
Maaf Crist, sepertinya malam ini tak bisa pulang lebih awal juga. Ingin mendinginkan kepala, aku berakhir berjalan menelusuri sekitar akademi tanpa arah; tanpa tujuan, membiarkan kaki menyisir langkah dengan sendirinya sampai terasa angin malam membawa dingin menusuk entah dari mana.
Hingga pada akhirnya aku terdiam pada salah satu jalan dengan mendongakan wajah. Tampak sang rembulan menguasai antariksa hingga langit dipenuhi gelita, memancing tanganku untuk terangkat ibarat mencoba meraih angkasa.
Ternyata malam begitu cantik, bulan terlihat lebih dekat daripada biasanya, ditemani para bintang. Ini mengingatkan ....
Misalnya jika aku mati; jika aku yang menyedihkan menjadi tak berarti, maka sosokku akan pergi ke kartika yang bersinar pada rasi bintang Lyra. Namun, hal tersebut membuatku membisu. Sebenarnya yang kuinginkan memang sebuah kematian, atau terlepas dari jerat mimpi buruk? Lantaran aku teringat ucapan Fate waktu itu. Mungkin memang aku hanya bisa berlari dan mengeluh karena sebenarnya, kematian bukanlah jalan keluar.
Benar begitu, 'kan?
Aku menunduk dan menutup wajah dengan kedua tangan. Sebab andai aku menghilang, aku akan membuat orang lain menderita. Sama seperti kehilangannya, mungkin ... nanti, orang lain juga akan merasakan apa yang kurasakan.
Karena aku telah tiada.
Aku menurunkan tangan, mengembuskan napas panjang dan memutuskan untuk kembali berjalan; mulai memasukan satu tangan ke salah satu saku celana. Sebaiknya aku kembali ke club. Jika sampai berpapasan dengan Disiplinaria yang sedang berpatroli, bisa-bisa terkena masalah---eh? Aku tidak salah lihatkan? Di depan sana, Fate sedang duduk sendirian.
Apa yang dia lakukan? Apakah acaranya sudah selesai? Entah kenapa terasa sangat canggung untuk mendekat tetapi ini sudah terlalu larut, Fate harus beristirahat sekarang. Dengan ragu-ragu aku mendekat---
"Oh, itu kau, Halfing."
"Ah, Lord Metatron ... kenapa engkau di sini?" tanyaku atas ketegangan dalam tubuh menghilang sehingga berjalan santai mendekati beliau.
"Gadis ini terlalu lelah dan ia mendadak tertidur, aku mengambil alih."
Dugaanku benar, Fate pasti kelelahan. Fisiknya sangat lemah dan stamina terbatas dibandingkan denganku. Lantas aku mengangguk kecil dan duduk atas alas rumput nan lembut di dekat beliau. Namun, Lord Metatron justru menatapku datar dengan suatu ekspresi yang tak kumengerti---eh, aku tidak melakukan kesalahan bukan? Selalu saja ketika bersama sang malaikat kepercayaan Tuhan, aku merasa gugup.
"Saya duduk di bawah sini karena engkau di sana ...."
"Duduklah di sini, jika ada yang melihatmu mereka akan curiga."
Ah, iya, benar juga. Astaga, bodohnya. Segera aku beranjak dan duduk pada bangku taman tepat di samping Fate---oh, Lord Metatron. Raga si gadis kini terlihat jelas memancarkan aura yang tak biasa.
Sayap transparan bak kaca yang mungkin hanya bisa kulihat begitu mencolok; kepingan bulu putih bertebangan menambah paras anggun terlebih matanya gemerlap seperti langit cerah di siang bolong---baik, cukup, apa yang aku perhatikan? Pasti karena terlalu dekat, lantas aku sedikit menggeser badan ke arah berlawanan dari beliau dan mencoba mengatur napas.
Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan, tapi---ah, kami sama sekali tak buka suara membuatku semakin sungkan. Aku mulai menautkan jemari.
"Wajahmu terlihat menginginkan sebuah jawaban. Apa yang ingin kau tanya, Halfing?"
Aku kembali menoleh dan menyaksikan beliau menampilkan kilatan seringai. Heee, apa aku mudah terbaca?
"Umm, apa Fate ... sebelumnya pernah bertemu yang seperti saya?" tanyaku dengan mencondongkan badan, mungkin wajahku turut terlihat sedikit serius.
Satu sisi, Lord Metatron berakhir terdiam. Apa pertanyaanku begitu rancu?
"Ah, eem, maksudnya yang---"
"Belum."
Eh? Sontak aku memiringkan kepala ketika vokal yang terdengar dua orang sedang berbicara itu menjawab.
"Di dunia ini atau sebelumnya, Fate belum pernah bertemu sosok amat kelam sepertimu, Halfing. Mungkin ia terkejut ketika pertama bertemu denganmu."
"Begitukah ... apa kehadiranku, berbahaya untuk Fate?"
Kini aku benar-benar berwajah serius karena dari sekian banyak orang di akademi, aku yang paling banyak menghabiskan waktu dengannya. Jika aku berbahaya; jika dia baru pertama bertemu makhluk sepertiku, maka aku akan---ah, aku mulai menggenggam kedua tangan yang bertengger pada sisi bangku taman di samping paha.
Ini mengingatkanku betapa dinginnya tubuh si gadis, bahkan sejak awal kami bertemu. Walau dia bilang itu bukan masalah, tetap membuatku tak tenang.
Cukup lama sunyi membumbung, Lord Metatron tidak menjawab pertanyaan dan justru ... memejamkan mata? Seolah-olah sedang mencari ketenangan. Mungkinkah aku berpikir terlalu berlebihan, seperti biasa? Ta-tapi aku hanya khawatir.
"Umm, maaf bertanya yang aneh-aneh. Sebenarnya saya khawatir ... Fate sudah banyak membantu, tapi saya tak bisa apa-apa untuk membalasnya. Ketidaktahuan adalah dosa, maka saya ingin tahu lebih mengenai Fate. Mungkin dengan begitu, saya bisa menolongnya dengan benar." Aku mulai mengusap mata menggunakan lengan kanan sekali dan menatap dalam-dalam pada sosok gadis yang duduk di samping. "Saya ingin mengenal Fate lebih dalam."
"Ah, ya ... tidak juga." Aku mulai mengalihkan pandangan ke depan, membiarkan kaki menjulur lurus.
Atas tatapan yang sayu aku berkata, "Saya hanya menyadari sesuatu. Mungkin, ini semua terasa bagai sebuah mimpi. Benar-benar tak menyangka ada orang yang peduli, bahkan mencemaskan diri ini. Kadang berpikir ... nanti akan kehilangan rasa hangat ini dan menderita lagi, atau tersiksa lebih dalam dan berakhir hilang arah. Jadi saya berusaha untuk menjauh, tetapi ...."
Aku mulai menunduk. "Tak disangka yang seperti itu justru menyakiti perasaan mereka. Mungkin benar saya hanya lari dan merasa begitu ketakutan. Jadi, sekarang, akan mulai menerimanya. Menerima semua perlakuan baik mereka, dan saya ingin membalasnya juga."
Aku mulai tertawa kecil. "Saya benar-benar bersyukur bertemu mereka ... dan mesyukuri kesempatan yang ia--orang terkasihku--dan Tuhan berikan. Memang sangat telat menyadari ini semua, tapi saya tak peduli karena itu lebih baik daripasa tidak sama sekali. Sebenarnya, memiliki kehidupan yang seperti ini tidak begitu buruk. Saya merasa senang---"
Mendadak terasa rambut hitamku disentuh. Perlahan, kelembutan itu berubah menjadi sebuah usapan. Sontak aku kembali menatap lurus pada mata biru nan gemilang, wajahnya menampilkan sebuah senyum tipis pun teduh dan di saat bersamaan beliau kembali menarik tangannya ke posisi semula.
"Apa Tuhan ... benar-benar memaafkan saya?" tanyaku dengan nada yang rendah.
"Teruslah berdoa dan memohon ampun padaNya, maka kau akan menemukan jawaban."
Dengan kesungguhan dan keteguhan hati aku mengangguk, mulai meyakinkan diri untuk tidak lari dari semua masalah. Apa yang Fate dan Crist katakan akan kuingat.
Aku mulai memejamkan mata.
Mungkin kebodohanku selama ini menambah dosa semakin banyak benar-benar konyol, tetapi aku akan berusaha untuk tidak melepas mereka dan terus meminta pertolongan pada Tuhan. Dengan begitu, mungkin, aku bisa jauh lebih baik.
"Jadi, Halfing, apa yang ingin kau tanya?"
"Ah, itu ...." mata jelaga mulai kembali menatap gadis semampai yang duduk di samping. "Apa yang terjadi di dunia Fate?"
"Peperangan."
Peperangan? Aku mulai menutup mulut dengan tangan kanan dan menatap ruang kosong pada sisi taman. Mungkinkah itu penyebab Fate sangat andal dalam taktik dan penggunaan senjata? Sebab pengalaman dan pengetahuan---tunggu, Arthur pernah katakan bahwa gadis itu sudah terbiasa menumpahkan darah, dan ketika Fate meledak padaku dia berkata ....
Ternyata begitu.
Jika dipikirkan lagi, dari kemampuan berpikir dan keahlian dalam bertarung, mungkin gadis itu sudah terjebak pada keadaan hidup dan mati sejak kecil. Terpaksa mendorong dan melatih dirinya untuk menjadi lebih---ah, membayangkannya sedikit mengerikan sampai aku menyentuh tengkuk.
"Apa perang itu telah berakhir? Kenapa Bapak Arthur mengatakan butuh segala hal untuk melindungi Fate?" tanyaku lagi.
"Karena meski sudah di dunia lain, masih ada dari dunia sana yang menginginkannya."
"Menginginkan? Apa Fate akan baik-baik saja? Kalau begitu apa yang harus saya lakukan?"
Mata bak langit berbinar bagai komet mengitari menatap lurus, aku tak tahu ekspresi itu menunjukkan keseriusan atau pemikiran lain. Metatron lanjut berkata, "Bukankah pertanyaan itu harusnya kau tunjukkan untuk dirimu sendiri? Sekarang, apa yang akan kau lakukan?"
Aku tertegun mendengarnya. Apa yang akan aku lakukan? Mungkin, mulai berlatih dan belajar. Bisa jadi pada akhirnya tak akan seandal Fate, tapi tetap ingin berusaha ... terlebih dengan umur panjang, aku memiliki banyak waktu untuk mengasah diri. Keabadian; dengan kekekalan tubuhku, aku bisa menghindari berbagai macam kemungkinan terburuk.
Mungkin, menjadi abadi tidak seburuk itu? Aku mulai tersenyum tipis.
Sebenarnya membenci raga ini, tetapi ketika memiliki tujuan yang jelas ... tidak buruk juga. Aku akan benar-benar berusaha melindungi mereka
"Sepertinya kau sudah membuat keputusan, Halfing."
Refleks aku menoleh pada asal suara, vokal terdengar berat beriringan suara gadis yang lembut begitu menarik perhatian.
"Ya, terima kasih Lord Metatron. Mungkin sampai di sini, Fate sangat kelelahan dan ketika engkau menggunakan tubuhnya, itu akan menabah beban. Saya tak mau menahan engkau lebih lama lagi tetapi sungguh bersyukur." Aku mulai membungkuk dan berkata lugas, "Terima kasih atas hari ini, Lord Metatron."
Beliau mulai beranjak dari bangku. Sepertinya tubuh itu benar-benar terbebani, terbukti dari jalannya sedikit sempoyongan dengan menyeret langkah.
Mendadak beliau berhenti. Tanpa menoleh ke belakang, Lord Metatron dalam tubuh Fate berkata, "Apa pun keputusanmu, kau harus siap menghadapinya."
Menghadapi ... iya, aku memejamkan mata. Mulai dari sekarang, aku akan berusaha membenahi diri. Tidak tahu apa yang akan terjadi; tidak tahu apa yang aku lakukan benar, tetapi tetap akan berusaha dan mencoba.