When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Jejak Tak Terduga



Meski malam menambah beku yang kian merengkuh, aku terus menelusuri jejak hingga napas berat mulai menemani. Terkadang langkah tersendat karena jalan setapak telah hilang, kemungkinan aku sudah berada di pinggiran kota; tempat area tak terpakai ada.


Spontan aku berdecak kesal, sebab ke mana orang itu pergi sampai membawa Fate keluar dari akademi?! Akh, apa pun itu aku tak peduli dan terus saja berlari.


Dan sedikit tertolong dengan insting yang tajam, jika tidak pasti sudah tersesat lantaran tiba pada reruntuhan gedung-gedung pencakar langit. Sepertinya aku sampai pada ujung Kota Eyphis.


Ketika menginjakkan kaki depan puing-puing, mendadak aura besar mencekam seperti ditekan oleh gravitasi yang amat sangat berat, ini membuatku berhenti seketika.


Terasa tidak benar, tekanan di sekitar sangat berbeda---sebentar ... apa aku berada dalam kubah penghalang? Jangan-jangan aku masuk dalam jebakan?!


Langsung aku berbalik dan berlari---wah! Suara debam menggema dan aku berakhir mengelus kening, kaki ikut mundur beberapa langkah. Tuhan, ternyata ada tembok tak terlihat! Dan ini cukup membuat kepalaku sakit. Tampaknya aku benar-benar terjebak? Astaga, aku tak punya waktu untuk ini! Namun, tak terasa ada aura orang lain di dekat sini.


Lantas mencoba menghubungi EVE---ah, tidak bisa. Spontan meraih ponsel pada saku celana dan mengangkatnya tinggi-tinggi ... benar, sinyal terputus. Aku pun mendengkus, kembali memasukan ponsel dan beralih mengambil Heart Core. Kristal itu beresonan dan melebur menjadi serpihan cahaya merambat ke belakang punggung, membentuk dua bilah pedang di sana.


Jika sinyal sampai terputus, kemungkinan masuk wilayah naga tingkat General seperti Faerie Dragon. Harus mulai berjaga-jaga.


Lantas kembali melangkah, pelan-pelan mengikuti jejak yang masih tersisa. Aku pun menyiapkan Sabel, lalu jemari bertautan erat; mata menatap siaga ke segala penjuru; bersiap atas segala kemungkinan serangan.


Beberapa bongkahan tembok dan gedung tak utuh sudah kulewati sampai tiba pada lapangan yang rusak. Jejaknya hilang tapi aku terus berjalan sampai---tunggu, rasanya aku melihat sesuatu ... ralat, itu orang. Sebentar ... Fate? Tuhan, benar itu Fate! Dia duduk bersandar di dekat gedung dan tampaknya tidak sadarkan diri.


Bergegas aku mencoba mendekati---seketika peluru melesat yang refleks kutepis menggunakan Sabel. Langsung mata menuju pada sumber tembakan jauh di atas gedung sana, seorang pemuda menggenggam pistol yang mengarah padaku. Tunggu, seragam itu ... siswa Vaughan? Sayang, tudung jaket menutup bagian rambut dan membuat penghalang temaram pada sebagian wajahnya hingga tak kukenali.


Jadi, dia yang membuat kubah ini dan membawa kabur Fate? Tapi bagaimana bisa? Apa ada pengkhianat lagi?!


Seketika aku menyalak pun menuding dengan tangan kiri, "Siapa kau?! Kamu anggota Vaughan 'kan? Kenapa menculik Fate?!"


Dan dia yang terus terdiam membuatku frustrasi tetapi sosok si pemuda mendadak lenyap dalam kedipan mata, spontan aku menoleh ke belakang ... seketika kelopak mataku tersibak, dia sudah di sana? Cepat sekal---


Sontak tendangan terasa hingga tubuhku terhempas dan menghancurkan beberapa lapis dinding. Kupaksa kaki menjejak sempurna untuk mengerem, berakhir berdiri kukuh dengan punggung menyentuh tembok. Lantas kuludahkan darah yang merembes di mulut.


Tiba-tiba dia sudah ada di depanku lagi memberikan satu tendangan tetapi berhasil kuelak, berakhir menghasilkan ceruk cukup dalam tepat di dinding samping badanku. Mengambil kesempatan, cepat kuayunkan Sabel secara horizontal tetapi dia sudah setengah kayang, disusul dengan berkali-kali salto ke belakang sejauh beberapa meter.


Kecepatan dan kekuatannya bukan main di balik tubuh yang ramping. Kelihatannya ... aku harus melawan balik demi mendapatkan Fate? Maka aku menghela napas secara perlahan dan bersiap atas kuda-kuda; jauh lebih siaga dari sebelumnya sampai desir angin pun terasa.


Setelah di rasa cukup dekat, aku segera mengayunkan Zweihande dengan keras pada pemuda yang berada di tengah-tengah reruntuhan. Namun, lagi-lagi dia melompat ke belakang sejauh beberapa meter sehingga pedangku menghantam puing-puing bangunan. Spontan mataku menoleh ke arah dia yang masih dalam posisi jatuhannya mengacungkan moncong pistol kepadaku, bak mengumpulkan energi agar membuat peluru dengan ledakan yang cukup besar.


Dan melesatlah serangannya membuatku refleks menggenggam kuat gagang Zweihande demi menolak luncuran peluru, menghasilkan ledakan bergelombang kejut tinggi pada gedung jauh di sana akibatkan peluru energi tersebut. Ah, andai kontrolku baik mungkin bisa mengepas balik ke arahnya; aku harus melatih hal ini.


Lantas kulihat dia mendarat di atas puing-puing bangunan dengan angin menerpa lembut jaketnya tetapi tudung itu masih lekat menutupi wajah. Aku harus ... mencari tahu dia siapa, dan melaporkannya jika benar siswa Vaughan. Tidak mau kejadian Neor terulang kembali.


Lagi-lagi dua peluru dengan energi cukup besar melesat ke arahku dan seper sekian detik aku berkelit ke samping sehingga peluru tersebut membentur puing-puing reruntuhan dan menyebabkan ledakan cukup besar. Bahkan, mungkin jika ada manusia biasa mendengarnya akan terkejut kemudian lari. Beruntung ... tempat ini benar-benar jauh dari warga sipil, dan mungkin kubah ini juga membantu.


Maka tak memberi jeda, dia menghujaniku dengan peluru lantas kuganti Zweihande secepatnya dengan Sabel dan menebas dengan gerakan ke berbagai arah, vertikal; horizontal; diagonal demi menahan laju peluru.


Hingga terasa dia menunjukkan tanda tak akan berhenti, maka aku beralih lari dengan percepatan untuk berkelit pun melakukan kelokan akselerasi, bergerak menghindar; menghilang; muncul dalam hitungan detik sampai tiba di sisinya dan langsung mengayunkan Sabel. Namun, seranganku lagi-lagi gagal karena dia kembali melompat ke belakang.


Pemuda ini benar-benar licin, atau memang teramat cepat? Dan sepertinya biasa melakukan parkur? Aneh, seingatku tidak pernah ada siswa Vaughan yang bisa melakukan gerakan tersebut.


Sama seperti sebelumnya, sembari melompat dia terus menembakiku dengan peluru energi yang memiliki ledakan cukup besar. Kami pun melakukan ini berulang-ulang sampai terasa area reruntuhan yang semula sunyi layaknya tempat berhantu, berubah menjadi cukup gaduh.


Walaupun sudah bertarung lumayan lama, kami tidak memiliki luka serius sedikit pun tetapi terlihat dia mengambil napas panjang---kesempatan, langsung aku berganti senjata dan melempar Zweihande ke arahnya dengan sangat keras hingga berkecepatan tinggi.


Hal tak terduga terjadi, dia berhasil menghindarinya dengan menyampingkan tubuh ke kanan meski ujung bajunya membeset. Tapi tak memberikan celah, sontak aku berlari dan meraih Sebel seraya mengangkat tangan dengan pedang bergerak vertikal, memberikan satu titik serangan penuh. Namun, cepat dia hentikan dengan menyilangkan kedua pistol di atas kepala hingga tekanan angin berhamburan di sekitar.


Lawanku cukup terkunci tetapi sesuatu seperti mencelikkan benak dan spontan aku memutar badan lalu menendangnya. Si pemuda pun terpental lumayan jauh, tapi dalam posisi jatuhan dia langsung melakukan lompatan belakang dan mendarat dengan mulus, juga berlari ke arahku lagi---tunggu, memang ada yang ... aneh.


Seketika si pemuda sudah berjarak tiga meter di hadapan dan refleks aku menebas tapi dia berhasil mengelak. Dan dalam kedipan mata, dia telah mengokang dengan moncong pistol terancung mantap ke dadaku dan detik kemudian aku berkelit hingga perluru berakhir mencabik syal merahku.


Maka tebasan demi tebasan aku lepaskan, membuat si pemuda menghindar sembari melontarkan beberapa tembakan ke arahku. Kami pun tak henti menyerang dan menghindar, terkunci dalam pertarungan jarak dekat tapi ini ... sungguh mengingatkanku ketika melawan Fate! Tidak, orang ini ... lebih cepat!


Langsung aku melonjak jauh ke belakang dan hal tersebut sepertinya membuat si pemuda kehilangan keseimbangan. Lantas aku mengambil kesempatan dan melakukan lari akselerasi, berakhir memberikan tebasan horizontal dan dia kembali bertahan dengan dua pistolnya lagi. Maka dengan tangan yang bebas, kutarik tudung jaketnya dan terlihatlah rambut hitam yang begitu mencolok---tunggu dulu ....


"Lux?" ucapku mendadak atas rasa terkejut.


Namun, pemuda itu mendongak dan terlihatlah mata yang sebiru langit. "Sepertinya aku melakukan kesalahan."