
Cicit burung menjamah merdu indra pendengaran. Desir angin mengundang gemeresik para daun juga kebitan ringan helai-helai rambut kelam seorang pemuda. Ia bersandar di bawah pohon atas permadani alam yang sedikit lembab oleh embun. Kelopak pucat terkatup rapat, tak lupa sebuah buku terbuka di pangkuan sebab kantuk merengkuh erat---
"Huaaaaa!"
Brak!
Bunyi hantaman terdengar sayup, pelan-pelan menarik si pemuda ke alam sadar ditambah sandaran pohon berguncang singkat, menggugurkan dedaunan yang memang akan ditanggalkan oleh sang inang bersamaan sesuatu yang berat jatuh tepat di pangkuan membuatnya tersentak bangun. Sosok wanita ada pada kaki jenjangnya, lantas ia beringsut mundur dari si pemuda sembari mengusap bagian yang sakit.
"Hiyaah, ma-maaf tak sengaja! Maaf, maaf!" Pekikan bersuara lembut melengking berisik, membuat si pemuda mengerjap.
Wajah merah padam, rambut merah muda. "Umh, Orihime?" Hanya itu komentar si pemuda, dia belum sepenuhnya sadar.
"A-aku membangunkanmu? Ehehehe, maaf."
Pemuda itu terdiam dan sesekali mengerjap untuk mendapatkan kesadaran utuh, lalu menatap mata biru di hadapan lamat-lamat ... cepat ia mencengkeram kedua pundak putih susu. "Apa yang terjadi?! Kamu terluka? Tidak apa-apa?"
"Tak apa, sungguh," sahutnya asal sambil membuang muka. Detik kemudian mendorong wajah si pemuda ketika terlalu dekat untuknya. "Kamu berlebihan!"
Tidak balas komentar, pemuda ini menutup buku kemudian bangkit dan mendekap si bacaan dengan satu tangan.
"Mengambil apel lagi? Minta tolonglah padaku jika kesulitan," ucapnya sembari menilik buah yang berserakan.
Alih-alih malu atau khawatir, si wanita justru ikut berdiri; menyeringai dan mendekap kedua tangan ke belakang punggung. "Heee, habisnya Hikoboshi lucu, aku tak mau membangunkan. Membaca terus ketiduran, benar-benar suka cerita? Mau aku buatkan satu cerita untukmu?"
Sekarang pemuda serba hitam memalingkan wajah dengan semburat merah, dan mencoba mengambil salah satu apel hingga tangan bebasnya terhenti sebab digenggam erat oleh si wanita. Mereka saling berpegangan; hangat menyaru dinginnya tangan pucat, membuat nyaman.
"Aku bisa mengatasi ini dengan jentikan jari." Bibir merah itu mengukir senyum, membuat si pemuda kembali tersipu.
Bagai terkena efek lumpuh, dia membeku ketika wanita rambut merah muda memeluknya ... erat, terlebih mata biru langit mengerling dalam binar yang membius. "Ingin lihat sihirku yang lain?"
Seperti itu keseharian mereka, menghabiskan waktu berdua dan memang hanya ada mereka di hutan ini hingga suatu malam, pemuda serba hitam terjaga dari tidur. Pertama kali untuknya--sejak tinggal bersama si wanita--merasa terusik, entah karena apa.
Yang pasti, Hikiboshi tidak ingin membangunkan Orihime.
Dalam batin masih ingat perihal Sang Pencipta. Dia dengar bahwa setiap sepertiga malam yang akhir Tuhan turun ke langit dunia, itu adalah waktu di mana doa langsung didengar. Akhirnya, ia menundukkan kepala. Khidmat, bibir tegas mulai merapal kata, samar; sayup; sopan. Hingga kantuk membelenggu, mata mengerjap, ia pun terlelap.
"Menikmati hidup?"
Terkejut, seketika si pemuda kembali bangkit dari alam mimpi dengan melopak pucat tersibak lebar. Panas-dingin; gemetar, ia mengenali sosok yang tiba-tiba muncul di hadapan ... bayangan malaikat bersayap enam dengan tanduk; penolongnya jauh-jauh hari.
"Lupa diri? Ingatlah ... Nak."
"Aku---ack!"
Pemuda itu mengernyit ketika merasakan perubahan di tubuh. Ia menggeram, mengekang kepala dengan sebelah tangan dan membungkuk menahan sakit. Sontak gaung tawa memekakkan beriringan dengan debam suara, si pemuda ambruk dari atas kasur.
Ia mulai meringkuk dalam pilu, keringat sebesar jagung pun membasahi. Melaung tegas; menggertakkan gigi; mencakar lantai kayu demi mengasumsikan nyeri akan berkurang jika melakukan hal tersebut.
Suara gemeresik penuh luka itu ikut memaksa si wanita bangun dari tidur bahkan rasa dingin menusuk epidermis cepat membuatnya sadar. Sigap menghampiri pemuda yang masih meringkuk pilu, mencoba menenangkan---
"A-I-O-N." Kelopak pucat si pemuda sayup-sayup, hanya memamerkan separuh dari bentuk utuh retina hitam. Binarnya redup.
Namun si wanita hanya bisa mengerang terputus-putus akibat bibir bergetar heboh. Tak berapa selang semua gelap; tak ada pendar cahaya khas kamar kayu dalam ruang yang dulunya hangat oleh tawa mereka.
Sebelum itu semua, lengan pucat mencoba meraih; pandangan kelam juga menyaksikan; perginya wanita yang tak mampu lagi ia jamah.
Bayangan hitam sepenuhnya menyelimuti tubuh dan si pemuda langsung tak sadarkan diri ... hingga lama waktu berlalu.
Suatu saat, suara desau terdengar samar diikuti kelopak pucat yang menggulung. Pandangannya melihat---
"Aaaaa! Ah, ti-tidak."
Kedua tangan masih di situ, menggenggam bilah pedang panjang yang menikam dada seorang wanita. Seketika sesuatu bergolak dalam batin, sengatan nyeri yang terlalu besar menyerang seperti jantung diremas kuat hingga terasa---
"AAAAAHHHH!!"
"Red! Kamu sudah sadar?" Suara Profesor Kaidan menyambutku.
Mimpi, yang penuh ketidakjelasan dan batasan. Saat ini aku merasa ketakutan sampai berpura-pura tidak menyadarinya. Aku beringsut di atas kasur dan mencengkeram kepala dengan kedua tangan. Tak mau mengetahuinya namun sudah sadar, aku telah membunuh---
Sudut bibirku langsung tertarik samar membentuk lengkung sabit penuh pilu. Heh, kenapa juga aku masih hidup? Makhluk menyedihkan!
"Aah, haaa ... hahahahaha!"
"Red, tenang---akh!"
Kini aku mencengkeram kepala makin erat dan semakin meringkuk, bahkan suara vas bunga yang pecah di dekatku dan Profesor Kaidan terjatuh dari kursi tidak membuat pikiranku fokus. Kenapa pula harus menjalani kebohongan bernama kehidupan? Apa lagi seolah meminta pertolongan. Menyedihkan. Tak pantas. Berapa banyak lagi orang harus jatuh di depanku? Menya---
Brak!
"Red, kamu tidak apa-apa?"
Seketika terasa kedua pipi disentuh dan aku dipaksa mendongak. Cepat sekali terjadi tapi entah mengapa terasa ... tenang.
Pandanganku dipenuhi kabut kelabu yang begitu mengusik tetapi berusaha melihat sosok di depan ....
"Fate! Syukurlah kamu datang tepat waktu. Haah, sampai terburu-buru bahkan membanting pintu."
"Maaf, Pak Kaidan, tapi aku merasakan sebuah tekanan kuat dan bergegas berlari kemari."
Mereka seperti berbicara namun tak dapat kumengerti, bahkan suaranya mendam bak tenggelam dalam air. Aku hanya bisa mencengkeram lengan baju orang di depan.
Aneh, tubuh sangat lemas. Terlebih kepala terasa kosong ketika ada yang mengelus rambut hitamku memaksa air mata kembali meluncur tanpa permisi.
Aku ingin beristirahat ... sebentar.
"Fate, bisa Bapak minta tolong padamu untuk---"