When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Tak Terduga



Fate tampak berbeda.


Jauh berbeda.


Kini matanya bersinar. Memandangnya saja membuatku merasa seperti masuk ke dalam langit yang membentang tanpa mendung.


Auranya sangat agung, membuatku merasa terkucilkan sebab begitu suci. Refleks aku memberikan jarak.


Dia sudah duduk tegap sekarang, samar-samar kulihat aura sayap di punggungnya. Terlebih bulu-bulu putih melayang dan berkilau karena cahaya mentari. Sangat berbeda dengan diriku ... kelam, tetapi aku tak merasakan suatu ancaman.


"Siapa?" tanyaku lagi untuk memastikan sembari meletakkan boneka kelinci di antara kami; berjaga-jaga kalau dia mendekat atau menyentuhku.


Aku mendengar embusan napas tertahan. Kemudian dia berdiri dari tempat duduk, berjalan sedikit, dan berhenti tepat di depanku.


Mata yang menyala menatapku dalam-dalam dan suara seakan dua orang berbicara terdengar.


"Metatron."


Sontak aku terkejut.


Seketika ingatan tentang para malaikat dan iblis muncul di dalam kepala.


Aku mencengkeram erat rambut menggunakan kedua tangan. Mendadak terasa sesak dan aku memutuskan untuk sedikit membungkuk.


Mataku perlahan memburam, lantaran berusaha keras memilah-milah ingatan tentang makhluk immortal seperti mereka.


Selang beberapa menit aku menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang.


Dunia tempat asalku sangat kental dengan keberadaan makhluk seperti itu. Dan Metatron ... beliau adalah malaikat paling tinggi; paling kuat, bersandangan langsung dengan Tuhan sebagai juru tulis.


Aku tak pernah tahu sosok Malaikat Agung itu seperti apa, terlebih Metatron.


Namun, auranya ... aku sangat bisa merasakan memang ini adalah Heavenly Being. Fenomena motorik yang aku lihat sendiri, tak bohong.


Kilauan sayap itu; tatapannya; suara masih suara Fate, tetapi terdengar suara lain yang jauh lebih berat.


Jadi, apa yang beliau lakukan di sini?


Sebentar.


Kenapa beliau masuk ke tubuh Fate? Lalu jauh-jauh ke dunia manusia dan ada di depanku? Seriuskah? Banyak sekali pertanyaan terbesit---oh ....


"Tuan Meta---"


"Metatron. Tanpa Tuan."


Beliau langsung memotong ucapanku.


Tetapi aku masih merasa segan. "Baiklah, Lord Metatron."


Seketika beliau terdiam dan menatapku datar.


Astaga, aku tidak salah bicara 'kan? Takut lancang atau tidak sopan. Terasa sedikit panik, a-aku menautkan jemari dengan gugup---ah, tidak. Harus ada yang aku tanyakan daripada terjebak dalam situasi canggung ini.


Aku menggeleng dan bertanya, "Apakah engkau datang untuk menghukum saya?"


Karena sangat yakin akan hal itu.


Makhluk pendosa. Aku tahu perbuatanku salah, tetapi tak bisa menghentikan hal itu untuk terjadi.


Suatu penyesalan berangsur-angsur pun terjadi, terlebih kehilangan orang yang begitu berarti dengan tanganku sendiri.


Hampir terasa ... menjadi gila.


Aku pun menyerah terhadap keadaan dan di saat itu kegelapan mengulurkan tangannya kepadaku. Aku meraihnya.


Dan itu suatu tindakan tercela.


Tidak tahu lagi sebenarnya seberapa besar dosa-dosa yang telah aku perbuat dan anehnya, aku selalu terhindar dari hukuman.


Mungkin, sekarang sudah saatnya ....


"Aku hanya malaikatNya, apa hakku untuk menghukum tanpa perintah dariNya?" tegas Metatron yang meminjam tubuh Fate.


"Eh?! Tapi saya sudah melakukan dosa."


Beliau terdiam dan lagi-lagi menatapku datar. Entah mengapa rasanya semakin gugup, aku pun menunduk dan memejam erat kedua mata.


Meski tubuhku kekal abadi, tetapi di hadapan Yang Maha Kuasa tentu menghabisiku tak akan sulit. Apa yang terjadi selanjutnya, aku harus siap.


"Apa kau menyesalinya?"


Kalimat itu sukses meraih kekuatanku, membuat pundakku melemas dengan tatapan mata yang berubah lesu.


Menyesal? Tentu aku menyesalinya seumur hidup.


Bahkan di setiap napas, aku selalu merasakan titik kebencian terhadap diri sendiri.


Aku berakhir menutup wajah menggunakan satu tangan.


"Sangat ... menyesal."


"Tuhan Maha Pengampun. Keberadaanmu di sini, adalah kesempatanmu yang ke dua."


Sontak aku membalas dengan cepat, "Tidak mungkin! Dosa yang saya lakukan sangat besar, tak mungkin dimaaf---"


Seulur tangan meraih daguku dan memaksa wajah untuk mendongak menatapnya.


Mata biru langit yang indah menatapku dalam-dalam. Sayap transparan yang mungkin hanya bisa dilihat olehku melebar di punggungnya bersamaan dengan bulu-bulu serupa kaca yang bertebaran.


Aku membelalak menyaksikan fenomena tersebut. Itu menambah kesan suci lebih dalam lagi kepada sosok didepanku.


"Tuhan Maha Belas Kasih dan Pemaaf. Siapa kau mengatakan Tuhan tidak akan memaafkanmu?"


Bisa kurasakan intonasi suaranya menekan, menandakan apa yang beliau katakan itu sungguh-sungguh.


Ta-tapi aku masih belum paham. Tidak mungkin aku diloloskan sebegitu mudah.


"Halfling, apakah kau berpikir kau adalah Tuhan? Siapa dirimu berani menghakimi diri sendiri atas akhirmu? Siapa kau membuat keputusan seperti itu?!"


Seketika aku merasa takut.


Amat takut.


Aku tahu itu tubuh Fate dan vokalnya masih suara yang biasa aku kenali. Namun, mendengar itu tubuhku bergetar dan refleks menunduk dalam-dalam. Tangannya yang memegang daguku terlepas begitu saja.


Astaga, bodohnya diriku.


Aku tak mengira akan memancing murka dari sang kaki tangan Tuhan.


Aku membungkam mulut rapat-rapat dan beringsut ke belakang.


Namun, lagi-lagi mendengar embusan napas tertahan.


Hingga beberapa menit berlalu, Metatron yang kini di dalam tubuh Fate masih tak mengatakan apa pun.


Akhirnya aku memberanikan diri melihat---eh? Beliau tidak marah? Kedua mata biru langit itu masih menatapku datar, sama sekali tidak menunjukkan emosi.


Kalau begitu, kenapa Lord Metatron ada di sini?


"Eeem, ke-kenapa Lord Metatron sekarang ada di dalam tubuh Fate? Dan bisikan itu ... berarti engkau?"


Beliau menaikkan salah satu alisnya. "Benar. Jangan kau berani menyamakanku dengan 'itu' lagi."


Matanya tertutup sesaat sebelum kembali menatapku lurus seumpama menusuk ke jantung.


"Kenapa aku ada dalam tubuh anak ini kau tanya? Pertanyaan itu akan terjawab, setelah anak ini ingat semua memorinya."


Beliau kemudian berjalan dan duduk lagi ke tempat semula.


Perlahan beliau mengangkat kedua tangannya. Mataku melebar melihat tangan beliau---uh, tangan ... Fate? Bergetar.


Ekspresi di wajahnya untuk pertama kali berubah, seakan kesal akan sesuatu.


"Masih belum cukup. Waktuku sekarang habis. Selama tubuh Fate belum menguat; selama ingatannya masih ada yang hilang, aku tidak akan bisa muncul untuk waktu yang lama."


Mendadak beliau menatap ke arahku. Seketika itu juga tubuhnya menegang. "Jaga anak ini."


Dan perlahan ... matanya menutup. "Tangkap."


Apa maksud---eeek! Mendadak Fate ambruk ke pangkuanku. Aku langsung duduk tegap, tak mau membangunkannya.


Ah, boneka kelincinya terjepit tubuh Fate. Aku takut kalau begini dia menjadi tak nyaman untuk tidur.


Pelan-pelan aku mencoba ambil ....


"Um ...."


Hah! Gesit aku menarik lagi tanganku dan menyembunyikkannya ke belakang punggung.


Tuhan, aku justru membangunkannya!


Dia duduk dengan tangan kanan sebagai tumpuan; mengusap-usap lugu matanya dengan tangan kiri; menguap kecil, lucu---berhenti! Jangan berimajinasi aneh-aneh.


Fate sudah kembali normal sekarang. Mata kembali berwarna perak kebiruan bagai rembulan. Aura sayap pun tak ada.


"Maaf, aku ketiduran. Ah, sudah sore ...," gumam Fate diiringi dengan mengecek dokumen miliknya.


Dia mengembuskan napas lega, sepertinya karena tugas patroli sudah selesai.


Jika aku perhatikan dari jalan yang sudah kita lalui, berarti Fate mendapatkan tugas jaga di wilayah timur laut waktu pagi hari.


Tentu tak semua tempat ditangani oleh satu Departemen Disiplin, akademi ini luas dan mereka mempunyai jadwal tugas masing-masing.


Memasuki waktu sore berarti sudah saatnya berganti giliran.


"Emm, mau istirahat? Sepertinya kamu kelelahan sampai tiba-tiba tertidur."


Fate menyentuh kepalanya dan berkata, "Sepertinya ... oh, tadi kau cerita mendengar bisikan? Apa perlu kita melaporkannya kepada profesor?"


"Aaaah, tidak, tak perlu. Saya sudah tidak pernah mendengarnya lagi." Dan aku berakhir tertawa canggung.


Fate mengembuskan napas lega. "Baguslah kalau begitu. Aku sedikit khawatir."


Mendadak aku merasa tersipu. Fate ... khawatir kepadaku?


Ah, jangan terlalu percaya diri Red! Tentu dia khawatir seperti halnya Profesor Kaidan.


Itu membuatku teringat sesuatu.


Dalam perjalanan, aku bertanya, "Fate. Malam itu ... eem."


Astaga, kenapa terasa malu!


"Waktu musim dingin ketika---aaaa! Yang jelas waktu malam kamu menemani saya, siapa yang mengantar saya ke kamar?"


Fate sedikit memiringkan kepala. Apa karena ucapanku terbata-bata sehingga dia menjadi tidak paham?


Namun, a-aku sungguh merasa malu mengingatnya. Pertama kali menangis sejadi-jadinya di depan orang lain ....


"Oh, waktu itu Pak Kaidan menelefonku. Katanya ia sudah menghubungi Club Dion, menanyakan kau sudah pulang apa belum. Mereka jawab belum. Akhirnya Crist dan Pak Kaidan mencarimu, aku ikut membantu. Aku yang pertama berhasil menemukanmu. Lalu saat kau tertidur setelah menangis, Pak Kaidan membawamu---oh, ia sempat mengambil fotomu ketika tidur di pangkuanku."


"Hah?! Kenapa?"


Fate menaikkan kedua bahu. "Aku tidak tahu. Tapi ia sangat senang ketika melihatmu. Senyumnya ...."


Mendadak tatapan Fate sedikit meredup dam nada bicaranya melemah.


"... Seperti senyuman ayah yang bangga."


Heem. Ayah?


Namun, ayahku ....