
"Maaf ya, baru bisa mulai beres-beres sekarang."
Dengan terus memasukkan beberapa dokumen dalam kardus, aku menoleh padanya. Daniel masih duduk santai di atas meja, beberapa kertas juga ada dalam genggaman tangan kanan. Tampak si pirang sudah bisa menggunakan tangan protestic dengan baik, meski pergerakan masih sangat lambat tapi sudah bisa melakukan pekerjaan dasar.
Lantas aku menggeleng. "Tak apa, kamu juga butuh pemulihan dan rehabilitasi."
"Iya, tapi lama banget enggak sih? Hampir dua minggu."
"Eem, tidak terlalu. Aku juga banyak mengerjakan tugas, lumayan sibuk jadi tak terasa lama untuk menunggu."
"Haaa, kangen juga kegiatan di Departemen Eksekusi, bisa jalan-jalan ke mana saja. Departemen Gear lebih sering dalam kantor, bosan."
""Karena kalian lebih banyak melakukan riset dan penelitian 'kan?" Perlahan, aku menutup kardus yang telah penuh dan mengangkatnya. "Daniel, yang ini juga letakkan di kamarmu?"
"Iya, sama itu yang di pojokan. Tolong ya!"
Tanpa memakan waktu aku keluar dari ruang kerja club dan membawa beberapa kardus. Berjalan bolak-balik dari ruang belakang--dekat taman belakang club yang mana Fate sempat mengomeliku waktu dulu--ke lantai dua cukup merepotkan, apa lagi masih banyak anggota club berlalu lalang.
Kadang aku menabrak mereka karena penglihatan terhalang oleh tumpukan kardus, untungnya barang bawaanku tak pernah jatuh. Namun, yang paling membuatku merasa tidak enak adalah mereka yang terjungkal, bukan aku.
Aku mulai mendengkus, lebih baik cepat membantu Daniel. Aku juga takut tiba-tiba mendapat panggilan tugas.
Namun, ketika kembali, dari pintu yang terbuka lebar kulihat Daniel telah duduk pada salah satu sofa dalam ruangan kerja club. Seperti memilah sesuatu. Wajah seriusnya tak biasa dan entah kenapa tampak aneh.
Ketika masuk, mungkin langkah tumitku begitu menggema hingga dia langsung menoleh.
"Oh, Red! Kertas yang di meja itu tolong bawa ke atas juga ya! Ini yang terakhir lagi aku pilih-pilih."
Lantas aku kembali mengambil kardus kosong yang sudah ada di pojok ruang dan menuruti titah dengan terheran-heran; tak henti memandang ke arah si laki-laki. Bagaimana tidak? Cecil setia berdiri di situ, tepat depan meja di mana Daniel terus saja memilah kertas. Tak satu pun dari mereka saling tegur sapa.
Setelah meletakkan beberapa dokumen di genggaman, Cecil langsung pergi meninggalkan ruang---eh, apa itu? Mereka bahkan tidak saling tatap!
Biasanya kalau sudah bertemu, pasti selalu heboh. Meskipun hanya berpapasan, tentu ada salah satu dari mereka berteriak atau meninggikan suara. Sekarang, hanya menyelesaikan urusan, selesai.
Mungkinkah mereka bertengkar? Apa karena Cecil menangis waktu itu? Di hari mendapat kabar mengenai kondisi Daniel. Tapi dia sempat bilang akan menyelesaikan masalahnya. Jadi, kenapa?
"Daniel ... itu tadi ada Cecil, kenapa kalian---"
"Aku tahu kamu bakalan heran." Lembaran kertas yang dibanting kasar ke atas meja terdengar memekakkan. Jemari kiri mulai menelisik poni, bahkan tangannya sampai menutup mata. Badan turut bersandar dan merosot dari sofa.
Entah mengapa, gelagat Daniel seperti menyiratkan suatu frustrasi.
"Aku nyerah."
Eh?
Aku berhenti membereskan barang-barang dan memilih menatap Daniel sungguh-sungguh. Dia menurunkan tangan kiri---ah, mata berkedip berkali-kali, seperti setengah mati menahan air mata yang mendesak untuk diluncurkan karena jelas pelupuknya mulai basah. Kemudian dia mengulang gelagat yang sama seperti sebelum ini.
"Aku sadar kok Cecil aslinya benci sama aku. Usahaku selama ini salah; sia-sia, soalnya memang aku enggak mengerti buat ia senang ... mana ada aku pengalaman sama masalah ginian?"
Kini si laki-laki tertawa hambar, lebih terdengar menyakitkan karena jelas sekali terkesan dipaksa.
"Jadinya malah kayak menganggu ... ia suka marah-marah karena aku 'kan? Sudahlah, mungkin sampai sini saja dah cukup. Lagian sekarang aku cacat, sudah enggak ada harapan lagi."
Aku tertegun, antara bingung dengan apa yang dimaksud atau karena wajahnya begitu sendu. Baru sekarang Daniel tampak benar-benar putus asa, biasanya dia selalu optimis tetapi kini mata hijau hilang binarnya bak tirai kabut menghalangi. Bibir yang biasa menyengir lebar, mulai bergetar samar ibarat menekan lara kuat-kuat.
Bahkan ketika membahas masalah tangan, dia tidak begini. Mungkinkah Daniel tidak bisa melihat sisi positif dari masalah ini?
Menyadari hal tersebut, membuat denyut nyeri merambat dalam dada tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa memandangnya penuh nanar. Entah kenapa, aku merasa tidak enak melihat tingkah Daniel yang tak biasa. Harusnya, tadi tidak kutanya ... ha-ah, kenapa aku mudah merasa penasaran?
Embusan napas panjang mengumbar, Daniel kembali memilah---
"Memang kenapa kalau cacat?"
Cecil?
Seketika dia muncul dari balik pintu. Suara khas yang melengking begitu menusuk tapi kontras dengan wajah memerah bersamaan mata jelas berkaca-kaca.
Dia juga menggeram, lengan mungil mengepal kuat hingga buku jarinya memucat; seperti ingin meledak. Apa lagi keras-keras menyentakkan langkah menghampiri si pirang dan mencengkeram kerah bajunya penuh tenaga. Kemudian menjerit ... tepat di depan wajah Daniel.
"Memangnya kenapa kalau kau cacat, ha?! Omongin cacat? Aku lebih cacat! Kau pikir punya tubuh kayak begini enak?! Enggak! Aku lemah, selalu dipandang rendahlah! Dicap anak kecillah! Diledek-ledekinlah! Capek tahu enggak ada yang anggap aku normal! Kamu orang pertama yang mau terima aku!!"
Kini aku bisa melihat ... mata hijau Daniel melebar mendengar hal tersebut dan pada saat bersamaan, perlahan air mata turun dari mata Cecil.
"Aku kecil, bukan apa-apa; enggak menonjol, dan cuma kamu yang tulus mau terima aku apa adanya! Kamu yang pertama mengajakku bergabung dengan club juga! Berkat kamu aku memiliki teman-teman, bahkan keluarga di sini. Tadi kamu bilang kamu mau berusaha aku bisa tersenyum lagi, tapi sekarang kamu malah ...."
Di situ, aku menyadari ... ternyata Daniel bisa selembut ini. Jujur itu suatu kejutan tersendiri untukku.
Ketika tangisan Cecil telah sedikit mereda, Daniel mengukir suatu senyuman. "Lucu, kamu sebutin kelebihan kamu sambil nangis?"
Cecil pun mendongak, jelas sekali masih tersedu-sedu tetapi mata neon merah muda mulai menatap Daniel dalam-dalam.
"Bukannya itu bagus?" Senyum kuda kembali terukir di wajah cerah Daniel. "Yang lain bertambah tua, kamu tetap awet muda kayak umur dua belasan tahun, seperti seorang peri!"
Jelas tatapan bingung dan tidak percaya terukir di wajah si gadis, tetapi Daniel tak henti menampilkan senyuman nan teduh. Perlahan, tangan kiri si pirang mulai menyeka air mata di pipi merona Cecil, terkadang menyisipkan helai-helai rambut putih ke belakang telinga.
Ada suatu kesan ketenangan sendiri di antara mereka dan ajaibnya, tangisan Cecil kini berhenti sempurna ... hanya tersisa sentakan kecil.
"Hei, Cil." Vokal Daniel terdengar rendah namun lembut pula, aneh tidak kalau aku sebut terkesan jantan?
"Mau menghabiskan sisa hidupmu denganku?" Yang dituju terkejut, mata turut mengerjap tak percaya; mulai salah tingkah apa lagi muka memerah tomat.
"Ta-tapi aku---uh, hormonku memang sudah stabil ... tapi kemungkinan besar, susah punya anak," ucap Cecil terbata-bata berkat sisa tangisan yang belum sepenuhnya reda.
"Sekarang kamu juga budek?" Spontan Cecil hendak memukul Daniel tetapi pergerakannya ditahan karena tangan langsung digenggam oleh si pirang.
Terlebih wajahnya sangat serius, membuat aku dan Cecil tertegun seketika. "Aku bilang, habiskan sisa hidupmu denganku ... enggak lebih."
Cecil sukses membeku, mungkin terlena dengan tatapan mata hijau yang begitu dalam? Seperti hilang pada rimbunnya hutan nan sejuk bersamaan decit burung menemani di setiap detik. Mereka terkunci, saling tatap untuk beberapa menit sampai Cecil membuang muka dan membenamkan wajah pada pelukan Daniel.
Samar-samar aku mendengar Cecil bergumam, "Iya ... aku mau."
"Hah?! Apaan? Enggak dengar!" celoteh Daniel kuat-kuat tepat di telinga Cecil.
Saat itu juga yang dituju langsung berdiri dan mengerang keras, tampak seperti ingin memukuli si pirang tetapi langsung Daniel hentikan dengan menahan dua pundak mungilnya. "Aku bilang, aku mau! Kamu tuh, nyebeliiiin!"
Sontak Daniel tertawa lepas, amat keras sampai kedua mata terpejam dan tanpa basa-basi kembali memeluk-meluk si gadis. Bahkan wajah cakap itu turut memerah---ah, aku belum pernah melihat Daniel sebahagia ini, seperti bunga matahari di tengah padang rumput yang bermandikan sorot sang surya.
Cecil juga tak kalah, bagai gadis malu-malu yang biasa aku lihat di televisi--siaran romansa timur, sering ditonton oleh anak-anak club--ketika dijodohkan dengan cintanya. Bahkan aku juga berpikir Cecil itu benar-benar imut.
"Cecillia Judit, aku menyayangimuuu!"
"I-iya, aku juga ...."
"Haaaa?! Yang jelas dong!"
"Aku juga menyayangimu, bodoooh!!"
"Heee, ternyata kalian saling menerima satu sama lain."
Mendadak keduanya mematung dan menoleh padaku yang berjongkok di depan kardus secara serempak. Sedangkan aku ... mengerjapkan mata beberapa kali melihat tingkah mereka tiba-tiba diam, padahal tadi saling berteriak 'kan? Adakah ada yang aneh denganku?
"LOH?! Kok masih ada Red---hmpf!"
Seketika Daniel memeluk Cecil, begitu kuat sampai si gadis meronta-ronta---eh, itu dia bisa bernapas tidak?
"Woh, iya dong!" sahut Daniel bangga, "begini cara nembak cewek!"
Nembak? Tembak di mana? Maksudnya menyatakan cinta? Oh, itu kiasan orang-orang masa kini bukan? Aku tak mengerti dan berakhir memiringkan kepala. Sedangkah Daniel terus saja terkekeh, mungkin kegirangan? Kemudian dia melihat pada jam di dinding ruangan, aku ikut menoleh---oh, jam sebelas, sudah masuk waktu jam makan siang. Tak terasa waktu cepat berlalu.
Mendadak Daniel memanggilku, lantas aku menghampiri dengan ragu-ragu karena cengirannya semakin lebar ketika kakiku melangkah makin dekat. Entah kenapa terkesan ... jahil?
Ketika sudah berdiri tepat di depannya yang masih duduk bersandar, dia mulai mengangguk-angguk.
Omong-omong Cecil sudah berhenti meronta-ronta---eh, pingsankah?
"Sekarang kamu berbalik," perintah Daniel yang lagi-lagi aku turuti, tapi satu sisi bertambah bingung juga, "nah, sekarang praktikan!"
Huah! Kenapa dia mendorongku ke arah pintu?!
Bruk!
Eh ... astaga, Fate?! Kenapa bisa ada di sini? Apa Daniel sudah merencanakan sesuatu? Tuhan, hampir saja dia terjatuh karena menabrakku. A-aku juga tak menyangka tiba-tiba ditendang dari belakang, untung Fate sudah kutahan dengan memegang dua lengan atasnya.
Si gadis tampak terkejut pula tetapi dia masih terasa kosong seperti terakhir kita bertemu. Berkat itu, aku melihat ada suatu kejanggalan sampai menarik dagunya untuk bertatapan dengan mata jelagaku.
"O-oi, Red! Jangan langsung sosor juga!"
Pekikan Daniel aku tak pedulikan karena ini benar-benar membuatku khawatir. Dengan wajah serius dan aksen tegas, aku bertanya, "Fate, sejak kapan matamu berubah menjadi warna ambar?"