When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Permulaan II



Pertama membuka mata, aku disambut oleh pemandangan yang tak biasa lainnya.


Langit-langit putih yang tinggi dan terasa tiupan angin membelai rambut membuat kesadaranku kembali untuh secara perlahan.


Aku mencoba duduk---ah, sepertinya ketika jantung tertembak fungsi organ di dalam tubuh terhambat. Terasa kekurangan oksigen ketika bernapas, penglihatan juga berbayang.


Aku mulai menyentuh kepala.


"Oh! Sudah sadar?"


Suara tak asing terdengar, tetapi tidak kukenali juga. Aku pun menoleh ke ... pria rambut cokelat.


"Maaf soal kemarin."


"Huh? Kemarin?"


"Kamu lupa? Aku menembakmu."


"Oh, tak masalah. Saya tidak akan mati." Kini aku menunduk dan melihat kedua tangan, kemudian bergumam, "Ini aneh."


Aku menggerakan jemari satu persatu. Cepat. Semakin cepat. Ditutup dengan menggenggam kedua tangan.


Kemudian, aku merentangkan lengan ke atas.


Rasanya ringan sekali.


"Kenapa? Ada yang tidak nyaman?"


Sontak aku menjawab, "Tidak. Hanya ... bisa sepenuhnya mengendalikan tubuh."


Aku menutup mulut menggunakan tangan kanan; mencoba berpikir.


Jika aku terluka, biasanya itu langsung pulih meski luka parah seperti putus tangan. Sekarang, untuk pulih memakan banyak waktu dan rasa sakit terasa nyata.


Selain itu, aku juga sulit mengendalikan pikiran, terkadang jiwa seperti melayang. Tubuh berakhir bergerak sendiri tanpa aku sadari.


Ah, tunggu.


Memang aku bisa mengendalikan tubuhku sendiri, tetapi sesaat dan sungguh berat. Sangat terbebani. Biasanya aku akan kehilangan kesadaran sebelum dapat berbuat banyak.


Sekarang aku bebas.


Aku pun tersadar ... di mana bajuku?


Aku meraba-raba tubuhku. Tanpa kaus. Hanya perban membalut rapi terutama bagian dada kiri.


"Luka-luka itu sakit?"


Spontan aku menatapnya sesaat, kemudian kembali menunduk.


Mungkin dia mendari banyak sayatan di tubuhku.


"Tidak, ini bekas luka. Sudah lama. Mungkin ada yang baru. Entahlah."


"Jadi umur ribuan tahun itu benar ...."


"Ya. Saya immortal," tegasku, "dan bukan berasal dari dunia ini."


"Kenapa bisa?"


Tentu karena pengorbanannya.


Saat itu orang terkasihku bersimpuh di depan. Aku mencoba menggapainya, tetapi tak mampu; tak kuasa.


Itu pertama kalinya aku sepenuhnya sadar selama mungkin lebih dari ratusan tahun.


Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di saat itu, tetapi ia tersenyum dengan air mata yang terus mengalir hingga cahaya putih menyelimuti kami.


Dan aku berakhir ada di sini.


Pandanganku menjadi lesu. "Karena ia berharap saya bisa hidup normal."


Mendadak pria itu menggenggam salah satu tanganku dan tangan lainnya mengelus rambutku.


Refleks aku menoleh dan menyaksikan tatapan matanya sangat teduh, juga melukiskan kesedihan. Namun, dia tersenyum hangat ibarat menunjukkan rasa prihatin yang dalam.


Sejujurnya itu sedikit memberikan ketenangan, tetapi ....


"Apa kalian tidak tahu kalau saya berbahaya?"


Aku menepis tangannya dari kepala.


"Kalian tidak tahu saya ini apa 'kan? Terlebih tak bisa mati. Bisa saja menyerang kalian tiba-tiba."


"Jika kamu jahat, kamu akan menyerang saat pertama kamu sadar. Tidak ada orang jahat yang menyebutkan dengan jelas hasrat jahatnya."


Kini senyumannya melebar ditambah semburat merah muncul di wajah sawo matangnya.


"Kamu orang baik."


Spontan aku terkejut sampai memalingkan wajah.


Mana ada aku baik. Membunuh manusia, baik dari mananya?


"Sebenarnya ... hanya tidak mau melukai siapa pun," ucapku lemah dengan menautkan jemari.


"Berarti kamu ingin menolong orangkan? Ikutlah bersama kami. Bantu kami. Apa lagi kamu tidak ada tempat untuk kembali."


Jika dipikir lagi, aku memang tidak ada tujuan.


Di satu sisi, aku juga harus tetap menjalani kehidupan karena ia mengorbankan dirinya demi aku.


Aku, yang ia harakan bisa hidup normal.


Apa ini normal?


Aku mengembuskan napas dan mengangguk setuju. Cepat dia memilah dokumen di atas meja samping tempat tidurku.


"Tolong isi dokumen ini untuk data murid." Dia menyodorkan satu lembar kertas dan pulpen di papan kerani.


Murid? Apa lagi itu? Karena penasaran aku membaca kertas tersebut.


Uniknya, aku langsung mengerti apa yang tertulis di sana. Namun, isinya hanya ada banyak kolom kosong dengan beberapa penjelasan rumit.


"Isi namamu di sini, lalu tempat tanggal lahir. Isi saja kolom kosongnya."


Aku menatap dalam-dalam kertas tersebut, kemudian menyerahkannya kepada pria rambut cokelat.


"Sudah."


"Heh? Kamu belum menulis apa-apa."


Aku memiringkan kepala. "Saya tidak tahu kapan saya lahir, orang tua, umur, nama, atau yang lainnya."


"Hilang ingatan?"


"Tidak." Aku mengembuskan napas panjang. "Sudah saya katakan, saya ingat segala hal mulai dari lahir sampai sekarang. Hanya saja saya ... entahlah, ada begitu saja."


Dia mengambil kertas yang aku berikan dan melihatnya dengan tatapan lesu. Lantas aku beralih memandang ke jendela.


Kacanya terbuka menghantarkan rasa sejuk dan tirai-tirai ruangan mengayun lembut. Jauh di bawah sana ada banyak orang berlarian di ... lapangan? Mungkin bermain bola.


Tempat ini jauh lebih damai dari yang aku kenali.


"Setidaknya isi nama, jadi kita tahu bagaimana memanggilmu." Seketika perhatianku teralihkan dan mulai memandangnya. "Mungkin nama panggilan."


Dia menyerahkan dokumen itu kepadaku lagi.


Nama panggilan ya ... aku pun menulisnya dan menyerahkan kertas tersebut.


"Emmm, apa ini? R. E. D. Red ... S---"


"REDstar. Waktu saya kecil sempat melihat nama itu di dekat tempat tidur."


Dia memandangku sesaat sebelum kembali melihat tulisanku dan bergumam, "Ini Code Name seperti EVE, bukan nama panggilan."


Uuh. Apa lagi itu?


"Maaf kalau tulisan saya berantakan, sudah lama tidak menulis dan membaca."


Dia terkejut ketika aku berucap demikian. "Bukannya umurmu ribuan? Harusnya lebih berpengalaman daripada Lucian."


"Hm? Pengalaman ... saya lebih banyak menghabiskan waktu mengunci diri di hutan. Itu karena manusia---"


Tunggu, dia manusia 'kan?!


Aku langsung beringsut---ah, sebentar! Tak terasa suatu bahaya.


Berbeda dari orang-orang yang mendekatiku dengan wajah seram, orang ini justru menatapku dengan rasa iba yang tampak jelas.


Mendadak dia menepuk kepalaku.


"Namaku Kaidan Dushku, panggil saja Kaidan. Bapak akan jadi guru pembimbingmu. Mulai sekarang Bapak akan membantumu belajar. Kebetulan setelah investigasi Bapak diberikan waktu senggang yang banyak karena menunggu kabar dari bawahan mengenai kasus Tiamat sampai ada perintah lanjutan dari Lucian."


Aaaa, aku mencoba memahami apa yang dia ucapkan, tetapi tak mengerti satu pun.


"Kamu lihat hasil pemindaian kemarin? Ahahaha, Swordmaster Grade SS! Kemampuan berpedang---"


"Tidak mau." Cepat aku menunduk dalam-dalam. "Tidak mau memegang pedang."


"Ah, errr ... bagaimana dengan Executioner? Kamu mahir berkerja dalam bayangan---"


"Tidak."


Aku langsung menutup sebelah wajah dengan telapak tangan kanan.


Serpihan memori itu kembali ketika aku bersembunyi di dalam gelap, menyergap dan membunuh manusia tanpa ampun dengan wajah datar. Lepas kendali; berhati dingin; brutal; tak ampun, menebas siapa pun yang ada di hadapan seperti hewan berdarah dingin.


Ketika kesadaranku kembali, aku ... aku---


Aku tak mau melukai siapa pun. Tak mau lagi menyentuh benda tajam. Tidak akan.


Aku berakhir meringis kecil.


"Kalau begitu Soul Dancer! Meski Grade B, jika berlatih kamu pasti bisa."


Kalimat itu sukses menarik perhatianku. "Soul Dancer?"


"Mereka Class Support, lebih terfokus melakukan penyembuhan dan bantuan jarak jauh dengan senjata Floating Hourglass."


"Floating ... Hourglass?"


"Setiap Class memiliki senjatanya masing-masing dan Floating Hourglass lebih seperti ... bola penghantar kekuatan Dragonic."


"Saya ambil itu," tegasku.


"Kalau begitu kita kembali ke ruang EVE untuk pendaftaran ulang dan menyimpan Heart Core, kalau kamu sudah merasa sehat. Oh, ya!"


Pria itu beranjak dari bangku dan mengambil sesuatu di sebelah kasur sana.


Penasaran, aku ikut bangun dan berjalan menghampirinya.


Dia menyerahkan jas putih dan almamater abu. Aku terdiam sebentar menatapnya.


"Ini seragammu. Selamat datang ke akademi Vaughan!"


Baju baru ... oh, sesuai dugaan.


Ketika mengenakannya, baju tersebut berubah karena reaski aura yang keluar dari tubuhku. Seragam akademi itu menjadi jas jubah hitam yang panjang.


Dia terkejut hingga matanya tak berkedip sedikit pun.


"Ini normal," ucapku, "apa yang saya kenakan seluruhnya akan menjadi hitam."