When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Kenangan Indah



"Aku mungkin ingat karena kata-katamu, tetapi aku memilih untuk tetap bertarung setelahnya. Meskipun aku memiliki pilihan untuk meminta Pak Kaidan agar tidak mengikut sertakan aku pada Raid. Itu kesalahan pertamaku. Kesalahan ke duaku, aku tidak menghemat stamina dengan baik. Hal ini membuatku agak sulit untuk fokus pada pertarungan terakhir. Yang membuahkan kesalahan ke tigaku, yaitu aku sudah menurunkan pertahanan padahal belum mengetahui apakah musuh sudah benar-benar mati atau tidak."


Fate mulai melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kalau hanya berpikir 'jika saja aku begini' ataupun 'jika saja aku tidak melakukannya' kapan kau akan maju? Daripada berpikir 'jika saja' ataupun 'ini salahku', lebih baik berpikir 'apa yang harus aku lakukan berikutnya'. Karena berpikir negatif sama sekali tidak membantu siapa pun, baik dirimu ataupun orang lain. Dan, lagi pula ...."


Perlahan Fate menurunkan tangan, senyum lembut pun menghiasi wajah.


"Aku bersyukur mengingat tentang mereka. Karena kini aku mengingat hal lain juga. Kemampuan menyanyiku, juga kemampuanku dalam memainkan alat musik. Keduanya adalah peninggalan kedua orang tuaku, karena merekalah yang mengajarkanku akan kedua hal itu. Aku bisa mengingat mereka berdua selama aku bernyanyi dan memainkan alat musik."


Mendengar hal ini Lucian tersenyum penuh rasa bangga, pun mengelus kepala Fate dengan lembut. Namun, perlahan senyumannya berubah sedikit ... jahat?


"Nah, kamu sudah mengetahui kesalahanmu. Aku harap saat kamu sudah pulih, kamu siap kembali pada latihan kita."


Fate menatap Lucian dengan tatapan datar, tersirat sedikit rasa kesal di sana. "Seperti aku punya pilihan lain saja."


Sontak beliau tertawa, tetapi sungguh? Langsung latihan?! Sepertinya Head Master Lucian yang terkenal kejam dan ketat itu sangat benar. Entah berapa banyak hal telah Fate lalui sampai terlihat biasa seperti ini ....


Kemudian Lucian berpaling, melihat ke arahku dan mungkin ... senyumannya melebar. "Apa kamu mau ikut bergabung dengan kami, Red?"


A-aku mengeluarkan tawa masam amat terpaksa dan berdiri perlahan. "Ah, haha ... maaf, sepertinya harus menolak? Emm, saya permisi."


Langsung aku berlari keluar ruangan dan terdengar suara tawa cukup kencang dari arah kamar rawat Fate. Aku mengembuskan napas panjang. Mereka benar-benar dalam dunia yang berbeda, aku sedikit tersenyum canggung sebelum lanjut melangkah.


Jika dipikir lagi, Profesor Kaidan mengatakan ada momen ketika Fate melihat ke langit seakan mencari sesuatu, dan itu aku lihat sendiri tadi; suatu sarat di mana sudah mati rasa karena terlalu banyak melewati berbagai macam hal yang sulit diterima. Semua rasa penuh campur aduk memenuhi, tetapi Fate ... masih ingin mencari kebenaran dan bisa kembali tersenyum.


Mungkin, karena ada suatu kekosongan di sana.


Hingga pada akhirnya berani terus melangkah, sampai seluruh jawaban atas pertanyaan digenggam. Fate, dalam cahayamu sendiri kamu bisa bersinar dan mengalahkan semua gulita. Sedangkan aku, sangat takut akan kebenaran itu karena tak suka pada ketidakpastian, dan berakhir memilih untuk berhenti. Aku takut akan mengulangi kejadian yang sama; takut akan kesendirian.


Benar apa kata Profesor Caterine, kejiwaanku sangat lemah dibandingkan dengan orang lain. Dan mungkin sampai titik ini, sebenarnya aku masih ....


Ah, tanpa sadar sudah kembali pada ruang rawatku. Rasanya ingin merapikan barang-barang tapi entah kenapa, sorot biru langit terasa begitu lembut lagi membius; membuatku berakhir duduk pada pinggir kasur dan melihat arak-arakan awan. Lalu di bawah sana banyak orang melakukan aktivitas mereka.


Dunia ini jauh lebih damai dibandingkan tempat asalku. Pandanganku kembali meredup. Kata-kata Fate tadi ... berhenti menyalahkan diri sendiri, ya?


Bagaimana kalau memang salahku? Benar aku sudah menerima diri sendiri. Namun, mengingat---ah, apa yang harus aku lakukan? Hei, seseorang, beri tahu langkah mana harus aku tempuh? Tuhan, kebenaran mana harus aku lalui? Kata-kata itu mulai meluap sebanyak yang aku pikirkan dan satu titik aku merasa ... mungkin, benar aku ini egois dan keras kepala karena ketidakberdayaanku.


"Oi, Red, sudah mendingan?" Aksen berisik tiba-tiba hadir dan memenuhi seisi ruang putih, memancingku untuk menoleh ke belakang. Ternyata Daniel. Namun, kenapa membawa kantung plastik besar seperti itu?


Dia mulai melangkah dengan semangat, duduk tepat di sampingku dan meletakkan bawaannya pada meja sisi kasur. "Ini ... anak-anak pengin jenguk kamu juga tapi, ya, biasalah pada sibuk. Aku juga sibuk sih, masih ada kerjaan. Itu pembukuan club belum selesai tapi Cecil mau bantu dan yang lain titip ini untuk kamu. Jadi aku bawakan salam mereka."


Aku tertegun mendengarnya dan berakhir tertawa kecil. "Kenapa? Nanti aku juga pulangkan?"


Eh? Daniel terlihat tersipu tetapi mulai merangkul pundakku dengan membusungkan dada. "Heh, ja-jangan gitulah! Kau bagian dari kita, satu keluarga! Terus kita enggak temani kamu nanti apa kata dunia?!"


Si pirang mulai berbicara tanpa henti tapi mendengar ucapannya, membuatku terdiam atas pikiran kembali pada kejadian sebelum ini. Keluarga; kehilangan; ingatan; rasa sakit; jangan menyalahkan diri sendiri; terus maju; kesukaan akan peninggalan yang telah tiada---ah, pusing. Aku mulai meringis dan mencengkeram kepala dengan satu tangan.


"O-oi, Red? Aduh, kalau masih sakit istirah---"


"Daniel, aku boleh tanya?"


Menurunkan tangan perlahan, aku sedikit menoleh ke arah dia yang sudah melihatku dengan tatapan cemas, tapi mengangguk kecil kemudian.


Aku mulai menyentuh dada kiri, dan mencengkeramnya.


"Sakit; sangat sakit; begitu sakit ... menyedihkan. Rasanya terpuruk dan itu membuatku menjauhi hal tersebut."


Aku pun membisu. Bahkan sekarang, hanya mengingatnya kembali terasa ada sayatan dalam dada.


Kenapa Fate masih bisa tersenyum?


Aku dan Daniel tak buka suara. Sedikit melirik---ah, dia tampak berpikir sebelum melihatku atas sarat akan menunggu aku berkata lagi. Namun, aku hanya menunduk dan menautkan jemari.


"Heem, ya cukup jangan ingat hal yang menyakitkan."


Vokal nan khas terdengar, membuatku mengarahkan atensi pada Daniel. Dia mulai berwajah sedikit serius.


"Susah sih dilakukan daripada berucap begini tapi kalau kamu terus ingat bagian sakitnya, kamu bakalan tersiksa terus. Lakukan saja dan ingat masa bahagiamu. Lagi pula, dengan mengerjakan hal yang kamu senangi itu, bisa membuatmu kembali dekat dengannya. Bahkan mungkin terasa ia ada di sisimu lagi."


Ah, dia mulai menepuk-nepuk punggungku pelan dan menyengir kuda. "Kudengar melakukan hal yang saling disukai bisa membawa perasaan kita jauh lebih dekat satu sama lainnya, meskipun ia sudah enggak bisa menemanimu lagi, tapi pasti, aku yakin perasaan nyaman masih membekaskan? Kenang saja itu, jangan peduliin yang lain."


"Walau aku yang membunuhnya?"


Seketika tangannya membeku. Kelopak turut menggulung dalam iris hijau menatapku tak percaya, gelagatnya makin memperkuat hal tersebut. Daniel tak buka suara dan menunduk dalam bingung yang tergambar jelas. Tak lama, dia mulai menatapku lagi. Wajahnya sulit kubaca.


"Eeerr, kayaknya kamu jangan cerita hal kayak begini ke siapa pun ... termasuk aku, kecuali kamu percaya---Aduh, enggak tahu kamu ini sungguhan atau cuma menyalahkan diri sendiri, tapi kamu pasti ada alasan kenapa kamu melakukan hal kayak begitu. Red, kamu ini ... bagaimana ya ... huh, kamu memang seram tapi aku ragu kamu bersedia membidik tupai di pohon."


Reaksinya cukup di luar dugaan. Daniel masih dalam gelagat santai, menggaruk rambut pirang atas wajah yang bingung. Ah, mata hijau kembali melirikku. "Apa kamu ingat, saat terakhir ia itu berbicara apa dan ... apa begitu?"


Saat terakhir ketika aku menikamnya, atau ketika melihat ia kembali setelah sekian lama---ah, kelopak mataku terbuka lebar perlahan. Aku ingat. Saat menyadari pedangku di sana; tertancap di dadanya ... dia, dia---


"Tersenyum."


Kata itu meluncur dengan lembut dari bibirku, membuat aku menutup mulut dengan tangan. Karena aku kembali ingat ... dan tak percaya. Ia, meski bentuk perwujudan hatiku masih di sana atas darah tak henti mengalir, di saat terakhirnya sungguh tersenyum ke arahku.


Kenapa?


"Terus, apa kamu ingat ia bilang apa?"


Aku mulai menurunkan tangan kananku perlahan. Saat itu---tidak, dia tak mengucapkan apa pun. Tapi ketika kami bertemu, dalam keadaan rancu yang aku sendiri tak tahu apa yang terjadi dan kenapa bisa melihatnya lagi setelah ratusan tahun, ia bersimpuh di depanku yang terpaku ke tanah dan berucap bahwa ....


"Meminta maaf dan berkata ... mencintaiku?"


"Benarkan! Aku tahu kamu bukan orang seperti itu! Jangan salahkan dirimu sendiri, Red. Kuyakin ia juga masih peduli sama kamu dan mau kamu terus bahagia---eh, heeeh, ja-jangan menangis! Aku minta maaf, enggak bermaksud---"


"Daniel." Ah, tanpa sadar mulai menitikan air mata, aku mulai menyekanya secara perlahan.


Bodoh sekali rasanya, melupakan apa yang paling penting dalam hidup. Aku ... perlahan, akan mencoba kembali meraihnya; rasa yang paling aku takuti untuk kuhadapi. Mungkin, sebenarnya hal tersebut tidak terlalu buruk dan menyakitkan.


Aku juga mencintaimu, Aion. Bahkan mungkin, sampai detik ini perasaanku masih dan tak akan berubah. Terima kasih menjadi orang pertama yang mengajari dan menunjukkanku pada kebahagiaan.


Aku benar-benar ... mensyukurinya.


Dalam senyum tipis, aku berkata dengan tenangnya, "Besok, boleh aku membuat sarapan?"