When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Kekhawatiran



Tunggu, warna matanya sama ketika misi dalam portal kereta bawah tanah.


Ah, benar!


Saat hendak mengeluarkan Sight, seper sekian detik mata Fate yang sedang bersinar memancarkan suatu kerlip berwarna ambar. Iya! Meski sekilas, aku yakin melihatnya dan ternyata itu bukan perasaanku saja! Tuhan, waktu itu dari sekian banyak orang kenapa hanya aku yang sadar?! Dan sekarang---astaga, aku benar-benar tak bisa tenang.


"Warna ambar? Sejak---eh, Red?"


Tanpa pikir panjang aku langsung menggendongnya di depan, buru-buru membawa Fate kepada Profesor Caterine. Aku harap beliau ada di ruangnya.


"O-oi Red! Sekarang malah diculik! Aduh, Cil! Bangun, oi!!" teriak Daniel yang lagi-lagi aku hiraukan.


Sebab perasaan negatif terus saja menghantui meskipun sudah berusaha kuredam, tetap saja ... tak mau hilang! Tuhan, aku mohon hal ini tidak membawa kabar buruk apa pun.


Ketika sampai pada ruang utama club, aku tak henti berteriak meminta para anggota yang masih berkeliaran untuk menyingkir. Kemudian menahan tubuh si gadis dengan satu tangan demi membuka pintu depan secara cepat---haah, Fate ringan sekali! Apa ini karena keanehan lain dari tubuhnya atau memang dia ringan? Aaah, aku tak bisa lagi membedakannya!


Sungguh seperti orang kesetanan lantaran terus berlari tiada henti. Sudah tak menghiraukan sekeliling seperti tatapan orang-orang yang kaget dan tak percaya; tidak berhenti meminta siapa pun yang menghalangi jalan untuk pergi. Sebab aku yakin kalau sampai menabrak mereka ... mereka yang berjatuhan--bukan aku--dan menimbulkan korban lainnya.


Aku tidak mau itu.


Satu sisi, Fate tampak tenang--terkesan pasrah--entah karena merasa bingung atau apa ... tapi berbeda denganku, hawa dingin mulai mengelus belakang punggung seperti rasa cemas kembali merasuk. Perlahan perut terasa sakit bak dijerat kuat. Namun, tetap saja kupaksa tumit untuk menyaruk langkah lantaran tak mau hal buruk terjadi pada gadis ini.


Aku sudah berjanji akan melindunginya bukan?


Sebab selain warna mata berubah, tubuh Fate lebih dingin lagi daripada kemarin-kemarin. Terlebih tekanan aura semakin melemah. Oleh karena itu ketika kubawa, aku memeluk Fate pelan berharap dia merasa lebih baik.


Aku hangat 'kan?


Aku takut suatu saat ketika mengajaknya berbicara, dia sama sekali tidak merespons---aagh, aku mengerang kecil. Apa yang kau pikirkan Red?! Jangan sampai itu terjadi!


Ketika sampai pada Rumah Sakit Vaughan, aku terus berkelit ketika melewati lorong demi lorong. Berusaha keras tak menabrak para staf yang bertugas hingga sampai pada dua daun pintu besar di lantai bawah. Tanpa basa-basi aku menendang pintunya kuat-kuat dan menerobos masuk.


Di dalam Crist terkejut hingga berpegangan pada kursi yang diduduki. Sedangkan Profesor Caterine ... jelas beliau tampak marah. Namun, aku tak peduli dan melangkah semakin dekat. "Profesor aku mohon, tolong periksa Fate!"


Wajah penuh kerut dengan alis menyatu itu mereda, pelan-pelan Profesor Caterine menarik napas dan memperbaiki posisi kacamata.


Saat beliau berjalan mendekatiku, aku menyodorkan Fate. Gadis ini hanya mengedipkan mata berkali-kali seraya menatap wanita di depan. Ya, mata yang telah berwarna ambar! Sepertinya beliau juga menyadari hal tersebut.


"Cepat bawa Fate ke ruang rawat sebelah."


Aku mengangguk dan mengikuti beliau. Tapi selama di perjalanan, rasa khawatir belum juga mereda. "Apa Fate akan baik-baik saja? Apa ini berdampak buruk untuknya? Kenapa Fate bisa sampai seperti ini? Apa ini memiliki efek samping? Apakah Fate---"


"Baringkan dia ke kasur. Dan kamu ...." Profesor Caterine menyipitkan mata. "Cepat keluar dari sini."


"Tapi aku---"


Seketika ekspresi beliau berubah sinis dalam bibir merah berdesis pelan, gemerlap kecubung kini terasa horor dan saat itu juga Crist menarikku untuk keluar ruangan. "Lebih baik kita tunggu di luar. Miss akan sulit memeriksa jika ada yang mengganggunya."


Ah, hampir lupa ada Crist di sini. Tadi dia sedang membahas hal serius dengan Profesor Caterine bukan? Aku merasa tak enak telah mengusik pembicaraan mereka.


Dengan terus mengekor padanya, aku menunduk dan bergumam, "Maaf sudah mengganggu kalian ...."


"Ahahaha tidak apa-apa, sepertinya keadaan cukup genting. Ayo menunggu di sini." Crist duduk pada salah satu bangku di pinggir lorong dan aku mengikutinya. Kemudian mendengkus dan mulai bersandar beriringan menjulurkan kaki ke depan.


Setelah tak mendengar kabarnya pada masa pemulihan, aku justru diberi kejutan lain. Tapi kejutan yang satu ini tidak aku sukai.


Sudah tidak paham lagi sebenarnya apa yang terjadi di antara kami? Satu pertanyaan terus saja menganggu; mengusik dan memenuhi kepala serta jiwaku; mengaduk-aduk relung dada tanpa ampun.


Apa semua kejadian akhir-akhir ini ... karena aku bertahan terlalu lama di sini? Aku mulai mengesah.


"Dia akan baik-baik saja," tutur si pemuda lembut dengan menepuk pelan pundakku, "lebih baik banyak berdoa pada Tuhan daripada terus memikirkan hal yang tidak-tidak."


"Iya. Terima kasih, Crist."


Ketika hendak menautkan kedua tangan, tiba-tiba suara teriakan yang samar mendekat. "Oooi Red! Haah, kau cepat banget larinya!"


"Dilarang berisik ketika di rumah sakit!" sergah Cecil dengan menendang bokong si pirang kuat-kuat.


Yang dituju mengaduh pelan tetapi langsung menatap padaku. "Gimana Fate? Kamu langsung lari tadi, panik aku! Memangnya ada apa sih? Aku cuma dengar sekilas kamu bilang warna ambar doang."


"Warna mata Fate, aku melihatnya sudah berwarna ambar persis seperti dulu kutanya padamu saat misi bawah tanah. Ternyata itu bukan perasaanku saja."


Kedua mata Daniel dan Cecil melebar mendengarnya, pun serempak berkata, "Serius?!"


Aku mengangguk, membuat Daniel melihat ke arah Crist dan pemuda itu juga mengangguk membenarkan. Perlahan Daniel menghela napas sambil mengacak-acak rambut pirangnya, erangan kecil juga terdengar. "Argh, ia baru saja keluar dari rumah sakit. Sekarang apa lagi coba ...."


Cecil melihat ke arah Daniel dengan tatapan lesu sebelum bertanya kepada Crist, "Terus, di mana Fate sekarang?"


"Dia sedang diperiksa oleh Miss Caterine, dan sepertinya kita sudah bisa masuk sekarang," jawab Crist sambil beranjak dari bangku, tangan kanan juga menggenggam ponsel---oh, mungkin dia sudah diberi tahu oleh beliau?


Ketika Crist membuka pintu, kulihat Fate sudah duduk di pinggir kasur dan Profesor Caterine berdiri tepat di depannya. Buru-buru aku menghampiri dan duduk pada kursi yang tak jauh dari Fate hingga berdecit karena bergesekan dengan lantai.


Aku mulai bertanya, "Fate kamu baik-baik saja? Apa merasa pusing? Ada yang sakit? Di sebelah mana? Apa bisa---"


Buk!


Mendadak Profesor Caterine memukul kepalaku dengan gulungan kertas dan seketika aku tertegun, menatap beliau dengan terkejut-kejut seraya menyentuh kepala menggunakan dua tangan.


"Biar aku jelaskan," ucapnya lugas beriringan menyilangkan tangan depan dada, bersamaan suatu senyuman yang bisa kubilang ... mematikan.


Merasakan aura beliau, seketika aku menunduk dan menautkan jemari di antara dua paha. "Baik, Bu."


Suara tawa nan samar mengudara. Memancingku untuk kembali mendongak, dan kudapati beliau terkekeh dengan menutup mulut menggunakan lembaran kertas itu. Tidak hanya beliau, bahkan Fate mengeluarkan tawa kecil---eh, aku tidak berbuat salah lagikan?


"Haah, baiklah. Aku sudah memeriksa secara keseluruhan tubuh Fate. Meski kau berkata tubuhmu itu buatan dan hanya memiliki batas waktu sampai usia delapan belas tahun, selain suhu tubuh yang lebih rendah dari normal, aku tidak menemukan ada keanehan."


"Ta-tapi bagaimana dengan warna matanya yang berubah?" tanyaku cepat, masih belum puas akan jawaban tersebut.


Beliau mengembuskan napas perlahan. "Perubahan warna mata bisa saja terjadi di dunia ini akibat kelainan genetik. Hal itu terjadi pada pengguna kekuatan dragonic seperti kita, terpicu ketika menggunakan kekuatan dragonic untuk pertama kali."


Kemudian Profesor Caterine melihat ke arah Fate dengan tatapan khawatir, dahi ikut berkerut. "Tapi ini bukan pertama kalinya Fate menggunakan kekuatan dragonic, dan tidak ada keanehan apa pun. Untuk sekarang tanpa diagnosis lanjut, aku hanya bisa menyimpulkan ini akibat beban mental yang dialami dari misi terakhirnya."


Beban mental dari misi terakhir ... ah, misi bersama Daniel.


Aku melirik ke arah Fate dan kulihat dia menunduk, memperhatikan tangannya sendiri. Tatapan si gadis benar-benar dalam tetapi kosong pula, seakan melihat sesuatu yang lain pada tangan tersebut.


Merasa khawatir, aku pun menyentuh tangannya; memberikan suatu genggaman penuh kehati-hatian. Aku tak mau Fate hanyut oleh bisikan yang dia sebut ketika di perpustakaan, ataupun hal buruk lain yang masih belum diketahui.


"Fate ...."


"Ah, maaf. Aku tidak apa-apa," ucapnya sambil tersenyum kecil ke arahku, lalu melihat Profesor Caterine. "Apakah perubahan mata ini akan mengganggu kegiatanku?"


"Dari yang kuperiksa, tidak. Selain warna matamu yang berubah, tidak ada keanehan lain. Kamu bisa kembali melaksanakan misi-misimu. Belum ada kasus serupa tercatat. Ada kemungkinan ini juga karena Fate berasal dari dunia lain. Hmm, tapi Red yang juga berasal dari dunia lain tidak mengalami hal ini. Apa karena dia immortal ...."


Mata ungu kembali tertuju ke arah si gadis. "Fate, jika kamu tidak keberatan, aku harap kamu tidak masalah untuk selalu melakukan pemeriksaan dan pengecekan setiap kembali dari misi."


Yang dituju mengangguk. "Dimengerti."


Misi, ya ... dengan jiwa terasa kosong dan hampa serta keanehan dalam tubuhnya, entah mengapa aku merasa tidak tenang membiarkan Fate melaksanakan misi. Akhirnya aku membuka mulut untuk berkata---


"Anu, maaf. Boleh aku bertanya?" Spontan aku menoleh dan melihat Cecil yang mengacungkan tangan kanannya tinggi-tinggi.