When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Hasil



Aku dan Fate mulai berjalan menuju ruang khusus di lantai dua, kami tak buka suara sampai alunan ritmis derap kaki terdengar.


Lantas aku melepas jas jubah hitam dan membeberkannya tepat di depan dengan kedua tangan. Ha-ah, benar-benar lusuh dan terkoyak habis dibandingkan dengan gadis di sisiku. Apa karena banyak bergerak? Atau karena modelnya sangat panjang? Embusan napas panjang terubar kemudian.


Tidak mengerti kenapa yang aku kenakan selalu berakhir menjadi hitam model seperti ini: kemeja lengan panjang, celana panjang, pun jas jubah panjang. Aku tak paham dengan tubuhku sendiri. Rambut berubah hitam, setiap yang aku kenakan juga. Sebenarnya, aku ingin bisa mengenakan baju beraneka model seperti manusia normal pada umumnya.


Tatapan mataku kembali sayu.


Ketika memasuki ruang khusus pengamatan sparing, terasa jas jubah yang terus terbentang ditarik ke bawa hingga aku terkejut, memaksa memandang siapa pun yang berbuat demikian ... Daniel.


"Red! Kau kalah sama cewek?! Enggak serius pasti bertarungnya!"


Kelopak mataku terbuka lebar perlahan, orang-orang sudah ... melihat ke arah kami---bukan, lebih tepatnya melihat gadis yang berdiri di sampingku dengan tatapan tak percaya. Mungkin benar mereka tidak menduga pertarungan tersebut, termasuk aku.


"Memangnya kenapa?" ucapku datar sembari melipat jas jubah hitam yang lusuh ke lengan kiri, "Fate sungguh penuh kejutan, dan bukannya kamu jatuh olehnya lebih dulu? Bahkan tanpa perlawanan."


Harusnya dia tahu sekuat apa Fate. Lagi pula gender bukan tolak ukur menilai kekuatan seseorang. Namun, tampaknya jawabanku tak membuat ketua kami puas, justru ... lebih marah dengan tangan kanan mengepal erat, bahkan sampai berteriak memecah hening.


"Pak! Memang bisa orang ganti senjata kayak begitu di tengah pertarungan?" serunya menuding-nuding ke arah Fate, kemudian menaikkan ke dua tangan dalam ekspresi tak percaya. "Ayolah, semudah itu?!"


Profesor Kaidan melipat kedua tangannya di depan dada dan mengangguk membenarkan. "Bisa, jika kamu memiliki kontrol dan fokus yang cukup. Lucian bisa mengganti senjatanya di tengah pertarungan, dan tentu mudah tergolong Fate anggota Departemen Disiplin. Itu bukan hal yang aneh."


"Haaah?!" Daniel mulai menaikkan sebelah alis dan sedikit membungkuk dengan kedua tangan di saku celana. "Apa hubungannya?"


Ah, sekarang menjadi ramai. Aku mulai duduk pada salah satu sofa di dekat Fate, dia sudah bersantai sedari tadi seperti menghiraukan kegaduhan ini. Bahkan Cecil sampai berdiri di samping Daniel dengan berkacak pinggang, gelagat seolah-olah siap untuk menjinakkan laki-laki tersebut.


Mendadak di pojok ruang terdengar suara kekehan. Crist terlihat berusaha keras menahan tawa, membuat seluruh perhatian penghuni ruang tertuju padanya.


Beberapa saat kemudian dia menenang, mengelus dada dan meletakkan handycam ke salah satu meja yang tak jauh. Kemudian Crist melihat ke arah Fate seakan meminta izin untuk berbicara. Heee, memangnya ada apa? Kedua mata jelagaku tak lepas melihat interaksi mereka. Fate terdiam dengan memejamkan mata, lalu iris perak kebiruan kembali tersibak menatap Crist dalam-dalam dan mengangguk kecil.


"Baiklah, akan kujelaskan," ucap Crist santai, berjalan lambat ke kumpulan kami dan sedikit merentangkan tangan dengan dua telapak terbuka lebar. "Departemen Disiplin selalu melatih kontrol dan fokus anggota mereka agar saat di lapangan, mereka bisa fleksibel."


Ia memperbaiki posisi kacamata dan mengukir senyum sampai kedua matanya terpejam. "Departemen Eksekusi mungkin yang paling sering dikirim keluar untuk misi melawan naga dan hibrida. Tapi apa menurut kalian Departemen Disiplin, yang bertugas untuk mengendalikan dan mendisiplinkan seluruh anggota dari departemen lain tanpa terkecuali itu lemah?"


Jeda sesaat, Crist mengeluarkan telunjuk di depan dan sedikit menggerakkannya ke kiri dan kanan. "Jika kalian berpikir begitu maka kalian salah besar. Disiplinaria selama ini dilarang menggunakan kemampuan penuh mereka."


Aku menoleh ke arah Profesor Kaidan, beliau mengangguk ibarat membenarkan apa yang Crist katakan.


Mulai menutup mulut dengan tangan kanan, aku berpikir sangat benar perkataannya. Departemen Eksekusi memang kuat tapi kami lebih terlatih dan fokus untuk menjatuhkan para hibrida dan naga, sedangkan Departemen Disiplin ... mereka dengan mudah bisa membaca gerak-gerik manusia. Sedikit mengerikan jika dibayangkan, mungkin itu kenapa banyak yang tidak suka pada mereka. Terlebih Disiplinaria--sebutan anggota Departemen Disiplin--sangat sedikit daripada departemen lain, kudengar persyaratan untuk mendaftar ke sana sangat susah.


"Fate kasus spesial karena ia bisa mengganti tiga senjata sekaligus. Hal ini membuktikan jika kontrol dan fokus Fate sangat bagus, mungkin satu-satunya selain Kepala Sekolah Lucian dan Pak Gil." Crist mulai tersenyum ke arah Fate dan terlihat seperti ada kilatan iseng dari tatapannya. "Kurasa kalian bisa melihat sendiri hasil evaluasi miliknya."


Kemudian ia menoleh dengan merentangkan tangan kanan ke arah layar proyektor besar yang perlahan turun di muka ruang. Heee, Crist benar-benar terlihat profesional, pantas saja Profesor Caterine tidak menyia-nyiakan bakatnya.


Tak lama hasil pengukuran kemampuan kami terpampang dengan jelas. Seperti biasa, hanya peringkat tiga teratas yang ditampilkan, untuk yang lainnya akan dibagikan melalui selembaran dokumen.


...{Rank 3 Club Dion...


...Nama : Crist Certerum...


...ID Pelajar : 200192348...


...Grade Kekuatan : A >>> S...


...Tingkat Kontrol : B >>> A...


...Detail Class...


...Swordmaster : D...


...Gunner : C...


...Executioner : S >>> S+...


...Soul Dancer : B >>> A...


...Mentor: Caterine Marrota}...


Crist terlihat mengedipkan matanya berkali-kali seakan tak percaya melihat hasil tersebut. Jika dibandingkan dengan hasil sparing yang terakhir, memang dia meningkat pesat bahkan sudah masuk dalam Grade S. Bukankah itu bagus?


...{Rank 2 Club Dion...


...Nama : Red Sirius...


...ID Pelajar : 224310317...


...Tingkat Kontrol : C- >>> B...


...Detail Class...


...Swordmaster : SS...


...Gunner : F...


...Executioner : A...


...Soul Dancer : B >>> A...


...Mentor: Kaidan Dushku}...


Tunggu, hasil kontrolku B? Benarkah? Aku berkedip berkali-kali dan mulai menyipitkan mata, memastikan apa yang aku baca adalah benar. Kemungkinan aku berkembang sungguh ada? Apa bisa ... kembali ke wujudku yang semula? Tetapi bukankah---


Mendadak terasa ada yang menyentuh lengan dan refleks aku menoleh. Fate tersenyum tipis ke arahku dan berkata, "Selamat Red, sepertinya perlahan kau bisa mengendalikan kekuatanmu."


Aku merasa sedikit tersipu. Namun, membalas senyumnya kemudian. "Ya, terima kasih, Fate."


Kami mulai mengembalikan perhatian pada layar di depan karena menampilkan hasil evaluasi milik Fate.


...{Rank 1 Club Dion...


...Nama : Fate A. V. Lancelot...


...ID Pelajar : 225354772...


...Grade Kekuatan : S...


...Tingkat Kontrol : SS+...


...Detail Class...


...Swordmaster : D >>> B...


...Gunner : B >>> A+...


...Executioner : A >>> S+...


...Soul Dancer : SS >>> SS+...


...Mentor: Lucian Rectorem}...


Heee, mentor Fate adalah Head Master Lucian? Bagaimana bisa? Maksudku, beliau---


"Aku yakin hasil evaluasi Swordmaster-ku adalah D, dan sama sekali tidak menggunakan senjatanya sejak pertama tiba sampai sekarang. Bagaimana bisa rank-ku di Swordmaster meningkat?"


Hah, Fate sadar! Mungkin karena waktu itu, ya, EVE juga membaca peningkatan tubuh Fate dalam berpedang meski Arthur menggunakan tubuhnya.


Sontak aku menegang, bagaimana ini? Aku harap gadis ini tidak meminta penjelasan padaku karena---aaa, aku tak bisa berbohong! Tidak bisa menceritakan hal itu juga, sudah berjanji tak akan memberitahukan apa pun mengenai Lord Metatron. Sontak aku menunduk dan melipat jas jubahku di atas meja dengan tergesa. Tolong jangan tanya aku, sedang sibuk.


"Kau ...." Mendadak suara sayup-sayup terdengar di dekat kami. Perhatian gadis di sampingku langsung teralihkan, begitu juga denganku. Daniel menepuk pundak Fate, wajahnya memucat dengan ekspresi tak percaya bahkan sampai menelan ludah beberapa kali. "Me-mentormu si sadis Lucian?"


Fate mengangguk sebagai jawaban. Tak lama Daniel kembali berkata dengan intonasi bergetar, tangan pun mulai menjauh dari pundak si gadis. "Minimal, sebulan sekali ... sparing mentor---kau, kau, kau bagaimana bisa ... berhadapan, Lucian ...."


Ucapnya sangat terbata-bata hingga aku sendiri tak mengerti apa yang ingin ia katakan. Mendadak Cecil mendorong raga bergetar Daniel ke samping tanpa rasa iba hingga si pirang tersandung kakinya sendiri. Heee, apa Cecil balas dendam?


Sontak Cecil menyandarkan kepalanya di lengan sofa yang Fate duduki degan tangan bertengger di kiri kanannya, wajah turut melukiskan kagum dan tak percaya. "Kamu tuh, bagaimana bisa selamat dari sparing melawan mentormu?"


Selamat ... benar juga, itu mencelikkan benakku tetapi Fate tampak tak menyadarinya. Ia hanya memiringkan kepala melihat ekspresi terkejut mereka semua.


"Fate." Yang dituju langsung menoleh ke arahku lagi. Ah, apa aku harus menjelaskannya? Tetapi gadis ini masih baik-baik saja, mungkin dia memang ... luar biasa. "Selama ini tak ada yang sukses melawan Head Master Lucian. Mungkin bisa dibilang, sekali sparing dengannya bisa membuatmu trauma."


Ya, karena beliau tak segan mematahkan tulang jika ingin. Sebenarnya aku sendiri belum pernah berhadapan langsung, Lucian seperti ... mencurigaiku?


Namun beliau terkenal dengan kesadisannya, karena menghadapi beliau maka harus berkembang dan meningkat jauh dari sebelumnya, saat itu juga. Dia akan terus menekan dan memaksa dalam keadaan terjepit kepada siapa pun. Potensi manusia berkembang ketika di ambang kematian katanya, tapi itu berlebihan 'kan?


"Aku hanya bertarung seperti biasa dengannya. Memang belum pernah menang, tapi aku tidak pernah merasa trauma," tutur Fate santai, sedikit memiringkan kepala dan memegang dagu.


Hah, benarkah? Gadis ini ... tidak henti-hentinya memberikan suatu kejutan.