When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Seperti Itu ....



Waktu malam, kami dibuat sibuk dengan temuan besar sebelumnya. Ternyata hasil penelitian ayah Crist sangat dalam dan mendetail, termasuk relik kuno yang ada dalam kuil. Namun, aku justru memilih untuk pergi keluar demi menghindari kesibukan karena ingin mencari udara segar setelah lama terjebak di bawah tanah. Beruntung, mereka juga mengizinkan dan memaklumi.


Padahal itu hanyalah sebuah alasan karena dada ini; hati ini, tak henti bergemuruh seperti debur ombak nan tinggi menghantam keteguhan batu karang; juga keteguhanku mendengar ucapan beliau ibarat tamparan teramat keras yang menyadarkanku pada suatu hal, dan kalimatnya terasa benar keluar dari mulut beliau.


Karena hal tersebut, seharusnya selalu kuingat.


Sekarang, terasa sungguh sunyi. Sepi karena memang desa telah lama ditinggalkan; hening karena seluruh anggota mengurus ke dalam kuil, tapi aku justru berjalan dan meninggalkan jejak pahit di atas salju. Sama seperti aku sangat paham memutuskan mengambil jalan menerima luka-luka yang telah menghantui selama lebih dari ribuan tahun; menjerat diriku sepanjang hidup, dan itu bukanlah hal yang mudah untuk diputuskan.


Aku sudah bertekad untuk terus melangkah.


Netra merahku kini melihat ke atas bersamaan wajah yang mendongak atas kelopak terbuka lebar, sedikit demi sedikit. Di atas sana, tirai-tirai angkasa tampak berjatuhan dan berkibar-kibar dalam bias cahaya nan elok; beraneka warna; begitu indah, dan mungkin ini pertama kalinya aku melihat aurora. Tetapi kehadirannya ibarat menyaksikan aku yang hina berusaha memikul beban sendirian.


Sebab, sudah tiba pada lembar kehidupan yang baru.


Sekarang aku layaknya manusia biasa, berumur; bisa mati kapan saja. Dengan waktuku sudah sedikit dan terbatas, tidak seharusnya digunakan untuk meratapi kehidupan yang kini telah hampa. Karena, mungkin, aku bisa membuat cerita baru. Kemudian mencari seseorang yang mau menjadi jangka dalam kehidupanku; menenangkanku; membuatku tidak terombang-ambing dengan pikiran dan jiwa yang memang tercipta sangat kacau.


Karena kutahu, kedepannya hidup akan semakin berliku.


Namun, apa akan semudah itu? Aku juga tidak sepenuhnya sendirian 'kan? Masih ada yang lain, juga Profesor Kaidan. Tapi, kenapa, selalu kurang? Padahal mereka ada. Menemaniku. Memberikan kasih sayang yang aku mau. Menjalin kebersamaan dan memilin ingatan nan berharga untukku.


Kenapa, hati tak mau puas? Padahal gelap telah hilang; orang tercinta sudah beristirahat dengan tenang. Begitu pula hatinya karena aku telah menggenggam ia dalam rengkuh hidupku, meski sosoknya telah tiada.


Kenapa, terus merasakan sakit ... di sini? Aku mulai mencengkeram jaket yang menutupi dada.


Diriku tak seharusnya seperti ini 'kan?


Aku pun mengembuskan napas panjang.


Tak lama ponsel bergetar dan langsung aku keluarkan dari saku celana. Nama yang tertera dalam layar, adalah nama yang aku hindari; yang aku usahakan menjauh; yang aku biarkan untuk lepas bersama kesayangannya ... Fate. Namun, tetap kuangkat karena dorongan hati.


"Halo?"


"Red ...." Terdengar nada sedikit terkejut di sana.


Mungkin tak percaya aku akan mengangkat teleponnya? Aku juga tidak menduga menghubungi seseorang bisa seberat ini, tapi lebih memilih abai.


"Ada apa? Sudah larut, kamu seharusnya tidurkan?" tanyaku, dengan kaki berhenti melangkah.


"Aku ingin tidur tapi tidak bisa ... karena dengar kabar terbaru mengenaimu." Jeda sebentar, terdengar dia mengambil napas panjang. "Kau akan pindah ke Eother?"


Aku bergumam sebagai jawaban, lalu lanjut berkata, "Aku ingin memulai hidup yang baru di sana. Setelah semua yang aku lalui, memulai awal yang baru tidak buruk 'kan?"


"Kau tidak ada keinginan untuk pulang dulu dan menghabiskan waktu dengan yang lain? ... Sebelum pergi."


Langsung aku tertawa kecil. "Kenapa?"


Maka dengan hal tersebut, aku pun menyadari kenapa menjadi seperti ini; merasa berat untuk melangkah dan selalu melihat belakang. Sebab aku berharap; meskipun terkesan mustahil, aku ingin ... dia, memberikan cintanya padaku lantaran aku tahu rasa berpisah dengan seseorang yang begitu berarti dalam hidup akan sekosong ini. Tapi tidak tahu mencintai sendirian akan sehambar ini.


Aku hanya ingin kami berjalan bersama; bergandengan tangan, seperti biasa. Rasa-rasanya hanya dia yang begitu jelas mengerti tentangku, begitu pula hidupku mulai berubah karenanya. Dan dia berkata seperti ini; terus mengkhawatirkanku, ibarat memberikan secercah harapan itu ... kalau dia masih ingin bersamaku, dan sungguh aku dibuat gila karenanya.


Tidak mau aku memaksa diri mengubah rasa ini menjadi benci agar mudah untuk meninggalkan. Namun, jika dia terus bertindak seperti itu, aku tidak kuat. Membuat hati tak henti berteriak menginginkannya; membutuhkannya; memerlukannya; mencintai---


"Kenapa masih memperhatikanku? Sudah cukup sampai di situkan? Aku tidak menganggu kalian, jadi kamu mau apa lagi? Sudah cukupkan?"


Sungguh tak tahan, sampai aku mengepal tangan kuat-kuat hingga kuku menancap di telapak.


"Kalau ada yang ingin dibicarakan silakan kirim pesan seperti biasa. Aku sudah tidak---ah, ya, setidaknya kamu sudah mempunyai seseorang untuk kembali; seseorang yang kamu sebut rumah dan tempat berlabuh sendiri. Sedangkan aku masih belum punya tempat untuk bersandar. Kalau boleh jujur, aku menginginkannya. Dan melihatmu mengkhawatirkanku, membuatku sesak."


Seketika hening mengisi pembicaraan---Tuhan, aku harap tidak berkata yang berkesan seperti mengusir.


"Aku tidak punya ...."


Spontan napasku berhenti dengan beku memenuhi punggung. Bukan karena salju memenuhi, tapi perkataannya membuat jantungku terasa lepas.


"Tapi, Sen?


"Bukankah aku sudah bilang?! Sen sudah tiada! Ia sudah mati! Dan itu ... itu karena aku! Yang harusnya mati itu aku! Bukan Sen!"


"Ha, maksudnya? Fate! Halo? Halo?!"


Seketika telepon terputus satu arah dan hal terakhir yang aku dengar adalah bunyi ponsel terjatuh---astaga, Fate baik-baik sajakan? Baru sekarang mendengarnya berteriak seperti itu terlebih suara sangat bergetar dan lirih.


Langsung aku mencoba menghubunginya lagi ... tidak bisa; tak diangkat. Aaakh, sungguh ini membuatku frustrasi! Aku beralih menghubungi EVE dengan membuka layar holografi, dan tanpa basa-basi berkata, "EVE lacak posisi Fate, anggota nomor induk 225354772."


Namun, layar tersebut justru menampilkan tanda silang merah nan besar sebelum kembali menunjukkan sosok gadis transparan. "Permintaan ditolak. Mencari data anggota termasuk posisi terkini dilarang untuk para murid."


Lantas aku mengerang seraya mengacak-acak rambut. "Apa pun! Apa pun kuserahkan! Cabut posisi Grade S, masukan aku dalam daftar pengasingan, atau apa pun sebagai gantinya. Aku mohon EVE! Aku mohon, hanya posisi Fate ...."


Setelahnya hanya ada hening dirasa. Aku sungguh tak sabar dan menatap penuh harap pada layar di depan.


Akhirnya, selang beberapa menit dia menjawab, "Posisi terakhir Fate Lancelot R. pada pukul 10:21 malam ada dalam Mansion Lucian, setelahnya jejak tidak ditemukan. Heart Core tertinggal dalam kamar. Penggunaan Heart Core untuk pelajar dengan nomor induk 224310317, Red Sirius, dinonaktifkan sampai perintah lebih lanjut karena pelanggaran meminta data."


Dan panggilan diputus paksa dari satu arah. Spontan aku mengeluarkan Heart Core dan benar saja, sudah berwarna transparan; bukan hitam seperti biasa; tak berpendar. Tidak bisa teleportasi!


Langsung aku berdecak kesal dan berlari; membulatkan tekad untuk segera kembali ke akademi, bagaimanapun caranya; sejauh apa pun jaraknya. Terus saja aku berlari mengarungi tumpukan salju lumayan tebal bagai orang kesetanan, mengeratkan gigi; menyipitkan mata. Bahkan sudi mengarungi neraka dunia demi bisa kembali ke sisinya.


Sebab, kini, perasaanku sungguh tak enak.