When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sudah Kubilang, Kamu Juga



"Daniel, ternyata benar! Setibaku di sini, aku melepaskan energi yang besar tetapi kalian tidak dapat mendeteksinya padahal posisiku tak begitu jauh ... mungkin, di sekitar Rhodes dan Nifle?  Apa karena kekelaman ini? Ah, ya, itu mengapa para naga mendapatkanku terlebih dulu!"


Aku ucapkan itu dengan semangat, lebih-lebih tertawa kecil. Sedangkan lawan bicaraku hanya mengerang, kepala pun masih tergeletak di atas meja.


Setelah makan siang, ada beberapa anggota club pergi berkelompok dengan binder mereka. Mungkin akan belajar bersama? Seperti Cecil contohnya. Sebab awal Desember--tiga minggu lagi--mulai pendataan grade ulang. Ada juga yang masih sibuk dengan misi mereka, seperti Crist dan Fate. Hanya tersisa aku dan Daniel dalam club tetapi sedari tadi dia terdiam. 


Mungkin mendengarkan ucapanku dengan serius? Lantas aku kembali berkata, "Dan ternyata tubuh dan jiwa Tiamat terpisah, tersegel dengan baik. Itu mengapa---"


"Red! Tahu enggak gara-gara kamu dan Fate, kayaknya aku enggak tertarik lagi sama Fantasi."


He? Aku sedikit memiringkan kepala. "Tapi itu benar terjadi 'kan? Kamu juga lihat kalau---"


"Alah, enggak peduli! Kamu itu kamu! Kamu bagian dari kita. Sudah, itu doang, titik!" teriak Daniel dengan mengacak-acak rambut pirangnya frustrasi, sungguh bertenaga sampai dia ikut berdiri dan suara kursi terjatuhnya begitu memekakkan.


Mendadak terasa ada yang mendekat ke arah meja, lantas aku menoleh---eh, Crist?!


"Sepertinya ingatanmu membaik, Red?"


Ha-ah, aku tak menduga kedatangannya karena kegaduhan yang Daniel buat. Mengenai ucapannya, aku mengangguk penuh semangat. "Iya! Karena baru sebentar ... mungkin hanya dua tahun? Jadi masih mudah untuk menata memori di dunia ini berdasarkan kalender dan urutan misi yang dikerjakan. Tapi masalah dunia asal aku masih bingung, hehe."


"Heh, Crist, kau temanilah. Hari ini aku bakalan sibuk banget sampai lembur. Kalau waktu kosong diisi ocehan Red makin stres yang ada."


Lembur? Rasanya sudah hampir satu minggu dia lembur dari hari pertama membincangkan masalah proyek baru dengan Crist.


"Dia senang dan ingin membagi ceritanya padamu. Dia percaya padamu, Daniel."


"Enggak urus! Sudah kubilang enggak tertarik sama masa lalunya. Dahlah! Aku mau keluar."


Kini Daniel berlalu dan meninggalkan gedung club. Namun, Crist justru tertawa melihat reaksi si pirang. Apa ada yang lucu? Entahlah. Kepala masih terasa kosong, aku sedikit bingung dengan sekitar dan berakhir mengelus tengkuk. 


Ucapanku ada yang salahkah? Padahal hanya menceritakan kejadian yang dahulu. Aku juga terkejut saat tahu mereka baru menemukanku karena pertarungan dengan Tiamat; mendeteksi kekuatan dragonic cukup besar.


Sebab Tiamat menggunakan cara yang sama seperti Malaikat Jatuh gunakan untuk mengguncangku. Namun, karena insting bertahanku, hasilnya tak sama. Mungkin ketika Malaikat Jatuh gunakan, aku berakhir hilang akal dan menurut. Saat Tiamat gunakan, aku hilang akal tetapi melawan. Saat ia gunakan ke sekian kali, aku sepenuhnya sadar dan melawan.


Aku pun meringis kecil, sepertinya dari dulu orang-orang suka sekali memainkan isi kepalaku.


"Red, makan siang masih ada sisa?"


Oh, astaga! Aku lupa ada Crist. Dia pulang pasti untuk makan siang--meskipun telat. Lantas aku beranjak dari duduk. "Ada di kulkas, mau aku hangatkan?"


"Tidak perlu, kamu duduk saja."


"Ah, baiklah ...." 


Aku kembali bersandar pada kursi dalam mata jelaga tak lepas melihat si pemuda. Seperti biasa, Crist melakukan segala hal dengan tenang. Kadang aku berandai-andai ... jauh dalam sudut hati, apa yang dirasakannya? Maksudku, dia sering memikirkan masalah orang lain. Termasuk aku. Namun, apa pemuda ini memperhatikan dirinya sebagaimana mengindahkan orang lain?


Meskipun pertarungan bukan hal yang dia ungguli, tapi pemuda ini punya sisi lain yang dapat membuat seorang ketua Departemen Konsultasi mengakui keberadaannya. Bukankah itu luar biasa?


Sepertinya Crist tahu sedang diperhatikan, dia melihatku sesaat sebelum duduk dengan tersenyum kecil. "Siang ini kamu lagi yang masak? Ada sup tomat."


Tak menjawab, aku lebih memilih terus memandangnya. Tampak jemari kukuh sesekali menyelipkan dan menyisir rambut ungu yang panjang ke belakang ketika dia makan suap demi suapan. Dan masih sama, seperti dulu; Crist tak berubah, sedari awal.


Namun, kenapa semakin mengenalnya, semakin terasa setiap gerak-gerik adalah suatu kekosongan? Padahal yang dia lakukan adalah hal biasa. Makan. Sesekali mengecek ponsel. Kembali mengambil suapan. Setiap hari pun, semua normal.


Apa yang salah?


Tidak bisa kumungkiri, aku khawatir. Sosoknya seperti sebuah lukisan nan indah, terpampang elok di tengah ruangan megah dan besar. Sendiri. Penuh kehampaan. Terasa sepi. Mungkin dia memberikan kesenangan pada orang yang berlalu tetapi mereka hanya berlalu. Kemudian pergi. Dan dia, terlupakan.


Bukankah yang seperti itu ... juga, menyedihkan?


"Crist." 


Yang dituju bergumam, mata biru tua melirikku sekilas sebelum kembali sibuk dengan makanannya.


"Aku ingin kamu bahagia, sebagaimana kamu memberikan kebahagiaan pada orang lain."


Seketika si pemuda mematung, menghentikan makannya dan melihatku dengan wajah melukiskan tak percaya tetapi tatapanku semakin serius.


Menggenggam erat tangan yang ada di atas meja, aku pun lanjut berkata, "Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata yang bagus sepertimu ... tapi, aku sungguh tertolong dengan keberadaanmu. Sampai sekarang, rasanya semua seperti mimpi karena selama ini aku tak pernah merasakan apa itu cinta---ah, pernah. Satu kali."


Aku mengukir senyum kecil. "Aion, orang terkasihku, aku mencintainya. Sangat, sangat, mencintainya. Setelah ingatanku kembali, semakin yakin bawa aku tidak bisa melupakannya. Sama seperti aku tidak bisa melupakan bagaimana kehilangannya, dengan tanganku sendiri."


Melepas genggaman, aku kembali menunduk dan melihat kedua telapak tangan. "Aku menodai tangan dengan darahnya. Semenjak itu, sangat sulit untuk menerima segala hal hingga kegelapan menelanku. Aku mencoreng diri dengan penderitaan, lalu banyak hal terjadi ... aku berakhir menjadi seorang pecundang."


"Tapi berkat bantuanmu; sebab penerimaanmu; dengan nasihatmu, akhirnya aku sadar bahwa semua bisikan negatif dalam kepala itu tak benar." Aku mulai menaikkan wajah, memandangnya yang setia tertegun. "Aku mengingat segalanya; semuanya, yang kamu ajarkan. Mungkin keberadaanmu hanya sebentar dalam kehidupanku yang abadi tapi itu berharga."


Dan aku tertawa kecil. "Ah, bukan hanya kamu ... termasuk Fate, Daniel, Cecil, dan yang lainnya. Itu mengapa aku ingin mengatakan ini. Terima kasih telah ada di sana untukku; terima kasih sudah terus kuat dan menyebarkan kebaikan, karena dengan kebaikanmu, sekarang aku bisa berada di jalan yang benar."


"Ahahaha, Red ...," ucapnya bergetar nan samar karena diiringi tawa hambar, dia mulai menutup wajah dengan satu tangan---eh, jangan-jangan aku salah ucap seperti kejadian Fate? Tapi aku sungguh-sungguh!


"Mu-mungkin ... mungkin, itu mengapa aku mencintai kalian semua dan seperti itulah cinta bekerja. Ketika merangkul seseorang; memberikan pertolongan, mereka juga memberikan perlakuan baik. Tidak seharusnya kita merasa tersiksa dengan cinta karena bukan begitu cara cinta bekerja. Jika sampai menyakiti, itu hanya akan mengisi hati dengan kabut dan perlahan merenggut segalanya."


Dia pun terkekeh. "Terus kenapa tiba-tiba kamu bilang itu ke aku?"


"Karena aku pernah mengatakannya bukan? Kalau aku ingin ...."


Lantas aku menautkan jemari seiringan suatu senyuman yang terpancing oleh rasa berbunga dalam hati. Crist, keberadaanmu sungguh menghangatkan. Aku tak bisa lupa caranya yang sabar menghadapiku, seperti mentari, selalu menyapa di setiap pagi; selalu ada di langit untuk menemani; selalu menyelimuti dalam asa. Juga mesyukurinya, orang pertama yang menyebutku sebagai sahabat.


"... Mengucapkan terima kasih, termasuk padamu. Maka dari itu aku ingin kamu bahagia, Crist, kita sahabatkan?"