When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Bagaimana Kabarmu?



"Sejak kamu tinggal di sini, dapur gedung Departemen Eksekusi jadi lebih hidup, bahkan kulkas juga penuh dengan bahan masakan."


Langsung aku menghentikan sarapan dan menoleh pada suara berat nan khas di dekat pintu---benar, Profesor Kaidan!


"Bapak!" sapaku dengan wajah yang semringah membuat beliau tertawa kecil, "mau aku buatkan sarapan juga?"


"Tidak perlu, Bapak sudah sarapan di mansion bersama Fate dan Lucian. Bapak mencarimu karena mau memberikan ini." Dan beliau melempar sesuatu yang gesit kutangkap---oh, ponselku. "Kamu selalu meninggalkannya di kamar lantai dua tempat tidurmu. Sekali-kali kamu harus mengecek media sosial."


Beliau mulai mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Haah, Bapak tidak bisa terus menyembunyikan kabar dari teman-temanmu, terutama dari Fate. Waktu sarapan tadi, Bapak sekilas merasa seperti diinterogasi. Benar-benar anak satu itu, dia hanya menanyakan hal yang terdengar simpel tetapi berhasil mengetahui lokasi bahkan kondisimu."


He?! Benar juga! Sudah tanggal berapa ... lekas aku mengecek ponsel---Tuhan, pertengahan bulan, lima belas Maret! Hampir dua minggu aku tidak memberi mereka kabar sampai-sampai banyak notifikasi membanjiri ponsel.


Aaah, aku mulai mengerang kecil. Lantaran ingin menangkan diri dan menyendiri, aku lupa mengecek ponsel. Jangankan mengecek, kubawa ketika misi pun tidak---waaah!!


Saat ingin membuka daftar pesan, mendadak ponselku bergetar kuat ... Daniel, ia meneleponku! Astaga, aku sampai terkejut hingga jantung lepas dari dada---baik, itu berlebihan.


Namun, aku tak henti mengerang. Angkat. Tidak. Angkat. Tidak. Tuhan, kenapa justru terbayang wajah murka Daniel yang melotot dengan mata hijau kucingnya?


Eh? Akhirnya panggilan berhenti. Dan tak lama Daniel mengirimku pesan yang langsung kubuka ... ini, ia ingin mengutukku atau bagaimana? Astaga, isi pesannya sederhana memang, hanya kata pulang tetapi sangat banyak sampai memenuhi layar ponsel dan sepenuhnya menggunakan huruf kapital.


Aaah, Daniel memang marah padaku.


Lantas aku berganti untuk memeriksa pesan dari Cecil, isinya hanya stiker digital tentang kucing oranye yang ganas---he? Kenapa justru terbayang gelagat Daniel? Seperti ia melempar meja. Mencakar tembok. Mencabik ... tikus? Dan stiker lainnya.


Aku mulai mengesah panjang dan menggaruk kepala yang tak gatal. Habis sudah ... diriku ini. Baru saja membaca pesan dari mereka berdua, sudah membuat bulu tengkuk berdiri bersamaan dingin yang mengelus punggung.


Entah mengapa hal tersebut justru membuatku semakin ragu untuk pulang? Tapi, bagaimana dengan Crist---waah!!


Tuhan, aku hampir melonjak dari bangku! Daniel lagi-lagi meneleponku, astaga! Lama kelamaan ini membuatku merasa tak nyaman; memancingku mulai menggenggam ponsel dengan dua tangan dan sedikit menunduk, juga memejamkan mata erat-erat. Aku mengerti mereka khawatir, salahku juga tidak langsung memberikan kabar, tapi ... berlebihan.


Namun, setelah panggilan dari si pirang selesai dan aku membuka pesan dari Crist ... rasa bergejolak dalam dada mereda lantaran membaca tulisan nan hangat. Pesan itu diawali atas kalimat, "Hati-hati di sana, Red."


Lalu diikuti dengan nasihat untuk tidak memaksakan diri; menjaga diri; tidak gegabah; hati-hati terhadap sekitar, dan jangan lupa untuk makan. Serta pertanyaan lain tentang mengapa aku tak memberikan kabar dan keberadaanku sulit dilacak. Bahasa dan kalimat yang terlihat amat tenang lagi lembut, membuat gumpalan tirta tertahan di pelupuk.


Crist ... mendadak aku merasa merindukannya.


Lantas kuputuskan membalas pesan dari si pemuda dan menjelaskan bahwa aku baik-baik saja, serta menyebutkan mulai sibuk dengan misi---oh, melihat betapa cemasnya mereka, sekadar berkata seperti itu mungkin tidak cukup.


Lekas aku mengambil surat keterangan rumah sakit dari dalam tas pinggan. Kemudian membuka dan membeberkan di atas meja demi mengambil foto agar tulisan di dalamnya terbaca jelas, berakhir mengirimkan foto tersebut pada Crist.


Pula menjelaskan bahwa aku hanya ingin menenangkan hati yang berkecamuk, karena banyak kejadian menimpa membuatku sedikit terguncang juga tak mau memaksakan diri dan berakhir bertindak gegabah. Itu mengapa menginginkan waktu untuk sendiri.


Setelah selesai, aku pun mengembuskan napas panjang dan bersandar pada bangku.


Selang beberapa menit, ada pesan balasan dari Crist yang diawali dengan emoji tersenyum dan disusul tulisan, "Aku mengerti, kami akan menantimu pulang. Oh, kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa segera menghubungiku. Aku akan berusaha sebaik mungkin. Baik-baik di sana, Red."


"Aaah. Criiiist," rintihku kecil dengan mendekatkan layar ponsel pada kening yang sudah menunduk. Tuhan, pemuda ini memang baik sekali---tunggu, ada pesan lain dari Daniel.


"Maaf, Red ... aku cuma khawatir, oke? Memang aku enggak dekat sama kamu kayak Crist, tapi aku juga tetap temanmu. Hubungi aku kalau kamu sudah mendingan."


Sontak aku terkekeh melihat ketikan Daniel. Laki-laki satu ini juga sama baiknya, hanya saja tingkah Daniel selalu berlebihan meski bertujuan baik---ah, mengingat bagaimana sifat dan masa lalunya ... aku mengerti. Mungkin bagian dari temperamentalnya?


Akhirnya, atensi tertuju pada pesan yang sedari tadi kuhindari--Fate. Lantas perlahan menarik napas dan membuka pesan tersebut yang membuatku mengedipkan mata berkali-kali, sebab isinya ... permintaan maaf? He? Untuk apa Fate meminta maaf?


Tunggu ... ia meminta maaf karena sudah mengubah tubuh dan jiwaku. Meski melakukannya secara tidak sengaja, Fate tetap minta maaf. Mengetahui hal tersebut, spontan aku tertawa kecil.


Tatapan iris merah berakhir sayu mengingat masa-masa yang kuhabiskan bersama Fate karena bagaimanapun, berada di sisinya sungguh membuat tenang; mengembalikan senyum padahal telah lama hilang; mengubah yang gelap menjadi terang benderang.


Namun, memang sampai di sana batasku 'kan?


Lantas kuperiksa kapan Fate mengirimkan pesan---Tuhan, pesan ini sudah dikirimkan sejak ... pertemuan dengan Sen, membuatku mengusap-usap wajah karena merasa bersalah.


Sebab, kenapa gadis itu menghubungiku ketika sudah bersama orang terkasihnya? Aku tahu; aku senang Fate masih mengkhawatirkanku, tapi hal tersebut justru memancing secercah harapan bahwa ia mau ... memberikan bagian kecil hatinya, padaku.


Langsung aku tersenyum masam lantaran sejak kapan menjadi lelaki lancang yang ingin merebut pujaan hati seseorang? Tampak ruang hati yang telah lama usang membuat kepala menjadi kacau sampai menginginkan ia untuk menghapus segala rasa bimbang, padahal hadirnya untukku sudah benar-benar hilang.


Aku memang belum siap bertemu dengannya.


Mendadak ponselku bergetar---oh, ada pesan baru, dari ... Fate.


"Aku sudah mendengar dari Crist. Aku lega mengetahui kau baik-baik saja. Aku merasa setelah semua yang terjadi, kau memang menginginkan waktu untuk sendiri. Ambilah waktu menyendiri selama yang kau inginkan, gunakan waktu itu untuk istirahat dan menenangkan jiwa dan pikiranmu. Kami semua merindukanmu.


Dan Red, jika kau sudah siap dan tenang ... bisakah kita berbicara? Ada yang ingin aku bicarakan.


Jaga dirimu baik-baik, Red.


Salam, Fate Lancelot R."


Kali ini, aku sungguh tertawa.


Dari pesan tersebut rasanya aku dibuat teramat sinting sampai membayangkan ia berkata demikian karena ingin memberikan kasihnya untukku. Aku berakhir mengalihkan pikiran pada hal lain, sejak kapan nama si gadis berubah menjadi Fate Lancelot R.? Bukankah nama lengkapnya Fate A. V. Lancelot?


Tiba-tiba terdengar suara kekehan yang samar tepat di belakang, memancingku menoleh dan mendongak---eh, Profesor Kaidan masih di sini! Astaga, terlalu sibuk sendiri sampai lupa keberadaan beliau!


"Aaah! Maaf Bapak aku lupa---"


"Mereka mengkhawatirkanmu 'kan?" Lantas senyum teduh kembali terlukiskan di wajah sawo matang.


Langsung aku tertegun, mulai menunduk dan memandangi layar ponsel dengan tatapan lemah. "Iya, aku senang mengetahuinya. Juga merasa lebih baik membaca pesan-pesan mereka, walau ... ada yang berlebihan."


"Hahaha, ya sudah habiskan sarapanmu. Sehabis ini Bapak memerlukanmu untuk ikut rapat pada ruang utama di lantai satu."


Eh, kenapa? Seketika aku kembali mendongak dan menyaksikan ekspresi di wajah beliau berubah serius.


"Kamu masih ingatkan, daerah Nifle?"


Hal tersebut membuat kelopak mataku menggulung, dan mengangguk kemudian.


"Dulu Vaughan menyelidiki tentang Nifle setelah ada gelombang dragonic besar, jauh sebelum kedatanganmu. Kemudian kami mengirim tim penyidik, tapi keberadaan mereka berakhir tidak ditemukan. Kemungkinan gelombang dragonic itu merupakan Ritual Pengorbanan yang gagal untuk menyegel jiwa Tiamat secara turun temurun, seperti yang dijelaskan dalam laporanmu."


Beliau mulai menyilangkan tangan depan dada.


"Karena tepat setelah gelombang yang besar, Nifle dipenuhi dengan kabut yang tebal sampai mengganggu sinyal komunikasi. Kami pun mengesampingkan penyelidikan tersebut dan tim kami masih dinyatakan hilang. Setidaknya setelah perang besar dengan Tiamat, kabut terangkat dan kami bisa memulai penyelidikan, termasuk mencari jejak tim yang hilang. Kamu mengetahui tentang Tiamat; Ritual Pengorbanan; Nifle, lebih dalam daripada kami. Kami perlu informasi lanjutan darimu, termasuk membantu dalam penyelidikan."


Jika diingat lagi, benar Nifle dilindungi dengan kabut yang lumayan tebal seperti awan kelam. Terlebih usai melawan Tiamat kami dibuat kesulitan sampai tidak bisa melakukan pencarian lebih lanjut, sebab Vaughan kehilangan banyak anggota.


Mungkin, sekarang sudah waktunya.


Maka aku mengangguk mantap atas mata tertutup khidmat pada perintah. "Dimengerti."