
Di kejauhan, teriakan melengking dari kepala-kepala Tiamat sungguh mengerikan. Beberapa anggota yang menahan naga raksasa tampak sudah tiba pada ujung kekuatan, banyak dari mereka gugur dan berakhir tragis seperti terkepung oleh para Elite; tak kuasa menahan aura Tiamat; tercabik-cabik oleh amukan elemen.
Meski dua kepala telah musnah dan sudah menerima luka cukup banyak, Tiamat memang masalah besar. Jika sang ratu seperti ini, bagaimana dengan sang raja--Genesis?
Seper sekian detik binar cahaya nan menyilaukan lagi-lagi muncul di masing-masing mulut bertaring, tetapi gesit sang ketua departemen tiba menahan semburan elemen murni yang mengerikan.
Kini, perhatian dari masing-masing kepala terbagi.
Sisi kiri banyak bongkah batu seukuran raksasa melesat ke segala arah, tetapi dengan cepat ekor mata Profesor Gil menangkap pergerakan serangan yang datang. Gesit salah satu pisau ganda beliau tancapkan ke tanah, sedangkan yang lain terarah ke depan. Seketika rantai panjang bermunculan dari tanah dan menyebar di udara, membuat batu tadi pecah menjadi beberapa bagian kecil. Lantas debam menggaung riuh kala puing-puing bebatuan menghunjam tanah.
Tak kalah dengan kondisi sebelah kanan, angin berembus kencang; menyapu bersih sekitarnya bak kapas. Debu kebat-kebit membutakan, tetapi berhasil ditekan balik oleh Profesor Kaidan dengan mengeluarkan pusaran angin yang memecah aura Tiamat seolah-olah bukan masalah besar. Padahal beliau pernah mengatakan kontrol elemen belum sempurna tapi dari mata kepalaku sendiri, ini ... lebih dari baik.
Mungkin jika dibandingkan dengan Head Master Lucian, memang belum seberapa.
Karena kini, orang nomor satu Vaughan terus berlari dalam percepatan; menembus gelegar petir menyeruak. Apa lagi lolong kepala kuning Tiamat ibarat menyahut setiap sambaran petir, menambah suasana mencekam.
Sekarang tubuh ramping Lucian melayang saat banyak naga berbagai tingkat menghalangi, begitu pula menghadang aku dan Fate. Dilihat dari banyaknya naga menghalangi kami, sepertinya Tiamat lebih melindungi kepalanya yang kuning.
Meski para hibrida mencegat tetapi mudah kami enyahkan, terlebih untuk Lucian ... dengan jetikkan jari para Pawn dan Knight langsung musnah akibat tekanan angin atau serangan elemen lainnya. Ketika naga kelas Elite muncul, beliau langsung mengeluarkan pedang.
Seragam formal hias emas pembebat tubuhnya berkibar seiring gerak ritmis Lucian saat terus berkelit dan menebas semua yang menghalangi. Sampai berhadapan dengan Tiamat, dalam kedipan mata, beliau memberi tebasan beruntun berkecepatan tinggi hingga hanya terlihat kilatan cahaya dan dentingan pedang. Namun, seketika serangan tersebut dipatahkan oleh Tiamat dengan menepis pedang beliau menggunakan kepalanya.
Seperti diselimuti perisai, mungkin itu kenapa kepala kuning lebih bercahaya daripada yang lain. Apa karena pedangku terus menancap--sebab kuserang lebih dulu--jadi dia lebih siaga pada kepalanya yang itu?
"Fate!" Seketika Lucian memberikan aba-aba tersendiri dan gesit si gadis kembali melesat ke udara menggunakan Albion.
Satu sisi, langkahku tersentak dengan Sabel berkilat gahar di depan wajah; bersiap atas kuda-kuda kukuh lantaran mulai banyak naga-naga menghadang bahkan beberapa kelas Elite tingkat bawah turut hadir dalam ekspresi mencebik.
Tak melepasku dengan mudah karena telah menolak mereka? Aku juga demikian, tidak akan kubuat kalian para reptil tenang karena bermain-main dengan ingatan seseorang. Wajah garang kembali kutampilkan.
Aku mulai meliuk kukuh. Denting besi dan gemercik api saling beradu dalam tiap serangan-serangan kami. Tak sedikit bebatuan yang melayang turut tertebas, selaras dengan darah menyembur dari tubuh-tubuh bersisik mereka.
Mendadak bunyi ledakan memekakkan telinga disusul desing bilah baja.
Sekilas aku mendongak dan kudapati Fate telah merentangkan kedua lengan, lalu satu lingkaran sihir muncul; melayang di depan telapak tangannya. Beberapa lingkaran sihir juga muncul disekitar kepala Tiamat yang kemudian melontarkan banyak potongan es runcing menghantam kepala kuning tiada ampun.
Lagi-lagi, sekilas terlihat percikan petir dan aku tidak menyangka Skill Ice Lance bisa digunakan sebegitu brutal. Sebab … aku saja hanya bisa mengeluarkan beberapa Ice Lance, tetapi Fate bisa menggunakan sebanyak dan sebesar itu dengan mudahnya.
Apa karena kekuatan sihirnya sangat tinggi?
Kemudian Fate mengangkat tangan kanan dengan telapak terbuka---tunggu, apa tadi tangannya mengeluarkan petir? Benar, aku tidak salah lihat! Ada petir dari tangan Fate yang mengarah ke langit dan awan-awan hitam berkumpul dan berpusar di atasnya dalam sekejap dengan kilat terlihat jelas mengerikan.
Fate langsung menurunkan tangannya dengan cepat dan seakan mengikuti panggilan, petir besar turun demi menghantam tepat ke arah perisai Tiamat. Akhirnya, perisai yang melindungi kepala kuning pecah seperti kaca dan Lucian menebas tepat pada satu titik menggunakan kombinasi seluruh elemen; empat elemen sekaligus! Sebenarnya, seberapa besar kontrol Lucian hingga bisa menggunakan kekuatan elemen semudah ini?
Tetapi meski telah mendapatkan serangan gencar dari Lucian, Tiamat masih baik-baik saja; serangan sebegitu besarnya tidak berdampak apa pun.
Justru raungan tak henti terdengar, sampai tanah dibuat guncang karena petir kian mencambuk sekitar. Gema bahana kembali terdengar hingga gelombang suaranya seolah-olah bertiup bagai badai. Lucian dan Fate dipaksa mundur; kembali pada posisiku; membantu mengenyahkan naga yang terus menahan.
Ternyata, memang harus menggunakan elemen yang sesuai. Sedangkan kepala kuning, mungkinkah ... petir? Bukannya elemen petir tidak ada? Tapi bisa jadi para naga telah memiliki kekuatan tersebut, seperti kejadian di Dream Land ketika Cecil tak bisa membaca elemen sang Elite.
Sedangkan untuk kami … aku melirik ke arah Fate. Saat ini hanya dia yang bisa menggunakan elemen petir dan bisa kulihat dari ritme napasnya yang sangat cepat, si gadis kelelahan. Sepertinya menggunakan elemen asing yang baru saja digunakan membuatnya cepat lelah.
Dan kami dalam kondisi seperti ini ... buruk.
"Sepertinya kita terjepit,” ucap Lucian, lalu beliau menyunggingkan senyuman saat matanya menangkap sesuatu.
“Red! Bagaimana kalau pedang yang menancap di kepala naga itu kita manfaatkan?" tanya beliau dengan tangan terus bergerak; menyerang para hibrida tiada henti.
"Eh?! Tapi bagaimana?"
"Tentu saja dengan terbang ke sana!"
"HAH?!" seruku terkejut-kejut. Apa maksud beliau? Aku terbang?!
"Fate! Kau masih kuat?" tanya Lucian, aku menoleh pada Fate dan gadis itu mengembuskan napas panjang sebelum mengangguk mantap kepada beliau, seakan mengerti artinya apa.
Hal itu dibalas senyuman pada wajah Lucian semakin melebar. "Terus berikan support padanya, aku akan menahan naga dan aura jelek yang berhamburan ini. Dan kamu, Red ... mari terbang!"
Namun, aku tak yakin akan sampai ke atas kepalanya, terlebih---waaa! Tiamat hampir menerkamku jika Lucian tidak mengalihkan serangannya menggunakan tekanan elemen!
Tak lama terdengar suara panggilan di belakang---oh, Fate? Dia terbang menggunakan Albion dan berteriak, "Terus maju! Akan kubantu dari sini."
Jemari lentiknya terentang dan muncul pusar-pusaran angin kecil---tunggu, ini persis kulihat ketika dia latihan di udara dengan Lucian! Langsung aku membenarkan posisi tubuh dan berlari dengan gesit, berderap seolah-olah melangkahi anak tangga semu.
Dalam minimnya penglihatan terus saja aku melesat, cepat, semakin cepat. Aku juga kagum Fate bisa mengiringi lariku dalam akselerasi.
Akhirnya tiba pada kumpulan awan bak kabut, aku menyilangkan tangan ke depan demi menerobos tanpa ampun. Setelah kulewati, terasa sisaan embun awan juga lekat di baju. Di ujung ufuk timur, mentari melambaikan kirananya; desiran angin begitu damai; pagi tiba seakan menyapaku yang sudah bebas di atas langit. Kemudian satu pijakan terakhir kugunakan untuk mengarahkan diriku ke bawah.
Ketika melihat Fate mengangguk mantap, aku langsung berjongkok menghadap ke bawah dengan kekuatan kutumpukkan pada kaki. Mata jelaga juga menatap garang pada satu titik; meyakini insting untuk tertuju pada Tiamat. Dan detik itu juga aku menukik ke bawah.
Aku meluncur kian cepat sampai mungkin terasa raga ikut terkoyak jika badanku tidak berbinar merah, sebab aku yakin ini adalah Ultimate Skill Blademaster--Sanctia--mengorbankan diri untuk menyerap kerusakan yang diterima oleh target, tapi pertahanan tubuh si pengguna juga meningkat.
Mengetahui ini, aku tak menghiraukan apa pun terlebih badan juga terasa ringan sekarang. Membuatku semakin melesat maju dengan kecepatan terus bertamban, bertekad bulat menghancurkan kepala kuning Tiamat dengan mengarahkan diri pada pedang yang menancap. Sampai-sampai suara sumbang dari tubuhku terdengar; menembus udara bak meteor.
Lalu mengumpulkan seluruh kekuatan pada tangan demi mengarahkan diri dan mengentak pedang.
Satu titik---
Bam!
Sebuah cahaya membutakan berkedip, selanjutnya bunyi debam terdengar memekakkan bersama kubah kabut membumbung tinggi. Lengkingan mengerikan mengudara, tertelan oleh suara gemeretuk bebatuan yang saling bertumbukan. Dan aku di sini, hanya memejamkan mata ketika tubuh terasa mati rasa; membiarkan raga tenggelam dalam asap pekat.
Aku butuh istirahat.
Sebentar.
Selang beberapa lama, terdengar suara samar orang berbincang-bincang. Terdengar juga ada yang memanggilku. Namun, mata masih enggan terbuka. Lelah sisa tadi juga belum terobati tetapi terasa tubuh berangsur-angsur membaik dan jauh lebih ringan. Aku bisa sedikit menggerakkan jari.
"RED!!" teriak seseorang yang membuatku terkejut sampai aku langsung membuka mata.
Ternyata Lucian, beliau muncul di area penglihatanku dengan membungkuk dan mengukir suatu senyuman meski darah mengalir pada sudut bibir. "Nahkan, bangun! Harusnya kamu tidak menerima banyak kerusakan karena sudah kulindungi dengan Sanctia."
Oh, tadi itu beliau? Lucian sungguh luar biasa, mampu menahan dan menekan kerusakan yang kuterima karena serangan tadi--ditambah ketinggian dan kecepatanku tak biasa.
Lantas aku menoleh ke samping dan di sana Fate telah selesai memberikan healing. Perlahan, aku pun mencoba untuk bangun sampai terasa ada yang menopang ragaku.
Sontak aku sedikit mengarahkan iris pada ujung mata---ah, ternyata Profesor Kaidan. "Nak, kamu tidak apa-apa?"
"Sedikit mati rasa, tapi tadi ...."
"Tadi?"
"Tadi, sangat menyenangkan!" seruku dengan tertawa bersinar.
Langsung aku berdiri tegak dengan tangan seolah-olah memperagakan kejadian sebelum ini. "Tadi terbang tinggi, ngeeenggg ... trus terjun ke bawah, bwuusssh. Terus, duaarr! Ahahaha, habis itu aku tidak sadarkan diri sama sekali!"
Tuhan! Sungguh, aku tak henti tertawa! Rasanya adrenalin benar-benar terpacu, luar biasa! Apa lagi serangan tadi menakjubkan, sampai sosok raga Tiamat tidak terlihat sama sekali. Hanya ada cekungan tanah sangat dalam dan besar tersisa di tempatku berdiri. Menyenangkan! Haah, rasa ini lebih hebat daripada menaiki Rollercoaster di Dream Land!
"Lihat! Dia saja suka!"
"Kau memang contoh paling buruk untuknya, Kakak ...."
"Tapi serukan, Red?" tanya Lucian dalam kekehan dan aku ikut tertawa, selaras dengan beliau yang mengangguk-angguk.
Sedangkan Profesor Kaidan hanya mengembuskan napas panjang, seperti Fate. Gadis itu pun berkata, "Kau sadarkan kalau Lucian gagal mengarahkanmu pada titik yang tepat, kau akan tertelan oleh Tiamat. Bahkan tadi sempat hampir termakan. Kalau itu terjadi, kemungkinan besar kau akan berada dalam perut Tiamat, selamanya. Atau ... sampai ada yang membuka perutnya."
Aku mengerjapkan mata beberapa kali mendengar itu, lalu menggeleng cepat. "Aaaa, meskipun begitu, tadi ... sungguh luar biasa!"
Lantas suara orang mengesah panjang terdengar serentak.
"Setidaknya, misi kita berhasil. Tiamat sudah terbunuh dan banyak bawahannya kita basmi sebelum mereka kabur. Meskipun ... kita juga kehilangan banyak di sini," ucap Profesor Kaidan dengan gelisah kentara, terlukis jelas dalam wajah masamnya.