When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Tak Bisa Melepaskan II



Makin meringkuk pada kasur, aku membenamkan diri di balik selimut. Entah kenapa berakhir seperti ini ....


Aku merasa kacau.


Tak lama terasa hawa seseorang masuk dalam kamar yang aku singgahi. Detik kemudian dentum sol menggaung ritmis seiring derap langkah. Terasa tak ada tanda bahaya ataupun mencekam sampai kubiarkan ia berdiri di sisi kasur tempat tidur.


Auranya orang yang aku kenali, Crist.


"Heem, sepertinya keadaan menjadi berat, ya? Kulihat Pak Kaidan dan Fate sangat terburu-buru."


Tak ada jawaban didengarnya.


Helaan napas panjang mengudara, selaras dengan decit bangku besi yang tengah diseret paksa. Sepertinya Crist duduk di dekatku. "Eeem, aku sedikit mencemaskanmu. Sparing masih berlangsung. Mungkin sudah giliran Fate untuk maju, tapi ... aku ingin menemanimu."


Aku tetap tak buka suara. Sunyi sempat menemani, meski tak lama.


"Red, kamu baik-baik saja? Heemm, sepertinya sudah beristirahat," gumam Crist, "mungkin kamu perlu waktu untuk sendiri. Tapi kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku."


Terdengar suara entakan bangku besi---ah, Crist sepertinya berdiri dan ingin meninggalkan ruang. Dengan cepat tanganku menjulur dari dalam selimut; berusaha meraih dan menarik ujung bajunya, entah sisi mana yang aku dapatkan.


"Tidak. Aku tak baik-baik saja." Genggaman tangan kian kueratkan. "Aku butuh pertolongan, tapi ... tidak tahu bagaimana."


Kemudian terasa sebuah tekanan berat di sisi tempat tidur, mungkin dia mulai duduk di pinggir kasur.


"Ah, dan ini tidak ada kaitannya dengan Fate atau Profesor Kaidan, jadi ... tak perlu khawatir. Hanya kepalaku yang kacau," ucapku datar berusaha tegar meski dalam hati masih buncah, "di sini aku, terlalu menyesali banyak hal. Aku sudah tahu, tapi itu ... pikiran negatif itu tak pernah lepas dariku."


"Tempat ini adalah dunia Tuhan, segala sesuatu ada atas izinNya, mungkin itu adalah bagian dari sebuah ujian," jawab Crist.


Tidak, bukan seperti itu. Aku menggeleng kecil.


"Aku terlalu tenggelam dan terbelenggu dengan masa lalu, aku tahu masalahku tetapi tak bisa menanganinya." Aku mulai melepas tautan dan membiarkan tangan kiri tergeletak di luar selimut tempatku menyembunyikan diri. "Dan berakhir menyakiti orang-orang di sekitarku. Bagaimana cara mengatasi itu?"


"Aku biarkan Tuhan yang menanganinya."


Mendengar itu mata jelagaku terbuka lebar. Aku sedikit menyibak selimut untuk mengintip pada Crist. Napas beratku begitu mencolok tetapi ketika melihat dia, senyumnya begitu cerah dan tulus namun mata biru menatap entah ke mana.


"Tuhan bersabda untuk mempercayakan segala perkara padaNya dan janganlah khawatir, Tuhan telah mengurus segalanya untukmu."


Mendadak wajahnya tertuju padaku, aku sedikit terkejut tapi tak memalingkan muka sedikit pun. Tatapan kami terkunci. "Tuhan mengajariku hal yang sangat berharga: apa pun yang terjadi, percaya padaNya."


"Jadi, aku bisa melewati ini?"


Yang dituju mengangguk dengan lengkung sabit yang sedikit pun tak luntur. Aku menghela napas dan melirikkan pandangan atas kasur nan putih.


"Ini seperti ... pikiran buruk selalu menyerang ketika aku merasa terpuruk. Memang butuh seseorang menyadarkanku sebelum terlambat."


Kalau tidak, bisa saja aku kembali menggila dan menyakiti orang lain, melebihi perbuatanku pada Profesor Kaidan. Atau mungkin, benar-benar kembali membunuh.


Suara kekehan yang lembut terumbar kemudian. "Kalau begitu teruslah bersama orang yang bisa melakukan hal tersebut."


Seketika pandanganku menjadi sayu dengan berkata pelan, "Ya, Fate yang melakukannya."


Kejadian tadi ... tentu saja tak akan bisa sadar kalau Fate tidak datang dan mengatakan itu semua. Bahkan, sampai menyakiti hati guru waliku sendiri. Ha-ah, aku memang yang terburuk. Aku kembali memejamkan mata.


Kepala masih sedikit pusing.


"Jadilah kuat untuk Fate juga. Dia membutuhkanmu, sebagaimana kamu membutuhkan dia."


Aku membuka mata perlahan dengan merintih, "Itu yang aku usahakan, tapi---ah, aku tak mau membebaninya."


Suara tawa yang samar terdengar lagi. "Tidak usah berusaha menjadi sempurna. Itu hanya akan menjadikanmu gelisah dan waswas ketika mengejar kesempurnaan."


Jeda sebentar, terlihat Crist mulai bersandar pada kepala kasur. "Jadilah dirimu sendiri."


Kini kugenggam telapak tangan kiri dan mendekatkannya ke wajah. "Tapi, aku lemah."


Apa yang Dominguez katakan sungguh membekas dalam benak namun benar adanya, aku lemah; menyedihkan; rendahan. Gadis itu mungkin akan lebih baik jika tidak bersamaku. Oh, Profesor Kaidan juga.


"Kawan, jangan berkata seperti itu. Kamu kuat. Pernah dengar istilah pengajaran?"


"Pengajaran?"


"Apa yang kamu pikirkan maka badanmu menjalankannya." Mata biru mulai terpejam dengan tangan bergerak lembut bak turut membantu menjelaskan. "Semua berawal dari pikiran. Jika kamu berpikir negatif maka hasil akhir akan negatif pula. Tapi kalau kamu berpikir positif, maka hasil akhir akan positif."


"Dikatakan, masa depan tergantung pada mereka yang PERCAYA pada indahnya IMPIAN mereka. Percayalah kamu akan meraihnya, tidak peduli berapa jauh dan berapa sulit hal tersebut. Kuncinya adalah, percaya bahwa kamu mampu." Ia mulai mengeluarkan telunjuk dan mendekatkan ke bibirnya yang kukuh. "Tolonglah dirimu sendiri, maka segala hal akan berakhir baik."


Aku terdiam dan menatap matanya dalam-dalam.


"Betapa bodoh ... mereka pernah mengatakan hal seperti itu padaku, tapi aku melupakannya." Aku mencengkeram kasur kuat-kuat. "Kenapa aku selalu lupa apa yang orang-orang katakan padaku? Ugh, benar-benar bodoh---"


"Ooops, jangan mengambil kesimpulan dengan cepat." Seketika Crist memotong ucapanku. "Mari kita katakan kamu lupa tentang hal itu, tapi jangan pernah lupakan orang-orang yang menjadi kekuatan untukmu. Kata-kata mudah dilupakan, tetapi orang di balik kalimat itu tidak. Jangan sebut dirimu bodoh, kamu adalah orang yang sedang berusaha menjadi lebih baik."


Ia kembali menoleh kepadaku dan tersenyum nan lembutnya. "Yang terbaik akan segera tiba, Red."


Aku membisu, dengan tatapan bingung mulai menyisir setiap sudut-sudut ruang yang kosong lantaran memaksa kepala untuk menyaring dan menelan kata-kata dari Crist. Jujur, kalimat itu ... membuatku sedikit tenang.


"Kalau begitu sekarang waktunya untuk lepas dari kebiasaan tersebut. Tuhan bersabda, 'jangan memandang rendah dirimu. Aku akan menolongmu dan memberikan segalanya yang kamu butuhkan'. Lalu sekarang, Tuhan memberikanmu Fate. Kenapa? Karena dia yang kamu sangat butuhkan, untuk merubahmu menjadi lebih baik."


Seketika kedua mataku tersibak. Itu kalimat yang sangat sederhana namun ... berarti. A-aku mulai membungkam mulut rapat-rapat. Apakah benar begitu? Apa ini juga kehendak Tuhan? Aku terlempar ke dunia ini, begitu pula dengan Fate.


Kami bertemu.


Sebenarnya menghabiskan waktu dengannya begitu menyenangkan. Aku merasa ... aku, tak sendirian lagi. Bagaimana dia selalu ada ketika aku membutuhkannya dan mengingatkanku. Seharusnya, aku yang menolong dan membantunya tetapi selalu berakhir dia yang mengulurkan tangan padaku.


Beruntung laki-laki bernama Sen itu---tidak, mungkin Sen sama hebatnya dengan Fate. Mereka berdua sangat cocok bersama, entah kenapa menyadari ini ... begitu mengiris hati. Aku mulai menutup wajah dengan satu tangan.


Aku tidak ada apa-apa dibandingkan Sen, aku tak sehebat dia. Ya, lebih baik gadis itu dengannya. Dan aku, hanya bersama dengan Fate dan berada di dekatnya sudah cukup. Aku sudah sangat senang, walau sementara.


Ah, tidak.


Mungkin terdengar sangat egois tapi aku ingin lebih. Aku butuh kasih sayang, memang aku selalu menyangkalnya karena ketika hal itu datang ... kelembutan hilang dari genggamanku. Namun, aku butuh kehangatan.


Seperti suatu candu, dulu aku mendapatkannya dari dia ... dan itu sangat manis. Hangat. Hanya melihatnya dengan senyuman membuatku tenang dan nyaman. Tetapi sekarang dia sudah tiada---ah, jika diingat kembali, sangat menyiksa batin.


Itu kenapa, aku memilih sendirian. Dan terus sendiri. Namun dalam kelam, selalu berteriak meminta tolong.


Menyedihkan.


"Sepertinya aku tahu kenapa aku menjadi seperti ini ...," ucapku tertahan, kembali mengepal tangan dan mendekatkannya ke wajah.


Mulai melirik, Crist terdiam tapi wajah itu seakan menunggu-nunggu sebuah jawaban. Aku mendengkus dan memejamkan mata.


"Aku begitu menyesali masa lalu; benar-benar sangat, menyesal. Aku telah kehilangan segalanya saat itu, dan tak bisa berhenti melihat ke belakang. Sungguh menyesal dan benci, diriku sendiri. Belenggu ini benar-benar nyata dan aku tak bisa terbebas darinya. Aku ingin masa itu; perasaan hangat itu, tetapi kenapa ... semua berakhir di tanganku?"


"Red, apa yang terjadi di masa lalumu?"


Aku sedikit terkejut dan kembali menatap Crist. Pemuda berkacamata melihatku dalam-dalam, matanya menajam. Bahkan senyum cerah yang tak henti ia umbar luntur menjadi suatu ekspresi yang tidak dapat kubaca.


Namun, aku tak kunjung memberi jawaban. Tak tahu bisa menceritakannya atau tidak. Aku mulai menarik selimut dan menutup separuh wajah.


"Tidak apa-apa kalau kamu tidak ingin cerita." Ia kembali terkekeh, tubuhnya yang sempat menegang kembali melemas. "Ingin mendengar suatu kisah?"


"Apa itu?"


Crist sempat terdiam dan menatap kosong entah ke mana sebelum berkata, "Ada seorang pemuda, ia begitu sengsara dan menemukan jalan buntu. Tujuan hidupnya telah hancur dan ia putus asa. Tidak memiliki semangat, pemuda itu tertekan dan pada akhirnya ... memilih untuk mengakhiri hidup. Ia menusuk sebilah pisau tepat ke perutnya. Berkali-kali; bertubi-tubi, hingga ia ambruk dan tersandar pada bawah pintu."


Tak lanjut berkata, pemuda ini terdiam dengan memejam matanya erat-erat. Eh, apa yang terjadi? Tak lama ia mengembuskan napas panjang. "Ia kira, ia telah mati. Tetapi ketika membuka mata, pisau itu sudah hancur berkeping-keping, luka pada tubuhnya juga hilang. Ternyata, Tuhan tidak mengizinkannya untuk mati terlebih dulu."


Kini ia menoleh ke arahku dengan suatu senyum yang tak terbaca. "Dan pemuda itu, adalah aku."


Seketika aku membelalak, terkejut. "Kenapa ... kamu menceritakannya padaku?"


"Hemm, kenapa ...," Crist melipat kedua tangan depan dada dengan sedikit memiringkan kepala. Seperti berpikir. Namun berakhir mengangkat kedua pundak. "Tidak tahu. Mungkin, karena aku percaya padamu, Red."


Aku membisu, kata-kata itu membuat sekujur tubuhku kaku dengan panas menjalar ke seluruh muka. Jantung turut berderu karena dalam hati terasa suatu---ah, apa ini?


"Sebab itu aku merasa mempunyai tugas baru, untuk membantu hambaNya. Dan ketika melihatmu, aku merasa terpanggil. Aku benar-benar ingin menolongmu, Red. Aku benar-benar sungguh ingin menolongmu."


Kata-katanya sangat hangat, begitu pula aksennya yang lembut bak untaian benang sutra menyelimuti jiwa-jiwa kosong. Pelupukku kembali lembab, tak mampu menahan air mata yang siap untuk meluncur.


Sontak aku sedikit bangun, menggenggam dan menarik bajunya kuat-kuat. Suatu titik sentimen tak dapat lagi dibendung. Crist tampak terkejut karena iris birunya terbuka lebar. Meski mata ini begitu berkaca hingga penglihatan buyar, aku berkata dengan menggebu-gebu, "Crist sebenarnya aku---"


Mendadak suara dering ponsel merebak hingga ke seluruh penjuru. Bagai suatu pertanda tersendiri, aku melepasnya dan mulai kembali membalut tubuh dengan selimut untuk bersembunyi baik-baik.


Suara decak terdengar samar hingga alunan nada mendadak berhenti. Tak lama, suara embusan napas yang begitu berat mengudara.


"Red, maaf, aku harus pergi."


Aku terdiam sesaat. Kenapa hati terasa ... sakit? Mungkin memang benar, aku takut sendirian.


"Um. Terima kasih, Crist."


Terasa pemuda itu mulai beranjak dari kasur membuat sunyi mengudara, mungkin ia langsung pergi.


Namun, tiba-tiba suara Crist terdengar. "Bukan masalah, datanglah padaku jika butuh pertolongan."


Seketika terasa kepalaku disentuh. Meski sudah berbalut kain nan tebal, belaian itu begitu terasa nyaman.


"Kita sahabat, 'kan?"


Aku tak percaya, ada orang yang menganggapku teman? Bukan, lebih dari itu.


Sahabat ....


Refleks aku menarik selimut kuat-kuat demi menutup diri dengan sempurna. Ha-ah, wajah panas karena suatu rasa dalam hati. Efek yang ditimbulkan sungguh luar biasa. Sesuatu bergolak dalam batin, rasa tersentuh; hangat; bahkan bingung berpadu di alam sadarku, karena pertama kali dalam hidup ... mendengar seseorang berkata demikian.


Ah, aku mulai menangis.