When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Undangan Pesta?



Sekilas, tampak Fate memperlihatkan senyum yang amat lembut dan terasa ... waktu berjalan lambat. Terlebih secercah cahaya merambat masuk pada kanopi pepohonan rimbun yang sudah renggang di belakang si gadis, membuat wajahnya semakin terkesan manis.


Saat itu juga, terasa jantung mulai berdebar cepat lantaran suatu kehangatan merambat masuk pun aku mencengkeram dada berbalut kemeja putih.


Perasaan itu kembali.


Semenjak pertama bertemu dengannya rasa ini selalu muncul secara tiba-tiba, titik emosi yang juga dirasakan ketika bersama orang terkasihku.


Oh, perasaan apa dalam dadaku ... sesuatu?


"Heh, lihat apa kalian?!" bentak Daniel yang refleks membuatku menoleh ke belakang. Ah, terlihat ada semburat merah di pipinya--entah karena marah atau cuaca terik musim panas di bulan Agustus ini.


Sedangkan Crist hanya mengusap wajahnya, sampai aku terkejut karena Daniel menepuk punggungku kuat-kuat dan berkata, "Apa lagi kamu! Mata mengarah ke mana, ha?! Merah padam mukamu!"


"Eh?! I-iyakah? Aku cuma, a-aku hanya---aaaa!" Buru-buru aku menutup wajah dengan kedua tangan, karena tidak mungkinkan aku bilang terang-terangan merasa tersipu melihat Fate tersenyum gembira 'kan?!


Tak lama suara embusan napas terumbar, memancingku untuk mengintip dari sela-sela jari.


Ternyata Head Master Lucian.


"Jadi kalian bertiga, ada urusan apa mencariku?"


Crist berdeham, mungkin mencoba tenang bertatap muka dengan beliau. "Ini masalah acara---"


"LUCIAAAAAN!!"


Waaah! Suara berat yang sedikit horor memekakkan. Bergegas mata jelagaku mencari di mana sumber suara berasal.


Lantas tampaklah langkah lebar Profesor Kaidan mendekati kami---tidak, lebih tepatnya menghampiri Lucian dengan wajah geram sampai menggebu-gebu. Tidak main-main, setibanya beliau menjitak pucuk kepala sang Head Master sampai mengeluh kesakitan. Bukannya iba atau berhenti sejenak, lengan kukuh beliau langsung mencengkeram kerah jas hitam Lucian dan mengguncangkannya tanpa ampun.


Ah, beliau benar-benar marah.


"Aaargh, lihat apa yang kau lakukan?! Lakukan sparing di tempat yang sudah disediakan! Jangan menghancurkan akademi!!"


"Betul itu Pak! Mentang-mentang kepala sekolah, suka-suka saja dia berbuat!" seru Daniel memprovokasi, dan sempurnalah sumbu kompor tersulut. Seketika Profesor Kaidan mengomel tiada henti, semakin intens pula mengguncang tubuh ramping sang Head Master.


Kendatipun, tempat ini memang sudah hancur.


Pohon-pohon renggang karena beberapa ambruk berjatuhan. Apa lagi air mancur besar ini sudah runtuh dan airnya merembes ke mana-mana---oh, inikan tempat sewaktu Fate menemukanku di malam musim dingin saat hati terasa sungguh kacau.


Melihatnya sudah tak berbentuk, kenapa ... kesal, ya?


Apa lagi si pelaku--Head Master Lucian--hanya menyengir lebar bak tak berdosa, membuat kepala Profesor Kaidan penuh kebul tanda marah besar. Kalau aku di posisinya, mungkin juga akan mengomel tiada henti. Beliau pun membentak, "Sekarang, bereskan semua kekacauan ini!"


"Eeem, Pak Kaidan," timpal Fate mencoba menenangkan guru waliku, "untuk kerusakan, akan aku dan EVE perbaiki. Aku masih mengingat dengan baik bagaimana kondisi halaman sebelum rusak."


"Boleh, tapi serahkan denahnya pada Lucian agar sekali-sekali dia membereskan masalah yang dia perbuat sendiri!" sergah Profesor Kaidan dengan melepas cengkeraman tangan, membuat Lucian mengelus-elus lehernya yang bebas.


Namun, si gadis justru menggeleng. "Pak Lucian harus membereskan dokumen-dokumen yang sudah menumpuk. Kalau diberikan hal ini, dia akan menunda mengerjakan dokumen itu."


"Malaikat! Oh, Tuhan! Terima kasih sudah mengirimkan malaikat!" ucap Head Master Lucian dengan memeluk Fate yang masih berwajah datar hingga melekatkan pipi ke pipi. Apa boleh kalau aku bilang ... tingkahnya berlebihan?


Tunggu, kenapa justru aku yang kesal sendiri?


Wajah garang Profesor Kaidan pun menenang dengan seringai terlukis di sana. "Bagus, akhirnya mau mengerjakan tugas. Awas kalau kau sampai lalai lagi, kupastikan dokumen di mejamu bertambah dua kali lipat wahai kakakku tersayang," tutur beliau dengan nada manis dibuat-buat, sampai membolak-balikkan dua jemari ke arah matanya dan Lucian.


Kadang aku bingung, siapa yang kakak dan siapa yang adik?


Apa lagi Head Master Lucian masih sangat cakap seperti pemuda berusia tiga puluhan--karena kekuatan yang besar? Kuyakin umur asli beliau dua kali lipatnya--rambut juga mengembang dan tebal, berkilauan di bawah terik sang mentari berkat ikat rambutnya yang terlepas.


Sedangkan Profesor Kaidan jelas seperti orang tua--yang sangat kelelahan--pun berbadan lebih tinggi dan besar daripada Lucian. Namun, aku menyukai beliau, kebapakannya sungguh kentara sedangkan Lucian dengan aura kepemimpinan yang kental. Dua bersaudara berbanding terbalik tapi aku menyukai mereka apa adanya, meski kesan buruk sang Head Master masih berbekas dalam benak.


Akhirnya Profesor Kaidan mendengkus pasrah.


Ketika berbalik, langkah kakinya tersentak saat mata cokelat tertuju padaku. Mungkin tak mengira ada aku di sini? Sebab terlalu sibuk memperhatikan bagian depan akademi yang hancur dan memarahi Lucian habis-habisan.


Lantas dalam tatapan sayu aku balas memandang beliau. "Bapak, jangan memaksakan diri."


Ajaibnya, wajah beliau saat itu juga luluh; menatapku teduh dalam senyum khas, dan bertanya dengan nada lembut pula, "Bagaimana belajarmu?"


"Eh? Eem, hanya mengulang materi agar lebih paham---ah ...."


Mendadak lengan kukuhnya merentang dan meraih rambut merahku, pelan-pelan membelai dan mengusapnya penuh kasih. A-aku merasa sedikit tersipu, entah mengapa sikap beliau berubah tetapi ... aku suka, berakhir menunduk dan mendampilkan kepala pada telapak tangannya yang lebar; mengikuti ritme pergerakan pun aku memejamkan mata.


Jujur ... ini terasa nyaman---aaaaa, tiba-tiba tangan beliau bergerak semakin cepat dan mengacak-acak rambutku! Spontan aku kembali menegak dan menyelamatkan kepala dengan dua tangan. Tapi beliau justru tertawa kecil, melangkah menjauh seraya melambaikan tangan tanpa berbalik; meninggalkan aku yang masih dibuat kebingungan.


"Hilih, kakak adik sama saja tingkahnya," celetuk Daniel dengan tersungut-sungut.


Crist kembali terkekeh, sampai sang Head Master berkata, "Tadi ada apa, Crist?"


"I-ini mengenai acara yang Anda inginkan, Pak," jawab Crist spontan, "setelah berdiskusi, acara minggu depan bisa diselenggarakan. Detailnya sudah dirangkum dalam dokumen ini."


Sontak Lucian langsung mengambil dokumen yang Crist serahkan. Tanpa membacanya, beliau langsung berseru, "Bagus! Langsung umumkan ke seluruh akademi untuk acara minggu depan!"


"Tapi, Pak---"


"Aku ingin semua orang mengenakan pakaian bagus!" tambah beliau dalam wajah berseri-seri.


Apa beliau lupa kalau baru saja terkena marah oleh adiknya sendiri ....


Crist langsung mengembuskan napas pasrah, meraih ponsel dalam saku celana dan melangkah sedikit jauh dari kumpulan kami. Mungkin mengabari perihal ini pada Departemen Konsultasi?


"Memang acara apaan sih?" tanya Daniel santai, entah kalimat itu tertuju pada siapa.


"Ulang tahun Akademi Vaughan," jawab Fate, "setiap lima tahun sekali kita akan merayakannya."


"Loh, kok kamu tahu Fate? Belum diumuminkan? Apa lagi kamu belum lima tahun."


Fate merespons sambil menghela napas, "Tentu aku tahu, Pak Lucian selalu menggumamkan hal itu setiap hari."


Jawaban Fate sukses membuat Daniel celangap. Wajar saja, karena aku juga heran, kenapa yang beliau pikirkan hanya bersenang-senang? Entahlah, lebih baik aku mempersiapkan diri untuk ujian besok.


Aku pun mendengkus.


Mungkin Head Master Lucian memang tak ingin anggotanya merasa tertekan dan memedulikan kesejahteraan mereka?


Siapa tahu ...?