When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Sparing IV



Dari atas sini pertarungan mereka sudah dimulai dalam arena padang rumput, dan Fate menggunakan Class Executioner sama seperti pemuda berkacamata di depannya.


Benar apa yang Crist katakan, Fate pasti berusaha keras menguasai hampir semua class sampai tekniknya sempurna, tetapi selalu menggunakan senjata yang sama seperti musuh bukankah sedikit ... kejam? Seperti merendahkan. Apa nanti Fate juga menggunakan Swordmaster ketika menghadapiku?


Ah, aku harap tidak.


Seketika terbesit kejadian jauh-jauh hari ketika Arthur menggunakan tubuh Fate untuk menekanku. Sontak beku merambat tengkuk, membuat merinding. Aku mengelus leher belakang, rasanya tidak mau melihat gadis itu menggunakan pedang lagi. Tak akan kuizinkan.


Namun di bawah sana pertarungan sangat gesit, cepat! Kulihat pisau mereka saling bertumbukan hingga percik-percik api tampak menghiasi. Rantai-rantai nan panjang memenuhi arena, berusaha melilit dan melumpuhkan musuh di hadapan. Crist menyerang dengan bilah tajam berkilat menantang dalam genggaman, tapi Fate mendadak hilang dari pandangan. Mereka sama-sama cekatan dan gesit pula, sepadan---tidak, Crist terlihat sedikit terpukul mundur.


Mata biru tak henti melihat ke sana kemari seperti ... membaca sekitar? Sesaat, dahinya berkerut sampai alis saling menyatu namun ia berseringai kemudian. Dua bilah pisau milik Fate menikam---hampir! Kalau Crist tidak segera mengangkat kedua tangannya.


Kontrol gadis itu benar-benar luar biasa, bahkan pisau yang meluncur cepat dalam rantai berjarak beberapa senti dari wajah musuh bisa berhenti begitu saja dan kembali dalam genggaman. Sontak mereka terdiam, membiarkan angin lembut menerpa dan menggoyangkan sang pijakan hijau mendayu-dayu.


Tunggu, Crist ... menyerah? Bahkan pisau ganda berantai sudah kembali menjadi bentuk kristal ungu melayang di sampingnya. Tapi, sungguh? Kenapa? Ah, dia berucap---tak bisa dengar! Bergegas aku menyegerakan langkah berjalan ke depan televisi yang menyiarkan langsung dari kamera pengintai.


"... Tetap tidak berhasil. Aku sudah memikirkan berbagai cara. Sayangnya dengan kecepatanku, tidak ada rencana yang bisa mengalahkannya. Daripada buang-buang energi, aku mengundurkan diri," ucap Crist dengan senyuman tengil terlukis di wajah santainya.


Oh, dalam siaran terlihat Profesor Kaidan bertanya kenapa ia menyerah. Ha-ah, bahkan analis kelas atas seperti Crist juga tunduk terhadap Fate.


"Ahahahaha! Lihat enggak itu?" teriak Daniel menarik seluruh perhatian tertuju padanya, bahkan kini dia sampai menyilangkan kaki di atas meja depan sofa, "Crist, Crist, dasar perhitungan."


"Ya, lebih baik aku mempersiapkan diri mengejar urutan ke tiga," lanjut Crist dengan kekehannya.


"Hah! Crist banget!" seru Daniel dengan tertawa tanpa henti dan menunjuk layar televisi di atas sana.


Dengan hal tersebut, pertandingan mereka dinyatakan selesai. Fate keluar sebagai pemenang dan setelahnya, Crist melawan member biasa demi meraih posisi ke tiga untuk rank internal club.


...****************...


Sebelum babak final, kami beristirahat untuk makan siang. Aku memilih pergi ke kantin Gedung Pusat Pelatihan, membeli satu kotak makan ukuran sedang dan memilih beberapa lauk secukupnya.


Entah kenapa tempat ini sedikit sepi. Mungkin karena ruang simulasi utama digunakan untuk sparing club kita? Atau memang tempat ini luas dan jarang orang menghabiskan waktu di sini.


Setelahnya aku duduk pada jajaran bangku sebelah kanan. Sedikit penasaran siapa yang memasak dan menyiapkan makanan di akademi ini, kalau tidak salah mereka memiliki perkumpulan hobi memasak dan hasil kerja mereka adalah makanan yang sering kita jumpai dalam Vaughan, kecuali makanan dalam kemasan.


Hmm, memasak ya ....


Mataku sedikit sendu, mengunyah setiap gigitan dengan amat lambat. Dengan suara orang-orang nan sayup bawah remangnya ruangan yang luas, terasa melahap makanan ini ... sedikit menyedihkan. Seketika serpihan memori biru kembali terbesit ketika aku tersenyum hangat di depan dia, duduk berhadapan dengan hidangan sederhana atas meja kayu mungil. Orang terkasihku senang sekali memasak, menunjukkanku berbagai macam cara dan resep.


Namun, kenangan hanya tinggal kenangan. Dia telah tiada dan itu ... aku penyebabnya.


Aku sedikit menunduk. Meletakkan sendok, menopang kepala dengan tangan kiri dan mengeratkan kepalan tangan kanan. Sebenarnya, sangat senang bisa mengikuti jejaknya untuk bisa memasak tetapi ... kenapa hal itu bisa terjadi? Mengapa aku merenggut nyawanya?


"Makanan akan dingin dan tak enak kalau kamu biarkan begitu."


Aku langsung menoleh ke arah suara, ah ....


"Fate?"


"Boleh aku duduk di sini?"


Aku mengangguk, tapi dia---astaga, duduknya dekat sekali di sampingku. Terasa sedikit tersipu---ah, tidak, tidak, apa yang aku pikirkan? Segera aku menggeleng kecil dan kembali makan. Ia mengeluarkan kotak bekal yang sedikit lucu. Motif sederhana namun elegan, benar-benar sesuai untuk modelnya.


Ia mengangguk sebagai jawaban. Mungkin membuatnya ketika dalam Mansion Lucian? Karena, memang bisa memasak dalam club, terbilang itu seperti rumah ke dua tetapi aku tak pernah melihat Fate masak di sana. Aku sedikit penasaran rasa makanan gadis ini.


"Sebenarnya saya---ah, aku juga bisa membuat makanan sendiri, dia yang mengajariku. Tapi sekarang, ketika memasak rasanya menyakitkan ... mengingat dia, jadi aku hindari," ucapku nanar dengan kata terbata-bata.


"Kau ingin melupakannya?"


"Melupakan ... entahlah."


Setengah kelopak mataku tertutup, memandang kosong entah ke mana. Jika ingin melenyapkan ingatan tentangnya ... tidak bisa. Namun hanya mengingat senyum itu, begitu mengiris hati. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan, hati ini penuh ketidakpastian.


"Kenapa makananmu polos?" ucap Fate datar menatap kotak makanan di depanku.


Aku sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya. "Eh? Polos?"


Ia mulai menggeser bekalnya mendekatiku. "Makan sayuran juga, dan buah-buahan. Mereka menyediakannya bukan? Ini, ambillah," tutur Fate pelan dengan memindahkan beberapa potong wortel dan brokoli ke kotak makanku.


"Aaaa, tidak, tak perlu. Nanti kamu bagaimana?"


Mata perak kebiruan menatapku. "Makan sayur." Kemudian ia melihat bekal makannya lagi dengan menyentuh dagu. "Ambillah, sepertinya aku juga menyiapkan sayuran terlalu banyak."


Ah, apa dia benar-benar mengukur dan mengira-ngira makanannya sendiri? Dia terlalu seimbang dan perfectionist. Tetapi, baru saja aku memikirkan bagaimana rasa masakan dia, Fate memberikannya padaku. Apa gadis ini sungguh bisa membaca pikiran?


Mencoba santapan yang ia berikan ... enak juga. Mungkin wortel terlebih dulu ditumis kemudian brokoli sampai warnanya mengkilap sehingga bisa lebih empuk daripada ini, tapi selebihnya ... ya, sangat enak.


"Ehem, kayaknya kalau aku duduk di sini mengganggu kalian."


Mendadak Crist duduk pada bangku di hadapan kami. A-aku menjadi sangat tersipu sekarang dan memalingkan muka.


"Tidak masalah, duduk saja. Makan bersama-sama akan membuat makanan terasa lebih enak," ucap Fate santai dan mulai melahap bekalnya.


Crist tersenyum dan menaik-naikkan alisnya ke arahku. Maksudnya apa ....


"Oi, kacamata! Tahu kalau dua orang lagi bersama, yang ke tiga setan? Biar kamu enggak jadi setan, sini aku temani." Suara penuh semangat tiba-tiba hadir, Daniel datang membanting bekal ke atas meja dan merangkul pundak lawan bicaranya.


Aku menjadi sedikit kasihan kepada Crist, dia terlihat pasrah dan tak berdaya menghadapi ketua kami. Terdengar suara helaan napas di sampingku, Fate menatap datar ke arah para laki-laki di hadapannya.


"Kalian tuh! Dilarang rusuh ketika makan!" seru Cecil dengan memukul kepala Daniel.


"A-aduduuuh, sakit, Cil! Gantinya elus kepalaku sini," ringis si laki-laki mengelus rambut pirangnya dan menatap gadis yang baru tiba di kumpulan kami.


Yang dituju mendengkus dan membuang muka. "Bodoh, ah! Sukurin, weee!"


Kemudian Cecil berlari kecil menuju samping Fate dan berbisik, "Enggak apa-apa aku duduk di samping kamu?"


Fate mengangguk. Sepertinya Cecil tertarik terhadapnya, ia pun berkata, "Fate sehabis sparing selesai, bisa mengobrol sebentar? Anu, soal taktik. Kamu lihat enggak waktu aku bertarung? Menurutmu bagus enggak?"


"Soal itu kita bisa bahas nanti," jawab Fate.


Ah, meja tempatku duduk menjadi sedikit ramai sekarang tetapi makan bersama seperti ini tidak buruk juga. Aku sedikit mengulas senyum.