When Demon Child Become Human

When Demon Child Become Human
␑| Dalam Mimpi IV



"Halo, senang bisa bertemu lagi," sapa Rei lesu ketika aku sudah berdiri di sampingnya.


Matanya terus tertuju ke laut di depan sana.


Memang gemerlap air begitu memukau, membiaskan sosok rembulan dan matahari yang kini berdampingan. Semburat oranye di angkasa terlukis jelas pada tiap gelombang tenang sang ombak. Desir angin terasa membelai rambut.


Akhirnya aku memutuskan untuk ikut duduk di sampingnya.


"Sepertinya kamu belum menemukan cara keluar dari sini."


Aku terdiam mendengar kata-kata Rei.


Sebenarnya aku bisa bangun kembali, tetapi bukan atas kehendakku sendiri.


Jadi, bisa dibilang aku memang masih belum menemukan cara terbebas dari mimpi dengan caraku sendiri.


Kukira setelah kejadian kemarin, dia ikut terbangun. Ternyata hanya aku, ditarik sadar secara paksa dengan yang mereka sebut kekuatan spesial.


Aku pun bertanya, "Apa kamu ingat apa yang terjadi?"


Rei langsung menoleh ke arahku. "Heem? Aku ingat. Setelah kita berpisah untuk mencari jalan keluar, aku melihat patung besar yang aneh. Matanya terus mengikutiku dan tiba-tiba aku pingsan. Ketika bangun, sudah berada di sini."


Dia tak ingat telah memegang liontin merah dan berdiri di bawah pohon bengkok yang rimbun, meratap bersama bayangan Mei.


Sepertinya ingatan gadis ini terdistorsi karena terjebak dalam mimpi buruknya sendiri.


Seketika terasa lengan bajuku ditarik. Refleks aku menoleh dan Rei telah menatapku dalam-dalam.


"Apa kamu ke sini karena mempunyai penyesalan?"


Kedua mataku terbuka lebar, aku terkejut.


Kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal ini?


Bukan, maksudnya, apa dia sudah menyadari kalau kita berada di dunia mimpi? Tetapi soal pertanyaannya, tak bisa kujawab.


Lebih tepatnya tak sanggup.


Aku memutuskan untuk balik bertanya, "Bagaimana denganmu?"


Rei langsung membuang muka dan mengerucutkan bibir. Tingkahnya cukup lucu, seperti anak kecil.


"Curang! Aku duluan yang tanya!"


Aku hanya tertawa canggung mendengar itu, tetapi ekspresi si gadis berubah sedih seketika. Tatapannya kosong memandangi buih lautan.


"Adikku terus melindungiku. Kami selalu bersama sejak pertama kali membuka mata. Kita tak mengerti hal apa pun ketika dipilih menjadi pelayan pengorbanan. Kami tidak paham mengenai perpisahan, terluka, atau kematian. Aku tak pernah lupa ketika adikku selalu maju dan ingin menggantikanku sebagai persembahan. Konyol. Padahal aku kakaknya walau lebih tua beberapa menit. Bahkan Ayah tidak berbuat apa-apa ketika hidupku dalam bahaya. Kali ini aku akan melindungi Mei, apa pun taruhannya!"


Rei langsung berdiri dan mengepal tangan kanan, tampak ada bara api di kedua matanya.


"Aku akan mencari Mei lagi dan menemukan jalan keluar dari sini!"


Seketika dia berlari.


Bergegas aku bangun dan mencoba mengejar---hilang?


Aku sangat yakin dia melewati barisan meja ini, menuju ke belakang pantai dan menaiki tangga di jalan utama.


Sekarang aku sudah berada di atas tangga jalan utama, tetapi Rei tidak ada di mana pun.


Secepat itukah ...?


Mungkin ilusi. Entah mengapa aku sedikit tak yakin mengenai segala hal yang terjadi di sini.


Terlebih, apa yang aku ingat berbeda dengan apa yang Rei ingat seolah-olah kami melalui dua kejadian berbeda.


Aku mengangkat kedua bahu. Mau bagaimana lagi? Ini dunia mimpi.


Sebaiknya aku mulai mencari petunjuk lainnya.


Ketika menelusuri sekitar; tepat setelah melewati jalan raya, aku menemukan tempat seperti ... desa? Lantas aku memasukinya melalui jalan yang sedikit terpencil.


Kusaksikan pula antara satu rumah dengan rumah lainnya lumayan renggang. Konstruksi rumah di desa ini tampak sederhana dengan material kayu.


Untuk dunia yang sudah maju dengan teknologi, tempat ini sungguh terasa kental menjunjung tradisi.


Aku mengembuskan napas. Setelah mencari ke mana pun tak kunjung menemukan kejanggalan atau benda-benda lain.


Akhirnya kuputuskan untuk berjalan lebih dalam lagi memasuki desa, siapa tahu bisa menemukan altar persembahan terbilang Rei akan dikorbankan---tunggu, iya, benar!


Kemungkinan Rei adalah korban Festival Persembahan dan ini desa yang dimaksud sang uskup!


Segera aku berlari menyusuri desa ini.


Namun, sejauh pencarian, tak ada altar atau hal lain yang mencolok. Bahkan desa ini sangat sepi.


Di ujung desa setelah jajaran rumah habis, aku melihat suatu bukit. Bukit ... dengan pohon bengkok besar memiliki banyak batang. Persis seperti pohon saat si kembar berdiri bersamaan di mana Rei menemukan liontin merah!


Tanpa memakan waktu aku menyegerakan langkah menuju bukit.


Setiba di puncaknya, aku berdiri di bawah pohon unik ini.


Pemandangan dari sini sangat indah. Jelas terlihat hutan menyebar di bawah. Terlebih langit oranye makin mempercantik suasana dalam bintang yang mengiringi rembulan beserta matahari malu-malu muncul di balik awan.


Seketika aku melihat bintang jatuh. Sekali. Hanya satu kali, tetapi kembali merasakan tekanan heboh yang lebih kuat dari biasanya.


"Ack!"


Tercekik, aku tak bisa bernapas ataupun berbicara. Hanya bisa mengerang dan menahan rasa sakit luar biasa dengan mengepal baju di dada ketika warna abu-abu kembali mendominasi penglihatan.


Aku tak kuat untuk terus berdiri, tubuh pun ambruk.


Namun, samar-samar terdengar suara ....


"Whoaaa! Aku akan membuat permohonan! Aku harap, aku dan adikku akan selalu bahagia! Tidak-tidak, Ayah juga! Dan paman kepala desa! Dan---"


"Hei, sudah cukup!"


"Tapi aku ingin semua orang bahagia ...."


"Baiklah, mungkin itu juga tugas kita sebagai pelayan pengorbanan."


Susah payah aku melihat ke asal suara meski kepala gemetar karena sakit. Aku mengenali dua gadis ini, Rei dan Mei.


Lalu sosok orang tua datang mendekati mereka dan bapak itu juga tak asing.


Seseorang yang menyiksa Rei ketika pertama kali aku menemukannya di dalam hutan.


Dia berkata, "Jadi kalian sudah tahu akan dikorbankan."


"Ayah ...," kejut mereka berdua yang membuatku tertegun.


Itu benar-benar ayah mereka?


"Kalian harus melayani festival, jangan seenaknya bertindak sesuka hati! Ritual tak boleh gagal! Biar aku bantu kalian."


Mendadak sang ayah berubah menjadi bayangan dan saat itu juga aku kembali meraih kendali atas ragaku. Dua cakar merah besar keluar dari tubuhnya dan hampir menyayatku jika tak segera mengelak.


Akh! Menyakitkan, aku masih merasa sesak!


Dengan sempoyongan aku terus mengelak.


Aku sedikit membatukkan napas, lalu mengelus dada dan menyiapkan Heart Core. Kristal hitam muncul yang terlindungi dengan dua cincin hitam berputar tanpa henti.


Dia kembali ingin menyerang, tetapi segera aku melempar Floating Hourglass.


"Phase Bomb!"


Bam!


Senjataku meledak begitu mengenainya. Sayang, makhluk itu tak terluka sedikit pun. Hanya terpukul mundur.


Aku mengelus leher depanku dan berpikir bagaimana cara mengalahkannya.


"Kamu! Aku akan menolongmu!"


Mendadak terdengar suara teriakan---Rei!


Dia berlari mendekatiku. Si gadis langsung mendekap kedua tangan dan seketika tubuhku bersinar keemasan.


Monster hitam itu kembali mengayunkan serangan. Refleks aku mengelak; menghindar; melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.


Terasa tubuh jauh lebih ringan dan sesak sepeninggalan tadi enyah begitu saja.


Kesempatan bagus! Karena aku terus mengelak dengan cepat, monster itu kehilangan jejakku.


Di balik pepohonan aku langsung merentangkan tangan bersamaan lingkaran sihir hitam bermunculan.


"Ice Lance!"


Berhasil! Dia lumpuh karena balok es runcing menghunjam tubuhnya.


Tanpa memakan waktu aku melonjak dari atas pohon, menyiapkan satu kaki sebagai tumpuan dan aku melesat sempurna ke arah kepalanya.


Dengan ketinggian dan kecepatan yang cukup, aku menerjang tepat di ubun-ubun hingga dia terjatuh.


Kemudian aku melonjak ke belakang, mendarat sempurna sembari menyaksikan makhluk hitam itu hangus tanpa sisa.


Tidak terlalu sulit, berkat bantuan Rei dan untungnya Heart Core juga bisa ikut terbawa ke dunia mimpi.


Namun, ketika aku menghampiri Rei, dia justru memandang kosong jauh ke dalam hutan.


"Apakah itu kamu, Mei?"


Mendadak dia berlari. Lekas aku mengikuti agar tak kehilangan jejak---ah, hilang lagi.


Masih berjalan, aku terus menelusuri ke mana Rei pergi.


Di depan, tampak beberapa deret pohon yang renggang. Di sekitar deret pepohonan itu, sorot sang rembulan dan matahari berpadu menyinari gadis serba hitam.


Dari belakang, gadis itu terlihat persis seperti sang vikaris ketika masih muda. Mei. Aku terus memanggil dan menghampirinya.


Namun, dia masih terdiam.


Aku pun berjalan semakin dekat.


Dekat.


Dan sosoknya mendadak hilang bagai abu yang tertiup angin.


Aku mendengkus. Lagi-lagi ilusi.


Tetapi di bawah ada ... boneka? Bentuknya persis seperti Mei.


Ketika kuambil, seketika penglihatan berbayang seperti kegelapan memenuhi depan mataku.


Semakin gelap.


Gelap.


Dan aku tenggelam dalam kegelapan bersamaan suara gema yang memenuhi kepala.


'Rei, ritualnya akan dilakukan besok. Apa kamu takut?'


'Mei, kamu bagian dari dunia luas di luar sana.'