia terdiam beberapa saat, terus mengedip sampai akhirnya melihatku.


"Red?" Perlahan matanya melebar, terkejut akan sesuatu. "Berbeda ... ada yang berbeda."


Mendadak Fate memegang kedua pipiku, lalu naik ke atas paha---waah, tunggu dulu! Ini dekat, terlalu dekat! Astaga, bahkan tangannya tak henti menelisik badanku seperti memeriksa sesuatu. Pun dia berkata dengan tatapan lugu, "Red, tubuhmu ... sudah tidak abadi?"


Sontak aku tertawa kecil. Dalam dada yang lemah, jantung turut berdentum lumayan kencang lantaran tak dapat dimungkiri bahwa aku sangat senang; lega Fate telah kembali bugar. Sebab bagiku, Fate yang seperti ini memang indah; mengingatkanku pada bulan yang tak pernah lelah menemani di tiap malam.


Melihat reaksiku, semburat merah jambu mulai terhias di pipinya. Tuhan, sungguh aku ingin meneriakkan betapa manisnya gadis satu ini tetapi tak mampu; ingin menaikkan tangan demi merangkulnya juga tidak kuasa.


"Ah, akhirnya sang putri bulan telah bangun."


Detik itu juga aku bisa melihat dengan jelas ... mata Fate membulat sempurna atas emosi tak biasa terlukis di sana. Kebingungan, tidak percaya, takut ... dan, rindu. Perlahan si gadis membalikkan badan dan melihat ke belakang, tepat di mana Sen berdiri.


"S ... en?"


Seketika senyum tulus menghias wajah cakap seseorang yang dituju. Aku tahu makna gurat sabit itu tersimpan banyak emosi untuk Fate, yaitu rindu dan cinta nan besar terlimpah dengan jelasnya; serta perasaan manis turut melingkupi.


Langsung Fate berusaha bangkit, meski masih terhuyung dia mencoba berlari ke arah Sen. Pemuda yang masih tersenyum tenang, membuka kedua tangan untuk menerima sang pujaan hati kembali dalam pelukan.


Akhirnya mereka saling merangkul dengan amat sangat erat bahkan dari sini, aku bisa mendengar suara bergetar Fate tiada henti memanggil-manggil nama Sen. Tanpa melihat wajah Fate pun aku tahu ... bahwa dia menangis.


Sen, dengan lembut terus memeluk Fate. Perlahan salah satu tangannya naik untuk membelai kepala si gadis dengan pelan. Tirta turut mengalir dari kedua mata biru bak berlian, seakan membuatnya semakin berkilauan. Kemudian mulutnya terbuka, dan entah apa yang dikatakan tetapi hal tersebut membuat Fate memeluk si pemuda lebih erat lagi. Atas penuh kasih sayang pula ... Sen mencium kepala Fate.


Bukan, lebih tepatnya, ini ... adalah rasa iri.


Tampaknya aku terlalu dalam bersembunyi pada rasa senang mengetahui Fate sudah kembali seperti semula dan mengkhawatirkanku, sampai aku dibuat lupa oleh kenyataan di hadapan mata, bahwa gadis itu sudah tenang bersama orang terkasih dalam pelukannya; seakan-akan salju yang terus turun ikut menyerukan reuni mereka. Sedangkan aku diingatkan tentang diriku bisa saja mati di menit berikutnya, juga tugas yang sudah selesai.


Fate telah bertemu dengan Sen.


Sudah sampai di sini bukan? Benar juga, untuk apa aku ada di sini ... jika dipikir lagi? Tiba-tiba aku seperti hilang arah. Rasanya, aku juga orang yang tidak memiliki tujuan hidup.


Refleks tubuhku dipaksa bangun dan melangkah jauh dari sana.


Untuk apa lagi, 'kan?


Dengan sempoyongan dan perlahan agar tidak mengganggu Fate dan Sen, aku meniti jalan dalam beban salju ketika kaki mulai menyeret langkah, meninggalkan jejak parau atas hamparan putih.


Entah sekarang pukul berapa karena ini sudah teramat sepi.


Di bawah remangnya jalan yang sunyi, hanya ada aku; pada tengah-tengah dingin yang merengkuh, hanya ada aku. Bukankah ini seperti dulu? Kelihatannya aku kembali ke awal, berjalan sendirian di antara beku yang mengisi sekitar. Aku seharusnya paham ini akan terjadi ... tapi sungguh berat, dan aku hanya bisa menunduk.


Berangsur, aku mulai menggigil. Tangan yang bergetar ini berusaha aku naikkan dan terlihatlah ujung jemari mulai membiru, selaras dengan uap napas tak henti terlihat dariku karena salju terus menjamah kulit ... dan mungkin, turut mengisi sudut relung asa yang kosong. Aku pun menggenggam kedua tangan dan mendekatkannya ke dada.


Terasa sudah tidak mampu lagi terus berjalan, seketika tubuhku kaku dengan mata yang semakin terbebani.


Ketika atensiku menangkap sebuah bangku taman, aku langsung mengarahkan diri untuk beristirahat di sana. Perlahan-lahan menyandarkan badan dengan wajah yang mendongak, menatap gumpalan putih turun sedikit demi sedikit dalam sunyi. Sontak menyadari, telah duduk di halaman depan akademi dekat air mancur yang biasa aku tempati.


Ini mengingatkan pada malam saat hati terasa begitu rancu, duduk sendirian, kemudian gadis itu menemukanku; mendengarkan rancauan tak jelasku; menenangkanku. Itu pertama kali setelah sekian lama, aku menangis sejadinya di depan orang lain. Dan akhirnya, hati terbuka lagi setelah sekian lama tertutup rapat-rapat.


Sekarang, akankah ada orang yang menemukanku?


Musim dingin bulan Februari ini memang tak bersahabat.


Setidaknya, untukku.


"... Red?"


Langsung aku mengarahkan pandangan pada asal suara, Profesor Kaidan di sana dengan tatapan khawatir juga bingung secara bersamaan. Mengetahui seragam yang dikenakan aku mengerti guru waliku baru saja pulang bertugas tetapi melihat beliau, seketika emosi dalam dada meluap hingga wajah terasa panas bersamaan dengan air mata akhirnya keluar tanpa permisi. Aku ingin memanggilnya. Namun, perasaan yang bergejolak menghalangi seakan degup jantung tertahan di tenggorokan.


"Ya ampun, Nak, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"


Beliau pun duduk di samping, memancingku untuk berkata meski dengan suara amat lemah; bergetar; lebih-lebih sedikit melengking dan tenggelam karena aku sungguh kalah atas perasaan sendiri.


"Apa boleh, mencintai seseorang ... yang sudah dimiliki orang lain?"


Seketika aku memejamkan mata erat-erat membuat ujung pelupuk semakin deras mengalirkan air, sama seperti tangan nan kaku justru mengepal kuat ibarat mati-matian meredam emosi yang melimpah.


"Kalau boleh, kenapa terasa ... menyakitkan?"


Tanpa berkata beliau langsung merangkulku, erat, lengan kukuh juga mengelus punggung membuat tangisanku akhirnya pecah. Namun, seharusnya aku tidak begini.


Harusnya aku tetap kuat, menjadi lelaki dewasa dan mandiri. Tapi yang seperti itu, ibarat aku dipaksa untuk tegar; dipaksa sabar, padahal aku telah menyendiri. Seseorang di sampingku telah pergi bersama hati yang lebih layak.


Dan aku paling benci kesepian.


Cintaku baru sekali dijadikan bersemi, setelah dulu aku abaikan selama mungkin lebih dari ribuan tahun, dan akhirnya dipaksa gugur. Dulu kedua mata kuhabiskan untuk mengawasi ia agar selalu dalam kondisi yang baik, kini hanya bisa kugunakan untuk mencari sisa-sisa perasaannya. Atau melihatnya bahagia, dari kejauhan.


Aku mendambakan kasih sayang, tapi rasanya selalu berakhir kacau dalam hal tersebut. Sudah ke dua kalinya aku merasa begitu kehilangan; membuatku menjadi seperti individu yang gagal. Aku tidak tahu ... mencintai seseorang bisa begitu menyiksa, seperti ini.


Aku pun semakin membenamkan diri pada orang tua di depan, seseorang yang masih terisa untuk kugapai.


Kini semua telah usai, ibarat memasuki suatu kompetisi besar ... aku telah kalah, tanpa melewati satu pertarungan pun.