
Aku berkali-kali berhasil disudutkan, musuh benar-benar ... menggila. Arakan petir turut memperkeruh suasana dan pertarungan semakin sengit.
Terlebih saat dia kembali melesat, kecepatannya bertambah seperti enggan memberi jeda serangan. Kiri kanan; cekatan membabat; berusaha mengukir luka. Berkali-kali dia ingin menghunus dan mengeluarkan kekuatan petir menggunakan tombak; berkali-kali kupatahkan dalam mengeratkan gigi menahan sakit.
"Kenapa kau tidak mati-mati, hah?!"
Mendadak dia berteriak dan mengacungkan senjata emasnya ke angkasa, menciptakan lingkar barisan tombak-tombak semu menyebar dan menghunjam ke segala penjuru. Terlalu acak dan tak terarah, membuat kami dapat menghindar dengan mudah.
Mendadak satu pisau berantai melesat ke arahnya, dalam kedipan mata dia berkelit ke belakang tetapi aku ambil kesempatan ini untuk menusuk tepat di bahu kirinya.
Sang hibrida tampak membatukkan darah tetapi aku langsung menarik pedangku dan menendangnya. Itu refleks, sungguh, lantaran petirnya sangat menyakitkan. Bahkan terasa makin sulit mendekat karena dia melepas energi listrik secara brutal di sekitar.
Tanganku mulai kaku dan kebas.
Aku mendengkus mengetahui musuh yang masih dalam jatuhannya berpindah hampir ke sampingku dengan cepat, siap menyerang. Aku sigap berganti senjata, lalu Zweihande bergerak horizontal tepat saat dia muncul di sisiku. Tetapi sejurus kemudian sulur-sulur rantai muncul entah dari mana dan langsung menjerat tubuh musuh, namun wajahnya masih---
"Cepat semua lepas senjata kalian!" teriak Cecil.
Sontak halilintar menyambar tubuhnya dan menghantar listrik tegangan tinggi, refleks aku melonjak jauh ke belakang. Entah dia sudah frustasi dan menyerang secara sembarangan, atau memang tak main-main melawan kami.
Sebab ekspresi geram terukir di wajahnya dan dia menjentikkan jari, membiarkan tombak petir bermunculan dari tanah memaksa kami membantingkan badan dan berlari dalam percepatan untuk menghindar.
"Aku mulai bosan pada para bocah!" desis dingin pria itu.
Ah! Aku berkelit ke samping karena mendadak satu pisau berantai muncul lagi tepat dari belakangku, meluncur ke sisi musuh sebelum beberapa peluru energi bersarang pada punggungnya. Sosok sang Elite menggeram lagi ketika menerima serangan tersebut, tampak tak menyadari ini atau dia sungguh buyar? Teringat apa yang aku pelajari dari Fate, tetap fokus dan jangan memandang remeh musuh ... atau berakhir tersudut.
Seper sekian detik aura kuning mulai berpendar di sekitar tubuh terselimut petir itu. Sedikit demi sedikit, sekitar mulai terbakar api. Lantai dan tembok besi menjadi gosong dalam suhu ruang tengah dipacu naik. Lantas aku melonjak jauh ke belakang, kembali pada kumpulan tim tapi Fate menunjukkan seringai samar, begitu pula Lux setelah melihat ekspresi si gadis.
"Red, tolong tekan lagi," titah Lux, di waktu bersamaan pendar lingkaran sihir muncul di bawahku. Ah, healing. Saat menoleh, aku melihat Cecil kembali mengeluarkan Beacon of Light padaku.
Perlahan terasa bisa menggerakan jariku lagi, pun aku mengangguk mengerti dan kembali melesat. Dalam pedang teracung mantap, aku mengikis langkah---akh, petir terasa mencabik tubuh meski belum di dekatnya. Aku kembali menggertakkan gigi sampai menggenggam Sabel kuat-kuat.
Mendadak tangan bercakarnya hendak mencengkeramku, spontan aku menyentakkan kaki kiri dan berkelok ke samping dalam akselerasi. Namun, pisau telah muncul di balik leherku--hampir menusukku kalau telat menghindar--dan tepat mengenai mata kanannya.
Ha-ah, dia kembali melaung keras. Petir menyambar brutal, mengharuskan kami melompat ke sana kemari. Sedikit sulit untuk menghindar dalam ruang tertutup meski luas seperti ini, terlebih api mulai menyuluti setiap dinding---tunggu, jadi itu sebabnya ... dia ada dalam bawah tanah karena mudah mengendalikan kekuatan elemen yang masih lemah.
Mendadak cambuk petir hampir mengenai tubuhku jika Theo tak sigap menancap Zweihande demi melindungi. Entah dia muncul dari mana, tapi tangannya mulai bergetar, seperti menekan rasa nyeri yang menyiksa ketika menahan serangan petir. Perlahan, napasku juga berderu berat dan badan jatuh terduduk. Sepertinya mulai terasa kelelahan, dan sangat benci hal ini.
Tiba-tiba letupan pistol terdengar memekakkan, satu tanduknya tertembak dan patah seketika. Si Elite mulai menoleh dalam tatapan benci namun rantai-rantai kembali menghunus, sayang dia kembali berkelit dengan gesit. Ah, Fate dan Lux! Aku bernapas lega ketika musuh mulai menjauh dariku dan Theo.
Aku mencoba berdiri tegap secara perlahan sampai Theo melepas Aegis demi membantu. Ah, tanganku bergetar. Kenapa badanku seperti ini? Aku ingat, ketika masih di dunia asal bahkan walau tanganku putus sekali pun, itu akan pulih dalam waktu singkat. Meski badan hancur dan terkoyak, aku tak merasakan apa pun. Tapi sekarang, kenapa? Aku benci---
Jleb!
Sebuah tombak emas melayang dan kini menancap sempurna tepat di dada kiriku, luput beberapa senti dari organ vital sebab pin club melindungi tetapi sengatan listrik begitu menyakitkan. Aku terkejut, begitu pula Theo.
Darah berbaur dengan udara saat aku menarik paksa tombak yang menancap. Ha-ah, terasa seluruh tubuhku mulai berdenyut heboh dalam kaku yang mengejang. Aku mulai ambruk lagi tapi Theo langsung menahanku.
"Kalah! Kau mati! Hahaha!" gelak puas terdengar mencebik. Si hibrida kembali datang, terus menyerang dan menendang-nendang ke arah aku yang sudah dilindungi kubah Aegis milik Theo. Perlahan, pemuda itu melepaskanku dari rangkulannya.
Mendadak suara tembakan terdengar beruntun, sungguh selongsong peluru laksana hujan pada lengan Daniel dan Lux. Seketika tangan dan kaki sang hibrida hancur, raung tak suka menggelegar memancing petir menerjang sekitar tetapi pergerakannya terhenti ketika rantai-rantai melilit dan menguncinya kuat.
Tunggu, aku baru sadar ... seluruh pisau yang dilemparkan dibiarkan menancap pada dinding, tak kembali lagi hingga menciptakan rantai membentang pola silang ganda mengelilingi sang hibrida.
"Sekarang!"
Teriakan Cecil refleks membuat Swordmaster lainnya berlari dan menikam sang hibrida dari belakang, namun spontan dia tarik paksa--menggunakan rantai Executioner oleh Crist--karena sengatan listrik yang kuat, membuatnya memuntahkan darah dalam volume banyak. Ternyata badan sang hibrida masih memiliki energi listrik meski tubuh mulai terkulai lemas, terlilit kuat dalam rantai.
Itukah, yang ingin mereka tunjukkan padaku? Sebuah taktik nan matang. Melempar pisau berantai ke seluruh penjuru ruang demi melilitnya tanpa sepengetahuan, menggunakan aku yang terus menekan dia sebagai pengalihan--terutama fokusnya telah penuh padaku.
Terlebih ketika Fate tersenyum tipis---
"Ei ... kau, bukan manusia 'kan?" Hibrida itu berkata dengan suara lirih, tak henti memuntahkan darah tetapi mata putih polosnya tertuju padaku.
Seketika aku tertegun, kenapa dia---
"Kami semua, adalah manusia yang akan membasmimu!" seru Theo tegas.
Langsung ia melepas Zweihande dan berganti Sabel, menusuk si hibrida dalam-dalam dengan terus menggertakkan gigi demi menekan sengatan listrik. Cepat Theo menyentakkan pedang ke arah kanan, membuat darah memancar sempurna atas bau anyir menyeruak gamblang. Tubuh lunglai hibrida ambruk saat rantai-rantai yang mengunci mulai menghilang, menciptakan genangan merah atas lantai.
"Kita berhasil! Kita berhasil!" teriak Cecil memecah hening.
Aku hanya terdiam, lalu ganti menilik luka di dada pemberi noda merah pekat pada jaket dan kaus yang aku kenakan. Baju pemberian Profesor Kaidan rusak---ah, kenapa bibirku mulai bergetar? Apa yang hibrida itu ucapkan sedikit menusuk batin tetapi aku memang bukan manusia 'kan? Bahkan bisa bertahan sejauh ini ....
Aku mendengkus.
"Ayo kita kembali, yang lainnya sudah berkumpul---"
"Menghindar!" Refleks aku menarik dan menyeret Theo, berlari jauh ke belakang dan gesit menancapkan Zweihande kuat-kuat.
Detik kemudian angin menderu liar, menyentak seluruh dinding dan apa pun yang ada di sekitar. Aku menggenggam pedang besar semakin kukuh, memperlebar kubah Aegis dan menguatkannya dalam menghalau debu halus yang beterbangan.
Terasa tekanan aura muncul dari tubuh sang hibrida, menghasilkan angin berputar-putar menghempas sekitar. Debu berkebat-kebit membutakan, membuat penutup gumpalan asap ketika istana ini perlahan runtuh dan hancur.
Pelan namun pasti, pada gurat langit berpusar tiada henti atas arak-arakan petir, sosok naga perak tanpa sayap muncul di hadapan kami semua. Laungan tak henti terdengar sampai bumi terasa bergetar, bahkan terlihat ruang dimensi ini terdistorsi.
Tak khayal hibrida itu berubah menjadi wujud sebenarnya, sesosok naga perak nan panjang. Aku masih mengeratkan tautan pada Zweihande yang menancap, menyipitkan mata menekan rasa yang kian menyiksa dalam menahan kubah tetap stabil meski petir tak henti mencambuk; bersamaan denyut nyeri pada dada kiriku.
Gulita menerkam dalam kedipan kilat membutakan. Desir angin membawa aksen perbedaan atmosfer yang pekat. Anggota kami satu persatu masuk dalam kubah yang aku ciptakan, bahkan Tim Dua juga hadir tetapi kondisi mereka ... tak baik.
Pelan-pelan angin berubah normal kemudian menenang seiring jelasnya pandangan. Mata jelagaku mengedar pandang terhadap celah pohon dan bangunan yang tampak renggang lagi rubuh, sedangkan para semak begitu berantakan. Aku terus memfokuskan diri pada Skill Aegis, meski napas mulai berderu tak teratur karena rasa sakit masih membekas di seluruh tubuh.
Tatapan sang naga lurus pada kelompok kami, bahkan mata kanan yang terluka turut kembali seperti semula---tunggu, Fate kenapa ada di sana?! Dan seketika ekor naga mengempas tubuhnya keras-keras sampai suara benturan antara punggung si gadis dengan bongkahan batu besar terdengar jelas.
Luka merajai tubuh Fate, ternodailah rambut perak dengan darah. Apa gadis itu lengah? Kenapa tak segera pergi menyusul kelompok kami?! Siapa pun cepat selamatkan---
"Fokus ke depan!" Mendadak Fate berteriak meski darah masih mengalir dari sudut bibir merah mudanya. "Pertarungan belum berakhir."