
Dor! Dor! Dor!
Ngiang aduan peluru energi dengan bilah tipis terdengar beruntun ketika aku berkelit dan membelah setiap tembakan yang meluncur. Namun Floating Hourglass Fate telah kembali ke sampingnya dan menjadi pistol dalam genggaman tangan kiri. Begitu, dia menyerang hanya untuk menahanku dan memberikan waktu mengambil senjata yang lain.
Sepertinya aku terlalu memberikan banyak kerenggangan.
Aku menyipitkan mata, jauh lebih siaga dari sebelumnya dengan genggaman pada Sabel kian kueratkan. Angin menerpa saat aku kembali melesat, kecepatan makin bertambah. Fate enggan memberi jeda pada serangan, kiri kanan; cekatan menembak; berusaha mengukir luka. Dalam percepatan aku tetap berkelit namun bukan dengan cara repot-repot seperti menepis pelurunya, melainkan melakukan kelokan akselerasi, bergerak menghindar; menghilang; muncul kembali.
Tapi, ada yang aneh.
Fate tidak mencoba berlari menjauh walau jarak denganku semakin terkikis. Apa pun yang dia pikirkan, tak akan kuberikan jeda karena dari tatapan mata perak kebiruan di depan terlihat masih memiliki kejutan yang lain.
Bak siluet kelam, aku langsung bergerak cepat ke atas hamparan tandus yang dipijak Fate. Tak lama aku melesat dari atas, mengacungkan Sabel dan menukik ke bawah memberikan serangan penuh.
Bam!
Sontak kebul memenuhi udara. Angin berembus kencang mengangkat selimut debu dari permukaan sebab seper sekian detik, Fate telah meluncur ke belakang menghindari hunusan tanpa ampun milikku. Kini aku sangat yakin dia memang lebih cepat daripada guru waliku sendiri.
Aku menebas tapi Fate mengelak meski sedikit rambut peraknya terpotong. Seketika si gadis telah mengokang dengan moncong pistol terancung mantap ke dadaku. Detik kemudian aku berkelit hingga perluru energi hanya menggores jas jubah hitam.
Tebasan demi tebasan aku lepaskan ke arahnya, Fate menghindar sembari melontarkan beberapa tembakan ke arahku. Aku akui dia handal dalam serangan jarak dekat menggunakan dua pistol hingga kami terkunci dalam ritme serangan ini untuk waktu yang lama. Menembak, menghindar, menebas, berkelit, menembak lagi. Tak henti menyerang dan menghindar.
Tidak, ini tak benar, apa aku kembali mengulur waktu? Kenapa Fate tidak memberikan serangan yang berbeda? Apa dia akan berganti senjata lagi? Aku harus mengakhiri tempo ini jika tidak, Fate pasti memberikan kejutan lain.
Aku mulai mengangkat tangan dengan Sabel bergerak vertikal menghantar angin bak mengiris udara, memberikan satu titik serangan penuh---tidak! Dalam satu kedipan Fate menumpu seluruh tubuh pada kaki kiri dan memukul tangan kiriku tepat di pergelangan menggunakan pistol. Seketika impuls syaraf melemas dan menjalar nyeri pun aku menjatuhkan Sabel. Ah, apa-apaan itu, dia menyerang tepat di titik lemah!
Masih ... bisa! Gesit aku meraih Sabel dengan tangan kiri namun mendadak terasa leher belakangku terpukul keras. Ah, dia masih bertumpu pada kaki dan memutar badan untuk menerjangku! Sontak ngilu menghantarkan refleks tubuh yang menegang. Aku terjatuh dengan sedikit terbatuk. Manusia normal biasanya langsung tak sadarkan diri mendapat serangan tepat di titik syaraf tetapi aku masih sadar, hanya sedikit---huak!
Fa-Fate langsung duduk menyamping di atasku dan terasa ada selongsong pistol tepat di belakang kepala.
Ha-ah, apa-apaan itu ....
"Checkmate," bisiknya tipis terbawa angin.
Keadaan menjadi sunyi seketika. Ah, kesemutan, kesemutan! Sepertinya efek titik lemah dilumpuhkan baru muncul. Ternyata begini rasanya, baru pertama kali mendapat serangan semacam ini. Aku berusaha mati-matian menoleh ke arah Profesor Kaidan, beliau menghela napas sambil menepuk kening.
"Lucian, apa yang kau ajarkan kepadanya ...."
Eh, Lucian? Meski suara berat guru pengawas kami sedikit pelan tetapi aku samar-samar mendengar nama Head Master disebut. Ada apa dengan beliau?
Saat kata-kata itu keluar, hiruk pikuk orang-orang mulai terdengar dari ruang khusus di atas sana. Ramai sekali. Mungkin mereka tidak mengira pertarungan tersebut karena aku juga ... terkejut. Hingga terasa Fate mulai menghela napas. Akhirnya, dia bangun dari mendudukiku.
Sontak dengan sedikit meringis aku melentangkan badan dan menarik napas---aw, aw, sakit! Rasa kesemutan sungguh menyiksa, lebih baik aku ditusuk bertubi-tubi ... atau karena ini pertama kali aku merasakan syarafku tegang begini? Sungguh tak biasa.
"Kau baik-baik saja, Red?"
Aku menoleh ke asal suara, Fate sudah jongkok di sampingku dengan dua tangan menopang kedua pipi. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya, tetapi melihat ekspresi wajah datar itu entah kenapa ... aku berakhir tertawa samar, membuat si gadis melihatku bingung dengan memiringkan kepala.
"Baru pertama kali saya---ah, aku, dikalahkan dengan cara seperti ini. Kau tahu, biasanya di akhir pertarungan selalu selesai dengan luka, entah padaku atau musuh. Tetapi kita ... tergores pun tidak, ahahaha."
Fate tersenyum samar ke arahku. "Kau mungkin kuat, bahkan staminamu sangat banyak. Tapi kau tidak menggunakan taktik sama sekali, karena itu kau mudah kubaca."
"Heee, begitukah?"
"Bahkan dengan taktik yang sesuai, bisa menjatuhkan ratusan musuh tanpa ceceran darah." Ia kembali ke wajah datarnya dan menaikkan kedua pundak. "Meski ingatanku samar-samar, aku bersyukur ingatanku tentang bertarung bersama Sen tidak hilang, karena berkat latihanku bersama Lucian ... aku bisa menggunakan gaya bertarung Sen dengan baik sekarang."
Ah, aku ingat dia pernah berkata Sen merupakan Gunner terbaik di dunianya. Mungkin itu kenapa ia bisa sehandal ini. Aku dengar di balik laki-laki tangguh ada wanita hebat di belakangnya, mungkin mereka berdua cocok menggambarkan hal tersebut.
"Fate, bagaimana ... ciri-ciri Sen?"
Gadis itu bergumam sebentar sebelum menjawab, "Rambut putih bersih seperti salju dan mata biru seperti berlian." Iris perak kebiruan sedikit tertutup oleh kelopak. "Tidak tahu kenapa setiap mengingat senyumnya, terasa ... hangat."
Aku terdiam dan menatapnya dalam-dalam, entah kenapa ekspresi itu sulit kubaca. Kemudian Fate kembali melirikku. "Jika kau berpikiran untuk mencari Sen, dia sudah tidak ada lagi."
Iya, tidak ada dalam Akademi Vaughan tapi kemungkinan ia bisa muncul di tempat lain bukan? Maka dari itu aku perlu ciri-cirinya. Bukankah sudah berjanji akan membantu? Termasuk mempertemukan Fate dengan orang terkasihnya. Tetapi dalam hati---ah, aku memilih tidak terlalu memikirkannya.
Fate mulai berdiri dengan sekilas melirik ke arah Profesor Kaidan yang masih memperhatikan arena tempat bertarung tadi. Dahi beliau berkerut dan dari gerakan mata cokelat itu seperti ... membaca situasi? Profesor Kaidan tersenyum kecil, terlihat seperti kagum.
Mendadak Fate mengulurkan tangannya padaku. Ah, dia membantuku untuk bangun. Kuraih tangannya dan mulai duduk---hah, masih terasa kebas! Seketika Fate menjentikkan jari dan dalam kedipan mata, Floating Hourglass sudah melayang sempurna dengan pendar keperakan. Lingkaran sihir pun turut hadir di bawah kami. Tapi, kenapa bisa?
"Ini ... Beacon of Light. Kamu tidak dalam posisi berdoa," ucapku dengan nada keheranan.
"Kontrolku cukup bagus, hanya dengan membayangkannya aku bisa menggunakan Beacon of Light dengan mudah."
Heee, begitukah? Kontrolnya bukan bagus lagi tetapi luar biasa. Untuk Vaughan wilayah Centru yang aku tahu bisa berganti senjata di tengah pertarungan hanya beberapa staf senior ....
Kejutan yang gadis ini miliki, seperti tak ada habisnya.