When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Dalam Mimpi



Ketika bangun, aku sudah berada di tempat yang sangat asing, tetapi cukup tenang dan nyaman.


Perlahan aku berusaha untuk duduk---ah, masih terasa pusing. Aku memegang kepala sesaat dengan satu tangan dan menggeleng pelan.


"Sudah merasa lebih baik?"


Aku menoleh ke asal suara ... oh, sang vikaris.


Aku pun bertanya, "Apa yang terjadi?"'


"Pagi buta kau berjalan ke sini dan tiba-tiba pingsan. Sang Uskup Agung mengkhawatirkanmu, kalau sudah lebih baik kita bisa menghampiri beliau."


Semalam ....


Mungkinkah ini seperti dulu? Ketika kesadaranku tenggelam dalam kegelapan, tubuh mulai bergerak dengan sendirinya.


Kuharap aku tidak melukai siapa pun.


Mungkin itu efek dari melihat raga gadis kecil yang terkoyak habis. Dan menyaksikan itu, sungguh membuat perasaanku sangat tersiksa.


Kenapa di saat genting aku selalu tidak bisa melakukan apa pun?


Aku menggenggam erat selimut, lalu mengembuskan napas panjang setelahnya.


Setidaknya sekarang ada hal lain yang perlu diurus.


Aku menyisihkan selimut, kemudian turun dari kasur. "Maaf. Saya sudah jauh lebih baik sekarang, tetapi ... kehilangan lentera jimat itu."


"Tidak masalah, yang penting sekarang saya akan mengantarmu menemui Sang Uskup."


Aku mengangguk mengerti dan mengikuti ke mana sang vikaris pergi.


Di luar kamar, aku disambut lorong panjang dengan tembok penuh ukir rumit corak keemasan.


Aku melihat keluar jendela dan menyaksikan matahari baru saja muncul di langit.


Tak lama kemudian terasa langkah kami memelan, memancingku untuk menoleh ke depan.


Sang uskup di sana, terpaku melihat keluar jendela seperti menikmati langit fajar. Sang vikaris pun pergi, meninggalkan kami berdua.


"Banyak orang datang untuk beribadah berakhir dalam koma. Mereka menunjukkan gejala yang sama. Saya lihat mereka dihantui oleh mimpi buruk, tapi saya tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka sekarat dalam mimpi mereka sendiri. Sedangkan kau ... kau mampu keluar dari mimpimu karena ada sesuatu hal yang spesial. Tetapi begitu mimpimu meluas, kau mungkin tidak akan bisa bangun lagi."


Itukah penyebab aku sering melihat halusinasi?


"Lalu bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini?"


Sang uskup menjawab, "Masuk ke dalam mimpimu dan temukan cara untuk menyelesaikan masalahmu sendiri."


Huh? Aku masih tidak paham.


"Tuan, tuan!"


Seketika pembicaraan kami terpotong karena sang vikaris tergesa-gesa mendekati kami.


"Kakakku! Ia tertidur dan tidak mau bangun lagi!"


Mereka pun menyegerakan langkah, aku turut mengikuti di belakang.


Kami memasuki kamar yang tak jauh dari tempatku bangun. Terlihat tata ruangan ini juga sama, satu kasur; meja dan kursi; jendela yang langsung menghadap ke taman belakang.


Sang vikaris bergegas duduk ke bangku di samping kasur---sebentar, ini ... gadis kembar rambut biru laut! Hanya saja tampak jauh lebih dewasa.


Lalu kejadian kemarin, apa aku masuk ke dalam mimpinya?


Apa yang tertimpa kepada mereka hingga memiliki kenangan seburuk itu?


"Dia telah tenggelam dalam mimpi buruk."


Setelah sekian lama kami terdiam, sang uskup yang berbicara pertama kali.


"Kau hanya bisa menghancurkan mimpi buruk dari dalam. Saya tidak bisa melakukan apa-apa ...."


Aku terdiam sembari menutup mulut menggunakan tangan kanan. Aku bisa terlepas lagi dari mimpi itu 'kan?


Hanya aku yang bisa.


"Saya akan melakukannya." Sang uskup langsung menatapku dalam-dalam. "Jika tidak ada yang menyelesaikannya maka ini akan terus berlangsung."


Setidaknya aku ingin mencoba menolong mereka.


"Terima kasih. Saya akan menyiapkan lentera lainnya. Kau bisa melapor kepada saya jika menemukan sesuatu. Saya akan terus ada di sekitar sini selama bukan jam beribadah." Dan sang uskup pergi meninggalkan ruangan.


Membicarakan masalah lentera, pertama kali aku menyalakannya, aku melihat sosok ia lagi.


Berarti itu hanya mimpi ....


Aku tahu tidak bisa lagi bertemu orang yang telah tiada. Namun, menyadari ini, kenapa dadaku terasa sakit?


Apa sungguh aku ingin terbangun dari mimpi?


Namun, aku melihat sosok gadis kembar rambut hitam tiba-tiba muncul dan mendekati perempuan dewasa rambut biru laut. Gadis kecil itu berdiri tepat di samping sang vikaris.


Samar-samar dalam suara yang memendam aku mendengarnya berkata, 'Kakak, apa kabarmu?'


Dan dadaku semakin sesak.


Tak tahan!


Langsung aku berlari ke luar ketika badan bisa kugerakan kembali.


Aku berlari jauh ... sangat jauh melewati barisan lorong sebab rasa takut tiba-tiba memenuhi dada, menghasilkan rasa dingin di punggung.


Seketika bayang-bayang masa kecilku memenuhi sekitar seumpama berlarian di antara lorong panjang yang terbakar api.


Sontak aku menggeleng.


Tuhan, kenapa aku selalu dihantui oleh masa lalu?!


Langkahku mulai memelan ketika aku menyadari ada di dalam gereja wilayah belakang.


Meski dadaku naik turun secara kasar, alisku hampir menyatu. Sebab apa yang anak iblis lakukan di dalam sini?


Aku butuh lentera itu dan bergegas pergi dari sini.


Segera aku mencari sang uskup.


...****************...


Tak disangka aku akan banyak menghabiskan waktu malamku di Piotr.


Lantas aku sedikit berjalan-jalan, mencari pohon besar yang kemarin ditemui.


Ah! Ini dia.


Namun, sebelum itu, aku memperhatikan sungguh-sungguh pohon ini dari atas hingga ke bawah.


Bisa dibilang pohon itu sangat besar, bahkan dahannya bisa menjadi tempat yang bagus untuk tidur santai.


Tunggu, kalau tidak salah ini pohon ketika aku menghindar dari Ultimate Skill sang Elite, yaitu meruntuhkan tanah.


Di depan sana pasti masih ada lubang besar itu, aku lupa belum mengabari tentang kerusakannya.


Mungkin sehabis ini--jika dapat kembali dari alam mimpi--aku akan membuat laporan kerusakan arena.


Aku mulai menyiapkan lentera minyak yang sedari tadi dibawa, lalu mengeluarkan pemantik api listrik dari dalam tas pinggang dengan tangan yang lain.


Mudah-mudahan ini akan berakhir baik.


Aku menyalakan apinya dan cahaya lentera bersinar lembut.


Aku menaikkan lentera hingga sejajar pundak dan mata mulai melihat sekitar.


Tidak terjadi apa pun.


Akhirnya aku mengambil satu langkah, tetapi pandanganku mendadak menjadi gelap dan seketika terasa tubuh terhempas jauh.


"Ack!"


Rasa terkejutku ditelan oleh sensasi seperti ditarik kasar oleh gravitasi, ibarat terjun dalam jurang tanpa dasar, membuat kesadaranku menghilang secara perlahan.


...****************...


Aku berusaha menggerakkan jemari. Lalu kaki dan tangan.


Bisa.


"Uughh."


Seketika aku membatuk sebab rasa sesak tersisa di dada, memancingku berusaha menarik napas dalam-dalam.


Ketika kesadaranku berangsur membaik, spontan mata menelaah sekitar meski harus mengerjap beberapa kali.


Ini ... aku yakin sudah berada di alam mimpi karena hujan rintik tak henti menyentuh kulit padahal sekarang masih di bulan Maret, dalam masa peralihan musim dingin dan semi. Terlebih tidak ada bekas salju di sekitar.


Terasa seperti berada di taman yang luas. Alas rumput ini sedikit lembab karena embun. Pohon-pohon rendah menghias sekitar dan lenteraku---astaga! Lekas aku duduk dan memeriksanya ... tidak ada.


Ah, lagi-lagi kehilangan jimat dari sang uskup. Ini sudah ke dua kalinya.


Meski lemas masih memenuhi tubuh, aku berusaha berdiri dan perhatianku langsung tertuju ke atas. Sebab entah ini siang; pagi; malam, langit tampak redup dalam binar oranye, tetapi banyak bintang menghiasi bersama gumpalan awan.


Sang matahari dan bulan berdampingan, membuatku semakin percaya ini adalah alam mimpi.


Aku mendengkus dan beralih melihat ke depan ... si kembar rambut biru laut! Aku yakin itu dia karena kucir dua dengan pita merah besarnya begitu mencolok.


Lekas aku menghampirinya.