When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
Sebuah Pembicaraan II



"Kehadiranmu; kehidupanmu; tingkah lakumu, bahkan eksistensimu, aku membencinya."


Kata yang terlontar terdengar sangat beku; menghunjam, membuatku hanya mampu terdiam di bawah sorot rembulan yang entah kenapa tampak sendu pula. Namun, si pemuda tetap memperlihatkan wajah minim akan ekspresi, membuat kedua mata emasnya seolah-olah memberikan kesan mencekam tersendiri.


Setidaknya, sampai dia berpaling dan melihat debur-debur ombak yang menghampiri.


"Saat mendapat pencerahan melalui ingatan Sen, aku sampai sulit untuk tidur selama beberapa hari ... melihat apa yang Fate dan Sen lalui di dunia asal mereka, serta alasan kenapa Fate harus benar-benar dijaga. Melihat sejauh apa yang mereka lakukan dan korbankan untuk dunia mereka ...."


"Yang awalnya diminta tolong Sen, lama kelamaan aku menganggap Fate sebagai adikku sendiri. Entah ia sadar atau tidak, tapi selama ini aku menjaganya dari jauh dan sering memperhatikannya. Mengingat Gaia; bahaya yang sebenarnya, masih belum dibereskan. Perlahan aku pun sadar ... tatapannya untukmu berubah, mirip tatapannya saat melihat Sen." Dan mata emas melirik tajam ke arahku. "Ia menyukaimu."


Seketika napasku ibarat tercuri atas jantung berdetak lebih kencang, terlebih diberikan perlakuan seperti itu. Dia lanjut berkata, "Setiap membicarakan soal dirimu, Fate sering sekali tersenyum. Ia juga memperhatikanmu dari jauh, seperti aku menjaganya dari jauh."


Lux menghela napas berat.


"Makannya kalau kamu kenapa-kenapa, Fate bisa dibuat khawatir dan cemas. Memang tidak kelihatan dari luar, tapi aku yang selalu memperhatikannya tahu ... ia sangat protektif padamu. Tidak heran Fate sampai bertindak nekat dan mengorbankan dirinya untuk kamu yang sebegini bodoh. Dan kamu yang begitu, pantas bisa bersama dengannya? Apa yang kamu lakukan untuknya, selain membuatnya tambah kerepotan?"


Kemudian Lux terlihat seakan ingat sesuatu. "Oh, soal kerepotan ... Red, apa kau tahu apa yang terjadi pada Fate setelah kau mengembalikan Anugerah dari Metatron?"


Tunggu, kenapa mendadak dia bertanya hal itu? Kejadian yang sudah lama berlalu ... dan entah kenapa rasa tak nyaman mulai mendominasi hati, membuatku menggeleng secara perlahan dan menggenggam ujung baju dengan kedua tangan padahal jantung berdetak sedikit lebih kencang. Seakan tubuh secara refleks bersiap pada perihal yang akan kudengar. Dan benar saja, Lux langsung tertawa.


Tawa yang terdengar menyakitkan di telingaku seakan menjadi sebuah cemooh tersendiri.


"Tentu saja! Tentu saja ia tidak menceritakannya padamu."


"Apa ... maksudnya?" Dan aku ucapkan itu dengan amat sangat pelan.


Tetapi Lux melihat ke arahku lagi atas senyuman sarkasme terlukis di wajah. "Di malam bersalju itu, dengan tubuh lemahnya yang masih beradaptasi kembali dengan Anugerah Metatron, ia mencarimu."


Seketika kelopak mataku melebar mendengarnya.


"Aku ikut membantunya untuk mencari. Karena meski sudah bertanya kepada EVE dengan tingkat izin milik Fate, keberadaanmu tidak diizinkan untuk diberi tahu kepada siapa pun. Hingga akhirnya aku memaksanya untuk istirahat. Begitu kami sampai ke rumah sakit, ia pingsan karena demam tinggi. Dan harus dirawat selama seminggu lebih."


Jadi setelah itu ... Fate demam tinggi?! Ah, mungkin karena terlalu lama berada di luar ruangan dengan tubuh yang masih beradaptasi terlebih malam bersalju? Untukku sendiri bahkan sampai tertidur penuh selama beberapa hari---sebentar, kenapa tidak ada yang memberiku kabar mengenai Fate? Terlebih, aku dan dia sama-sama dirawat di rumah sakit bukan?!


"Tidak ada yang tahu soal Fate yang sakit. Bahkan Crist pun tidak mengetahui ini," ucap Lux seakan mengerti apa yang aku pertanyakan dalam pikiran, "tapi ... Kaidan tahu."


Dan kedua tanganku yang menggenggam ujung baju spontan melemas, seperti jantung seolah-olah berhenti untuk beberapa detik. Sebab rasa tak percaya---ah, Profesor Kaidan mengetahuinya? Kenapa tidak memberi kabar masalah ini? Mungkin tak mau aku dibuat khawatir agar menjalani rehabilitasi dengan baik?


"Pada hari itu, aku kehilangan rasa hormatku padanya. Ia gagal menjadi 'Sang Penimbang'." Lux pun mendengkus. "Kalau bukan karena Lucian, mungkin Kaidan sudah kehilangan satu tangannya."


Lalu apa lagi ini, kehilangan satu tangan?! Berarti Lux menyerang Profesor Kaidan dalam pertarungan hidup mati?! Sebegitu emosikah dia? Aku semakin tidak mengerti, tapi Lux memang keturunan Rectorem dan telah mendapat didikan langsung dari Sen ... dapat menekan beliau---Tuhan, kenapa bisa sampai terjadi seperti itu? Apa karena permintaan untuk menutup keberadaanku pada beliau?


Astaga, kenapa berakhir kacau? Kepalaku pun sakit membayangkannya, memancing tangan kanan naik secara perlahan dan mencengkeram helai-helai rambut merah. Terlebih angin malam laut berdesir sedikit demi sedikit membawa rasa beku yang tak enak.


Aku tidak tahu, ternyata suatu keinginan sederhana bisa memberikan dampak sejauh ini.


"Ah, sudahlah, kesal juga mengingatnya. Toh kita tidak sedang bahas dia, tapi kalau bukan karena Kaidan menahan informasi, salah pahammu dan Fate tidak akan berangsur lama." Spontan Lux mengacak rambut hitamnya frustrasi dan menatapku dengan kesal. "Bukan berarti kamu tidak punya kesalahan juga."


"Sehari sebelum kau kembali, malam itu aku menemukan Fate menangis setelah menghubungimu. Aku sempat menyadari ia berjalan keluar mansion, tapi ketika kupanggil tidak merespons dan mendadak hilang begitu saja. Tentu aku tidak tinggal diam tetapi di saat bersamaan Sen justru berbisik 'yang ini bukan bagianmu'. Tapi kenyataan kau sudah menyakiti perasaannya dan membuat ia menangis ... aku sadar, saat itu, aku tidak menyukaimu. Membencimu bahkan."


Lux pun melipat kedua tangan di depan dada.


"Apa lagi sampai melamarnya, pernikahan lebih rumit daripada yang kau kira. Tidak segalanya diisi dengan senang-senang, apa lagi buat kamu bocah kurang didik. Aku juga tidak bisa terus-terusan menjaga Fate karena pernikahanku sendiri sudah hampir dekat, makannya aku biarkan saja. Tapi melihatmu ... membuatku ragu, memang kau pantas bersanding dengannya?"


"Tentu jawabannya tidak." Cepat aku menyambar perkataannya.


Tak lama, sunyi membumbung sampai-sampai suara ombak yang menjamah bibir pantai terdengar keras. Kukira dia akan terus berkata, apa pun itu kekesalannya padaku, tapi kini Lux hanya berdiri di sana atas kedua mata emasnya menatap lurus. Ibarat menungguku mengatakan lanjutan dari kalimat tersebut.


Namun, apa yang diucapnya semua benar, sebuah kenyataan yang pahit dan aku tidak memiliki suatu dalih untuk membela diri. Apa lagi ....


"Aku juga, benci diriku sendiri."


Lantas mataku langsung tertuju ke sisi, memandang laut di samping si pemuda yang minim akan pantulan cahaya bintang. Mungkin tertutup awan, atau juga sebagai petunjuk sendiri bahwa aku menyadari sudah ada dalam jalan yang sulit dan menyakitkan, tapi selalu terlewat dari berbagai bahaya dan tetap berdiri kokoh.


Hingga saat ini.


Aku pun telah menerima diri sebagai setan ... atau iblis, lebih tepatnya.


"Aku juga menilai diri ini sebegitu menyedihkan. Aku juga sadar, seharusnya tidak ada dan berdiri seperti ... sekarang, di saat ini. Aku juga tidak tahu kenapa selalu selamat dari bencana dan banyak yang berkorban demi diriku, serta penyebab berada di dunia ini. Tapi jika memikirkan itu semua sudah tidak begitu berarti. Sebab yang terpenting, apa yang harus dilakukan untuk sekarang."


Sontak aku balik menatap ke arah Lux, meski dengan terkekeh kecil. "Aku pun heran kenapa Fate bisa menyukaiku, apa ia tidak salah pilih? Tapi karenanya, aku ingin terus melangkah maju; mempelajari semua dengan baik. Itu kenapa tidak keberatan menjalani ini, pelatihan dan pindah ke Eother. Aku ingin pengalaman. Padahal tidak mau melepas Fate begitu saja. Aku ini ... sungguh, mencintainya."


Karena aku yang begini memang masih jauh dikatakan dari pantas. Bahkan kekacauan yang ada dibelakangku disebabkan oleh aku sendiri pun tidak mengetahuinya ... tidak sadar, malah. Apa lagi sampai nanti hidup bersama dengan Fate? Bisa-bisa aku menyakitinya tanpa sadar---ah, yang itu lebih mengerikan untuk dibayangkan.


"Benar yang kamu katakan, aku hanya bocah kurang didik. Kehidupan seperti ini rasanya sangat asing. Tapi ... tidak ada kata terlambat, jika aku mau berusaha 'kan?"


Spontan aku terpancing untuk memberikan suatu senyuman yang menjalar dari dalam hati. Mungkin karena mengetahui ada seseorang yang sungguh-sungguh memperhatikan Fate dan peduli padanya sebegini jauh. Atau mengerti Lux rela memberikan teguran seperti ini.


Meskipun terdengar pahit, aku memang sadar dan heran akan semua mukjizat Tuhan berikan dalam kehidupan yang sekarang. Sudah sepantasnya aku perhatikan itu dengan baik dan mensyukuri semua yang terjadi.


"Kalau begitu jangan buat ini semua sia-sia." Mata emasnya seakan berkilat di bawah rembulan. "Berbeda dari yang lain. Sama dengan Lucian, aku tidak segan membunuhmu."


Seketika kalimat tersebut membuatku ingat akan perkataan Head Master Lucian. Sepertinya keluarga Rectorem memang sebegini kritis dan blak-blakan, pantas saja Fate mudah berbaur dengan mereka.


"Akan aku usahakan. Mungkin juga membutuhkan banyak waktu sampai benar-benar paham. Maka dari itu kalau kamu tidak keberatan, maukan memberi teguran seperti ini lagi?"


"Hah. Jangan harap aku akan lembut terhadapmu, aku bukan Crist yang terlalu lembek."


"Aku juga ingin kamu menganggapku dengan serius."


Sebab ini yang membuatku merasa kurang, diriku sendiri.


Aku takut kedepannya tak bisa membuat Fate bahagia sebagaimana mestinya. Tidak mau lagi kejadianku dengan Aion kembali terulang. Sebab sejatinya hanya ingin mempertahankan rasa cinta, yang entah kenapa sulit sekali muncul. Dan sekalinya datang ... takut hancur dan berakhir sulit melupakan, seperti dulu.


Maka dari itu, tidak mau mengisi hidup hanya soal gagal, memulai lagi, dan kembali gagal. Sudah waktunya mengisi lembar kosong ini dengan sesuatu yang baru.


Dan perkataanku barusan, berhasil membuat ujung bibir kukuh si pemuda tertarik samar.