
Aku mendongak, kembali menatap pada wajah pualam yang telah terlukiskan semburat merah jambu pada pipi---Tuhan, sungguh dirinya tampak seperti anomali dunia nan memabukkan; bagai entitas surgawi secara sukarela menjejakkan kaki di tengah-tengah manusia. Suci. Putih. Tulus. Dan aku yang fana ini kembali terlena melihat senyuman nan cemerlangnya.
"Sebenarnya, aku mau mengatakannya duluan saat di telepon kemarin. Tapi mendadak ingatanku kembali seluruhnya. Jadi pembicaraan kita terpotong." Lalu mata peraknya melihatku dengan sedikit ragu. "Tapi Red ... aku ingin seri---"
"Iya aku serius!"
Cepat aku memotong ucapannya karena mengerti apa yang dimaksud meski suaraku terdengar kacau, lalu bergegas mengecek dalam tas pinggang. Kalau tidak salah tak pernah dikeluarkan ... ah, ini dia! Cincin yang dulu sempat kubeli ketika menyiapkan hadiah jam tangan untuk Profesor Kaidan.
Langsung aku berdeham beberapa kali untuk menghilangkan serak selepas berteriak. Kemudian merendahkan badan, berlutut, menyodorkan kedua tangan, membuka penutup wadah cincin, dan berkata mantap, "Maukah kamu menikah denganku?"
Seketika hening untuk beberapa saat---tunggu! Ini aku sudah melakukannya dengan benar? Posisinya; caranya; ucapannya, benarkan?! Tuhan, seperti inikan cara meminta seseorang untuk menjadi pasangan hidup? Kenapa aku berakhir gugup?! Terlebih ekspresi Fate begitu rumit sampai aku tidak mengerti maksudnya, marahkah? Senang? Atau sedih? A-aku mengerti cara lamar melamar dari acara di televisi ketika anak-anak club menyaksikannya.
Jangan bilang cara ini salah dan hanya sandiwara!
Akh, mati sudah---
"Aku ... hanya perlu, mengenakannya?"
Eh?
Astaga, iya, benar! Berdiri Red, berdiri! Dengan hati-hati aku mengambil cincin tersebut dan melempar wadahnya entah ke mana, lalu memakaikannya pada jari manis Fate---huh? Ukurannya sesuai?
Sontak teriakan orang-orang dan tepuk tangan terdengar memekakkan---sebentar! Heee?! Sejak kapan ... ah, aku mulai sadar dengan sekitar! Astaga, lupa sedang berdiri di depan pintu masuk Gedung Utama!
Lantas banyak kedip-kedip cahaya kamera, heh! Sejak kapan kelompok hobi fotografi dan reportase akademi ada di sini?! Refleks kepala menoleh ke sisi---haaa, Head Master Lucian berdiri di sana dengan menyilangkan tangan depan dada. Demi Tuhan dan seluruh kuasaNya atas alam semesta! Seketika tengkukku sangat dingin hingga menjalar ke seluruh tubuh.
Tunggu, di samping Lucian juga ada Lux! Eh, warna matanya biru? Dan ... tersenyum lembut, bahkan memberikan anggukan seakan mengakuiku. Jadi orang itu menyetujui kam---heh! Suara sorak-sorai yang mendekat membuatku teringat kembali di mana aku berada. Aaah, skandal. Aku membuat skandal! Tanpa basa-basi langsung meraih dan menggendong Fate di depan demi berlari menerobos mereka.
Sungguh rasanya hari ini dipenuhi dengan lari.
Keajaiban apa membuatku mampu melakukan itu semua?! Akh, tak pikir! Mungkin memang tubuh juga staminaku seluar biasa; semenakjubkan itu, dan aku sangat tertolong karena hal tersebut.
Mendadak suara kekehan yang samar menggelitik telinga, memancingku untuk menunduk dan melihat ke arah Fate. Secara ajaib pula, rasa bergemuruh dalam dada hilang seketika. Mungkin, karena lagi-lagi mata menangkap tawa manis yang lolos dari bibir merah mudanya. Teramat manis sampai aku terpancing untuk ikut tersenyum.
Dengan hati-hati dan perlahan aku beralih untuk mengangkat tubuh ramping Fate tinggi-tinggi, dan jelaslah wajah cemerlangnya di bawah sorot mentari yang lolos dari sela-sela rindang pepohonan. Kemudian mulai mendekatkannya padaku dan memeluk penuh rasa hangat, semakin membuat tawa renyah itu mengudara. Ditambah dia ikut merangkulkan kedua tangan ke leherku, ibarat sudi dan menerima diri ini sepenuh hati.
Sungguh, tidak ada kata yang bisa diberikan untuk menggambarkan kondisiku sekarang selain ... bahagia.
Menikmati setiap detik yang terjadi dalam momen ini, membuatku berpikir bahwa gadis yang ada dalam rangkulan ialah sebuah jelmaan dari pembelajaran baru dalam kehidupan. Dengan teriakan cinta yang diserukan, ingin sekali kubuat jaminan ketahanan hubungan kami lantaran ingin dia memercayaiku akan selalu ada untuk menjaga; ada untuk bersama.
Kemudian merangkai berbagai impian secara pelan-pelan; bertahap, untuk kehidupan kami kelak yang mana juga mengerti, ini benar-benar sebuah awalan baru; lembar kehidupan baru bagi masing-masing kami.
Dan kami akan bersama dalam kebahagiaan, sampai nanti aku mengerti ... telah tiba pada penghujung waktu, saat yang mana asa dalam jiwa telah habis untuk seinci ragaku.
Pelan-pelan, aku pun menurunkan Fate dengan sempurna tetapi wajah itu masih berseri nan berkilauan. Tuhan, aku sangat senang melihat ekspresi tersebut pada muka yang biasa datar, membuat tanganku secara spontan naik dan memegang salah satu pipinya. Dan dirasalah halus dari kulit pualam karena aku mengelusnya secara hati-hati dengan ibu jari. Begitu lembut, terlebih dia langsung bersandar ke telapak tangan---aaaa, manis sekali!
Sontak dirasa akulah manusia paling beruntung di seluruh bumi karena memiliki gadis terindah yang pernah ada, begitu ayu dan memesona; putih untuk hidupku yang sedari dulu dipenuhi jelaga.
Sungguh, kebahagiaan terasa sampai pada puncak kepala ketika tangan rampingnya ikut naik dan menyentuh jemariku. Tangan yang rapuh tetapi menyimpan banyak pengalaman dan cerita; tangan yang lentik tetapi penuh kehangatan dan memori; tangan yang ingin terus kugenggam erat agar mampu menuntunnya menuju jalan yang semestinya di mana rembulan berada, pada tempat nan tinggi dan diselimuti cahaya elok.
Rasanya, ingin menumpahkan seluruh ragaku; seluruh hatiku pada tangan ini, maka aku mulai menautkan jemari kami dan dia juga semakin menggenggamnya. Hal tersebut membuatku kembali sesak, terjerat oleh cinta yang membanjiri sampai pikiran tak henti menginginkan gadis di depan hidup dengan binarnya yang terang; keseluruhan, dalam semestaku.
Mungkin aku terlalu berlebihan mencintainya, tapi siapa peduli? Siapa juga yang mampu membuatku sebahagia ini?
Tanpa pikir panjang aku menyerbu untuk memeluk---hoek! Seketika ada yang menarik belakang kerah bajuku, membuat kepala refleks menoleh ... eh, Profesor Kaidan? Wajahnya amat garang dan tanpa basa-basi aku diseret menjauh---ah! Tunggu dulu, Fate masih di sana! Sebentar, Fateee! Lantas aku merentang-rentangkan tangan ke arah si gadis tetapi dia melambaikan tangan melihatku berlalu begitu saja, hanya memberikan ekspresi teduh dan senyuman kecil.
Dan aku berakhir pasrah karena sudah tidak punya lagi sisa kekuatan untuk melawan.
Ternyata, aku dibawa kembali pada gedung Departemen Eksekusi dan dipaksa duduk ke salah satu kursi di lantai dasar. Aku sedikit terkejut dengan kedatangan beliau yang tiba-tiba karena setahuku, sang ketua Departemen Eksekusi sedang pergi ke Eother sementara waktu untuk merundingkan masalah perpindahan---ah, tak peduli lagi! Karena, astaga, tadi aku menyentuh pipi Fate! Tidak kusangka akhirnya bisa dekat dengannya setelah sekian lama menahan diri.
Tadi terasa juga tubuh Fate memang sangat lembut dan ramping, apa ia selalu menjaga diri? Mungkin semua wanita begitu halus bagai untaian sutra sebab Aion pun begitu. Biar kupuja Engkau setinggi-tingginya, wahai Tuhan, aku ucapkan itu dalam diam karena merasa sangat senang telah diberikan dua sosok perempuan yang luar biasa dalam hidup.
Tapi untuk masalah Fate, mungkin juga keterlaluan? Maksudku, semenjak tahu bahwa Sen sebenarnya telah mati langsung saja menyatakan cinta. Tampak ... kurang sopan?
Namun, bukan masalah lagikan?
Aku tak henti tersenyum melihat tangan sendiri meski kini mata sungguh berat, begitu pula lelah luar biasa melanda punggung pun kaki yang mati rasa. Tapi hatiku tenang; damai dan tenteram, memancing untuk tidur sehari---
"... Kamu dengar, Red Sirius?!"
"Hah!"
Tuhan, aku terkejut mengetahui Profesor Kaidan berteriak sangat kencang tepat di depan wajah; sampai aku kembali mencengkeram baju karena hari ini jantung terlalu dipaksa untuk berpacu. Dada terasa sakit dan aku menunduk. Sangat ... lelah, dan seketika badan sungguh ringan sampai---eh? Profesor Kaidan menahanku agar tidak terjatuh dari kursi.
Tak lama terdengar beliau mengembuskan napas yang panjang.
Kemudian aku dibantu untuk berdiri dan tidak tahu beliau berkata apa. Indra pendengaran sudah kepalang mendam, mata pun tak mampu terbuka sempurna sampai hanya bisa mengerjap beberapa kali. Tetapi aku berasa dirangkul oleh beliau dengan hati-hati dan kami berjalan ... sepertinya menaiki tangga?
Ah, mataku kini tertutup sempurna meski kesadaran masih utuh ... mungkin juga tidak. Seketika itu pula, lengan yang besar menepuk-nepuk rambutku, memancing untuk mendampilkan kepala pada pundak beliau dan mengusap-usapkan pipi beberapa kali demi mencari posisi nyaman demi melepas beban. Selang beberapa menit aku dibawa duduk pada sesuatu yang empuk---tunggu, kasur?
Langsung aku membanting badan dan sedikit merangkak menghampiri bantal.
Setelahnya, tidak tahu apa yang terjadi karena terlalu ... lelah.
Selamat tidur.