When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Seorang Penuntun



Dengan kembali mengingat semua memori dalam jumlah besar, biasanya kesadaran akan hilang karena beban berlebih yang ditanggung kepala.


Namun, sekarang aku tetap terjaga dan berbaring di atas rerumputan karpet hijau alam bak beludru. Kendatipun mata jelaga terbuka lebar dan menatap para gemintang yang memenuhi langit, kepala terasa kosong. Apa lagi tangan nan kecil masih sibuk mengusap kepalaku bagai untaian benang-benang afeksi.


Kemudian, lengan kananku merentang ke atas seperti berusaha menggapai para bintang nan jauh di sana. Lalu beralih menggapai pipi seorang gadis yang setia memangku kepalaku di paha yang kecil. Senyumnya tampak mekar perlahan bagai kedip api di alam yang gelap.


Dan dirasakanlah, basah dari air mata bukan milikku menetes beberapa kali ke pipi. Dia pun meraih telapak tanganku dengan kedua tangan, dan mendekatkan pada bibir tipisnya yang lembut.


Membuatku kembali memejamkan mata.


"Myosotis adalah bunga kesukaanmu, memiliki arti Jangan-Lupakan-Aku tetapi kamu mengubah maknanya sebagai perwakilan kematian," ucapnya, "seperti itulah kamu mengartikannya dalam kehidupan. Kamu, perlahan layu dengan kelopak yang berjatuhan ... terus berteriak dalam hati, memohon sebuah pertolongan."


"Si nos amas, serva nos." Dan tangannya berhenti, lalu menjauh dari aku yang berucap demikian.


"Jika kamu mencintai kami, selamatkanlah kami," balasnya menerjemahkan apa yang aku ucapkan dalam bahasa asli dunia asal.


Hal itu memancingku untuk kembali membuka mata dan menatap wajah yang kini mengukir sendu nan dalam. "Hidup seperti itu, bukankah melelahkan ... dan menyakitkan?"


REDstar dan Aion; Hikiboshi dan Orihime, memang kisah hidup mereka menyedihkan. Teramat memilukan dalam garis takdir merah yang terputus. Bagaimana satu sama lain saling menjauh dan mengejar; saling memohon dan menghentikan; berakhir saling menyakiti dan terlukai.


Dan seperti itu pula, kisah hidupku sendiri.


Masih belum menjawab, aku beralih memalingkan wajah dan berusaha untuk duduk. Bahkan ketika tubuh sudah tegap, tidak ada pusing dirasa. Mungkin benar apa yang gadis ini ucapkan, semua ... hanya halusinasi semata.


"Kamu terus berdoa, memohon untuk diselamatkan. Kemudian menangis dalam lara, terus berteriak untuk diselamatkan. Padahal aku hanya ingin kamu terbiasa dengan pelukan tanda perpisahan, ketika cintaku jatuh dari langit seperti hujan yang menyedihkan. Sebab, ketahuilah, kehidupanmu sekarang bukan sebatas untuk membayar dosa tetapi meraih kebahagiaan yang belum pernah dijumpa."


Mendengar itu, aku menunduk. Bisa dibilang kata-kata yang dilantunkan begitu indah ibarat puisi tetapi menyakitkan pula, mengingatkan bagaimana pertama aku mengenal kata dan menirunya berbahasa.


Sampai akhir pun, aku hanya bisa meniru.


Ketika dia telah hilang ... kesedihan merengkuh. Tapi setelah mengingat ini; kenangan ini; memori ini, aku benar-benar bersyukur telah diciptakan oleh Tuhan.


Karena aku paham berbagai macam rasa dan peristiwa, serta suatu kelembutan ketika mendapat dekapan kasih.


Mungkin memang hidup ini begitu berat sampai terasa tak pernah ada keinginan untuk lahir ke dunia. Tetap saja, akan selalu ada setitik rasa manis yang kudapatkan. Meskipun setitik, itu cukup, karena dari setitik ... aku bisa mengenal suatu cahaya dalam gelap; binar berpendar lembut, mengisi seluruh penglihatan yang hampir tertutup oleh kabut.


"Ini semua hanya ilusi 'kan? Ketika aku sudah sadar, bisa saja kembali lupa."


Sebab ada yang ingin aku sampaikan, padanya ....


Gadis itu tertegun, kemudian mata biru muda terpejam sebab tawa yang tertahan. Lalu merapikan beberapa helai rambut pirang ke belakang telinga dan menjawab, "Pernah dengar khayalan yang begitu kuat bisa menjadi kenyataan? Kamu dapat melakukannya. Kira-kira ... kejadian apa menimpamu nanti dengan kekuatan ini? Sesungguhnya, aku tidak boleh ada di sini. Aku telah mati."


Maka aku katakan, "Per ardua ad astra altiora petamus. Volente deo, lucete stellae."


Dan dia terkejut sampai mata yang bulat semakin melebar, tangan juga tampak lemas; tergeletak di antara dua paha. Apa lagi wajahnya sungguh mengukir sesuatu yang hangat berdenyut di balik tulang rusuk, memancingku mengukir senyum nan cemerlang.


"Jika boleh jujur ... sebenarnya aku melihatmu, sebagai figur seorang ibu."


"Seseorang yang pertama kali aku temui, menunjukkan berbagai macam emosi. Seseorang yang mengenalkan pada dunia, menuntunku dari kekosongan. Seseorang yang berkata 'tidak apa' ketika aku terjatuh, dan kembali menunjukkan pada kebenaran. Seseorang ... yang merangkulku; mendekap; mengasihi, sampai aku menjadi aku yang sekarang."


"Menyaksikanku tumbuh; memastikan aku selalu baik-baik saja," lanjutku, "orang pertama yang kukenal pada detik-detik awal penciptaan; membuka mata; melihatmu."


Dan aku kembali menoleh ke arah dia yang masih terkejut dengan ucapanku. Sebagaimana iris biru nan polos bergetar dan sedikit mengkilap oleh binar rembulan sebab air yang menumpuk pada pelupuk. Mungkin yang aku ucapkan terdengar aneh dan rancu, apa lagi pada seorang gadis sekecil ini. Namun, bagaimanapun, dia adalah dia. Pride; Aion; Apple, adalah satu.


Begitu juga denganku, 'kan?


"Kalau aku menilaimu sebagai kekasihku, apa lagi adikku, itu sedikit tidak sopan." Spontan aku tertawa kecil yang lepas. Namun, rasa tersipu memaksaku untuk menunduk. "Karena cintaku; cintamu, kutahu, lebih daripada itu."


Dan aku mulai menautkan kedua tangan. "Lebih dari segalanya, meski ratuan; ribuan tahun berlalu, perasaan ini sama dan terus ... absolut."


"Kalau begitu ...." Refleks aku menoleh ke sumber vokal nan lembut lagi bergetar. "Kamu sudah tumbuh dewasa, kamu bisa mengarungi dunia dengan kedua kakimu sendiri dan buatlah aku bangga pada hal tersebut, dengan senyuman yang cerah di wajahmu."


Dan tubuh itu mulai bersinar bak dikelilingi oleh binar kunang-kunang tak terhingga jumlahnya.


"Karena tak peduli apa yang terjadi, aku akan terus bersamamu. Walau kamu tidak bisa melihatku lagi; walau kamu kembali terjatuh, aku akan ada di sana; kembali memberikanmu kekuatan, membuatmu ingat jikalau lupa."


Dalam tirai-tirai cahaya tersebut, kedua lengan yang merentang ke arahku berubah menjadi jemari jenjang nan halus; mendekap kedua pipiku penuh kasih. Sebuah tindakan penuh afeksi yang biasa, membawa nostalgia ketika kusaksikan juga rambut panjang merah muda memenuhi pundak dan mengalir hingga ke punggung. Memancing luapan emosi sampai wajahku terasa panas.


Pula kurasakan, tenggorokan seperti tercekik karena menekan rasa yang memaksa keluar dari dada ketika wajah pualam itu tersenyum padaku. Seperti tangannya setia menahan kedua pipiku agar air mata yang tumpah secara tiba-tiba tidak terus membasahi.


"Juga tak apa kamu melihatku sebagai seorang ibu, atau apa pun yang kamu inginkan karena memang ... cintaku, nyata dan mutlak; sebagaimana aku ingin melihat senyumanmu yang tulus."


Sontak tangisanku pecah, amat kencang hingga sesak sudah napas ini. Dan dia langsung menyelipkan jemari ke belakang rambut merah, pelan-pelan mendekap kepalaku seperti tindakan yang biasa dilakukan. Lagi-lagi tawa renyah itu mengudara, bersamaan aku semakin menjadi oleh ledakan emosi.


Terima kasih. Melihatnya kembali di depanku dan mengatakan ini semua ... meskipun hanya ilusi, aku sungguh bersyukur; membuka lebar pintu lega dalam dada.


Sebab rasanya hidup memang berputar. Kadang baik dan kadang buruk, setimpal. Jadi untuk apa berhenti jika tidak tahu akhir dari napas ini. Mungkin saja menemukan jawaban, seperti sekarang. Iya, pasti akan menemukan jawaban.


Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.


Akhirnya aku mengerti ... kenapa engkau berharap aku untuk hidup ke dua kalinya. Dan aku mencintaimu.


Sungguh mencintaimu.


Tuhan, dengarkanlah, aku mencintainya.


Melalui bara sang bintang-bintang, kita dapat menggapai hal lebih tinggi lagi. Jika Tuhan menghendaki, maka bersinarlah bagai kejora. Itu arti kata yang aku ucapkan tadi.


Karena aku ingin kembali dan terus ... melangkah.


Terima kasih.


Dan selamat tinggal, Aion.