When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Tak Bisa Melepaskan



Ketika aku membuka mata, napas masih tidak teratur dan terengah-engah. Kepala terasa sakit, nyeri amat sangat hingga tak bisa berpikir.


Dahsyat sekali nyerinya, mual; berkeringat dingin, mencoba melihat sekitar tetapi mataku bergetar heboh dan berakhir menyapu ruangan dengan cepat hingga aku sendiri tak dapat melihat.


Dengungan dalam kepala terasa menusuk maka aku menutup kuat-kuat kedua telinga. Bangkit untuk duduk tetapi justru berakhir meringkuk menahan sakit.


"Red, sudah bangun---ah, tenanglah Nak!"


Tidak menjawab, aku justru berakhir terus mengerang tanpa sebab. Kenapa aku di sini? Kenapa kembali merasakannya? Apa ini hukuman untukku? Dihantui rasa bersalah ... setidaknya aku menganggap ini hukuman atas perbuatanku.


Masa depan terbelenggu dan aku kembali menumpahkan kesedihan pada mata. Penyesalan menghujani hati. Seharusnya aku menghabiskan waktu sendiri, seorang diri lagi. Bersembunyi dan berlari di balik bayangan. Tahu posisi dan siapa diriku ... makhluk menyedihkan yang tak layak akan apa pun.


Kini jantung berdebar, sangat kencang hingga terasa benar-benar sakit dalam dada bahkan suaraku pecah menjadi parau nan mengerikan. Terasa seseorang seperti mencoba mendekapku kuat-kuat, tak henti mengecup kepala dan mengelus punggung ... tidak, tidak! Ini kembali mengingatkanku padanya yang telah tiada! Aku tidak mau kehilangan tetapi dia mati dalam tanganku sendiri ... menyakitkan, perih---ah, aku tidak mau!


Dengan masih meringkuk dalam erangan, aku memberontak bahkan kini kaki turut menendang tanpa arah. Aaah, sakit ... sakit!


"Re-Red, Red! Tenang---akh, kekuatanmu besar sekali. Tak apa-apa Nak, Bapak di sini."


Iya, berbeda denganku ... manusia begitu rapuh. Bahkan hatiku sudah berubah bentuk; tajam, merenggut sesuatu yang berharga untuk mereka.


Untuk seseorang yang tak pantas disebut manusia sepertiku, kau tersenyum. Bahkan di saat seperti itu, memberi hal yang beragam padaku. Tapi itu sudah berakhir, kau sudah tiada dan aku masih menderita. Jika kebohongan bisa membalikkan waktu ... namun tidak akan ada yang berubah 'kan? Saat aku mengerti akal hal tersebut, rasa ingin mengakhiri kembali memenuhi hati.


Kini aku benar-benar tak bisa bernapas, mulut ternganga mencoba membantu mengambil oksigen. Kata-kataku mulai bertumpuk dalam hati, tanpa akhir, terjerat dalam lingkar kegelapan. Jika aku bisa menggambar hari esok dalam masa depan yang kosong ....


Namun di balik mata kelam ini, semua telah ditinggalkan. Kehangatan yang selalu aku yakini, telah membeku. Aku tahu ini hukuman untukku, setelah apa yang aku lakukan. Menyedihkan. Bara kehidupanku mati. Kedua tangan kini terjatuh. Badanku melemas dan masih duduk membungkuk.


Rasanya, ingin mengakhiri semua.


Aku lelah.


"Red ...? Sudah merasa lebih baik? Um, ingin minum?"


Aku menoleh, pria baya itu masih duduk di bangku samping tempat tidurku, berkata dengan gugup dan ragu-ragu bahkan ekspresinya menambah kesan tersebut.


"Kenapa kau di sini?" ucapku dingin, kembali membuang muka.


Suara tawa yang masam sedikit terdengar. "Apa maksudmu, Nak? Bapak walimu, tentu Bapak ada di sini."


Terdiam sesaat, kemudian ia kembali berkata, "Bapak mengkhawatirkanmu."


"Pergi!" Aku menggeram, kuat-kuat mengepal kedua tangan di atas paha. "Aku tidak memintamu untuk menemaniku."


"Apa maksudmu, Red? Bapak---"


"Berhenti menyentuhku!"


Tangan kekar itu mencoba kembali mendekat tetapi kuat-kuat aku tepis. "Aku tak butuh dikhawatirkan! Aku tak butuh semua kebaikanmu! Aku tak pernah meminta untuk diperlakukan seperti itu! Aku tak layak mendapatkan itu semua, kau tahu?! Aku selalu sendiri dan lebih baik selalu sendiri!"


Wajahnya berubah terkejut tetapi hatiku semakin memanas, itu sampai ke wajah dan memancing kelenjar air mata kembali memuntahkan tirta. "Aku tidak mengerti sedikit pun soal kasih sayang. Setiap kali aku mendapatkan kebaikan, itu semua hanya kebohongan. Bohong! Itu akan hilang dan luntur. Kau tahu bagaimana rasanya kehilangan? Sakit berkali-kali lipat!"


Aku mulai menjerit, "Lebih baik aku tak mengerti apa rasanya mendapatkan kasih sayang! Kebaikan yang datang padaku pada akhirnya hanya akan hancur dalam genggamanku sendiri! Sudah cukup! Aku tak mau lagi mendapatkan dosa lebih banyak!!"


Kini terasa mulai tersedu dan leher tercekik, tetapi aku terus memaksa untuk berkata meski berakhir melengking. "Aku tak mau apa pun, aku tidak butuh ... haa-ah, ah, kenapa aku terlahir ke dunia? Keberadaanku tak memiliki sebab kecuali untuk menghancurkan."


"Red, jangan berkata seperti itu, setiap manusia layak---"


Ia ingin mendekapku lagi tetapi aku mendorongnya hingga tersungkur ke lantai, sampai bangku besi mungil ikut terpelanting. "Sudahku katakan jangan menyentuhku!"


Sekuat tenaga aku berteriak ke arahnya. "Aku tak butuh dirimu! Manusia? Berhentilah khawatir pada mesin pembunuh sepertiku! Keberadaanku hanya untuk kehancuran, kau tahu bagaimana rasanya?!"


Buk!


Suara perih menyeruak, Fate menghajar pipiku hingga rasa nyeri mengalir ke seluruh penjuru. Gadis itu menatap tanpa gurat ekspresi, mencengkeram kerah baju hitamku dan menariknya kuat-kuat untuk mendekat. Gumpalan bening bersarang di pelupuknya, terlihat setengah mati menahan air mata yang mendesak untuk diluncurkan dan aku hanya terdiam.


Entah mengapa, mendadak tak bisa berpikir.


"Kau katakan itu! Tapi yang kau lakukan hanyalah mengeluh dan merengek! Ingin menebus dosa?! Jangan bercanda! Yang kau lakukan hanya menambahnya lebih banyak dosa daripada menebusnya!"


Fate mulai berteriak tanpa henti, tepat di depan mukaku.


"Dasar tidak bersyukur! Kau tidak tahu sedikit pun rasa sakit orang-orang yang kau tinggalkan, dan kau ingin kembali mengunci diri? Ingin mengorbankan dirimu?! Kau hanya ingin memenuhi keegoisanmu sendiri!"


Wajah pualam itu mulai memerah. Ah, apa yang terjadi?


"Mereka yang telah berada di sisimu. Mereka yang ingin melindungimu. Dengan pemikiran yang seperti ini kau hanya membuat semua orang membawa beban yang amat berat!"


"Kau hanyalah orang bodoh yang menginginkan kematian! Berapa banyak ... berapa banyak hati yang telah kau hancurkan? Mereka menanggung segalanya untukmu, agar mereka tak kehilangan kau yang bahkan tak peduli pada dirimu sendiri!" Fate tak henti-henti memberi runtutan kata-kata, membuat kepalaku semakin memanas.


Aku tak suka ini.


"Sudah cukup, lepas---"


Ketika aku memberontak dan mencoba untuk menepis tautannya dari kerah bajuku, ia justru mengeratkannya makin kuat dan semakin menarikku. Terasa seluruh kekuatan dalam bara tertumpuk di sana.


"Aku belum selesai! Menyakiti dirimu sendiri dan orang lain, apa kau ingin hidup seperti itu?! Bukan hanya KAU yang terlahir menjadi mesin penghancur!"


Refleks mataku menyipit dengan hati yang membara. Sekuat tenaga aku mendorongnya hingga terhunyung dan berteriak, "Berisik! Tahu apa kau soal diriku?!"


Seketika jemari lentik itu kembali menggenggam kerah bajuku, kini semakin kuat bak seluruh emosi menumpu pada buku jari. "Benar! Aku tak tahu segalanya tentangmu! Tapi sama halnya denganmu, apa yang kau tau tentang orang lain dan aku?!"


Mendengar itu kelopak mataku seketika menggulung.


Tahu apa aku? ... Tidak ada.


"Menyerah dan berlaga sok kuat ibarat tokoh yang dipenuhi tragedi. Arogan sekali, kau pikir kau sangat spesial sehingga berpikir Tuhan memberikan cobaan hanya untukmu?! Semua orang memiliki beban dan tragedi mereka masing-masing! Mereka memiliki cerita masing-masing! Bukan hanya kau yang menderita!"


Mendadak terasa aku diarahkan untuk menoleh ke samping. Profesor Kaidan ... menangis? Sepertinya beliau menyadari tatapanku dan ia langsung bangkit dan melangkah ke luar. Tampak seperti ... menelepon? Namun jelas suaranya masih parau bahkan dari belakang sini punggungnya bergetar. Beliau tak henti mengusap mata dengan lengan baju, hingga berbalik dan tenggelam dalam lorong rumah sakit.


Seketika tubuhku didorong dan berakhir terlentang atas kasur dalam keadaan bingung. Aku melirik ke arah Fate, dan kulihat tirta perlahan turun dari mata perak kebiruannya.


"Kau berkata tahu apa Pak Kaidan soal kehilangan? Kau lupa sepertinya, bahwa dengan tangannya sendiri dia membunuh orang-orang yang dia sayang."


Sontak aku tertegun, ini mencelikkan benakku. Saat itu ketika membereskan balkoni perpustakaan, beliau memelukku dan berkata bahwa aku mengingatkan Profesor Kaidan dengan dirinya sendiri. Beliau adalah anak desa, satu-satunya dengan dragonic dan berakhir kehilangan segalanya; lepas kendali karena tak bisa mengontrol kekuatan.


Seketika aku membisu, habis pikir dan bicara. Lalu beliau bertanya padaku ... apa dia, terlihat seperti monster sekarang?


Bukankah itu semua beliau ucapkan, untukku?


Fate berbalik sehingga membelakangiku, "Tapi dia tidak lari, dia menghadapi dosanya dan berusaha untuk tetap hidup dengan menanggung kematian orang-orang tercinta di pundaknya. Itulah yang bisa disebut sebagai penebusan dosa."


Kenapa aku lupa ... pada kata-kata semua orang? Ah, aku yang terburuk. Kini tanganku kuat mencengkeram baju yang membalut dada. Rasa sakit tak terkira menyerang hati bak pisau mengiris sedikit demi sedikit.


Mata perak kebiruan melirik tajam padaku tanpa sedikit pun membalikkan badan. "Sedangkan kau, yang kau lakukan hanyalah lari dari tanggung jawabmu."


Itu ucapan terakhirnya, sebelum Fate benar-benar meninggalkan ruang.