When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Terlalu Terlena



Sesuai dengan yang diperintahkan, kami berkumpul pada jalan besar halaman depan akademi yang bersih tanpa dedaunan meraja, meski rimbun pepohonan memenuhi setiap sisi.


Depan sana dua mobil panter hitam telah terparkir, kemungkinan kendaraan yang akan kami naiki terbilang Profesor Kaidan sedang berbincang-bincang dengan dua orang pria di dekat situ. Walau mengenakan setelan kemeja hitam putih, pita tangan corak neon yang dikenakan menjelaskan mereka berasal dari Departemen Gear. Tampak membicarakan sesuatu yang penting, jelas dari suasana serius di sekelilingnya.


Termasuk empat Disiplinaria--Fate, Theo, Lux, Rose--yang mengisi satu bangku taman panjang; berbincang dalam wajah tanpa gurat emosi. Perlahan, aku menarik napas guna mengenyahkan sesak pada rongga alveolus.


Sebab satu yang menarik perhatian, Daniel sungguh tenang duduk pada pinggir pembatas taman dari semen; satu kaki yang menekuk dia peluk sebagai sandaran dagu di lutut. Bagaimanapun yang Cecil dan Crist jelaskan, aku masih belum terbiasa. Maksudku ... dia bisa berubah, secepat itu? Atau ada yang disembunyikan? Terlebih mata hijaunya tak lepas menatapku.


Tak lama panggilan nan khas terumbar, berupa satu tepukan tangan dari guru waliku. Saat itu juga kami langsung berkumpul di depan beliau atas suatu barisan apik mengindahkan kode etik.


Beliau menjelaskan sudah banyak staf Departemen Gear di lokasi demi mempermudah kita dalam menjalankan misi. Karena tempat kejadian merupakan transportasi umum, kali ini secara langsung Vaughan berhubungan dengan keamanan lokal dari pemerintah.


Kepemerintahan tentu sudah mengerti mengenai Vaughan tetapi tidak dengan para polisi yang bertugas, maka dari itu kami diminta untuk sebaik mungkin berinteraksi dengan normal tanpa membuat kepanikan untuk warga sekitar. Kepolisian yang bertugas hanya menjaga bagian luar stasiun kereta bawah tanah, sedangkan bagian dalam sepenuhnya sudah ditangani oleh Vaughan.


Begitu kira-kira penjelasan beliau, dengan tambahan beberapa kelas Pawn sudah dibasmi sebelumnya--untuk alasan keamanan--sehingga kita diharuskan langsung masuk ke dalam portal dimensi.


Profesor Kaidan selesai memberikan instruksi dan barisan dibubarkan, kecuali aku lantaran pundak ditahan olehnya. Jujur, ini membuatku sedikit terkejut tetapi ketika menoleh demi membalas tatap iris kayu jati ... mengeluarkan suatu ekspresi samar sarat akan kegelisahan.


Atas suatu aksen berat nan khas, beliau bertanya, "Red, kamu tidak apa-apa?"


Eh?


Membalikkan badan guna menatapnya dengan sempurna, keningku mengernyit karena bingung terhadap apa yang beliau maksud. Mungkin---oh, kejadian ketika aku memasak.


Aku menggeleng. "Tidak, tak apa. Aku hanya ... beberapa ingatan ada yang terbuka kembali, itu sedikit memberiku beban."


"Bisa menjalankan misi? Aaah, Bapak tidak bisa ikut, masih banyak hal yang perlu diurus." Aku tertegun saat lengan kukuhnya semakin mencengkeram kedua pundak. Meskipun penuh ke hati-hatian, tetap saja ....


Tampaknya masih mengkhawatirkanku. Meyakinkan diri sendiri, sesulit itu 'kan? Lantas aku memberi senyuman. "Iya, bisa. Bapak, jangan khawatir, aku baik-baik saja."


Kini beliau mengembuskan napas panjang dan melepas cengkeramannya guna memijat kening. "Oke, kali ini Bapak coba percaya kata-katamu."


Jadi, selama ini yang aku ucapkan tidak meyakinkan? Aku menggaruk kepala yang tak gatal sebelum berucap, "Orang yang peduli pada kita akan terluka jika kita terluka bukan? Bapak, aku akan berusaha lebih berhati-hati."


Mungkin aku memang gegabah; tak memedulikan diri sendiri tetapi setelah melihat reaksi dan kepedulian mereka, serta kejadian jauh-jauh hari saat berbicara dengan Lord Metatron setelah acara penutupan ... aku ingin berbenah.


E-eh? Heeeh?! Aku merasa tersipu, senyumnya begitu hangat bagai ayah---aaaa! Aku memejamkan mata erat-erat dan berkata sembarang, "Aku pergi!"


Tanpa pikir panjang langsung berlari dan menghampiri satu mobil panter yang pintunya terbuka lebar.


"Whoaa, Red! Tuh mukamu merah!"


Ha, astaga! Cecil membuatku kaget saat masuk dan duduk di sampingnya, tapi dia hanya menyengir kuda melihat ekspresiku. Berbeda dengan Daniel, kalau dia tahu pasti---ah ... seketika seluruh tubuhku beku dalam jantung berdetak kencang sebab ketika menoleh ke belakang, saat itu juga mata kami bertemu. Dekat; terlalu dekat, sampai pikiranku mendadak kosong. Tidak kusangka Daniel sedang menyandarkan kepala pada dua tangan yang terlipat di atas bangku tengah, memperhatikan kami dari belakang sedari tadi.


Rasanya seperti tertangkap basah tetapi aku tidak mengatakan hal aneh 'kan? Namun, Daniel justru tersenyum datar. "Red, sadar enggak, hidupmu membaik?"


He?


Suara debam mengumbar, Crist beserta salah satu staf Departemen Gear masuk dan mengisi bangku depan pun saling berbincang. Aku pun memalingkan wajah dan bersandar dengan tenang di bangku mobil.


Satu sisi, perkataan Daniel membuatku heran.


Tak terasa suatu ancaman di sana, tapi maksudnya apa? Hidupku membaik? Benar, aku juga merasakannya. Jika dipikir kembali, meski sudah lama berada dalam Club Dion, sepenuhnya aku tak mengenal sosok sang ketua. Dia mungkin eksentrik namun lebih menjurus sifat yang rumit, tidak terus terang seperti Lucian.


Apa yang Daniel sembunyikan?


Sang staf meminta kami untuk bersiap dan kendaraan pun melaju, beliau sibuk terus berbincang dengan Crist dan terdengar topiknya masih berkaitan dengan misi.


Intinya, naga yang menguasai portal kemungkinan Elite tingkat menengah. Lantas aku melirik pada Cecil dan dia melihat tangan seperti ... menghitung? Namun, tak berani menoleh kebelakang untuk menatap Daniel. Dia bertingkah sedikit aneh sejak kemarin.


Aku memutuskan menyandarkan kepala pada kaca mobil, melihat bayang-bayang samar diriku di sana. Rambut sungguh merah nan lugas dalam iris hitam pekat. Keanehan lain dari diriku. Kenapa bisa berubah kembali menjadi merah seperti pertama aku tercipta? Hal apa yang membuat perubahan di tubuhku? Termasuk aku yang kian melemah--regenerasi menjadi lambat.


Mungkinkah suatu saat, aku akan benar-benar mati? Apa ini bentuk lain kebahagiaan yang akan direnggut di saat aku yang akhirnya bisa tersenyum lepas, kembali kehilangan kehangatan? Ah, aku menjadi semakin egois bukan? Padahal dulu menginginkan kematian tetapi sekarang ....


Aku mendengkus dan mengusap wajah dengan lelah.


Vaughan, tempat ini sangat baik. Aku menyukainya dan ingin keabadian ini terus menetap demi bisa terus bersama mereka.