
Aku menebas tanpa ampun. Brutal. Bahkan tak mengindahkan napas yang terengah hebat karena sesak melanda relung dada.
Kemudian kembali menebas tanpa jeda.
Tak seperti dulu, kini aku melakukan eksperimen kecil dengan menyerang menggunakan teknik yang tepat; bergerak cepat menghunus dan menebas; melaraskan ritme langkah dengan ayunan lengan, hingga denging bilah tajam menggelitik telinga.
Musuh pun terbelah, tapi aku terus menebas lagi pada mereka yang melaju secara horizontal dengan cara khas.
Tak ada gerakan sia-sia.
Dan mata jelaga akhirnya menyaksikan tubuh yang sudah terburai dan terjatuh, sampai darah memercik sedikit ke celana panjang.
Lantas aku mengembuskan napas panjang ketika tak lagi didapat hibrida sejauh mata memandang. Namun, tampak barikade kalsium mengumbar di antara riuh desir rerumputan---ah, masih belum bisa melakukan pembasmian secara rapi ... maksudku, ini sangat kacau lantaran banyak potongan tubuh tercecer di sana sini.
Terlihat terlalu bengis, tapi biarlah. Untuk apa belas kasihan pada makhluk seperti mereka?
Satu minggu berlalu setelah pendataan grade ulang, semua kembali pada aktivitas masing-masing termasuk aku yang mulai menjalankan misi di daerah Taganta, stepa--tanah datar luas dan kering ditumbuhi belukar atau padang rumput yang luas--yang menjadi perbatasan wilayah Wizrt dan Centru. Seperti biasa, aku mengamankan wilayah tapi kali ini seorang diri bertugas di sebelah utara.
Perlahan, aku menyematkan pedang pada belakang punggung---oh, kira-kira bagaimana kondisi yang lain?
Akhirnya suara panggilan dari Heart Core menggema bahwa tugas hari ini sudah selesai dengan baik, kami diminta kembali pada pos---akh, aaah! Mendadak dengung berlomba-lomba mengisi telinga sampai aku meringis, pun membungkuk-bungkuk dengan menyangga kepala demi menahan nyeri.
Tak lama suara EVE bergema kasar seperti mencoba mengambil alih gelombang suara secara paksa. "Darurat! Kode Merah! Kode Merah! Kode Merah! Perhatian, untuk seluruh anggota Departemen Eksekusi bagian pencarian orang hilang dan penyurvei Grade S yang sedang bertugas dan tidak bertugas!"
Kemudian suara EVE berganti dengan perkataan seorang pria yang serak basah nan khas---tunggu, ini Profesor Kaidan! Beliau memberi perintah untuk segera bergerak menuju wilayah Miles baik menggunakan mount, teleportasi, ataupun kendaraan militer akademi karena akhirnya mereka mendapatkan kabar dari tim yang telah kehilangan kontak selama satu minggu. Dan anggota tim tersebut adalah Lux dengan ... Fate?
Lekas kakiku melangkah cepat secara spontan.
Lux terluka parah mendekati kritis, ketika ia berhasil melepaskan dir---huh? Bagaimana?
Seketika langkah menyentak karena terasa lemas dengan dingin merengkuh kuat hingga aku mencengkeram kerah baju sendiri. Sebab dikabarkan bahwa musuh yang mereka hadapi adalah ... Tiamat.
Meskipun tubuh telah dihancurkan, jiwa berhasil kabur dan merasuki salah satu Elite bawahannya. Kemunculan Tiamat terlalu tiba-tiba hingga Fate dan Lux tidak siap, berakibat hilang kontak dan terjebak dalam ruang dimensi selama satu minggu di dunia nyata.
Pada akhirnya mereka berhasil merobek ruang dimensi; membuat gerbang portal sementara, tapi hanya sanggup bertahan untuk satu orang. Kemudian aku ... semakin kuat mencengkeram dan menarik kerah baju sampai kancing bagian atas terlepas karena sesak luar biasa hingga napas putus-putus. Sebab setelahnya Lux dikabarkan selamat dan segera meminta bantuan seperti sekarang ini, yang berarti Fate masih---astaga, ya Tuhan!
Kenapa di saat seperti ini?! Perasaan ... ah, tidak suka!
Lantas aku berlari kencang, ingin berteriak tetapi kutahan kuat-kuat hingga panas sudah wajahku. Apa lagi seluruh rasa saling berlomba-lomba dalam hati membuat punggung menjadi dingin tetapi dada membara secara bersamaan.
Tiap langkah, berat, tapi terus kupaksa seolah-olah berharap tiap pijakan mengenyahkan segala pikiran buruk yang menjerat isi kepala secara tiba-tiba. Seperti suara dalam hati mencebik bak berkata, 'inilah yang kau takutkan'.
Aku tidak suka. Tidak suka. Takut.
Ah ....
Bergegas aku membuka layar holografi Heart Core untuk mengecek titik koordinasi lokasi yang dimaksud. Ternyata Miles sangat dekat dari Taganta dan sudah diberikan titik perpindahan peta. Maka tanpa pikir panjang aku melakukan teleportasi.
Sesampainya di lokasi, terlihat banyak orang bertebaran di sisi pepohonan besar yang mengisi wilayah ini. Mereka sibuk mencari dengan berbagai macam alat serta kemampuan Vision dari Heart Core. Hanya kasak-kusuk terdengar dari banyaknya orang di sekitar; ditambah langit berawan tanpa cicit burung atau makhluk hidup seperti biasa, semakin memperkeruh keadaan dalam suasana sunyi yang mencekam.
Dari jauh, terdengar ada yang memanggil-manggil tapi aku tak peduli. Terus saja berjalan ke sana kemari dengan mata jelaga menyisir setiap arah, demi mencari Lux dan portal dimensi tempat jiwa Tiamat bersembunyi.
Daniel di sana, dengan Crist setia mengikuti di belakang tapi tetap saja ... tak peduli.
Aku pun menyentak tangan demi melepas tautan yang ada dan kembali berjalan di antara kabut nan pekat, benar-benar mengabaikan sekitar dengan satu fokus seperti orang kesetanan. Fate, di mana Fate? Kepala penuh akan hal itu.
Selang beberapa menit ada yang berteriak, memberi kabar bahwa Lux telah ditemukan dan kami semua berlari menyusulnya.
Kondisi si pemuda ... kacau, dia berjalan lambat dan sedikit terhuyung-huyung dengan peluh menyimbah tubuh. Mulai banyak orang-orang yang menangani Lux dan pemuda itu langsung mengembuskan napas lega, tapi---
"Fate di mana?" tanya seseorang dalam gelagat panik.
Ketika Lux hendak membuka mulut, saat itu juga portal dimensi terbuka secara tiba-tiba di belakang membuat seluruh anggota bersiap atas posisi siaga, termasuk aku yang mengeluarkan Sabel dalam kuda-kuda bukaan.
Namun, yang keluar dari portal adalah sosok semampai dari gadis yang sudah dipenuhi luka; beberapa sisi baju terkoyak; darah segar melumuri dia yang berjalan tertatih-tatih. Kelopak pualam pun sayup, hanya memamerkan separuh dari bentuk utuh lensa berwarna ambar. Pelan namun pasti, Fate mengukir senyuman lirih.
Huh?
Seketika ada bayangan hitam bergerak cepat menghampiri Fate---ralat, itu Lucian. Beliau hendak menangkap tubuh lemas tersebut tetapi ... telat.
Debuman menyapa pendengaran. Aku ambruk dengan berlutut, laksana kaki tak kuat menyanggah ... bersamaan dengan tubuh Fate.
Huh?
Kenapa dia berbaring di sana? Kenapa darah mulai merembes pada seragam sampai menodai tanah di sekitarnya? Huh, kenapa? Kenapa ... badanku ikut menjadi lemas?
Lalu tampak bola kristal perak transparan bergelinding dari tangan yang sudah terkapar di atas rumput gersang, disusul suara retak terdengar saat pendar darinya menghilang.
Ini bercanda 'kan? Gelagatku tak percaya dengan apa yang dilihat. Sebab Heart Core seperti inti dari pengguna dragonic, benda itu menggambarkan kondisi pemiliknya. Jika sampai kehilangan pendar maka ... maka ... sontak napas memburu cepat; tak teratur; sakit, seperti detak jantungku kini.
Sontak seluruh sekitar; semuanya, tampak gaduh tetapi berjalan pelan dalam mata yang kian memburam. Suara tenggelam. Segalanya, kehilangan arti. Segenap keadaan; tak terlewat; berubah menjadi abu. Pedangku lepas dari genggaman dan napas makin terengah-engah. Orang-orang sibuk melewati aku yang tak dapat bergerak bak bukti sebuah eksistensi ditolak, dan dalam kerumunan ... hampa. Kosong. Penglihatan berbayang; berkaca.
Ini bercandakan?
Tenggorokan pun mengering dan aku mencoba bangkit, tapi itu hanya sebuah alasan karena hati yang penuh kedustaan ini sudah hancur. Kuberakhir beku. Bukankah seperti dulu? Hanya bisa menyaksikan hal yang aku pedulikan; paling penting, menghilang. Seandainya kedua tangan ini bisa meraihmu yang mulai hancur, tapi nyatanya ... aku hanya berjalan pada roda takdir yang sama.
Ini sia-sia.
Sia-sia. Menyakitkan; terlalu menyakitkan sampai bibirku bergetar kecil. Sia-sia. Tidak mau. Tidak terima. Sia-sia. Dunia baru; kehidupan normal; dipenuhi kebahagiaan; tak lagi sendiri, apakah itu semua hanya sebuah ideal? Pada tingkatan ini aku---
Mendadak ada yang menutup kedua mataku dengan satu tangan. Begitu kuat hingga aku dipaksa untuk mendongak dan seketika ... dalam sunyi, aku menangis; berlinang air mata yang mulai membanjiri.
Menyesakkan.
Pusing.
Begitu pedih seperti isi kepala terbakar hingga tak dapat berpikir, sama sekali. Karena tetesan lemah ini mengalir di pipi, sesuatu seperti akan meluap. Pecah begitu saja dalam relung dada.
Dasar drama yang menyedihkan.