
Akhirnya langkah kami berhenti pada salah satu tangga eskalator yang mati. Jujur, tempat ini sangat luas dan terang--banyak lampu neon putih di langit-langit tinggi. Meskipun berada di bawah tanah, kemegahannya tak luntur begitu saja.
Namun, tidak dengan ruang di bawah eskalator itu; seperti diselimuti kegelapan nan pekat. Katanya, ini merupakan perbatasan antara ruang dimensi sang Elite dan dunia nyata--pintu portal dimensi--jadi aku bisa memaklumi.
"Kita semua akan masuk," ujar Lux selaku ketua regu.
"Enggak bagi tim?" tanya Daniel dengan perlahan menghampiri Lux, "kalau ternyata portal satu arah dan kita terjebak, habis sudah."
"Tidak perlu, sudah banyak staf Departemen Gear bertugas di luar." Pelan namun pasti, mata emas mendelik ke arah Daniel dalam kilatan nan tegas. "Lagi pula ini portal dua arah. Kalau tidak, bagaimana bisa mereka keluar dari membersihkan bagian awal ruang dimensi dari Pawn?"
Sebelum kaki jenjangnya menuruni eskalator gelap, Lux berlisan pelan, "Kau ini pura-pura bodoh atau mulai menunjukkan sifat aslimu, huh ketua."
Sifat asli? Apa selama ini sikap meledak-ledak Daniel bukan sifat asli? Tetapi setiap saat seperti itu ... maksudku, tidak seperti Fate dan Cecil yang menurut dan tak banyak komentar. Atau ini ada kaitannya dengan pelatihannya dengan Lux? Terbukti dari Daniel yang tak balas berucap, hanya berdecak dan memasukkan dua tangan dalam saku celana; menurut ke mana Lux pergi.
Pada titik ini, aku menyadari ... memang setiap orang memiliki permasalahannya masing-masing; berkecamuk dengan pikiran masing-masing, sama sepertiku. Entah mengapa itu membuatku ingat ketika melakukan misi di daerah Feidelm.
Sebenarnya, di balik sifat ekstrinsik itu, apa yang dia sembunyikan? Apa dari senyuman lebar hingga mata terpejamnya, Daniel menyembunyikan kegelisahan? Seperti Head Master Lucian yang menyimpan luka.
Aku pun mendengkus dan mengikuti ke mana mereka pergi, diikuti oleh Crist di sisi. Bisa dibilang, kami berada pada barisan paling belakang.
Namun, seberapa banyak menuruni anak tangga, terasa tak kunjung mencapai dasar ... tunggu, rasanya aku pernah mengalami hal serupa---ah, ya! Dalam dunia mimpi ketika bersama Mei dan Rei! Tetapi kekuatan spiritual mereka muncul dari iblis yang menghantui desa---eh?
Jika diingat kembali, bukankah itu persis ruang dimensi buatan para naga? Karena tidak seperti duniaku, kental dengan para iblis dan begitu pula dunia Fate--terbukti sosok Metatron singgah pada tubuhnya--dunia ini hanya para naga meraja. Bisa jadi, iblis mimpi adalah naga tak berwujud yang menyerang pikiran.
Tapi, apa ada?
"Haaah, ternyata cukup dalam."
"Crist?"
"Kau memikirkan sesuatukan, Red?" Aku mengedip beberapa kali mendengar ucapan Crist.
Dia selesai mengecek dokumen dalam lengan kiri sehingga mata birunya tertuju padaku. "Sudah kukatakan kita akan membahasnya nanti, tolong jangan membebani pikiranmu sendiri."
"Ah, tidak-tidak. Aku tak memikirkan hal itu. Hanya ... teringat sesuatu."
Seketika aku tertegun dengan ucapan sendiri. Sebenarnya, dari dulu aku selalu memikirkan banyak hal. Kukira itu karena terbelenggu oleh memori menyakitkan sehingga sulit untuk lupa, atau sengaja menyiksa diri agar tetap ingat dan meratapi perbuatan salah. Namun, mungkin aslinya tidak begitu.
"Crist, aku ini ... sepertinya, sering mengkhawatirkan hal-hal kecil."
Kini dia terkekeh, menggunakan map dokumen hitam dalam genggaman untuk menutup mulut. "Memang."
"Heee, kamu sudah tahu? Ta-tapi aku baru sadar ...."
Ha-ah, Crist tertawa semakin lepas, rasanya memalukan! Aku sedikit menunduk tetapi dia menjawab, "Red, kamu selalu terus terang dengan perasaan kamu sendiri."
Eh?
"Kalau kesal ya kamu menunjukkannya, begitu juga kalau kamu senang. Dan kalau kamu ...," ucapnya menggantung pun mata biru menatap entah ke mana. "Maka dari itu, sedikit aku mengerti apa yang kamu rasakan. Kamu memang tidak bisa berbohong."
Aku memang tidak mau berbohong, tetapi ....
"Ahahaha, jangan, harusnya aku yang berterima kasih."
Aku kembali menatapnya penuh rasa bingung karena sungguh tak paham.
"Aku sudah ceritakan? Ketika melihatmu, aku merasa terpanggil untuk menolong. Aku mempunyai tujuan baru. Terkadang, kamu perlu alasan untuk terus hidup walaupun hal remeh sekalipun, seperti ingin terus bangun keesokan harinya karena berusaha menamatkan cerita. Yah, rasanya aku terlahir untuk ini."
Si pemuda menghadapkan wajah padaku dalam seulas senyum simpul nan teduh, seperti penerang. "Dan kamu juga harus menemukan alasanmu sendiri, Red."
Alasan? Aku sudah punya. Aku akan terus hidup karena ia telah mengorbankan jiwa demi aku, agar aku bisa hidup normal. Apa itu tidak cukup?
"Alasan yang bisa menjadi jangkar agar hidupmu tidak terombang-ambing, kamu mengerti maksudku?" tambah Crist, membuatku semakin tenggelam dalam buntu.
Jangkar; terombang-ambing; entah kenapa aku menjadi pusing dan ingin mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Terlebih belum kunjung bertemu dasar dari tangga. Apa nanti ruang dimensinya sangat luas?
"Crist, kenapa banyak anggota Gear yang bertugas? Biasanya tak sebanyak ini."
"Pak Kaidan sudah jelaskan, karena misi sekarang berhubungan langsung dengan pemerintah," jawabnya.
"Seharusnya Departemen Konsultasi bukan? Jumlah kalian terbanyak ke tiga. Jadi, kenapa?"
Namun, kulihat ekspresi Crist berubah masam bak menelan sesuatu yang pahit. Mata biru turut menyapu sekitar seperti menimbang-nimbang harus menjawab apa.
Lantas aku langsung menambahkan, "Ada hubungannya dengan kenapa club kita yang terpilih untuk bertugas? Seharusnya ini dikhususkan untuk Departemen Eksekusi jika mengikuti prosedur, tidak berdasarkan club karena ini bukan untuk ujian umum."
Si pemuda celangap melihatku. Setelah memperbaiki posisi kacamatanya sekali, dia tertawa kecil dan menghela napas. "Rasa penasaran tinggi dan sifat yang mudah memikirkan sesuatu membuatmu menjadi pemikir kritis, tanpa sadar. Hahaha, yah, sifat lugumu sedikit patah dalam benakku."
Tunggu, aku lugu? Dari mananya ....
"Sebenarnya Vaughan dalam posisi kuning, terdapat kebocoran data murid."
Kebocoran data? Bagaimana bisa? EVE merupakan keamanan tingkat tinggi, tak ada yang bisa mengaksesnya kecuali Lucian itu sendiri. Aku berakhir memperhatikan Crist dengan saksama karena dia berkata cukup pelan, tidak ingin terdengar yang lain ... mungkin?
"Yah, ini cukup aneh, bahkan EVE merasa tidak ada yang membobol bank data. Meski data yang bocor tidak banyak dan bukan hal yang begitu penting, Vaughan tidak menganggap ini perkara kecil. Mereka mulai mengamankan beberapa anggota, staf tidak terkecuali."
Sontak aku membeo, "Mengamankan?"
"Seluruh anggota Departemen Gear dalam posisi kuning, itu kenapa mereka banyak ditugaskan di luar. Ada pembedahan kantor terbilang EVE dan mereka berhubungan lekat. Kami anggota Departemen Konsultasi cukup kewalahan, apa lagi Disiplinaria. Vaughan mulai menyaring setiap anggota, termasuk untuk yang bertugas. Hebatnya, seluruh anggota Club Dion dalam posisi hijau. Memang ada club lain yang hijau juga, tetapi beberapa murid Club Dion merupakan anak didik ketua departemen, tentu kita yang lebih dipilih."
"Bagaimana dengan Departemen Eksekusi? Tugas keluar khusus untuk kami bukan?"
"Sejujurnya," jawab Crist tertahan. Mata biru tak lagi melihat ke arahku, tapi mulai fokus ke depan. "Beberapa anggota Departemen Eksekusi dalam posisi merah, itu kenapa sedikit sulit mempercayakan kalian untuk bertugas. Yah, tentu sampai perkara ini selesai."
Begitu, kini potongan pertanyaan terjawab sudah. Ternyata Vaughan memang memperhatikan setiap anggotanya. Meski kebocoran kecil, langsung bertindak dan mengeluarkan siaga---
"Awas!"
Refleks aku berjongkok demi menahan tubuhku. Jika tidak, mungkin sudah remuk tak berbentuk. Sebab dalam satu kedipan mata, seluruh sekitar membias dan kami berdiri di atas kereta yang melaju kencang.