
Kami terus berjalan jauh, sangat jauh.
Seperti memasuki lorong demi lorong; melewati beberapa ruang kosong saling bersambungan. Hingga langkah berhenti lantaran tiba pada dua pintu kayu yang sangat besar, seperti gerbang atas ukir kuno.
Kemudian sang orang tua paruh baya melangkah pelan dengan tangan menyentuh gerbang, dan di balik netra merahku dapat menyaksikan bahwa wajahnya mengukir suatu senyuman nan sendu.
"Kamu tahu mengenai Ritual Pengorbanan?"
"Di sini tempatnya?" Langsung aku membalas cepat membuat lekung sabitnya semakin melebar.
"Iya. Mereka melakukannya di sini demi keamanan penduduk, dengan membuat kuil bawah tanah. Soalnya kekuatan jiwa Tiamat sungguh kuat sampai sering membuat ilusi tersendiri."
"Dan mereka menyebutnya kutukan dari iblis."
Mendengar balasanku, orang tua itu tertawa. "Tidak salah, kebenaran mengenai naga sudah lama dihapuskan dari ingatan manusia. Jadi, bisa kamu bukakan pintu ini untukku?"
Spontan aku memiringkan kepala lantaran dibuat bingung dengan ucapannya, sebab ... kenapa harus menungguku? Namun, lebih memilih abai dan menuruti titah; sekuat tenaga mendorong dua daun pintu besar yang lumayan berat. Mungkin karena sudah lama tidak dilalui sampai decit engsel menggaung dan terlihatlah lorong yang lebih besar daripada sebelumnya.
Tampak kami tiba pada daerah utama kuil bawah tanah.
Sewaktu kaki menjejak ke dalam, sontak dari sela langit-langit dan bebatuan tembok keluar suatu bayangan bertumpahan. Tampak cair tetapi kental pula. Kuyakin ini bukan air atau sejenisnya berhubungan di sini terlalu gelap hingga kesulitan melihat sekitar, ataukah memang air?
Benda tersebut turut menutup pintu masuk kami yang sudah tertutup rapat bak menahan untuk pergi.
Terlihat tak nyata ... seperti mimpi.
Lebih anehnya lagi, aku merasa tidak ada tanda bahaya. Namun, apa maksud dari ini semua? Apakah ilusi dari kepalaku? Tapi tidak merasa terguncang dan lagi, wajah orang tua yang bersamaku justru berubah masam dan tak suka secara bersamaan---he? Berarti beliau juga melihatnya? Jika ini perangkap musuh, kenapa tidak terasa sesuatu?
Jangan bilang ketika keabadianku hilang, kemampuan mendeteksi sekitar juga hilang. Aku mulai meraba badan sendiri.
"Ini di wilayah paling belakang kuil. Pada ujung lorong adalah altar pengorbanan, sebelum itu bisa kita mendatangi beberapa tempat---huh? Sedang apa kamu? Merasa tidak nyaman? Ada yang tertinggal?"
"Eh? A-ah, tidak. Jadi, harus ke mana dulu?"
Beliau mulai menunjuk jauh pada sisi sedikit ke kanan. "Ke ruangan dari melewati lorong itu."
Aku mulai menyipitkan mata, berusaha menangkap lorong yang beliau sebut dari kejauhan ... Tuhan, terlalu gelap dan sepertinya binar Vision tidak sampai ke tempat yang dimaksud---
"Oh, lebih baik kita segera ke sana!" Dengan cepat beliau kembali melangkah, aku turut mengikuti.
Kami pun berjalan sedikit lebih dalam, lalu buntu oleh tembok menjulang dan satu pintu kayu kotak berukuran sedang. Mungkin ini pintu yang beliau maksud?
Maka kucoba mendekati pintu tersebut, perlahan memegang knop dan memutarnya pada rotasi tetapi hal itu dihalang lantaran bayangan kelam tumpah dari sela atas pintu, berakhir menutup total---
"Waah!! Awas!"
Tidak mengindahkan peringatan, langsung aku menendang pintu tersebut sampai terhempas jauh ke dalam hingga suara debam memekakkan. Kemudian berbalik dan merentangkan kedua tangan bak mempersilakan beliau untuk masuk.
Ilusi atau apa pun, tidak akan kubiarkan menghadang kami untuk menyelidiki. Rasa-rasanya juga sudah sering melihat halusinasi lebih gila daripada ini karena kepalaku yang tak beres.
Namun, sang orang tua terkejut sampai mulut menganga lebar. Setelah terus mengerjap tak percaya, beliau berkata, "Kamu suka kekerasan ya?"
"Saya hanya bertindak praktis."
"Dengan tidak memperhatikan sekitar?"
Refleks aku menutup mulut dengan tangan kanan---ah! Itu mencelikkan benak. "Orang-orang sering memarahi saya karena hal tersebut, sepertinya itu kekurangan saya? Tapi hanya ingin bertindak cepat ...."
Mungkin juga itu salah satu penyebab aku kesulitan bekerja sama dalam tim. Tampaknya ini termasuk dalam daftar hal-hal yang harus dipelari. Aku mulai menyentuh tengkuk dengan canggung.
Mendadak suara tawa menggema, membuatku terkejut. "Kamu berbeda jauh dari Caterine."
Huh? Mendengar nama sang ketua Departemen Konsultasi memaksa atensiku kembali tertuju pada orang tua yang mulai sibuk memeriksa beberapa barang dalam ruangan, sedangkan aku tetap berdiri di mulut pintu. "Maksud Anda, Caterine Marrota?"
"Itu dia! Aku guru walinya! Ia kalau melakukan sesuatu selalu perhitungan---oh! Tapi kalau kamu sudah dekat dengannya, ia itu suka bercanda. Mungkin tertular dariku." Suara kekehan beliau pun menggema lembut. "Bagaimana kabarnya sekarang?"
Aku terdiam beberapa saat demi memikirkan jawaban apa yang harus diberi, pun berkata, "Mungkin beliau sedang sibuk. Belakangan ini seluruh ketua departemen sangat sibuk setelah melawan Tiamat."
"Ketua departemen? Waah, sepertinya Caterine sudah menjadi orang yang luar biasa." Lagi, suara kekeh nan khas mengudara. "Baik, wilayah sini sudah. Bisa kita periksa tempat yang lain?"
Sontak aku mengangguk, memancing gurat sabit nan cerah terukir di wajahnya.
Sungguh, mendengar tawa dan melihat senyuman beliau membuat perasaan berkecamuk dalam dada. Sebab terasa tak asing dan terkesan akrab, nyaman lantaran baru sekarang bertemu pada orang tua paruh baya ini tetapi auranya mengingatkan pada seseorang yang sedari dulu selalu di sisi.
Bahkan sepanjang perjalanan dan penyidikan, beliau bercerita pun bercanda kering, juga menanyakan beberapa pertanyaan sederhana. Mendengar jawabanku mengenai kabar anggota Vaughan belakangan ini, menghasilkan kelegaan tergambar jelas di wajah keriputnya, pula memberikan senyuman layu.
Terlebih mata biru tua nan dalam seperti aku menatap jauh pada dasar samudra; menatap jauh pada kekosongan, terkesan tenang namun sedih terpatri di sana. Kesenduan nan pekat melingkupi meski ini hanyalah tebakanku yang terkesan lancang tetapi mungkin saja benar.
"Oke, semua masih sesuai seperti terakhir aku melihatnya!" seru beliau mengetuk lamunanku hingga burai dan memfokuskan atensi padanya, "sekarang kita pergi ke altar. Sesampai di sana langsung masuk ke satu-satunya pintu di tembok belakang, ya!"
"Kenapa Anda tidak mengambil barang yang dicari?"
"Hm? Untuk apa? Kamu yang ambil nanti!" Senyum lebar pun beliau tunjukkan.
Namun, aku dilanda kebingungan sampai spontan menunjuk diri sendiri. "Saya?"
"Iya! Ayo kita ke belakang! Lebih baik tiba ke sana sebelum sore." Dan beliau langsung berlari begitu saja.
Orang ini ... entah mengapa begitu bersemangat padalah sudah terlihat tua, bahkan lebih tua dari Profesor Kaidan. Refleks aku menaikkan kedua pundak, mungkin ciri khasnya?
Lantas kembali mengekori beliau yang tampak sangat hafal seluk-beluk kuil bawah tanah seperti sudah tinggal selama bertahun-tahun.
Dan aku merasa ada keanehan lainnya.
"Omong-omong kita sudah bersama sejauh ini tapi tidak saling kenal, siapa namamu?"
"Red," jawabku padat, "Red Sirius."
"Salam kenal, Red! Namaku---"
Mendadak langkah beliau tersentak atas ekspresi nan rumit, seperti menunjukkan luapan emosi hingga mematung dan bisu. Aku tidak paham dengan tingkah tiba-tibanya tetapi langsung menuju ke mana beliau melihat.
Pelan-pelan, melangkah masuk pada ruang yang dirasa terlampau luas sampai dentum sol yang aktif menjejak lantai mengolah simfoni tersendiri.
Semakin dalam, semakin jelas bahwa aku sudah tiba pada ruang persembahan. Dan di atas altar ada bayang-bayang seorang gadis sedang duduk---tunggu dulu, aku mengenalinya ....
"Mei?" bisikku samar pada gadis serba hitam tersebut.
Spontan gadis itu terlihat mendongak dan menatapku atas mata berkilat merah menyala membuat banyak bayangan bertumpahan dari sisi-sisi dinding. Seketika keadaan disekitar turut menjadi abu---ah! Mendadak kesulitan untuk bernapas! Tercekik. Seperti ada sesuatu yang memaksa untuk masuk dalam dada dan bergemuruh tiada henti.
Refleks aku mencengkeram dan sedikit menarik baju di dada, berharap rasa ini hilang.
Namun ... gagal.
Sudah tak mampu lagi kaki menyangga, badan pun ambruk. Seketika pusing menjalar dan mata memburam, tekanan ini lebih kuat daripada yang aku alami dalam dunia mimpi!
Lebih-lebih kelopak mata terpancing untuk terbuka lebar hingga lensa merahku tersingkap dan akhirnya mengerti, tempat ini ... memiliki energi peninggalan Tiamat yang sangat kuat!
Dan gadis tersebut turun dari altar seraya merentangkan kedua tangan seperti ingin mendekapku---bahaya, kini aku merasakan bahaya!
Sekuat tenaga kaki kupacu untuk kembali berdiri sampai bulir peluh mulai mendominasi tetapi tidak bisa, tekanan ini sungguh kuat seperti tak ampun ditarik oleh gravitasi; ditambah bayangan-bayangan hitam yang muncul dari dalam lantai batu tampak melahap tubuhku sedikit demi sedikit.
Bahkan sampai saat ini ... Tiamat, masih mengincarku?
Spontan kepala mendongak atas iris merah menyaksikan bayang-bayang Mei semakin mendekat, membuat jantung bak berhenti seketika dengan napas tersentak---
"Cepat ke pintu belakang!"
Namun, orang tua itu secara tiba-tiba berada di depan membuat bayangan Mei berakhir mendekapnya yang juga menahan si gadis sekuat tenaga, dan terlepaslah belenggu tekanan yang begitu kuat dariku.
Tetapi tindakan tersebut seperti memancing murka si bayangan yang seketika meleleh ibarat perlahan-lahan menyatu dengan tubuh sang orang tua, turut mencakar epidermis kulit hingga beliau hanya bisa meringis dalam suara tersumbat di kerongkongan karena darah segar mulai memuncrat---
"Apa yang Anda lakukan?! Itu berbahaya!"
"Ke pintu belakang."
"Tapi Anda---"
Lantas beliau mencoba menengok ke arahku meski dengan amat pelan lantaran terlihat jelas mati-matian menahan perih, wajah ikut memucat tetapi memaksa untuk memberikan sebuah senyuman. Dengan suara lirih dan bergetar pula beliau berkata, "Aku ... mohon, Red."
Spontan aku mendesis kecil melihat kondisinya, terlalu menyesakkan untuk dilihat membuatku langsung menuruti titah.
Ketika aku mulai berlari menuju belakang altar, sontak bayangan Mei menjerit heboh sampai lengkingannya mungkin mencapai beberapa oktaf; memancing tangan refleks menutup telinga dengan mata yang menyipit karena sibuk menelisik sekitar---ah, itu dia!
Langsung aku mendobrak masuk menggunakan tubuh sendiri sebagai tumpuan beban. Sebab amukan bayangan itu ... mengerikan, jeritannya terasa ingin memecah telinga sungguh tak tertahankan. Namun, setiba di dalam sini perhatianku tercuri karena terasa tak asing; apa lagi kegaduhan sebelumnya tidak terdengar sama sekali dari pintu kayu yang sudah tertutup sendiri.
Pelan namun pasti, binar Vision menampilkan keadaan sekitar.
Ternyata aku tiba pada rumah kecil yang konstruksinya sederhana, atap tinggi; sebuah ranjang di sisi; meja dan rak kayu menguasai tempat. Seperti rumah yang dulu sempat aku huni bersama dengan Aion tetapi satu ini lebih sederhana dan sangat usang, seperti sudah lama diabaikan. Terlebih aroma lumut dan debu membaur dalam ruangan.
Namun, sesuatu yang ada di meja tengah ... menangkap rasa penasaran.