When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Kembali



Duka memenuhi aula utama gereja, banyak orang berpakaian serba hitam mengisi setiap bangku yang ada.


Aku dengan pakaian biasa yang memang sudah serba hitam hanya berdiri di sisi ruang.


Terisak; mengheningkan cipta, orang-orang di dalam ruangan ini khidmat melantunkan doa.


Keputusan Rei memang ekstrem, memilih menyegel desa dan iblis itu dengan dirinya untuk mati bersama.


Penduduk Kota Rhodes yang koma kini sudah bangun, keadaan jauh lebih baik ... mungkin.


Sebagai penghormatan terakhir, kami menyerahkan bunga ke dalam peti mati dan aku turut andil, memberikan setangkai krisan putih sebagai ungkapan kesedihan dan kehilangan yang dalam karena rasa tak berdayaku, menjadi orang terakhir bersamanya, tetapi tak bisa menghentikan hal ini untuk terjadi.


Aku tahu ini keputusannya; kemauannya, tetapi---


Aku mendengkus. Setidaknya sudah menceritakan kepada sang uskup dan vikaris tentang apa yang terjadi.


Kulihat sang vikaris hanya menatap kosong kakaknya, tidak menangis ataupun mengucapkan sepatah kata.


Di balik wajah datar Mei entah mengapa aku merasakan suatu kesedihan, rasa sakit kehilangan orang terkasih, tetapi harus menerima juga karena itu adalah pilihan terakhirnya.


Terlebih, Rei memilih jalan tersebut demi kebaikan Mei itu sendiri.


Bahkan dihembusan napas terakhirnya, Rei masih sempat mengukir senyuman.


Sedikit mengiris hati melihat kejadian ini, aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan.


Aku berjalan pelan di lorong panjang yang sepi dan mengecek ponsel. Tak ada pesan, hanya spam lainnya dari forum yang tak pernah aku lihat.


Aku teringat ucapan Cecil, sesekali lebih baik membuka media sosial.


Dalam forum terlihat murid akademi sangat akrab dengan satu sama lain, mungkin menyenangkan mempunyai teman seperti itu. Sedangkan aku ... hmmm.


Aku memejamkan mata.


Tampaknya aku masih belum mendapatkan misi, grade rendah pun tidak.


Namun, lebih baik kembali ke akademi sekarang.


"Sudah mau pergi?"


Aku terkejut tiba-tiba mendengar suara di tempat sepi ini.


Aku pun menoleh ke belakang---ah, sang uskup.


Sontak aku menghentikan langkah dan berbalik menghadap beliau, memasukkan ponsel kembali ke saku celana.


"Pertama kali saya melihat mereka, Mei menggendong Rei dengan tatapan yang kosong, memohon saya untuk menyelamatkan kakaknya. Dari yang kau ceritakan kemarin, ayahnya sangat mencintai mereka, ia membuat boneka Mei dengan sepenuh hati. Tak ada dari mereka layak disalahkan. Tragedi ini terjadi karena tuntutan ritual."


Mendengarnya aku langsung menunduk, tak tahu harus menjawab apa.


Aku merasa takdir yang berat tak hanya menyerang aku ataupun satu dua orang. Mereka tak punya pilihan selain terus menjalankan kehidupan.


Entah ini akhir yang baik atau tidak.


Aku menatap sang uskup dalam-dalam seumpama ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak tahu harus berkata apa.


Sedangkan beliau justru tersenyum.


"Kau menghentikan tragedi, menyelamatkan mereka dan orang-orang di kota. Kerja bagus. Terima kasih. Dengan frustrasimu, bagaimana kau akan menghadapinya?"


Mataku membelalak.


Aku tidak tahu ... kenapa beliau tiba-tiba bertanya?


Aku berakhir melihat kedua telapak tangan karena tidak bisa melupakan rasa itu; penyesalan.


"Jangan tenggelam dalam frustrasi dan menyesal terlalu dalam, atau kau akan membawa sakit tak terkira untuk dirimu sendiri. Hidup adalah pilihan dan dari suatu pilihan selalu ada pengorbanan. Teruslah berdoa kepada Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkanmu pada jalan yang terbaik."


...****************...


Pertengahan Maret, terasa hawa begitu sejuk.


Musim semi tiba, tak ada gumpalan putih memenuhi sekeliling, hanya bunga dan hijau bermekaran. Sangat indah; tenang, bahkan aroma harum dari alam tercium.


Menyegarkan.


Apa lagi untuk sebagian orang--entah murid atau para staf--musim semi yang selalu ditunggu-tunggu. Terlihat dari raut gembira mereka ketika aku memandangnya berlalu lalang di sekitar halaman.


Orang-orang tampak lebih sibuk daripada biasanya hingga terlihat sedikit lebih ramai. Mungkin karena tak ada lagi dingin yang menusuk sehingga orang-orang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.


Ada yang berjalan pagi atau mengendarai sepeda, berkeliling bersama temannya.


Bahkan para staf Departemen Gear mulai melakukan latihan rutin yaitu lari secara berkelompok. Badan mereka tergolong besar untuk seukuran yang sering berkecimpung dengan mesin dan teknologi.


Orang awam pasti mengira mereka anggota Departemen Eksekusi, padahal bukan.


Kami--Departemen Eksekusi--lebih sering melakukan kegiatan secara diam-diam dan tersembunyi. Terlebih sering bertugas keluar atau tempat jauh.


Namun, tidak untukku.


Tak ada misi tambahan yang perlu dikerjakan; tak ada misi utama yang diembankan; tak ada ujian atau soal yang perlu dikerjakan.


Di sini aku, duduk di bangku taman dekat air mancur halaman utama akademi; melihat orang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Pikiranku bagai benang kusut sekarang, bahkan soda kaleng yang sudah aku teguk habis tak mampu menyegarkanku.


Kejadian jauh-jauh hari membuatku rancu. Jika waktu lebih banyak kosong seperti ini, takut pikiranku makin melayang jauh.


Akhirnya aku memutuskan untuk meminta misi, mungkin sembari bertanya kenapa Profesor Kaidan tidak memberiku tugas beberapa hari belakangan. Aku perlu bahan untuk peningkataan Heart Core.


Aku beranjak dari bangku, membuang kaleng minuman ke tempat sampah daur ulang yang tak jauh.


Jika musim dingin atau ingin terjaga mungkin aku akan memilih minum kopi hangat, tetapi untuk sekarang di musim semi atau bahkan panas aku lebih suka minum soda.


Hal itu sedikit mengingatkanku kepada Fate, terlebih ketika duduk di bangku tersebut.


Apa kabarnya?


Rasanya masih belum memiliki muka untuk bertemu lagi dengannya.


Akhirnya aku sampai di Gedung Departemen Eksekusi terletak paling depan, dekat gerbang masuk akademi.


Aku mulai melewati pintu Metal Detector Walk-Through; melakukan pindai tangan; menunjukkan kartu identitas pelajar; banyak sekali langkah-langkah ketika memasuki tempat ini. Tak salah, keamanannya tingkat tinggi sehingga tidak banyak orang bisa masuk ke sini.


Ah, mudah-mudahan Profesor Kaidan tidak sibuk.


Langkahku menggema di lorong serba logam dan alumunium. Cahaya samar-samar menemani sepanjang jalanku.


Sesekali aku berpapasan dengan beberapa orang.


Tempat ini lebih sepi dari biasanya.


Aku menaiki tangga melintang, melewati beberapa deret pintu metalik, hingga derapku terhenti di dua daun pintu besar di lantai tiga.


Aku terdiam sesaat dan melihat ke arah kamera pengawas di atas pintu.


Aku harap beliau ada di ruangnya.


Seketika pintu itu terbuka.


"Oh, Red! Masuk-masuk. Ada apa? Tumben ke ruang Bapak."


Tanganku beliau tarik dan diajak duduk bersama di atas sofa hitam yang panjang.


Ruang kerja Profesor Kaidan terlihat tak jauh berbeda dari ruang kepala departemen lain. Lemari dan meja kayu mendominasi; tanaman hias di tiap ujung; karpet kulit di tengah ruang.


Dan sejujurnya memang aku jarang ke ruang beliau.


Aku pun langsung bertanya, "Bapak, kenapa saya tidak diberikan misi?"


Seketika senyum di wajah beliau pudar, ekspresi juga berubah serius.


"Sudah berhari-hari performamu turun, bahkan hasil dari latihan simulasi tidak sebagus biasanya. Bapak tidak bisa kirim kamu untuk bertugas kalau kondisimu begini."


"Tapi Bapak, saya Grade S dan tak akan mati."


"Bapak tidak mau melihat kamu terluka. Selama kamu tidak cerita kenapa, Bapak tak akan berikanmu misi."


"... Begitu."


Aku langsung menunduk dan menautkan jemari.


Sekarang aku tak tahu lagi bagaimana caraku menyibukkan diri.


Mungkin harus menghubungi EVE dan mencari beberapa informasi dan misi tambahan jikalau ada.


Entah sekecil apa, aku ingin menyibukkan diri.


Sesaat aku mendengar embusan napas tertahan dari Profesor Kaidan. Beliau beranjak dari sofa dan berjalan ke belakang ruang, memilih-milih beberapa dokumen di atas meja.


"Tadi pagi, sebenarnya Bapak mendapatkan permintaan dari Departemen Disiplin. Mereka ada anggota baru dan harus ...." Ucapan beliau memelan dan terpotong.


Aku langsung menoleh ke arah Profesor Kaidan.


Mata cokelat beliau tampak masih menyapu setiap kata di dokumen dalam genggaman tangan. Sekilas; walau sebentar, aku sangat yakin melihat beliau menyeringai.


"Nah, Red, ambil misi ini. Grade B. Tidak sulit, tapi jangan dianggap remeh."


Beliau melipat dokumen tersebut, lalu memasukkan ke dalam amplop dan menyerahkannya kepadaku.


Penasaran, aku mencoba membuka dan melihat isinya, tetapi seketika beliau berseru, "Jangan dibuka! Rahasia."


"Eh? Lalu bagaimana saya tahu tugas yang harus dikerjakan?"


"Jam sembilan, pergi ke air mancur halaman utama akademi. Nanti ada anggota Departemen Disiplin menunggu di sana. Ia mengenakan pita tangan khusus Departemen Disiplin. Serahkan surat itu dan ikuti petunjuknya."


Aku langsung mengecek ponsel. Jam sembilan---ah, tiga puluh menit lagi.


Aku mengangguk dan meninggalkan ruangan beliau.


Lebih baik segera pergi ke tempat yang dituju.


Sambil menunggu, aku membeli satu kaleng soda lagi. Tak mau ketika mengerjakan misi nanti terlihat seperti orang susah.


Namun, sejujurnya aku menjadi sangat penasaran. Baru sekarang aku mengerjakan misi tanpa melihat surat perintah.


Lantas aku mengeluarkan surat tersebut dari tas pinggang, membolak-balikkannya dengan tangan kiri sambil meneguk minuman.


Stempel lilin keemasan dengan logo khas Departemen Disiplin. Misi apa hingga meminta tolong Departemen Eksekusi?


"Hooo, jadi kau yang menemaniku nanti."


"Hmpft!!"


Sontak aku terkejut sampai-sampai tersedak sodaku sendiri.


Astaga, mati! Rasanya mau mati ... agh, minuman itu masuk hidung. Napas---napasku! Aku memukul-mukul dada. Aaaaa, rasa ketika soda sedikit masuk ke pernapasan sangat mengerikan.


"Fate?! Akh, ke-kenapa kamu di sini?"


Dia mengambil surat di tanganku dan berkata, "Aku anggota Departemen Disiplin yang bertugas hari ini. Jadi, kau temani aku patroli sekarang."


Tuhan, bisa-bisanya ditugaskan bersama dia ketika pikiranku runyam ....