When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Dalam Mimpi III



Aku meringkuk di atas kasur dan tangan tak henti menggulir layar holografi di depan.


Gelap. Binar biru ini satu-satunya penerangan dalam kamar yang aku singgahi.


Sesekali aku mengecek profil dan tampilan daftar misi. Kenapa Profesor Kaidan tak memberiku tugas? Bahkan grade rendah pun tidak.


Aku mulai berpikir untuk kembali ke akademi setelah kejadian kemarin; membuatku ragu untuk kembali memasuki dunia mimpi.


Memang aku berkeinginan untuk menolong mereka, tetapi ... begitu menyiksa batin hingga aku terjaga sampai jam 4 pagi.


Aku mulai menggenggam selimut, menariknya agar menutupi wajah dan mematikan layar holografi di depan.


Aku sama sekali tidak bisa tidur. Terlebih rasa nyeri masih membekas di kepala.


Setelah kejadian itu; ilusi akan ingatan terdahulu, aku tak sadarkan diri.


Ketika bangun, lagi-lagi sudah berada dalam kamar saat sang vikaris membawaku.


Lantas aku mulai melentangkan badan. Entah mengapa tubuh terasa lelah.


Di saat rancu seperti ini membuatku berpikir, kenapa manusia menginginkan keabadian?


Padahal menjadi sosok yang tak berumur, lalu menjalani hidup tanpa kepastian seperti mengendap-endap dalam siklus hidup dan mati, membuat diri sendiri tiba pada saat terpuruk lantaran mengingat masa-masa penuh rasa hangat yang dilewatkan dalam sia-sia.


Menyedihkan memang ... diriku ini, maka tertawa; tertawalah; tertawakan diriku yang jatuh dalam kehancurannya sendiri karena hati tak bisa berhenti tenggelam dalam kenangan masa lalu.


Apa yang bisa aku lakukan selain melanjutkan kegilaan ini? Hatiku seperti meluap dalam pusaran ratapan.


Aku mulai merentangkan tangan bagai menggapai kekosongan; seperti saat aku berusaha menggenggam kebahagiaan.


Padahal, di depanku hanya ada kehampaan.


Rasanya pagi di mana tidak ada kesedihan menyelimuti diriku masih terasa jauh.


Ah, rasa rindu ini terus saja mencakar-cakar isi dadaku; menghantarkan air mata yang tak henti mengalir ketika mengingatnya.


Tidak tahu penglihatan mulai salah menangkap sekitar atau memang bayangan hitam tak henti mengikat tubuhku, membuatku hilang kemampuan untuk bergerak.


Orang-orang disekitar selalu mengucapkan kebaikan; mereka terlalu menyilaukan, seperti sang uskup yang mengatakan aku bisa terus bangun dari mimpi buruk karena kekuatan yang spesial.


Nyatanya tidak ada yang sepesial dariku, selain kekacauan yang terus mengisi kepala.


Bahkan dalam tes grade, kontrolku masuk dalam Grade C--tergolong rendah.


Atau ... mungkinkah ada sesuatu dalam diriku yang tak ingin aku terus terjebak?


Atau barangkali, memang aku bisa kembali melangkah maju menembus kegelapan?


Dan tanpa sadar, aku sudah duduk di pinggir kasur; menarikku untuk melihat kedua telapak tangan dalam-dalam.


Tak lama, muncul bayang-bayang wajah Fate hingga aku sendiri merasa terkejut dan menggunakan kedua tangan itu untuk menyeka mata yang mulai melihat yang tidak-tidak.


Apa yang aku pikirkan, tadi?


Ah. Daripada terus diam seperti ini, lebih baik mengabarkan masalah kemarin kepada sang uskup.


Saat keluar kamar, langkahku kembali disambut dengan lorong panjang penuh jendela.


Sinar merah kekuning-kuningan dari langit merambat masuk seperti pengingat tersendiri bahwa kini sudah memasuki waktu pagi, mungkin itu kenapa lorong begitu sepi. Sang uskup juga tidak ada di tempat biasa.


Uhh. Banyak menghabiskan waktu di dalam gereja terasa seperti ... menodai gedung suci ini. Aku memutuskan untuk berdoa sebentar.


Setelah tersasar ke beberapa ruang, akhirnya aku tiba pada aula utama.


Aku mulai bersiap; khidmatkan; mengepal kedua tangan dan melantunkan doa sampai selesai dan mengangkat wajah ke atas.


Sebenarnya, apa Tuhan mendengar permohonanku?


"Pagi sekali."


"Hah?!"


Aku terkejut sampai dingin merambat dan refleks menoleh ke asal suara---sang uskup!


"Sa-saya memohon ampun ...."


Aku tak berani melanjutkan kata-kata! Inikah rasanya tertangkap basah? Tetapi sang uskup justru tertawa kecil melihat gelagatku---ah, malu sekali!


Oh!


"Aaaa, soal mimpi! Saya bertemu gadis rambut biru laut persis seperti yang tertidur dalam kamar---oh, ya, Rei! Dan ia memegang liontin berwarna merah."


Sontak sang uskup terdiam mendengar penjelasanku.


Tak lama kemudian beliau berkata, "Mei mengenakan liontin merah dan Rei liontin biru, itu sepasangan. Ia sungguh masuk dalam mimpi buruknya. Selain itu apa yang kau temukan?"


Aku teringat menemukan buku kuno dan menyimpannya dalam tas pinggang. Namun, ketika kucari ... tidak ada.


Sepertinya tak bisa membawa benda dari alam mimpi ke dunia nyata.


"Saya sempat menemukan buku kuno bertuliskan Festival Persembahan. Sayang tidak sempat membaca isinya."


"Bagaimana kau bisa menemukannya ...?"


Sepertinya sang uskup mengerti buku apa yang aku maksud, beliau terlihat begitu terkejut hingga kedua matanya berbuka lebar.


"Itu adalah ritual pengorbanan zaman dahulu kala. Dikabarkan suatu desa menghilang bersamaan dengan ritual itu berlangsung. Itulah saat Mei dan Rei .... Saya akan menyelidiki masalah desa dan ritual tersebut, saya mohon kau kembali menangani masalah mimpi ini. Sekarang, mari kita mengunjungi Mei dan Rei."


Aku mengangguk dan mengikuti kemana sang uskup pergi.


Kami kembali ke kamar waktu itu dan sang vikaris--Mei--terlihat sangat sedih. Dia terisak dalam sepi saat melihat sosok sang kakak tak bisa terbangun dari tidur.


Rasa ingin membantu kembali muncul, tetapi mimpi itu ... terlalu kuat.


"Bersama selamanya, 'kan? Aku mohon, bangunlah. Jangan tinggalkan aku sendiri," gumam lirih sang vikaris dalam suara bergetar.


Melihat ini, terasa sesak di dada.


Seandainya aku kembali masuk ke sana, apa akan ada seseorang yang bersedih jika kehilanganku? Sedikit sulit untuk dibayangkan.


'Kau berbeda.'


Seketika aku teringat ucapan Fate.


'Mungkin aku tidak bisa menggantikannya, tapi aku akan menemanimu sebagai diriku sendiri.'


Aku terdiam, mencoba meresapi apa maksud ucapan Fate waktu itu.


Apa itu pertanda masih ada kesempatan untukku juga?


Mengepal erat kedua tangan, aku pun menoleh ke arah sang uskup dan berkata, "Bapak, saya akan kembali lagi ke sana."


...****************...


Tak kusangka akan banyak mengunjungimu, pohon besar Piotr.


Dikatakan saat jam 8 sampai 12 malam, ruang dimensi akan terdistorsi dan orang-orang berjiwa lemah bisa terperangkap di dalamnya.


Siang kemarin setelah meyakinkan diri, sang uskup kembali memberi jimat lainnya. Namun, ketika aku ke tempat ini dan menyalakan lentera api, tidak terjadi apa-apa.


Maka sekarang, jam 9 malam, aku datang.


Aku kembali mengeluarkan pemantik api listrik dari tas pinggang dan mulai menyalakan lentera minyak.


Bagaimanapun juga, sinar lentera sangat lembut menyinari sekitar. Aku sedikit tersenyum, tetapi tubuhku terhempas seketika hingga meringis dalam perih, juga mata mulai kehilangan penglihatannya.


Semua terjadi tiba-tiba sampai aku tak siap dan berakhir meringkuk dalam kegelapan.


Lambat laun, samar-samar terdengar suara desir ombak dan air seperti menyentuh kulitku.


Aku berusaha meraba sekitar hingga dalam satu kedipan mata ... aku sudah berada di bibir pantai bagai terhanyutkan oleh ombak.


Air laut menggapaiku, tetapi tubuhku tidak basah sama sekali. Terlebih ada hujan rintik tanpa henti.


Alam mimpi.


Meski masih terasa lemas, aku berusaha bangkit dan berjalan-jalan kecil.


Sesekali memegang kepala karena rasa sakit yang mencengkeram. Mata mulai menelaah sekitar---ah, itu Rei! Dia duduk dekat batu besar di pinggir pantai.


Segera aku berlari untuk menghampirinya.